Chapter 114
Pikiran para tawanan itu dipenuhi ketidakmengertian. Mengapa pimpinan mereka sendiri, yang selama ini telah menempa mereka menjadi prajurit andal, begitu ringannya melepas nyawa salah satu dari mereka? Namun, belum sempat terjawab pertanyaan besar yang memenuhi benak kedua belas tawanan itu, tiba-tiba saja keris Ra Kuti telah berkelebat dengan sangat cepat, merobek urat leher mereka.
Hanya dalam hitungan kedipan mata, nyawa kedua belas tawanan itu melayang dengan urat leher terputus.
Gegerlah suasana pagi di Kademangan Japan. Isak tangis terdengar dari suara para wanita, ibu, dan istri para prajurit pengawal Kademangan Japan.
"Kami telah membawa rentetan petaka ini ke Kademangan Japan," ujar Empu Nambi. Ia merasa terpukul dengan kejadian itu, seolah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan gejolak perasaannya antara duka dan kemarahan yang amat sangat.
"Kita tidak bisa menghindar, meski bersembunyi di liang semut sekalipun. Menurut hamba, ini bukan sekadar rentetan petaka, melainkan garis ketetapan Sang Gusti Pemilik Kehidupan," sahut Ki Demang Japan kepada Empu Nambi.
Demikianlah, kejadian pembunuhan di Kademangan Japan telah menunda keberangkatan rombongan Empu Nambi. Mereka harus menunggu pelaksanaan upacara penyempurnaan para korban.
"Dua puluh tiga gundukan tanah itu akan menjadi saksi bisu kekelaman sejarah Kerajaan Majapahit ini," ucap Empu Nambi kepada seorang perwira tinggi di dekatnya sembari memandang makam para korban yang telah selesai dikebumikan.
"Hamba akan menjadi saksi kebenaran di belakang Tuan Patih Amangkubumi," jawab perwira tinggi itu.
"Bagaimana jika aku berada di seberang garis pertempuran menghadapi para prajurit Kerajaan Majapahit?" tanya Empu Nambi.
"Aku akan berada selamanya di belakang kebenaran," jawab perwira tinggi itu dengan ketegasan dan keteguhan hati.
"Lika-liku sandiwara kehidupan selalu dipenuhi berbagai corak warna-warni yang melatari pagelaran itu. Semoga warna merah putih di hatimu tidak akan pernah luntur, sebagai keteguhan hati seorang ksatria yang berjalan di atas padang gurun kebenaran," ujar Empu Nambi.
Matahari siang itu redup, tertutup awan kelabu yang berarak dibawa angin. Terlihat sebuah pasukan berkuda bergerak meninggalkan gapura Kademangan Japan. Mereka adalah rombongan Empu Nambi yang akan melanjutkan perjalanan ke Tanah Lamajang. Manakala Kademangan Japan sudah jauh tertinggal, mereka mulai memacu kudanya.
Bendera Sang Surya Majapahit kembali berkibar, dihempas angin dan laju kuda yang kencang. Warna biru barisan pegunungan Tengger, Bromo, dan Semeru seolah melambaikan tangan, memanggil-manggil agar kuda-kuda mereka berpacu lebih cepat lagi. Tidak ada halangan yang berarti dalam perjalanan mereka hingga senja turun membayangi bumi, saat mereka telah memasuki wilayah Kadipaten Lamajang yang sangat luas.
Namun, masih diperlukan waktu untuk tiba di kota kadipaten. Akhirnya, setelah menyusuri dan melewati beberapa kademangan, mereka sampai di jalan utama menuju istana kadipaten saat hari telah larut malam.
Adipati Menak Koncar gembira melihat kedatangan ayahandanya. Dalam pertemuan awal itu, Empu Nambi mengatakan bahwa keberadaannya di Tanah Lamajang adalah sebagai utusan keluarga istana Majapahit untuk menyambangi rumah duka keluarga Ki Banyak Wedi. Empu Nambi sengaja tidak bercerita tentang peristiwa yang dialaminya selama perjalanan.
"Besok pagi, aku akan ikut mengantar Ayahanda ke rumah duka itu," kata Adipati Menak Koncar yang masih diliputi kegembiraan atas kunjungan Empu Nambi.
Keesokan harinya, ketika pagi mulai terang, rombongan Empu Nambi keluar dari gerbang istana Kadipaten Lamajang dengan didampingi Adipati Menak Koncar. Rombongan tidak memacu kuda secepat hari sebelumnya; nampaknya Empu Nambi ingin menikmati suasana Tanah Lamajang yang sudah sekian tahun ditinggalkannya semenjak didaulat oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya sebagai Patih Amangkubumi di Kerajaan Majapahit.
Sawah yang menghijau hingga menguning, terhampar luas membentang sampai ke kaki Gunung Semeru, seolah membawa angan dan kenangan masa muda Empu Nambi saat berada dalam didikan ayahnya yang penuh kasih, yang telah membentuk dirinya serta mengajarkan olah kanuragan dan olah kajiwan.
"Kita telah memasuki wilayah Kademangan Randu Agung," ujar Adipati Menak Koncar saat mereka memasuki sebuah regol gapura.
Ternyata, mereka tiba saat upacara pengabuan jenazah tengah berlangsung. Kuda Anjampiani menerima kedatangan Empu Nambi dan rombongan dengan penuh rasa sukacita, merasa terhormat mendapatkan kunjungan dari keluarga istana Majapahit yang turut berbelasungkawa. Setelah ikut dalam upacara pelarungan abu jenazah di laut, Empu Nambi berjanji kepada Kuda Anjampiani akan datang kembali dalam upacara Makelud, dua belas hari setelah upacara pengabuan.
"Hanya doa seorang cucu tercinta yang dapat sampai ke buyutnya. Aku masih cukup lama berada di Tanah Lamajang ini, mudah-mudahan kita dapat bertemu kembali di upacara Makelud," kata Empu Nambi kepada Kuda Anjampiani sebelum kembali ke istana.
Malam itu, Empu Nambi masih menginap di istana Kadipaten Lamajang. Dalam sebuah kesempatan ketika berbincang di serambi istana, bukan main terkejutnya Adipati Menak Koncar mendengar cerita Empu Nambi tentang empat puluh prajurit Majapahit yang menghadangnya di sekitar Kademangan Japan.
"Aku tidak akan melepas Ayahanda kembali ke Kotaraja Majapahit sebelum adanya jaminan keselamatan dari Raja Jayanagara sendiri," ucap Adipati Menak Koncar penuh kekhawatiran.
"Sayangnya, kita tidak mengetahui siapa dalang di balik semua rentetan peristiwa ini," jawab Empu Nambi.
"Siapapun dalang di balik semua ini, aku tidak mau nasib Ayahanda berakhir seperti Patih Mahesa Amping. Aku tidak ingin ada kereta jenazah datang membawa mayat Ayahanda," sahut Adipati Menak Koncar yang tetap bersikeras melarang ayahnya kembali ke Kotaraja Majapahit.
"Wahai putraku, ayahandamu ini sudah tua. Namun, aku tidak akan menyerahkan kepalaku seperti seekor kerbau untuk sebuah kesalahan yang tidak kuperbuat. Kita sudah membuat banyak dugaan yang terlalu jauh, padahal kita belum tahu sedang berhadapan dengan siapa," jelas Empu Nambi.
"Ayahanda benar, namun aku tetap tidak ingin apa yang dialami Patih Mahesa Amping terjadi pula kepada diri Ayahanda," ujar Adipati Menak Koncar.
"Demi keutuhan Kerajaan Majapahit, demi menghindari peperangan yang akan terjadi, Patih Mahesa Amping telah mengorbankan dirinya. Namun ternyata, Patih Mahesa Amping bukan sasaran terakhir mereka. Ayahandamu juga bukan tumbal terakhir; masih ada banyak tumbal yang harus mereka cari lagi demi meluluskan keinginan utama mereka, yaitu menguasai takhta Majapahit," papar Empu Nambi.
"Mereka tidak akan mendapatkan Ayahanda. Aku di sini akan menjaga Ayahanda, meski harus berseberangan dengan Raja Jayanagara di medan pertempuran," tegas Adipati Menak Koncar penuh keberanian.
"Semoga itu tidak akan pernah terjadi, wahai putraku," kata Empu Nambi dengan senyum lembut.
"Semoga hal itu memang tidak akan pernah terjadi, wahai Ayahandaku," balas Adipati Menak Koncar.
Namun, keduanya saling bertatapan saat seorang prajurit pengawal Kadipaten Lamajang datang mengabarkan bahwa ada tiga tamu dari Kotaraja Majapahit. "Kami akan menemui mereka," ujar Adipati Menak Koncar.
Adipati Menak Koncar dan Empu Nambi berjalan ke arah pintu pringgitan dengan perasaan berdebar, penasaran akan siapa gerangan ketiga tamu tersebut. Ketika pintu dibuka lebar-lebar, debar di dada mereka bertambah kencang karena mereka mengenali ketiganya sebagai orang-orang penting di istana Majapahit.
"Ternyata ada tiga saudaraku dari Kotaraja Majapahit," sapa Empu Nambi kepada ketiga tamunya yang tidak lain adalah Gajah Mada, Adityawarman, dan Tumenggung Mahesa Semu.
"Dua malam tidak melihat Empu Nambi di istana, rasanya seperti kehilangan," ujar Tumenggung Mahesa Semu sambil tersenyum.
"Selamat datang kembali di istanaku, wahai saudaraku," ucap Adipati Menak Koncar menyambut tamunya.
Mereka pun duduk di pendapa istana Kadipaten Lamajang, berbincang ringan seputar pelaksanaan upacara pengabuan Ki Banyak Wedi dan keadaan Kuda Anjampiani yang nampaknya sudah semakin dewasa.
"Nampaknya Ki Banyak Wedi sudah dapat membimbing cucu tercintanya itu sesuai dengan yang diharapkan," ujar Gajah Mada.
Namun, Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar tidak mudah meredam debar perasaannya sendiri. Mereka merasa kedatangan para tamu di malam hari itu pastinya bukan sekadar bertanya tentang upacara pengabuan, melainkan ada sesuatu yang sangat penting. Apalagi saat Tumenggung Mahesa Semu bercerita bahwa mereka tidak beristirahat sama sekali dalam perjalanan menuju Tanah Lamajang.