Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 105

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 105

"Nampaknya ayahmu telah banyak menguras tenaganya tanpa makan dan minum dalam beberapa hari; itulah yang menyebabkannya lemas dan tidak sadarkan diri. Mudah-mudahan cairan racikanku ini dapat melarutkan racun yang ada di seluruh peredaran darahnya," ucap Patih Amangkubumi kepada Adityawarman.

Mendengar perkataan Patih Amangkubumi, terlihat kecemasan di wajah Adityawarman sedikit berkurang. Nampaknya putra tunggal Patih Daha itu sangat mempercayai keahlian Patih Amangkubumi dalam ilmu pengobatan.

Sudah cukup lama menunggu, Patih Mahesa Amping masih juga belum sadarkan diri. Sementara itu, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru sudah mulai terlihat bergerak menggeliat.

"Siapkan tempat di dalam agar mereka berdua dapat beristirahat," perintah Patih Amangkubumi kepada ketiga pelayan dalemnya yang masih berada di atas panggung pendapa untuk membawa Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.

"Desah napasnya sudah mulai terdengar lebih kuat, sebagai pertanda racikanku tengah bekerja," ujar Patih Amangkubumi yang melihat rongga dada Patih Mahesa Amping bergerak kembang kempis lebih cepat dari sebelumnya.

Sementara itu, bulan terbelah di atas langit malam puri pasanggrahan Patih Amangkubumi, hanya ditemani tiga bintang. Adityawarman, Tumenggung Mahesa Semu, dan Patih Amangkubumi masih menunggu Patih Mahesa Amping yang belum juga siuman. Ia masih diam tak bergerak, hanya desah napasnya saja yang sudah terdengar mulai teratur.

"Ayah," panggil Adityawarman yang melihat ayahnya membuka mata perlahan.

"Jangan bergerak dulu, tubuhmu masih sangat lemah," kata Patih Amangkubumi sambil memandang wajah Patih Mahesa Amping yang telah membuka mata karena merasa silau oleh cahaya pelita malam yang tergantung di tiang pendapa puri pasanggrahan.

"Di mana aku?" tanya Patih Mahesa Amping lirih.

"Kamu berada di tempat yang aman, Saudaraku," jawab Patih Amangkubumi.

Terlihat Patih Mahesa Amping memandang wajah Patih Amangkubumi yang tersenyum penuh kasih.

"Ki Sandikala," ujar Patih Mahesa Amping membalas senyuman Patih Amangkubumi, yang dipanggil dengan nama samarannya ketika masih dalam awal-awal perjuangan menyelamatkan keluarga istana Singasari dalam kejaran pasukan Raja Jayakatwang.

"Sekarang, tengoklah orang di sebelah kirimu," perintah Patih Amangkubumi.

Perlahan, Patih Mahesa Amping menggerakkan kepalanya ke kiri. "Putraku Adityawarman," ucapnya.

"Sekarang, pandanglah orang di sebelah putramu itu," kata Patih Amangkubumi lagi.

"Saudaraku... Kakang Mahesa Semu," sahut Patih Mahesa Amping sambil memandang Tumenggung Mahesa Semu yang tengah tersenyum.

Patih Amangkubumi menarik napas dalam-dalam, merasa gembira melihat sahabatnya telah pulih daya ingatnya dan terbebas dari serangan racun yang sangat keras—racun yang jarang dikenal banyak orang, kecuali oleh mereka yang ahli dalam ilmu pengobatan.

"Racun hati celeng bunting," batin Patih Amangkubumi sambil mengutuk orang yang begitu jahat meracuni sahabatnya itu. "Siapa gerangan yang telah menurunkan tangan jahatnya kepada Patih Mahesa Amping?" Ia berpikir keras, namun tidak kunjung menemukan jawabannya.

"Gandhok tengen sudah hamba siapkan," ujar seorang pelayan dalem, menyadarkan Patih Amangkubumi dari lamunannya.

"Biarlah aku yang membawa Saudaraku," tawar Tumenggung Mahesa Semu untuk memapah Patih Mahesa Amping ke tempat peristirahatan.

"Udara malam sudah menjadi begitu dingin," kata Patih Amangkubumi mengajak Adityawarman masuk ke ruang dalam. Saat itu malam memang terasa sangat dingin, halaman muka puri pasanggrahan Patih Amangkubumi sudah menjadi begitu gelap.

"Biarlah ayahmu beristirahat di sini untuk beberapa hari sampai dapat pulih kembali seperti sediakala," kata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman di atas bale kayu di ruang dalam.

"Terima kasih untuk semuanya. Tidak terbayangkan bila saja Ki Patih Amangkubumi tidak datang tepat pada waktunya," kata Adityawarman dengan wajah penuh rasa terima kasih. Matanya tidak lepas mengamati wajah ayah tercintanya. Terbayang masa-masa kecil saat ayahnya begitu kasih menjaganya, ia merasa belum dapat membalas budi kebaikan dan kasih sayang yang pernah tercurah kepadanya.

"Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru pasti dapat menceritakan beberapa hal tentang awal mula di balik peristiwa tadi siang," batin Adityawarman.

"Hari telah mulai menjelang pagi, wahai putra saudaraku, beristirahatlah sejenak. Biarlah aku yang berganti menjaganya," kata Tumenggung Mahesa Semu yang baru saja masuk ke gandhok tempat Patih Mahesa Amping beristirahat.

"Terima kasih, aku merasa tenteram berada di sisi ayahku," sahut Adityawarman. Tumenggung Mahesa Semu memaklumi perasaan putra Patih Mahesa Amping itu; mereka berdua kemudian duduk di sisi peraduan.

Tidak lama berselang, pintu gandhok terbuka. Wajah penuh senyum Patih Amangkubumi muncul di sana.

"Raut wajahnya sudah tidak pucat lagi," ujarnya sambil memandang Patih Mahesa Amping yang masih tertidur nyenyak.

"Sejak tidur semalaman, ia tidak terbangun sama sekali. Tidurnya memang sangat nyenyak," kata Adityawarman.

"Aku telah memesan kepada seorang pelayan dalem untuk membuat beberapa racikan untuk Patih Mahesa Amping," ujar Patih Amangkubumi sembari berpamit diri untuk melaksanakan tugas kepatihan di istana Majapahit. "Seluruh pelayan dalem di tempatku ini dapat dipercaya. Aku telah memberi tugas kepada mereka untuk melarang siapa pun orang luar masuk ke puri pasanggrahanku."

"Orang-orang jahat yang telah meracuni ayahku pasti ingin memastikan keadaannya," ujar Adityawarman, membenarkan kehati-hatian Patih Amangkubumi.

Demikianlah, pagi itu Patih Amangkubumi keluar dari puri pasanggrahannya. Sebagaimana perintahnya, para pelayan dalem melarang orang luar masuk ke wilayah puri.

"Sejak kapan ada larangan tidak boleh masuk?" tanya seorang tukang kayu bakar dengan perasaan janggal. Mendengar itu, pelayan dalem yang berjaga di muka halaman hanya tersenyum.

"Letakkan saja kayu bakarmu di halaman ini, nanti kami yang akan membawanya ke belakang," kata pelayan dalem kepada tukang kayu bakar yang memang sudah terbiasa keluar masuk setiap harinya.

Ternyata larangan masuk itu juga berlaku untuk lima orang prajurit penjaga yang biasa berkeliling memastikan suasana istana aman terkendali.

"Aku ini prajurit penjaga, aku ingin memastikan keamanan di sini," kata salah seorang prajurit yang ditahan oleh pelayan dalem di muka gapura.

"Ini bukan keinginanku, tapi perintah Tuan Patih Amangkubumi sendiri," jawab pelayan dalem.

"Baiklah bila memang itu perintah Tuan Patih," ujar sang penjaga, lalu kelima prajurit itu pun berjalan kembali untuk memeriksa tempat lain.

Tidak lama berselang, muncul seorang pelayan dalem wanita yang biasa berbelanja sayur-mayur.

"Gawat!" serunya sambil menurunkan belanjaan di dekat pelayan dalem lelaki yang menjaga halaman.

"Gawat apanya?" tanya pelayan lelaki itu.

"Hampir semua orang di pasar membicarakan peristiwa kemarin," jawab pelayan wanita.

"Lalu apanya yang gawat?" tanya pelayan lelaki lagi.

"Gawatnya adalah para keluarga korban dan keluarga prajurit yang tewas menuntut keadilan. Nyawa harus dibayar nyawa," jelas si pelayan wanita.

"Syukurlah, bukan segawat yang kukira," sahut pelayan lelaki sambil tersenyum menggoda.

"Gawat apa yang kamu kira?" tanya pelayan wanita penasaran.

"Kukira ada berita keluargamu tidak merestui hubungan kita. Itulah gawat darurat yang paling kukhawatirkan," jawab pelayan lelaki itu.

"Masih jauh untuk bercerita tentang hubungan kita kepada keluargaku," kata pelayan wanita itu sambil mengangkat kembali bakul belanjaannya ke atas kepala.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment