Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 167

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 167

Ternyata serangan anak muda itu tidak kalah kuat dan gesit dibandingkan serangan Dyah Wiyat. Maka, aksi saling serang antara Dyah Wiyat dan pemuda itu terlihat semakin sengit. Tataran kemampuan mereka sepertinya berimbang; sama-sama lincah, gesit, cekatan dalam mengatur siasat, serta menggunakan berbagai tipu daya yang sangat pelik. Jarang sekali Dyah Wiyat menemukan lawan tanding yang dapat mengimbangi kemampuannya, apalagi lawan yang berasal dari perguruan berbeda. Hal tersebut membuat Dyah Wiyat semakin bersemangat melayani pemuda itu.

"Satu sama lainnya tidak bersungguh-sungguh menjatuhkan lawannya," ujar Gajah Mada sambil tersenyum kepada Biksuni Andini di seberang sungai. Ternyata, Gajah Mada dan Biksuni Andini sedari awal sudah menyaksikan pertempuran keduanya. Sebagai pembimbing putri Dyah Wiyat dalam olah kanuragan, Gajah Mada dapat membaca gerakan anak asuhnya itu yang memang tidak tuntas dalam menyelesaikan serangan.

"Setahuku, sang putri sangat ganas serangannya dan tidak pernah memberi kesempatan kepada lawannya," kata Biksuni Andini dengan nada heran.

"Aku punya sedikit akal," sahut Gajah Mada kepada Biksuni Andini. "Tetaplah di sini. Di balik semak-semak itu ada seseorang yang bersembunyi, pasti orang dekat dari anak muda itu."

Biksuni Andini mengerutkan keningnya. Sedari tadi ia tidak melihat seorang pun selain mereka yang tengah bertempur. Namun, Biksuni Andini percaya bahwa Gajah Mada memiliki daya penglihatan yang sangat tajam. Ia pun membiarkan pria itu melangkah menyeberangi sungai dangkal mendekati arena pertempuran. Tidak lama berselang, Gajah Mada sudah berada di seberang sungai, tidak jauh dari arena, dan membelakangi sebuah semak belukar.

"Mengapa harus bersembunyi? Kurang jelas menyaksikan pertempuran sepasang pengantin yang sangat indah ini?" ucap Gajah Mada dengan suara perlahan seolah berbicara pada diri sendiri. Perkataan itu ditujukan kepada seseorang yang bersembunyi di balik semak belukar, karena tak lama kemudian terlihat sebuah kepala menyembul dari sana.

"Matamu sungguh sangat tajam, wahai orang muda," ujar seseorang yang baru saja keluar dari balik semak belukar itu kepada Gajah Mada. Gajah Mada hanya melirik sebentar ke arah lelaki yang sangat tua itu, lalu pandangannya kembali tertuju pada pertempuran Dyah Wiyat dan pemuda tersebut.

"Namaku Gajah Mada, yang tengah bertempur itu adalah adikku," kata Gajah Mada tanpa memalingkan wajah.

"Orang biasa memanggilku Ki Ajar Bendawa. Anak muda yang tengah bertempur itu adalah muridku," jawab lelaki tua itu sambil terus menyaksikan pertempuran tanpa berkedip.

"Apakah kalian berasal dari Tanah Wengker?" tanya Gajah Mada.

"Pengetahuanmu mengenai berbagai jenis olah kanuragan sangat kaya, hingga dapat mengenal gerak dasar dan asal perguruan kami," aku Ki Ajar Bendawa.

"Anak muda yang sangat berbakat, pasti diajar oleh seorang guru yang hebat," puji Gajah Mada.

"Kamu terlalu memuji. Adikmu sendiri kulihat setingkat tipis di atas kemampuan muridku. Hanya kemurahannya saja yang tidak ingin secepatnya menyelesaikan pertempuran," sahut Ki Ajar Bendawa mengakui keunggulan Dyah Wiyat.

"Aku sudah mulai jemu dengan pertempuran ini. Bagaimana bila kita bertaruh?" ajak Gajah Mada dengan suara yang cukup keras, seolah sengaja agar pembicaraan itu didengar oleh kedua anak muda yang sedang bertempur.

"Apa yang akan kita pertaruhkan?" tanya Ki Ajar Bendawa, juga dengan suara yang dikeraskan.

"Bila adikku kalah dalam pertempuran ini, maka selama tiga hari tiga malam ia akan menjadi pelayan kalian. Sebaliknya, bila muridmu kalah, ia akan menjadi pelayan kami selama tiga hari tiga malam," jawab Gajah Mada.

"Cis, tidak akan sudi diriku menjadi pelayanmu!" seru Dyah Wiyat yang langsung melancarkan serangan lebih gencar. Tampaknya, perkataan Gajah Mada telah membakar perasaannya.

"Siapa sudi menjadi pelayan anak gadis keras kepala sepertimu!" balas pemuda itu sambil berkelit dan menyerang balik.

Gajah Mada dan Ki Ajar Bendawa tersenyum menyaksikan perubahan pertempuran itu. Mereka tidak lagi bermain-main; keduanya kini benar-benar ingin menuntaskan setiap serangan dengan kesungguhan hati untuk menjatuhkan lawan. Sebagaimana prediksi Gajah Mada dan Ki Ajar Bendawa, kemampuan Dyah Wiyat memang sedikit di atas pemuda itu. Ia mulai kewalahan menghadapi serangan beruntun Dyah Wiyat.

Luar biasa memang serangan Dyah Wiyat, begitu cepat dan penuh daya tipu. Meski begitu, pemuda itu memiliki semangat bertempur yang luar biasa. Ia berkali-kali lolos dari sergapan Dyah Wiyat yang deras seperti ombak bergulung.

"Di Bumi Majapahit ini, jarang ada yang dapat menandingi kekayaan gerak olah kanuragan dari Padepokan Bajra Seta," puji Ki Ajar Bendawa.

"Ternyata Ki Ajar Bendawa punya pengetahuan yang sangat luas tentang olah kanuragan di bumi Majapahit ini," balas Gajah Mada.

"Seandainya saja dari semula aku mengetahui bahwa gadis itu memiliki garis gerak dari Padepokan Bajra Seta, mungkin aku tidak berani bertaruh kepadamu," kata Ki Ajar Bendawa, seolah tahu apa yang akan terjadi pada muridnya.

Dugaan Ki Ajar Bendawa terbukti. Muridnya terlihat semakin tersudut menghadapi jurus-jurus dari Padepokan Bajra Seta yang kaya akan gerak tak terduga. Akhirnya, dalam sebuah serangan beruntun, sebuah pukulan dari tangan mungil Dyah Wiyat tidak dapat dihindari oleh pemuda itu.

"Plak!"

Pukulan Dyah Wiyat bersarang di dada pemuda itu hingga terdorong mundur tiga langkah. Beruntung, Dyah Wiyat tidak menggunakan tenaga sejatinya, melainkan hanya tenaga wadagnya yang terlatih.

"Mulai hari ini kamu menjadi pelayanku, wahai pemuda sombong!" seru Dyah Wiyat dengan penuh kegembiraan.

"Aku tidak akan mau menjadi pelayanmu," tantang pemuda itu.

"Kakang Gajah Mada, jelaskan kepada anak sombong ini," pinta Dyah Wiyat.

"Aku akan meminta gurunya yang menjelaskan," sahut Gajah Mada sambil tersenyum.

"Maafkan aku, wahai muridku. Semula aku memang membanggakan ilmu perguruan kita hingga berani bertaruh," ujar Ki Ajar Bendawa kepada muridnya. "Namun, aku meminta kepada kakak gadis ini untuk memperpanjang pertaruhan ini, satu hari saja," lanjutnya sambil menatap Gajah Mada.

Gajah Mada tersenyum, ia seolah dapat membaca bahwa Ki Ajar Bendawa belum menerima kekalahan muridnya. "Aku menerima permintaanmu. Aku yakin kalian cukup jantan untuk memegang janji."

"Terima kasih, besok pagi kita bertemu di pinggir sungai ini," kata Ki Ajar Bendawa seraya berpamitan.

Setelah Ki Ajar Bendawa dan muridnya menghilang ke dalam hutan, Gajah Mada berkata, "Orang tua itu diam-diam mempelajari gerak langkahmu dan merasa yakin dapat mengajari muridnya untuk mengalahkanmu."

"Aku akan berusaha untuk tidak dikalahkan oleh pemuda sombong itu," sahut Dyah Wiyat sambil mencibir. Gajah Mada hanya tersenyum; sebagai orang yang lebih dewasa, ia mengerti perasaan sang putri. "Wanita memang sangat pandai menutupi perasaan hatinya sendiri," batin Gajah Mada.

"Mengapa pemuda tampan itu dibiarkan pergi, bukankah kalian telah memenangkan pertaruhan?" tanya Biksuni Andini yang baru saja tiba.

"Kakang Gajah Mada terlalu baik kepada mereka," keluh Dyah Wiyat.

"Nanti malam aku akan mengajarimu sebuah gerak jurus baru di luar yang pernah aku ajarkan, bahkan di luar apa yang ada dalam pikiran guru anak muda itu," ujar Gajah Mada untuk menghibur.

Mendengar itu, wajah Dyah Wiyat berubah cerah. Ia sangat mengenal Gajah Mada yang memiliki banyak ilmu andalan dan merasa gembira akan diajarkan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang ia tekuni selama ini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment