Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 130

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 130

Sebagaimana yang dilihat oleh Empu Nambi, ternyata pasukan sayap kanan yang dipimpin oleh Adipati Menak Koncar mampu menekan kekuatan lawan mereka yang dipimpin oleh seorang senapati pengapit dalam gelar Dirada Meta yang bernama Ki Jabung Terewes.

Ki Jabung Terewes bersama pasukannya yang pernah dipukul mundur oleh para prajurit Lamajang beberapa waktu yang lalu itu memang bermaksud membalas dendam atas kematian anak buahnya dalam pertempuran sebelumnya. Kebetulan sekali, sebagian besar pasukan yang dihadapinya dalam pertempuran kali ini adalah prajurit dari Lamajang.

Namun, yang dihadapi oleh Ki Jabung Terewes adalah Adipati Menak Koncar yang memiliki banyak pengalaman bertempur serta hebat dalam mengendalikan pasukan besar.

Beberapa kali Ki Jabung Terewes seperti kehilangan akal saat menghadapi berbagai jebakan dan perangkap pasukan di bawah kendali Adipati Menak Koncar. Pasukan itu kadang menyusut melengkung membentuk jurang menganga, dan begitu pasukan musuh masuk, tiba-tiba saja pasukan Adipati Menak Koncar menghantam dan menjepit mereka seperti air bah gelombang besar.

Korban pun berjatuhan tidak sedikit di pihak pasukan Ki Jabung Terewes.

Sambil bertempur menghadapi tiga orang penyerangnya, Empu Nambi tersenyum penuh kebanggaan melihat putranya mengendalikan dan mengatur seluruh kekuatan pasukannya dengan sangat cerdas.

Sementara itu, di sayap kiri pertempuran, Empu Nambi sempat mengamati suasana. Ia melihat bahwa Panji Wiranagari yang dipercayakan memimpin pasukan sayap kiri mampu mengimbangi pasukan lawan.

"Syukurlah, mereka tidak bertemu muka dalam pertempuran ini," ucap Empu Nambi dalam hati sembari menarik napas lega saat melihat senapati musuh yang menghadapi sayap kirinya adalah besannya sendiri, Tumenggung Jala Rananggana.

Perlahan tapi pasti, gelar Garuda Nglayang pasukan Empu Nambi dapat mendesak gelar perang Dirada Meta yang sangat kuat itu. Hal ini terutama berkat tekanan hebat di sayap kanan oleh pasukan Adipati Menak Koncar, yang memaksa Dyah Halayuda memerintahkan beberapa prajurit dari pasukan induknya untuk bergeser membantu pasukan Ki Jabung Terewes yang tertekan.

Akibatnya, pasukan Empu Nambi di bagian paruh dan kepala gelar perangnya dapat memukul pasukan Majapahit yang menyusut itu. Mereka berhasil mendesak mundur pasukan Majapahit hingga empat tumbak dari garis awal pertempuran.

"Sedari awal aku memang belum yakin kemampuan orang sombong itu ditempatkan sebagai senapati pengapit dalam gelar perang ini," gumam Tumenggung Jala Rananggana dalam hati dengan penuh rasa khawatir.

Sementara itu, matahari di atas Padang Ledoktempuro telah bergeser turun ke arah barat cakrawala. Dentang senjata beradu dan suara gemuruh peperangan begitu riuh memenuhi padang tersebut. Sorak-sorai prajurit masih silih berganti, namun suara dari pasukan Empu Nambi terdengar lebih dominan dibandingkan pasukan Majapahit yang dipimpin langsung oleh Dyah Halayuda.

Suara gemuruh peperangan itu masih terdengar dari ujung tepi hutan di sebelah timur Padang Ledoktempuro. Namun, suasana menjadi semakin senyap saat masuk lebih jauh ke tengah jantung hutan, tepatnya ke tempat perkemahan besar pasukan Majapahit yang saat itu hanya dijaga oleh sekitar seratus orang prajurit, termasuk para juru masak yang bertugas menyiapkan ransum.

Terlihat beberapa prajurit sibuk menyiapkan masakan di depan gubuk, sementara prajurit lainnya berjaga-jaga memastikan perkemahan mereka dalam keadaan aman. Namun, para prajurit Majapahit di perkemahan itu tidak menyadari bahwa ribuan mata sudah sejak lama mengintai mereka.

Entah dari mana arah datangnya, seorang lelaki berjalan mendekati tiga prajurit yang tengah menyiapkan rusa panggang.

"Siapa kamu!" seru salah seorang dari ketiga prajurit itu dengan suara keras sambil berdiri.

Dengan sigap, kedua temannya ikut berdiri menatap tajam lelaki asing tersebut.

"Apakah penting menanyakan namaku?" jawab lelaki asing itu penuh senyum ringan.

"Terlarang bagi orang asing memasuki perkemahan kami! Jangan-jangan kamu adalah pihak musuh yang sengaja datang mengganggu," seru salah seorang prajurit.

"Ternyata senjata prajurit Majapahit hanya sebuah pisau dapur biasa," ujar lelaki asing itu sambil memandang pisau dapur yang digenggam ketiganya.

"Kami baru saja menyayat daging rusa. Sebutkan siapa kamu sebelum pisau ini menyayat tubuhmu!" ancam salah seorang dari mereka.

"Pasang telinga kalian. Sebagai prajurit Majapahit, pasti kalian pernah mendengar nama Rangga Pamandana, mantan prajurit Majapahit dari kesatuan pasukan Jala Yudha," ujar lelaki asing itu yang ternyata adalah Rangga Pamandana, perwira Majapahit yang telah membelot ke pihak Empu Nambi.

Sebagai sesama prajurit Majapahit, nampaknya mereka bertiga memang pernah mendengar nama tersebut. Seketika itu juga wajah ketiganya menjadi pucat pasi. Rangga Pamandana tersenyum melihat perubahan wajah mereka, namun para prajurit itu segera sadar akan tugas dan kewajibannya.

"Apa yang Tuan inginkan di perkemahan kami?" tanya salah seorang prajurit yang sudah mulai dapat mengendalikan rasa takutnya.

"Aku ingin merampok gudang persediaan kalian," jawab Rangga Pamandana dengan suara datar.

Mendengar itu, ketiganya saling berpandangan. "Kami bertiga mungkin bukan tandingan Tuan, namun kami dapat memanggil kawan-kawan yang lain," ujar salah seorang dari mereka.

"Cepat panggil mereka. Aku tidak akan lari selangkah pun dari tempatku berdiri," sahut Rangga Pamandana.

Salah seorang prajurit segera berlari ke sebuah gubuk dan membunyikan kentongan. Suara kentongan bernada panjang pun memenuhi seluruh perkemahan. Dalam waktu singkat, seratus prajurit Majapahit telah berkumpul di hadapan Rangga Pamandana.

"Kutawarkan kepada kamu untuk menyerahkan diri tanpa perlawanan," seru kepala prajurit di perkemahan itu.

"Bagaimana bila terbalik, aku yang menawarkan kalian untuk menyerahkan diri tanpa perlawanan?" balas Rangga Pamandana dengan sikap tenang.

"Apa yang kamu miliki sehingga berani menawarkan hal demikian kepada kami?" tanya kepala prajurit itu tidak sabaran.

"Aku memiliki pasukan besar, sepuluh kali lipat dari jumlah kalian," jawab Rangga Pamandana kalem.

"Omong kosong!" bentak kepala prajurit itu.

"Aku berkata benar," sahut Rangga Pamandana sambil bersuit panjang.

Para prajurit di perkemahan itu terkejut. Ternyata, suitan panjang Rangga Pamandana adalah aba-aba untuk memanggil pasukannya. Dari semak dan belukar, bermunculan orang-orang seperti hantu di siang bolong, setiap kepala bercirikan daun jarak yang terikat kuat. Jumlah mereka benar-benar sepuluh kali lipat dari jumlah prajurit Majapahit di perkemahan itu.

"Kuulangi lagi tawaranku, menyerah tanpa perlawanan," kata Rangga Pamandana setelah seluruh pasukannya berkumpul di belakangnya.

Mendengar tawaran itu, sebagian prajurit mulai ragu, namun rasa takut membayangkan jumlah musuh yang begitu besar melanda mereka.

"Kami prajurit Majapahit tidak akan gentar menghadapi musuh!" teriak kepala prajurit itu sambil menghunus pedang. Seolah mendapat perintah, seratus prajurit Majapahit lainnya ikut mencabut pedang mereka, melupakan rasa takut dan kebimbangan.

"Para prajurit yang sangat berani," puji Rangga Pamandana sambil memberi tanda kepada pasukannya untuk maju.

Pertempuran pun tidak dapat dihindari lagi. Denting suara pedang saling beradu, caci maki, dan bentakan kasar memenuhi arena perkemahan. Namun, apalah artinya seratus prajurit menghadapi seribu pasukan Rangga Pamandana? Terlebih, seratus prajurit Majapahit itu hanyalah kelas dua—para juru masak dan prajurit penjaga biasa—sementara pasukan Rangga Pamandana adalah prajurit pilihan dari Blambangan yang belum diterjunkan dalam pertempuran hari pertama.

Dalam waktu yang amat singkat, pasukan Rangga Pamandana berhasil menguasai medan pertempuran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment