Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 103

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 103

Seketika itu juga, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru melompat turun dari punggung kuda mereka. Mereka segera menerobos kerumunan ribuan prajurit Majapahit sambil berteriak meminta agar pengeroyokan tersebut dihentikan.

"Kalian salah menyerang orang! Dia adalah pahlawan Majapahit yang harus dihormati," seru Ki Rangga Gajah Biru sambil mendorong beberapa prajurit Majapahit.

Namun, tiba-tiba seorang prajurit mengancamnya dengan pedang panjang yang terhunus.

"Siapa yang kamu katakan pahlawan? Lihatlah mayat kawan-kawan kami, puluhan jiwa telah melayang di tangannya. Apakah pantas orang biadab itu dipanggil dengan sebutan pahlawan?" hardik prajurit rendahan itu sambil mengarahkan pedang ke arah Ki Rangga Gajah Biru.

Sebagai seorang perwira tinggi di istana Kediri, ucapan prajurit rendahan itu terasa seperti sebuah penghinaan. Ki Rangga Gajah Biru yang memiliki sifat mudah marah merasa bagaikan kayu kering yang disulut api; kemarahannya pun berkobar.

"Aku, Rangga Gajah Biru, akan berada di belakang Patih Mahesa Amping. Siapa pun yang menyakitinya akan menjadi musuh utamaku hari ini," tegas Ki Rangga Gajah Biru sambil mencabut pedangnya, siap memegang teguh kata-katanya.

Perkataan itu menarik perhatian beberapa prajurit Majapahit. "Kita tutup mulut perwira sombong dari Kediri itu," seru salah satu prajurit kepada kawan-kawannya.

Melihat beberapa prajurit Majapahit mengepung Ki Rangga Gajah Biru, dengan penuh kesetiaan, Ki Demung Juru segera maju melindungi bagian belakang sahabatnya. Keributan itu pun terbagi menjadi dua kelompok; satu mengepung Patih Mahesa Amping, dan kelompok lainnya mengepung kedua perwira tinggi dari Kediri tersebut.

Patih Mahesa Amping, yang memiliki ilmu kesaktian amat tinggi, tampak tak terluka sedikit pun oleh senjata tajam. Siapa pun yang berani mendekat akan terlempar hingga tewas. Sementara itu, Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru bertempur seperti dua ekor banteng yang kalap, menumbangkan beberapa prajurit Majapahit.

Melihat kawan-kawan mereka menjadi korban, para prajurit Majapahit lainnya menjadi semakin beringas. Malang nasib kedua perwira tinggi Kediri itu; setelah berkuda jauh tanpa istirahat, mereka kini harus menghadapi pengeroyokan. Tenaga mereka pun perlahan surut, dan gerakan mereka mulai melambat. Beberapa tusukan prajurit Majapahit berhasil melukai kedua perwira yang menyatakan diri berada di pihak Patih Mahesa Amping itu.

Rasa lelah yang amat sangat dan darah yang terus mengalir dari luka-lukanya membuat kepala Ki Demung Juru pening. Ia kehilangan arah pandang saat sebuah pedang tajam menembus paha kakinya. Orang tua gagah perkasa itu jatuh terkulai karena tak lagi mampu menahan berat tubuhnya.

Melihat sahabatnya tumbang, Ki Rangga Gajah Biru berseru lantang, "Nyawaku setara dengan seratus jiwa! Mari mati bersamaku!"

Namun, seruan itu tidak menyusutkan langkah lima prajurit Majapahit yang menerjangnya. Dengan ketangkasan luar biasa, pria bertubuh besar itu menangkis serangan lawan. Sayangnya, satu serangan luput dari perhatiannya. Sebuah sabetan pedang berhasil merobek lengan kanan Ki Rangga Gajah Biru. Tanpa memedulikan rasa sakit, ia memindahkan pedang ke tangan kirinya.

"Mari mati bersamaku," ucap Ki Gajah Biru dengan tatapan dingin.

"Matilah kamu sendiri!" seru seorang prajurit yang langsung menyerang.

Naas bagi prajurit itu, ia tidak menduga Ki Rangga Gajah Biru masih bisa bergerak cepat dengan tangan kirinya. Perut prajurit itu tergores dalam oleh sabetan pedang Ki Rangga Gajah Biru hingga darah segar mengucur deras. Prajurit itu pun bergulingan menahan sakit.

Melihat hal itu, kawan-kawannya langsung menubruk Ki Rangga Gajah Biru dari berbagai arah. Akhirnya, sang perwira tinggi Kediri itu jatuh terkulai dengan sekujur tubuh penuh luka dan kehabisan darah.

Sementara itu, kepungan terhadap Patih Mahesa Amping semakin rapat. Meski hujan senjata diarahkan kepadanya, sang Patih yang perkasa masih mampu mengelak dan terus memukul mundur lawan-lawannya.

"Jaka Sesuruh, keluarlah engkau! Jangan berlindung di balik tikus-tikus tidak berarti ini!" teriak Patih Mahesa Amping penuh kebencian.

Nama Jaka Sesuruh merupakan nama kecil Baginda Raja Sanggrama Wijaya, sebuah sebutan hinaan yang merujuk pada masa lalu sang Raja sebagai anak yatim yang terbuang. Patih Mahesa Amping terus meneriakkan nama itu sebagai bentuk dendam. Namun, usai berteriak, tubuh Patih yang perkasa itu tiba-tiba limbung layaknya orang mabuk.

Melihat peluang itu, dua prajurit memberanikan diri menyerang. Namun, sebelum mereka mencapai sasaran, dua sosok bayangan berkelebat. Satu sosok menghempaskan kedua prajurit tersebut hingga mereka terlempar, sementara sosok lainnya mendekati Patih Mahesa Amping yang hampir jatuh.

"Ayah..." ucap Adityawarman.

"Bila perbuatanku hari ini bersalah, aku akan dengan sukarela melepaskan jabatan ini. Namun, bila ada yang berani menyentuh kulit tubuh saudaraku ini, berarti dia berhadapan denganku sebagai musuh besarku!" seru Tumenggung Mahesa Semu dengan lantang.

Mendengar tantangan itu, para prajurit Majapahit menjadi gentar, ragu untuk menghadapi saudara seperguruan Patih Mahesa Amping yang kesaktiannya tidak terpaut jauh tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment