Chapter 79
"Akulah yang pantas menghadapimu, anak muda," kata Ki Randu Alam sambil menerjang dengan tendangan yang sangat cepat dan bertenaga penuh.
Bukan main terkejutnya Gajahmada menghadapi serangan itu; tidak ada jalan lain baginya selain meningkatkan tataran ilmunya.
"Aku seperti tidak melihat Ki Randu Alam yang kukenal beberapa waktu lalu," ujar Gajahmada sambil melayani serangan Ki Randu Alam.
Sambil bertempur, Gajahmada terheran-heran melihat jurus-jurus dasar kanuragan milik Ki Randu Alam sangat berbeda dengan gerakan yang ia tunjukkan saat mereka bertempur di sekitar hutan Simpang.
"Apakah dalam pertempuran waktu itu dia berpura-pura mengalah?" tanya Gajahmada dalam hati, merasakan kemampuan Ki Randu Alam kini jauh lebih dahsyat.
Gajahmada tidak sempat berpikir panjang, apalagi memikirkan keadaan Supo Mandagri. Serangan Ki Randu Alam yang kuat, keras, dan cepat itu membuat Gajahmada hanya bisa memusatkan seluruh daya dan kemampuannya untuk keluar dari sergapan yang berbahaya itu. Sedikit saja kelengahan akan berdampak buruk baginya.
Gajahmada dan Ki Randu Alam bertempur layaknya dua naga kanuragan yang telah melapisi diri dengan tenaga sakti sejati. Arena pertempuran keduanya kini menyerupai bekas putaran angin puting beliung, menyisakan debu tanah dan rumput kering yang beterbangan.
Sementara itu, Ki Ajar Pelandongan yang berada di luar arena masih berdiri mengamati pertempuran. Sebagai orang yang pernah dikalahkan oleh Gajahmada, Ki Ajar Pelandongan merasa cemas dan ragu apakah Ki Randu Alam mampu melumpuhkan anak muda yang memiliki ilmu kesaktian tinggi tersebut.
"Kita coba lumpuhkan anak muda itu dengan cara kita sendiri," ujar Ki Ajar Pelandongan kepada Kuda Anjampiani.
Dengan akal liciknya, Ki Ajar Pelandongan dan Kuda Anjampiani bergerak menuju ke arah Supo Mandagri yang tengah menghadapi lawan-lawannya. Guru dan murid itu terjun langsung untuk mengeroyok Supo Mandagri. Kasihan sekali pemuda itu; tanpa senjata menghadapi beberapa orang lawan yang bersenjata lengkap, ia menjadi kewalahan dan bulan-bulanan mereka.
Kehadiran Ki Ajar Pelandongan dan Kuda Anjampiani sempat dilihat oleh Gajahmada. Namun, ia tidak mampu berbuat apa-apa karena terikat pertempuran dengan Ki Randu Alam yang semakin gencar melancarkan serangan pukulan berhawa panas yang dapat membakar kulit.
Bukan Gajahmada namanya jika tidak mampu menghadapi serangan tersebut. Putra pendeta Agung Dharmaraya yang menguasai bermacam-macam ajian itu telah melapisi dirinya dengan tameng yang setara dengan ilmu kekebalan lembu sekilan. Serangan angin pukulan Ki Randu Alam yang panas laksana lahar gunung berapi itu kalis begitu saja di tubuh Gajahmada. Bahkan, Gajahmada sempat membalas dengan serangan yang tidak kalah dahsyat, bergulung-gulung bagai badai dingin gunung salju.
Diam-diam, Ki Randu Alam mengakui kemampuan lawannya. Hanya dengan ilmu meringankan tubuh, ia mampu menghindar dari serangan Gajahmada. Meski berhasil menghindar, kulit tubuhnya tetap terasa perih tersengat hawa dingin. Ki Randu Alam pun sadar bahwa tataran kekuatan inti sejati lawannya berada di atas dirinya. Namun, ia adalah petarung yang tangguh dan tidak mudah menyerah.
Pertempuran dua naga kanuragan itu semakin seru dan menegangkan. Dalam aksi serang-menyerang, Gajahmada yakin bahwa Ki Randu Alam selalu menghindar jauh, yang menandakan bahwa serangan Gajahmada mampu menembus pertahanan lawan.
"Aku akan membuat tekanan lebih gencar lagi," tekad Gajahmada.
"Gila, kekuatan anak muda ini," batin Ki Randu Alam saat merasakan hawa dingin serangan Gajahmada kembali menembus pertahanannya. Tenaga Ki Randu Alam perlahan terkuras dan menyusut.
Namun, situasi berbalik saat Gajahmada mendengar teriakan Ki Ajar Pelandongan.
"Menyerahlah! Nyawa kawanmu sudah ada di tangan kami," teriak Ki Ajar Pelandongan.
Gajahmada melenting ke belakang dan menghentikan serangannya. Ia mematung melihat sahabatnya, Supo Mandagri, berlutut dengan tubuh bermandikan darah dan keris tajam di tangan Kuda Anjampiani menempel di lehernya.
"Jangan hiraukan nyawaku, wahai sahabat. Tumpaslah mereka semuanya!" seru Supo Mandagri lantang.
Gajahmada menatap iba sahabatnya. Kuda Anjampiani, dengan senyum kemenangan, menarik rambut Supo Mandagri dan menempelkan kerisnya lebih erat.
"Mereka mengancammu karena merasa tidak dapat mengalahkanmu. Jangan hiraukan nyawaku. Bunuh dua manusia licik ini agar di kehidupan selanjutnya mereka menjadi tikus cecurut yang selalu diburu orang," tantang Supo Mandagri tanpa rasa takut.
Gajahmada bimbang. "Akulah yang bertanggung jawab jika anak ini mati," batinnya. Ia pun memasrahkan dirinya kepada Sang Pencipta. Ketenangan kembali terpancar di wajahnya.
"Aku menyerah. Jangan ambil nyawa sahabatku," kata Gajahmada dengan tegar.
Ki Ajar Pelandongan merasa di atas angin, berharap Ki Randu Alam memujinya. Rupanya, kelicikan sang guru telah menular kepada Kuda Anjampiani.
"Cepat, ikat kaki dan tangan orang itu!" perintah Kuda Anjampiani.
Setelah Gajahmada dan Supo Mandagri diikat, mereka diseret ke sebuah pohon randu di pojok pagar halaman.
"Kalian akan mati di sini, tanpa makan dan minum," ancam Kuda Anjampiani.
Gajahmada diam membisu, hanya membalas dengan sorot mata penuh kebencian.
"Sorot matamu akan segera meredup hingga kau mati perlahan," ujar Kuda Anjampiani, yang menyimpan dendam masa lalu terkait perebutan hati seorang wanita bernama Andini di padepokan Nyi Ageng Nglirip, Tuban. Gajahmada tetap tidak berkata apa-apa, menyadari bahwa musuhnya hanya mencoba menyiksa batinnya. Sikap diam Gajahmada membuat Kuda Anjampiani kian kesal.