Chapter 207
Bahkan Arya Damar masih saja dapat melakukan penekanan yang tidak kalah dahsyatnya.
Entah sudah berapa bilangan gerak laku kedua petempur itu mengadu kemampuannya, sementara gerak mereka sudah terlihat seperti bayangan terbang saling berkejaran.
Semakin bergejolak perasaan Raden Makambika mendapatkan lawan perang tandingnya bukan orang biasa yang begitu mudah menjadi barang permainannya, menjadi alat pamer keangkuhannya.
Hingga akhirnya mata Raden Makambika mulai terbuka.
Raden Makambika sudah seperti semakin putus asa.
Ternyata Arya Damar telah meningkatkan kemampuannya lebih tinggi lagi melampaui kemampuan yang dimiliki oleh Raden Makambika.
Raden Makambika tidak lagi melihat Arya Damar sebagai anak ikan gabus yang hanya dapat melesat sembunyi, tetapi Raden Makambika melihat Arya Damar sebagai ular air besar yang sigap dan kuat.
Gerak Raden Makambika di arena perang tanding itu sudah merasa semakin terancam, layaknya seekor ikan yang terjebak di dalam kubangan dangkal.
Peluh dingin keluar dari seluruh tubuh, bukan karena kelelahan, melainkan karena rasa takut kekalahannya disaksikan oleh orang banyak, orang-orang yang selama ini membanggakannya sebagai putra Raja Bali yang pilih tanding.
Sementara itu, di arena perang tanding itu dirinya tidak dapat berbuat banyak. Bahkan dirinya berada di ambang kekalahan bila saja tidak mengandalkan kesigapannya menghadapi serangan pihak lawan yang ternyata memiliki kemampuan lebih tinggi di atas kemampuan yang dibanggakannya selama ini.
Perlahan tetapi pasti, Raden Makambika terlihat seperti semakin terjerembap menghadapi desakan serangan Arya Damar yang datang silih berganti.
Hingga akhirnya keberadaan Raden Makambika benar-benar seperti seekor ikan di kubangan dangkal, sementara di dekatnya seekor ular air besar yang lapar siap menunggu saat yang tepat.
Nalar dan pengendalian Arya Damar masih tetap terjaga. Itulah sebabnya bukan keris di tangannya yang digunakan untuk menuntaskan pertempurannya, melainkan sebuah hentakan kakinya yang tepat bersarang di perut Raden Makambika, yang telah membuat putra Raja Bali itu terjengkang dengan napas seperti terputus sejenak.
"Tidak ada tuntutan apa pun bila kerisku ini merobek batang lehermu di perang tanding ini," kata Arya Damar yang tiba-tiba saja bergerak dengan sangat cepat mendekatkan kerisnya di leher Raden Makambika.
Peluh dingin memenuhi seluruh wajah Raden Makambika. Di benaknya terbayang cemoohan banyak orang yang menyaksikan kekalahannya itu.
Lama Raden Makambika tidak dapat berkata-kata, lidahnya seperti kelu menahan rasa malu yang amat sangat.
"Tidak ada tuntutan apa pun dalam perang tanding ini, namun setiap orang dapat menjadi pengganti. Aku Patih Kebo Iwa mewakili nama besar kehormatan kerajaan yang akan menggantikan kedudukan Raden Makambika di perang tanding ini," kata seorang lelaki tinggi besar berwajah keras memasuki arena perang tanding di alun-alun depan istana itu.
Mata semua orang yang berada di luar arena perang tanding itu tertuju ke arah lelaki tinggi besar yang mereka kenal sebagai salah seorang Patih di Kerajaan Bali yang berilmu tinggi.
Terlihat Arya Damar mundur beberapa langkah menjauhi Raden Makambika yang masih terbaring.
"Bangkit dan keluarlah dari arena ini, wahai Raden Makambika. Biarlah pamanmu yang akan menggantikanmu menjaga kehormatanmu," kata Patih Kebo Iwa kepada Raden Makambika.
Perlahan Raden Makambika bangkit berdiri dan tergesa-gesa keluar dari arena perang tanding itu.
"Katakan siapa gerangan namamu, wahai orang muda. Agar semua orang di sini dapat mengingat sebuah nama bila tubuhmu mati tergeletak di arena perang tanding ini," kata Patih Kebo Iwa kepada Arya Damar yang terlihat sudah bersiap diri menghadapi lelaki yang sudah mengumandangkan nama besarnya sebagai Patih Kebo Iwa itu.
Namun Arya Damar tidak jadi membuka mulutnya karena telah melihat seorang pemuda melangkah datang mendekatinya.
"Patih Kebo Iwa, namaku Majalangu. Bukan berarti saudaraku ini tidak dapat mengalahkanmu, hanya untuk menyeimbangkan perang tanding ini, aku akan menjadi pengganti saudaraku menjadi lawanmu," kata pemuda itu dengan suara lantang, keras, dan tegas.
Terlihat semua orang yang hadir menyaksikan perang tanding itu mengerutkan keningnya. Semua orang mempertanyakan keberadaan pemuda itu, apakah memiliki ilmu setinggi langit hingga begitu beraninya menantang seorang Patih Kebo Iwa yang berilmu sangat tinggi itu.
Meski pemuda yang menamakan dirinya Majalangu itu terlihat sangat percaya diri dan bersikap sangat tenang, tetap saja semua orang masih menyangsikan kemampuannya itu.
"Berhati-hatilah, wahai saudaraku. Aku melihat sinar mata orang itu penuh dengan tenaga sejati yang sangat tinggi," kata Arya Damar berbisik perlahan kepada Majalangu yang tidak lain adalah Patih Gajah Mada itu.
Setelah berkata kepada Majalangu, terlihat Arya Damar melangkah keluar dari arena perang tanding itu.
Tinggallah Majalangu dan Patih Kebo Iwa di tengah arena perang tanding saling bertatap muka seperti layaknya dua orang petarung yang saling mengukur kedalaman kemampuan masing-masing lawannya.
Terlihat Patih Kebo Iwa telah meloloskan pedang besarnya, sebuah pedang pusaka dengan beberapa gerigi tajam di punggung mata pedangnya.
Ada wibawa yang keluar dari kilatan cahaya pedang itu yang memantulkan cahaya matahari di siang itu.
"Keluarkan senjatamu, agar kamu tidak menyesal di ujung perang tanding ini," kata Patih Kebo Iwa kepada pemuda yang akan menjadi lawan tandingnya itu.
Terlihat Majalangu menarik napas panjang, perlahan tangannya meraba pangkal cambuk pendeknya yang melingkar di pinggangnya.
Semua orang telah melihat sebuah cambuk pendek jatuh berjuntai menyentuh bumi.
Mata Majalangu yang sangat tajam terlatih itu telah melihat selintas keterkejutan diri Patih Kebo Iwa yang tertuju ke arah cambuk pendeknya.
"Katakan apa hubunganmu dengan ketua Padepokan Pamecutan yang bernama Ki Putu Risang itu," kata Patih Kebo Iwa kepada Majalangu.
Sontak berdesir darah di tubuh Majalangu mendengar Patih Kebo Iwa menyebut sebuah nama.
"Aku salah satu muridnya," kata Majalangu seketika.
Terdengar gelak tawa keluar dari mulut Patih Kebo Iwa.
"Orang bodoh itu tidak ingin bergabung dengan kami, akibatnya kami telah memberangus padepokan miliknya," kata Patih Kebo Iwa setelah menghentikan gelak tawanya.
"Aku tidak yakin bahwa dirimu mampu mengalahkannya," kata Majalangu sambil menatap tajam ke arah Patih Kebo Iwa.
Kembali terdengar gelak tawa Patih Kebo Iwa, lebih keras dari sebelumnya.
"Aku memang belum mengalahkannya, tetapi hari ini aku akan melampiaskan dendam luka di atas wajahku ini dengan membunuh salah seorang muridnya," kata Patih Kebo Iwa diiringi dengan gelak tawanya yang terdengar begitu menjengkelkan.
Sekilas pandangan Majalangu menatap bekas luka di wajah Patih Kebo Iwa berupa goresan panjang di sebelah kiri pipinya, memang sebuah goresan akibat sebuah cambuk.
Terlihat Majalangu menarik napas panjang. Dalam hati ia merasa sedikit terhibur mendengar kabar bahwa Putu Risang bersama para cantriknya saat ini masih dalam keadaan selamat, hanya saja keberadaannya masih belum diketahui karena menghilang seperti ditelan bumi.
"Aku telah siap menghadapimu, wahai Patih Kebo Iwa," kata Majalangu dengan suara penuh kepercayaan diri yang tinggi.
"Bagus, hari ini kamu telah mewakili orang bercambuk itu, melunaskan rasa sakit hatiku," kata Patih Kebo Iwa sambil menggetarkan pedang besarnya seperti tidak sabar untuk meloncat dan menerjang lawan di hadapannya itu.
Benar saja, selesai bicara tubuh tinggi besar itu terlihat telah bergerak dengan pedang besar bergerigi yang berputar dan berdesing menerjang tubuh Majalangu alias Patih Gajah Mada itu.
Semua orang terlihat menahan napas, membayangkan tubuh anak muda itu akan hancur lumat tercabik putaran pedang besar di tangan Patih Kebo Iwa.
Namun dugaan semua orang ternyata meleset jauh. Anak muda yang dikira akan begitu mudah dikalahkan oleh Patih Kebo Iwa yang berilmu sangat tinggi itu dengan sangat tenang bergeser ke samping, sementara dengan sangat cepat cambuknya terlihat bergerak.
"Tar!!!"
Hentakan cambuk dengan gerakan sandal pancing telah memaksa Patih Kebo Iwa mundur dua langkah ke belakang.
"Gila!" teriak Patih Kebo Iwa tanpa sadar yang nyaris terkena sambaran cambuk pendek di tangan Majalangu.
Barulah terbuka mata dan pikiran Patih Kebo Iwa bahwa pemuda di hadapannya itu bukan orang sembarangan.
Maka, Patih Kebo Iwa kembali melakukan serangan, tentunya dengan perhitungan dan kehati-hatian yang amat sangat karena tidak ingin terjangannya berbalik arah mengancam dirinya sendiri.
Melihat serangan Patih Kebo Iwa yang penuh perhitungan sangat matang itu membuat Majalangu harus mengimbanginya dengan perhitungan yang lebih matang pula.
Patih Kebo Iwa tidak menyadari bahwa perhitungan Majalangu jauh lebih teliti dari apa yang ada dalam pikirannya.
Bila Patih Kebo Iwa berhitung lima langkah ke depan, Majalangu melampauinya tiga sampai empat langkah dari perhitungannya.
Akibatnya, serangan Patih Kebo Iwa meleset begitu saja seperti air yang jatuh di atas daun talas, hilang tanpa berbekas.
Bahkan, kembali Patih Kebo Iwa disibukkan dengan serangan yang dahsyat, merasakan ujung cambuk Majalangu seperti memiliki mata yang mengejarnya ke mana pun dirinya bergerak.
"Anak setan!" Kembali tanpa disadarinya keluar sumpah serapah dari mulutnya manakala ia terlepas dari ujung cambuk Majalangu tetapi masih sempat tergores kulit kakinya yang menimbulkan rasa pedih yang amat sangat.
"Maaf, ujung cambukku tidak bermata," kata Majalangu sambil tersenyum dan berdiri dengan cambuk dibiarkan menjulur ke bawah.
Panas hati Patih Kebo Iwa, apalagi saat itu banyak orang yang menyaksikannya di arena perang tanding itu.
"Jangan bergirang hati dulu, aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku," kata Patih Kebo Iwa sambil langsung bergerak menerjang ke arah Majalangu.