Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 163

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 163

"Sebuah kebanggaan hati duduk bersama para ksatria penjaga Majapahit, para pahlawan bumi Majapahit yang sesungguhnya di pendapa agung ini. Ada dua hal penting yang akan kusampaikan di pendapa agung ini," ujar Gajah Mada sambil tersenyum menyapu pandangannya ke semua orang yang hadir.

Terlihat Tumenggung Jala Rananggana bergeser menyempurnakan posisi duduknya, tampak gelisah menanti berita yang akan disampaikan oleh Gajah Mada dari istana Majapahit.

"Pertama-tama, aku datang sebagai duta pribadi Raja Jayanagara, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas apa yang terjadi di bumi Lamajang kepada seluruh warga Lamajang dan kepada keluarga besar Empu Nambi," kata Gajah Mada, lalu diam sejenak memandang ke sekeliling pendapa.

"Hal kedua, sehubungan dengan kedatanganku ini adalah sebagai duta istana Majapahit, mengabarkan bahwa pihak istana berharap seluruh prajurit Majapahit yang selama ini berseberangan untuk kembali bergabung dalam kesatuan pasukan Kerajaan Majapahit," lanjut Gajah Mada.

Semua orang di pendapa agung Kadipaten Lamajang tampak menarik napas panjang. Perkataan Gajah Mada telah menyampaikan sikap istana yang mereka nanti-nantikan, mencairkan ketegangan antara keluarga Empu Nambi dan pihak istana, sekaligus memberikan kepastian nasib bagi ribuan prajurit untuk bergabung kembali sebagai pasukan Kerajaan Majapahit.

"Mewakili keluarga besar Empu Nambi dan seluruh warga bumi Lamajang, dengan hati terbuka kami menyadari bahwa tiada gading yang tidak retak, tiada seorang pun terlepas dari kesalahan dan kekhilafan. Permohonan maaf Raja Jayanagara kami terima dengan lapang dada. Sementara mengenai harapan pihak kerajaan agar prajurit bergabung kembali, nampaknya Tumenggung Jala Rananggana yang dapat mewakili seluruh prajurit di bumi Lamajang ini," ujar Adipati Menak Koncar.

Tumenggung Jala Rananggana memperbaiki letak duduknya, menarik napas panjang, lalu mengarahkan pandangan ke arah Gajah Mada.

"Perkataanmu sungguh seperti semilir angin pagi yang sejuk dari puncak Gunung Semeru. Apa yang kami lakukan selama ini adalah kesetiaan kami kepada hati nurani, kesetiaan kepada kebenaran hakiki, dan pengabdian kami kepada Kerajaan Majapahit. Bila Kerajaan Majapahit membuka pintu gerbangnya, kami para prajurit akan membuka lebar pintu hati kami, mencurahkan pikiran, tenaga, dan jiwa kami sebagai pasukan kebanggaan kerajaan. Selamanya kami bangga telah menjadi prajurit Majapahit," tegas Tumenggung Jala Rananggana.

"Tak terkira kegembiraan dan kebahagiaan menyelimuti hati ini, mendapatkan ketulusan hati keluarga besar Empu Nambi dan melihat kesetiaan para prajurit pahlawan bumi Majapahit untuk bergabung kembali di bawah naungan Kerajaan Majapahit Raya," ucap Gajah Mada dengan wajah ceria.

Prajurit putra Banyuwangi yang datang bersama Gajah Mada tersenyum simpul, teringat pada permintaannya di ujung perbatasan Kadipaten Lamajang. "Permintaan Gajah Mada telah didengar oleh para dewata, semoga saja permintaanku akan menjadi kenyataan," bisiknya dalam hati sambil berkhayal menjadi seorang prajurit berpangkat lurah. Namun, langkah seorang pelayan yang menumpahkan minuman membuyarkan lamunannya.

Putra sangkala terlihat tengah menggulung jaring-jaring waktu. Hari itu langit senja mewarnai bumi Lamajang, mentari terpenggal sepotong di ujung puncak Gunung Semeru. Kota tua Lamajang tampak begitu sepi setelah ditinggal para prajuritnya. Seorang gadis menatap hampa dari jeruji jendela rumahnya, berharap muncul kekasih pujaan hati yang mungkin saat itu telah berada di kotaraja Majapahit bersama pasukan yang telah kembali bergabung.

Gadis di balik jendela itu adalah sepenggal potongan cerita yang tersisa, sejarah yang terukir di balik kisah para pahlawan pembela panji Majapahit di bumi Lamajang; ilham para pujangga yang tidak pernah kering mengukir rontal babad cinta, prahara, dan air mata.

Di waktu yang sama, sang kekasih tengah bergerak bersama kesatuannya, pasukan pimpinan Tumenggung Jala Rananggana yang telah memasuki gerbang gapura batas Kotaraja Majapahit dari arah barat. Kedatangan mereka disambut dengan sukacita oleh warga, dielu-elukan sebagai pahlawan yang kembali dari medan perang, serta disambut upacara kebesaran kerajaan yang dipimpin langsung oleh Raja Jayanagara.

"Kehormatan kami anugerahkan atas kesetiaan kalian. Aku berkati kalian sebagai para pahlawan, bagi yang masih hidup maupun yang telah gugur. Bergabunglah kembali di bawah kendali Kerajaan Majapahit, di bawah panji Jala Rananggana, Jala Pati, dan Jala Yudha," ujar Raja Jayanagara. Demikianlah, pasukan tersebut disambut dengan suka cita dan diberikan libur sepekan untuk berkumpul bersama keluarga.

Sementara itu, malam ditemani rembulan yang bergelantung di ujung tiang layar perahu, menatap pelita dan oncor di sepanjang Bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh.

"Ibundamu merasa gembira, kamu telah menyelesaikan tugas sebagai duta perdamaian di Lamajang dan Blambangan dengan sangat sempurna, terutama telah membawa kembali pasukan kita ke dalam pangkuan ibu pertiwi," tutur Nyi Nariratih kepada Gajah Mada yang baru saja bercerita.

"Semua berkat doa Ibunda," jawab Gajah Mada pelan sambil menatap wajah ibundanya. Deru ombak di pantai Tanah Ujung Galuh terdengar sayup mengiringi malam.

"Jangan kamu sia-siakan harapan Ibunda Ratu Gayatri. Seorang patih adalah kepanjangan tangan dari keluarga istana Kahuripan, memimpin dan mengendalikan para pejabat istana serta menjadi pendengar yang baik bagi cetusan dan keluhan kawula alit," pesan Nyi Nariratih.

"Aku hanya tahu bertempur memutar senjata menghadapi lawan," balas Gajah Mada.

"Kamu akan menemui banyak pertempuran. Permasalahan yang akan kamu hadapi itulah pertempuranmu yang membutuhkan kecekatan pemikiran seorang patih," ujar Nyi Nariratih membesarkan hati putranya.

"Doa restu Ibunda sangat aku harapkan, semoga aku dapat diterima oleh para pembesar di istana Kahuripan," kata Gajah Mada mencoba membulatkan tekad.

"Doa restu ibundamu selalu mengiringi di setiap langkahmu, wahai putraku," ucap Nyi Nariratih penuh kasih.

"Besok aku akan berangkat ke Tanah Kahuripan, namun akan menyempatkan diri singgah dan berpamitan dengan semua orang di istana Majapahit," tutup Gajah Mada sebelum keduanya beranjak ke peraduan masing-masing.

Namun di peraduannya, Nyi Nariratih tidak langsung memejamkan mata. Pelita malam di sudut kamar menerangi lesung pipit di wajahnya. Perasaan seorang ibu tidak dapat dikelabui; ia dapat membaca pikiran putranya. "Hingga sampai kapan putraku harus menyembunyikan perasaan hatinya kepada gadis jelita itu?" batinnya sambil tersenyum. Gadis jelita yang dimaksud tidak lain adalah seorang biksuni cantik, pemilik wajah bak dewi kahyangan yang diam-diam telah menambatkan hati kepada Gajah Mada.

Keesokan harinya, Gajah Mada bersiap berangkat ke Kotaraja Majapahit. "Kutitipkan ibundaku kepadamu, wahai saudaraku," ucap Gajah Mada kepada Supo Mandagri.

"Aku akan menjaganya sebagaimana menjaga ibuku sendiri," jawab Supo Mandagri.

"Kulihat kamu disibukkan dengan banyak pesanan keris pusaka akhir-akhir ini," kata Gajah Mada.

"Beruntung, banyak pejabat baru istana yang memesan keris kepadaku," ujar Supo Mandagri penuh senyum.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment