Chapter 226
"Bawalah bersamamu dua ratus pasukan berkuda kita," kata Patih Gajah Mada kepada Kresna Kepakisan.
"Hari ini juga aku siap berangkat bersama dua ratus pasukan berkuda," jawab Kresna Kepakisan menyatakan kesiapannya.
"Manakala kalian telah berhasil memukul mundur pihak lawan, segeralah kembali ke hutan ini. Sebab, tugas utama kita adalah menaklukkan kepala Sang Naga yang berada di Kotaraja Bali," kata Patih Gajah Mada kepada Kresna Kepakisan.
Demikianlah, ketika hari mulai gelap, tampak dua ratus penunggang kuda keluar meninggalkan hutan menuju ke arah selatan Balidwipa. Ternyata, dua ratus pasukan berkuda yang dipimpin oleh Kresna Kepakisan itu adalah murid-murid terbaik dari Perguruan Teratai Putih. Derap langkah kaki kuda pasukan itu terdengar bagaikan pasukan siluman yang sangat mendebarkan hati dalam kegelapan malam, terus bergerak ke arah selatan Balidwipa.
Di sebuah bukit berbatu yang sunyi, tampak Kresna Kepakisan menghentikan pasukannya.
"Berita terakhir yang kudapat menyebutkan bahwa pasukan yang dipimpin oleh Ki Tambyak berada di sekitar Padang Sembian. Amatilah kapan pasukan itu akan bergerak," kata Kresna Kepakisan kepada salah seorang prajuritnya.
Sementara malam itu di Padang Sembian, tempat perkemahan para prajurit Bali terlihat begitu riuh oleh pesta pora yang meriah. Tampaknya, malam itu mereka tengah merayakan kemenangan pertempuran dua hari lalu, saat mereka berhasil memukul mundur pasukan Majapahit dengan gemilang.
"Besok kita akan menyerang kembali pasukan Majapahit," kata Ki Tambyak kepada para perwiranya.
"Besok?" tanya salah seorang perwira yang terkejut dengan keputusan Ki Tambyak itu.
"Mereka tidak akan menyangka secepat itu kita akan menyerang kembali, di saat mereka tengah beristirahat menjelang pagi," ujar Ki Tambyak menjelaskan waktu penyerangan mendadak tersebut.
Beberapa perwira tampak dapat menangkap kecerdikan panglima perang mereka. Maka, satu per satu dari mereka berpamitan untuk memberitahukan rencana penyerangan tersebut kepada bawahan masing-masing.
Demikianlah, ketika hari masih gelap, tampak iring-iringan prajurit Bali telah keluar dari perkemahan mereka. Pasukan berkuda berada di barisan terdepan, diikuti oleh pasukan pejalan kaki. Obor-obor yang menyala memanjang di malam yang gelap itu laksana seekor ular api besar yang meliuk-liuk merayap di antara kerimbunan pepohonan. Itulah barisan prajurit *segelar sepapan* yang dipimpin oleh Ki Tambyak sebagai panglima perang, tengah menuju ke arah Jimbaran.
Ternyata Ki Tambyak sangat mengenal medan daerah tersebut. Sesuai dengan rencananya yang matang, menjelang pagi hari pasukannya telah berada dekat dengan perkemahan para prajurit Majapahit.
Gegerlah para petugas telik sandi yang melihat barisan pasukan lawan tengah menuju ke arah perkemahan mereka. Gemparlah suasana di perkemahan prajurit Majapahit. Mereka tidak menduga pasukan lawan datang menyergap langsung di saat rasa kantuk masih terasa berat menghimpit.
Cerdik sekali Ki Tambyak mengatur siasatnya. Pada pagi yang masih sangat gelap itu, setiap prajuritnya membawa dua buah obor menyala, membuat pasukannya terlihat dua kali lipat dari jumlah yang sebenarnya. Kejutan mendadak itulah yang diinginkan oleh Ki Tambyak sebagai awal dari sebuah kemenangan.
Pasukan dengan obor di tangan itu tampak merangsek masuk dan memporak-porandakan prajurit Majapahit di perkemahan mereka sendiri. Pertempuran sengit pun seketika berlangsung dengan sangat menggemparkan dan mencekam hati.
Gembira hati Ki Tambyak melihat beberapa prajurit Majapahit lari menyelamatkan diri seperti anjing liar yang pergi bersembunyi setelah melihat kegarangan pihak lawan yang jauh lebih kuat. Namun, kegembiraan hati panglima perang Kerajaan Bali itu tiba-tiba reda, berganti dengan rasa kebingungan yang mencekam.
Bagaimana tidak membuat hati panglima perkasa itu gentar, manakala mata kepalanya sendiri melihat hujan api datang dari berbagai penjuru mata angin. Tiba-tiba saja, pasukan Kerajaan Bali itu telah terkepung kobaran api. Ribuan panah berapi menembus tubuh para prajurit Bali serta membakar perkemahan, ranting, dan pepohonan di sekitarnya. Dalam hitungan waktu yang sangat singkat, setengah dari pasukan Bali itu tampak sudah tidak berdaya; ada yang terluka, bahkan ada yang tewas seketika.
Ternyata, pasukan Bali telah terjebak oleh siasat mereka sendiri. Gerakan mereka telah diketahui oleh pasukan Kresna Kepakisan yang diam-diam terus mengamati.
"Kamu harus sudah sampai di Jimbaran untuk menyampaikan berita ini sebelum pasukan Bali datang," kata Kresna Kepakisan kepada beberapa prajuritnya yang ditugaskan menyampaikan kabar penyerangan pasukan Bali ke Jimbaran.
Manakala berita penyerangan itu sampai di Jimbaran, seketika itu juga sang senopati tertinggi di Jimbaran yang bernama Arya Kenceng langsung menyusun siasat perang. Ia menyisakan sepertiga prajurit Majapahit untuk tetap berada di perkemahan, sementara sisanya bersiap meluncurkan panah berapi dari tempat-tempat tersembunyi.
Ki Tambyak salah mengerti dengan mengira prajurit Majapahit lari layaknya pengecut yang ketakutan. Padahal, para prajurit Majapahit itu memang sengaja berlari untuk menyelamatkan diri dari kobaran hujan api kawan-kawan mereka sendiri.
"Gila!" umpat Ki Tambyak dengan geram, menyadari pasukannya telah terjebak hingga banyak yang binasa dan terluka.
Baru saja Ki Tambyak mengumpat, terdengar suara gemuruh di pagi buta itu. Ternyata, suara gemuruh itu berasal dari ribuan prajurit Majapahit yang merangsek mengepung prajurit Bali dari berbagai penjuru.
Setengah sisa prajurit Bali tampak bertahan dengan sekuat tenaga, tetapi jumlah lawan yang jauh lebih banyak membuat mereka laksana kayu kering yang termakan api. Sedikit demi sedikit prajurit Bali berguguran, satu per satu terkepung dan menyerah tanpa daya.
Melihat keadaan prajuritnya yang telah kocar-kacir, Ki Tambyak mengamuk bagaikan seekor banteng terluka. Siapa pun yang berada di dekatnya akan terlempar binasa di ujung tombak pendek yang berdesing ke sana kemari, merobek dan melukai tubuh lawan.
*Trang!*
Ternyata, kali ini tombak pendek Ki Tambyak membentur sebuah senjata bulat bergerigi delapan—sebuah senjata cakra dari bahan logam yang amat keras dan kuat.
"Sungguh, senjatamu telah begitu banyak menumpahkan darah, wahai Ki Tambyak," kata seorang lelaki sambil langsung turun dari atas kudanya.
"Sebutkan namamu jika kamu merasa patut menjadi lawan tandingku!" kata Ki Tambyak kepada lelaki itu.
"Namaku Kresna Kepakisan. Aku hanya seorang guru suci di sebuah padepokan kecil di lereng Bukit Ngrangkah Pawon," kata lelaki itu.
"Guru suci sebuah padepokan? Bersiaplah untuk mati di tanganku!" seru Ki Tambyak penuh tawa dan kesombongan.
"Aku siap menjadi lawan tandingmu, tetapi tidak siap untuk mati di tanganmu," jawab Kresna Kepakisan dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Matilah kamu!" teriak Ki Tambyak sambil menerjang lurus ke arah Kresna Kepakisan.
Sungguh sebuah serangan yang amat cepat, laksana anak panah yang meluncur lepas dari busurnya. Namun, Kresna Kepakisan bukanlah anak kemarin sore yang baru belajar kanuragan. Dengan cepat, ia bergeser ke kiri sambil mengayunkan senjata cakranya ke arah pinggang Ki Tambyak.
Terkejut menerima serangan balasan yang begitu cepat dan mematikan itu, Ki Tambyak langsung melompat tinggi sambil menghunus tombak pendeknya yang diarahkan ke leher Kresna Kepakisan.
Semua orang yang sempat menyaksikan jalannya pertempuran terpesona oleh gerakan indah Ki Tambyak, seakan melihat seekor elang yang tengah menukik menerjang mangsanya. Namun, Kresna Kepakisan kembali menunjukkan keterampilannya yang menggetarkan hati siapa pun yang menyaksikan. Lelaki bertubuh tinggi kekar itu merunduk sedikit, membiarkan tombak pendek Ki Tambyak lewat hanya sekitar dua jari dari kepalanya. Tiba-tiba, tubuh Kresna Kepakisan melompat tinggi sambil menerjang tubuh Ki Tambyak dengan senjata cakranya.
Sungguh sebuah serangan balasan yang sangat mengejutkan dan di luar perhitungan siapa pun ahli kanuragan.
"Gila!" umpat Ki Tambyak dengan keras sambil melemparkan tubuhnya untuk menghindari serangan balasan Kresna Kepakisan yang sungguh di luar perhitungannya. Ki Tambyak berguling di tanah dan langsung bangkit berdiri dengan cepat.
Ternyata, Kresna Kepakisan tidak mencuri kesempatan untuk menyerang Ki Tambyak yang belum berdiri sempurna. Lelaki yang biasa dipanggil Tuan Guru di padepokannya itu hanya berdiri menunggu lawannya bangkit sepenuhnya.
"Ternyata kamu memang pantas menjadi lawan tandingku," kata Ki Tambyak dengan sorot mata tajam, memandang lawan tandingnya yang berusia jauh lebih muda itu.
Kresna Kepakisan tidak berkata apa pun. Ia hanya tersenyum tipis melihat kegusaran hati orang tua itu.
Maka, tidak lama kemudian pertempuran keduanya kembali berkobar. Pertarungan itu berlangsung semakin seru dan mendebarkan karena keduanya telah meningkatkan tataran kemampuan masing-masing jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Langkah kaki keduanya tampak semakin kokoh dan penuh kekuatan.
Tubuh Ki Tambyak bergerak bagaikan elang perkasa yang melayang-layang mengejar mangsa, sedangkan Kresna Kepakisan bergerak laksana singa jantan yang cepat, kuat, dan penuh ancaman. Benar-benar seperti dua raksasa kanuragan yang tengah bertempur dengan sangat menggetarkan hati.