Chapter 148
"Tumenggung Jala Yudha, kami datang untuk melindungi Anda," ujar Tumenggung Mahesa Semu kepada Tumenggung Jala Yudha agar tidak terjadi salah pengertian. "Ikutilah gerak pasukan kami," lanjutnya.
Sebagai seorang Tumenggung yang berpengalaman dalam berbagai jenis gelar perang, Tumenggung Jala Yudha memahami bahwa pasukan yang dibawa oleh Tumenggung Mahesa Semu bergerak dengan gelar cakra yudha, sebuah formasi yang bertujuan untuk mempertahankan dan melindungi seseorang yang dianggap sangat penting. Perlahan, pasukan dengan gelar cakra yudha itu bergerak mendekati gerbang halaman rumah.
Pemimpin pasukan telik sandi dan pasukan Srikandi yang telah beberapa hari berjaga di sekitar rumah Tumenggung Jala Yudha memahami tugas mereka untuk meloloskan pasukan penjemput guna menyelamatkan sang Tumenggung. Terlihat pemimpin pasukan itu menggerakkan pasukannya untuk membentuk gelar emprit neba. Serangan dengan gelar tersebut sangat menyulitkan pihak musuh dan memecah perhatian mereka. Tumenggung Mahesa Semu memanfaatkan situasi pertempuran itu untuk terus menggerakkan pasukan gabungan yang dipimpinnya keluar dari gerbang rumah.
Melihat pasukan gabungan Tumenggung Mahesa Semu berhasil keluar dari halaman, para petugas telik sandi dan pasukan Srikandi menjadi garda yang kokoh menahan lawan agar tidak dapat keluar dari halaman rumah Tumenggung Jala Yudha.
"Kita tahan lawan hingga mereka tidak mungkin lagi mengejar pasukan Tumenggung Mahesa Semu," seru salah seorang pemimpin petugas telik sandi.
Meski jumlah mereka hanya setengah dari pasukan musuh, kemampuan prajurit telik sandi dan Srikandi yang tinggi mampu menahan gerak lawan. Perlu diketahui, petugas telik sandi adalah prajurit pilihan yang lulus ujian dengan catatan nilai tertinggi, setingkat di bawah kemampuan pasukan Bhayangkara. Sementara itu, pasukan Srikandi adalah pasukan khusus yang digembleng langsung oleh Nyi Nariratih, seorang wanita perkasa yang memiliki ilmu sangat tinggi. Maka, tidak heran jika prajurit wanita tersebut memiliki keterampilan olah kanuragan yang disegani; konon, seorang prajurit Srikandi mampu mengalahkan sepuluh prajurit biasa.
Tidak mengherankan jika seratus pasukan Ikal-Ikalan Bang yang ditugaskan untuk menculik Tumenggung Jala Yudha tidak mampu menembus pertahanan pasukan telik sandi dan Srikandi. Ketika pasukan Tumenggung Mahesa Semu sudah tidak terlihat lagi, pasukan gabungan tersebut mulai mengendurkan pertahanan dan mundur perlahan untuk memancing pihak lawan agar terus mengejar mereka ke arah yang salah.
Cahaya fajar mulai membentang dari utara ke selatan. Pemimpin pasukan gabungan memperhitungkan bahwa jarak pasukan Tumenggung Mahesa Semu sudah tidak mungkin terkejar.
"Saatnya kita menghilang sebelum fajar menjadi terang," perintah sang pemimpin.
Mendengar seruan tersebut, pasukan gabungan segera melakukan langkah mundur secara menyilang menjauhi pertempuran dan menyelinap di antara jalan-jalan kecil di pagi yang masih remang.
"Sial, kita terpancing jauh dari sasaran kita sendiri," maki pemimpin pasukan Ikal-Ikalan Bang yang kehilangan lawan mereka.
Sementara itu, pasukan Tumenggung Mahesa Semu telah berlari jauh meninggalkan Kotaraja Majapahit. "Arah kita adalah Kabuyutan Bebander, masih setengah hari perjalanan," kata Tumenggung Mahesa Semu kepada Tumenggung Jala Yudha yang masih menggendong putri kecilnya.
"Apa yang mereka lakukan hari ini tidak akan kumaafkan. Pada saatnya, aku akan mengerahkan seluruh pasukanku untuk menghancurkan pasukan Tumenggung Ikal-Ikalan Bang itu," ucap Tumenggung Jala Yudha dengan suara bergetar penuh kemarahan.
"Simpan dendam Anda untuk sementara waktu, Tumenggung Jala Yudha. Kita akan melakukan pembalasan bersama," sahut Tumenggung Mahesa Semu.
Jalan menuju Kabuyutan Bebander dari Kotaraja Majapahit hanyalah jalan setapak berbatu dengan medan yang curam dan terjal, membuat langkah pasukan gabungan melambat. Tumenggung Mahesa Semu sempat bertanya-tanya dalam hati mengapa ia tidak bertemu dengan keenam pasukan lainnya di perjalanan. Ia tidak mengetahui bahwa masih ada dua kelompok pasukan di belakangnya: pasukan yang dipimpin Gajahmada untuk menjemput Mahapatih Dyah Halayuda, dan pasukan yang dipimpin langsung oleh Adityawarman untuk menjemput Raja Jayanagara di istana.
Tepat saat garis tipis merah cahaya fajar membentang, enam pasukan gabungan telah keluar dari barak pasukan khusus Srikandi dengan tugas masing-masing. Pasukan gabungan yang dipimpin Gajahmada bergerak ke arah rumah Mahapatih Dyah Halayuda. Tidak ada hambatan saat mereka memasuki gerbang rumah yang hanya dijaga oleh empat orang prajurit. Pamor pasukan Bhayangkara membuat keempat penjaga itu langsung membuka pintu gerbang lebar-lebar.
Namun, hambatan muncul dari diri Mahapatih Dyah Halayuda sendiri. Ia menyangsikan niat baik pasukan itu dan justru menuduh mereka hendak mencelakainya.
"Tidak mungkin ada yang berniat menculikku. Jangan-jangan justru kalian sendiri yang berniat datang ke rumahku untuk mencelakaiku," tuduh Mahapatih Dyah Halayuda.
"Mahapatih Dyah Halayuda, apa yang kami lakukan ini demi keutuhan dan kelanjutan Kerajaan Majapahit. Untuk itu, dengan sangat terpaksa kami akan berlaku kurang hormat terhadap seorang pejabat utama istana," jawab Gajahmada dengan pandangan tajam, mengingatkan akan peristiwa di Blambangan.
"Ki Secang dulu dan hari ini sangat berbeda, wahai anak muda. Hari ini aku adalah Mahapatih besar Kerajaan Majapahit yang dapat menunjuk tangan dan menjatuhkan hukuman kepada siapa pun yang aku inginkan," balas Mahapatih Dyah Halayuda.
"Kawan-kawan, tangkap orang ini dengan cara apa pun, meski harus mengutungi tangan dan kakinya dan kita seret dia," tegas Gajahmada.
Seluruh pasukannya segera mengurung Mahapatih Dyah Halayuda. Namun, sang Mahapatih yang licin seperti belut melesat tak terduga melompati panggung pendapa rumahnya dan menjejakkan kaki di halaman. Seluruh pasukan gabungan segera mengejarnya. Saat Dyah Halayuda berada di tengah halaman, muncul seratus orang pasukan dari luar gerbang.
"Kalian datang tepat waktu! Lekas tangkap orang-orang yang mengejarku itu," perintah Mahapatih Dyah Halayuda kepada pasukan yang merupakan anak buah Tumenggung Ikal-Ikalan Bang.
Seketika, pasukan Gajahmada terkepung, dan pertempuran tak terelakkan di halaman rumah Mahapatih Dyah Halayuda. Gabungan pasukan Bhayangkara dan Srikandi bertarung dengan tangguh menahan serbuan lawan yang datang bak air bah. Cambuk Gajahmada menyapu jalan, menghempaskan siapa pun yang berada di dekatnya sambil matanya terus mencari sosok Mahapatih Dyah Halayuda. Dua prajurit musuh terakhir terlempar terkena tendangan dan lecutan cambuk Gajahmada yang bergerak sangat cepat, hingga akhirnya Mahapatih Dyah Halayuda dan dirinya berhadapan.