Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 94

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 94

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ki Secang, mereka memang telah datang mengganyang Kota Kadipaten Blambangan bak Sang Buta Kala. Terlihat hampir semua pasukannya bertelanjang dada dengan wajah dan seluruh tubuh dicoreng-moreng lumpur Kawah Gunung Raung. Sungguh sangat menyeramkan bagi siapa pun yang kebetulan melihatnya; pasukan Sang Buta Kala tengah mendekati gerbang gapura batas Kota Blambangan sebelah barat.

Tepat saat matahari berada di atas kepala, pasukan menyeramkan itu telah memasuki gerbang kota, menapaki jalan yang lengang menuju ke arah istana Kadipaten Blambangan.

"Sang Dewa Wisnu telah memberikan karunianya, sebentar lagi wilayah ini akan berada di dalam genggamanku," ucap Ki Secang dalam hati. Ia berjalan di barisan paling depan, memandangi suasana jalan yang begitu sepi tanpa menjumpai seorang pun. Ia merasa begitu mudah mendapatkan apa yang dicita-citakannya: menguasai Kota Kadipaten Blambangan.

Namun, angan-angan Ki Secang buyar seketika. Pendengarannya yang amat tajam menangkap suara berdesing dari kanan dan kiri jalan yang sunyi itu.

Perasaan Ki Secang berdebar dan terguncang hebat saat menyadari bahwa suara berdesing itu berasal dari anak panah—ratusan anak panah yang dilepaskan secara serempak. Ki Secang tidak punya kesempatan sama sekali untuk mengingatkan seluruh pasukannya; ia hanya sempat melindungi dirinya sendiri.

Pasukan Ki Secang seketika dihujani ratusan anak panah. Puluhan orang yang tidak sempat melindungi diri roboh tertancap senjata tajam tersebut. Pasukan itu bercerai-berai, berusaha menyelamatkan diri dari hujan panah yang deras meluncur dari kanan dan kiri jalan. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba muncul pasukan besar dari kedua sisi jalan yang langsung menerjang pasukan Sang Buta Kala.

"Hancurkan pasukan Sang Buta Kala!" teriak Adipati Menak Koncar memberi semangat di barisan paling depan, memimpin pasukannya dari sebelah kanan.

"Mereka hanya manusia biasa!" teriak Adityawarman yang memimpin pasukan dari sebelah kiri jalan, berusaha membangkitkan keberanian prajuritnya bahwa musuh yang mereka hadapi hanyalah manusia biasa yang berlumur lumpur kawah.

Lompatan para prajurit gabungan itu langsung menerjang pasukan Ki Secang. Seperti limpahan air bah, pasukan gabungan Blambangan dan Majapahit tumpah menjepit pasukan lawan. Perang brubuh tak terelakkan lagi. Denting senjata terdengar bising, bersahutan dengan suara sumpah serapah yang tak terkendali di hari Nyepi itu.

"Kendalikan diri kalian! Hadapi mereka dengan jurus tempur cakar elang!" teriak Ki Secang, mencoba membangun kembali pasukannya yang terhimpit dengan jurus ciptaannya sendiri.

Teriakan Ki Secang menggema hebat. Tiba-tiba pasukannya memisahkan diri menjadi kelompok-kelompok kecil berisi sekitar lima belas orang. Tandang pasukan Ki Secang luar biasa; kelompok-kelompok itu menjadi begitu kuat saat menerjang dan sulit ditembus karena saling melindungi. Mereka benar-benar seperti sekumpulan elang yang turun bersama-sama dengan cakar yang siap menerkam mangsanya.

Tampaknya Ki Secang telah menyempurnakan jurus tersebut dengan membekali pasukannya masing-masing dengan dua senjata cakra. Benar-benar seperti seekor elang dengan sepasang kaki yang kuat, tajam, dan kokoh. Seketika itu pula, pasukan gabungan Blambangan dan Majapahit terdesak mundur. Beberapa prajurit bahkan terlempar terkena amukan sepasang cakra di tangan pasukan Ki Secang yang sangat terlatih itu.

"Sang Naga Terbang mendamaikan bumi!" teriak Adipati Menak Jingga mengumandangkan aba-aba yang sangat dikenal oleh pasukannya. Ternyata, Adipati Menak Jingga mengeluarkan jurus tempur milik ayahnya, Empu Nambi, yang menjadi kebanggaan para prajurit Majapahit dan Blambangan.

Teriakan Adipati Menak Jingga meluncur keras, didorong oleh tenaga sejati yang sangat kuat. Seketika itu pula, pasukan gabungan Blambangan dan Majapahit menyusun barisan dalam kelompok kecil berisi sepuluh orang. Setiap kelompok bergerak meliuk-liuk dengan serasi, membingungkan lawan seolah tanpa celah kelemahan sedikit pun.

Pertempuran itu menjadi tontonan yang memukau; dua barisan tempur yang sama-sama tangguh saling merobek, mencengkeram, mematuk, dan menjepit. Ternyata, jurus cakar elang memang sengaja diciptakan Ki Secang untuk menandingi jurus ciptaan Empu Nambi. Sangat sulit menentukan siapa yang lebih unggul.

Tiba-tiba, pendengaran Ki Secang yang tajam menangkap suara panah sanderan berdesing membelah udara siang yang panas. "Apa yang ingin mereka perbuat dengan panah sanderan itu?" tanya Ki Secang dalam hati.

Belum sempat mendapatkan jawaban, pasukannya dikejutkan dengan suara ramai yang bergelora dari arah utara. Ternyata, seratus prajurit Majapahit yang selama ini bersembunyi telah muncul setelah menunggu pertanda panah sanderan. Ki Secang sangat terkejut menerima gempuran tambahan dari pasukan baru tersebut.

Pasukan Majapahit yang baru datang langsung menerjang dengan jurus "Naga Terbang Turun ke Bumi". Pertempuran pun menjadi lebih dahsyat. Beruntung bagi Ki Secang, jumlah pasukannya masih lebih banyak sehingga ritme pertempuran belum goyah meski lawan mendapat bantuan.

Namun, suara desingan panah sanderan kembali terdengar. Kali ini dua panah meluncur bersamaan dengan sangat cepat. "Gila! Apakah ada bantuan pasukan lainnya lagi?" duga Ki Secang dalam hati.

Dugaan Ki Secang tepat. Tak lama berselang, muncul sekitar tiga ratus prajurit gabungan dari Majapahit dan Lamajang dari arah barat. Sorak-sorai prajurit yang bertempur menyambut kedatangan bala bantuan tersebut. Ini adalah siasat yang telah direncanakan dengan matang oleh Mahesa Semu, Putu Risang, dan Adipati Menak Koncar.

Pasukan baru itu langsung bergabung dalam pertempuran. Meski pasukan Ki Secang telah terlatih menghadapi berbagai tekanan, jumlah mereka yang kini kalah membuat posisi mereka semakin sulit. Pertempuran pun semakin sengit.

Sementara itu, warga Kota Kadipaten Blambangan mengintip dari balik pintu rumah masing-masing dengan hati yang berdebar. Beberapa kepala keluarga dengan bijak menenangkan anggota keluarganya dan mengajak mereka terus berdoa kepada Gusti Yang Maha Agung agar diberikan keselamatan dan kemenangan atas angkara murka.

"Berdoalah kalian tanpa terputus kepada Gusti Yang Maha Agung memohon perlindungan-Nya," ucap seorang lelaki tua kepada istri, anak gadis, dan menantunya. Doa-doa tulus itu tampaknya didengar oleh Sang Pencipta alam agung dan alam alit.

Pertanda kasih Tuhan terdengar lewat suara menggelegar di tengah pertempuran. Putu Risang dan Gajahmada, yang sadar akan ketangguhan jurus lawan, telah memikirkan cara untuk memecah barisan cakar elang tersebut. Dengan cambuk pendeknya, mereka menghentakkan senjata hingga menciptakan suara yang menciutkan hati.

Lecutan ujung cambuk Gajahmada dan Putu Risang bergerak seolah memiliki mata. Setiap kali dihentakkan, selalu ada korban. Dua hingga tiga orang dalam kelompok pasukan Ki Secang terlempar dengan luka parah, membuat barisan yang tadinya rapat kini menjadi rusak dan tak terkendali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment