Chapter 29
Maka tidak tanggung-tanggung, orang itu telah menubruk Dyah Gajatri dengan kedua tangannya.
Indah sekali Dyah Gajatri menghadapi tubrukan orang itu, hanya dengan bergeser sedikit ke samping dan merendahkan tubuhnya, salah satu kaki Dyah Gajatri berputar begitu kencang, langsung menghantam kaki belakang lawannya.
Akibatnya sungguh menggelikan, orang itu langsung terjatuh dengan ekor tulang belakang membentur tanah keras.
Dyah Wiyat yang melihat itu langsung menutup mulutnya menahan rasa geli di hatinya.
Namun Dyah Wiyat harus menahan napasnya, melihat ketiga orang lawan Dyah Gajatri sudah bersamaan berdiri mengepung kakaknya. Kali ini tidak lagi bermaksud menangkapnya, tetapi ingin menghajar gadis manis yang dianggap sangat galak itu.
Maka dalam waktu yang singkat, telah terjadi perkelahian yang sangat seru, seorang gadis dikeroyok oleh tiga orang lelaki.
Tampaknya ketiga lelaki itu memiliki dasar kanuragan yang cukup, namun mereka tidak menduga telah berhadapan dengan seorang putri Majapahit yang sudah cukup terlatih.
Untungnya Dyah Gajatri sering berlatih tanding dengan Gajahmada yang sengaja menghadapinya dengan jurus-jurus di luar garis perguruannya, dengan maksud agar Dyah Gajatri menjadi terbiasa.
Maka pada saat menghadapi ketiga lawannya itu, Dyah Gajatri seperti tengah berlatih tanding menghadapi jalur perguruan lain.
Bukan main penasarannya ketiga orang itu, tidak satu pun serangan mereka dapat mengenai tubuh Dyah Gajatri. Sebaliknya, beberapa pukulan Dyah Gajatri telah bersarang di tubuh mereka.
Berkat latihan yang teratur serta disiplin yang tinggi telah membuat Dyah Gajatri memiliki daya tempur yang kuat, masih dapat bertahan menghadapi ketiga lawannya itu.
Sementara itu, ketiga lawannya itu terlihat napasnya sudah tersengal-sengal dengan peluh membasahi wajah dan tubuhnya.
Plak!
Sebuah kepalan tangan Dyah Gajatri berhasil menghantam rahang salah satu lawannya yang langsung membuat kepala orang itu pening dan gelap, terpelanting jatuh ke tanah keras, tidak mampu untuk bangkit kembali.
Buk!
Sebuah tendangan cukup keras juga telah menghantam perut salah satu lawannya lagi yang langsung terpelanting ke tanah dan merasakan sulit bernapas.
Terakhir, menghadapi lawan yang tinggal satu orang itu, kembali Dyah Gajatri membuat sebuah tipuan manis sekali dengan membuat sebuah tendangan palsu ke arah lawannya yang diperhitungkan akan mundur selangkah.
Ternyata tendangan itu hanya tipuan, terlihat gadis itu seperti mengikuti gerak kakinya hingga membelakangi lawannya, dan dengan cepat berbalik badan menjulurkan tangannya dari bawah ke atas.
Terperanjat, lawan terakhir itu tidak menyadari sama sekali serangan yang langsung menghajar dagunya.
Bekk!
Kepala orang itu terasa berputar-putar pening dengan satu gigi depannya tanggal, darah segar terlihat di sela-sela bibirnya.
"Bila kalian masih merasa kuat, mari kita teruskan perkelahian ini," berkata Dyah Gajatri sambil bertolak pinggang kepada tiga orang penjahat kambuhan yang tampaknya sudah merasa jerih menghadapi gadis galak itu.
Terlihat Gajahmada telah mendekati Dyah Gajatri.
"Ampuni mereka, Tuan Putri," berkata Gajahmada dengan suara agak dikeraskan.
Ternyata Gajahmada memang bermaksud perkataannya dapat didengar oleh ketiga orang lelaki itu.
Dan Dyah Gajatri juga sangat paham dengan lakon yang akan dimainkan oleh Gajahmada.
"Aku tidak akan mengampuni mereka sebelum dapat memuntir batok kepala mereka," berkata Dyah Gajatri dengan suara garang.
"Kemarin, Tuan Putri sudah memuntir lima orang perampok. Apakah itu belum memuaskan?" berkata Gajahmada dengan suara masih dikeraskan.
Mendengar percakapan Gajahmada dan wanita yang dipanggilnya sebagai Tuan Putri itu telah membuat mereka seperti panas dingin membayangkan kepala mereka dipelintir oleh gadis galak itu.
Maka sebelum yang ditakutkan itu terjadi, terlihat ketiga orang itu mundur beberapa langkah.
"Jangan halangi aku memuntir batok kepala mereka," berkata Dyah Gajatri dengan suara agak keras lagi.
"Ampuni saja mereka, Tuan Putri," berkata Gajahmada pura-pura menghalangi Dyah Gajatri.
Melihat ada kesempatan, ketiga orang itu langsung berlari sekencang-kencangnya, takut putri itu akan memuntir kepala mereka sebagaimana ucapannya itu.
Ketika ketiga orang itu sudah tidak terlihat lagi, Gajahmada, Dyah Gajatri, dan Dyah Wiyat tertawa terpingkal-pingkal merasa sandiwara mereka sangat berhasil.
Sementara itu, orang tua bersama kedua putranya terlihat telah mendekati mereka.
"Kalian orang-orang muda telah menolong kami. Sepikul padi itu sangat berharga bagi kami sekeluarga.
Hanya ucapan terima kasih dari kami, semoga Gusti Yang Mahaagung memberi balasan atas kebaikan kalian," berkata orang tua itu.
"Kami hanya kebetulan lewat, sudah seharusnya kita menolong dan membantu sesama," berkata Gajahmada mewakili Dyah Gajatri dan adiknya itu.
Maka ketika orang tua itu bersama kedua putranya sudah berjalan kembali, terlihat Gajahmada dan kedua putri Majapahit itu telah melanjutkan kembali perjalanan mereka memasuki suasana padukuhan yang tengah melaksanakan panen raya itu.
Terlihat meski panas matahari sangat terik, hampir semua orang masih berada di petak sawah sedang memotong padi dan mengumpulkannya di pinggir jalan.
"Nasib kita beruntung, masih ada kedai yang buka di pasar padukuhan," berkata Gajahmada sambil menunjuk sebuah kedai di ujung pasar Padukuhan itu.
Ketika mereka masuk ke dalam kedai itu, pengunjung kedai itu memang masih cukup ramai. Kebanyakan adalah para pedagang yang akan pulang ke padukuhan mereka yang mungkin sangat jauh dari kademangan yang lain, atau dari Kadipaten Tuban yang masih perlu sehari semalam perjalanan itu.
Tetapi biasanya mereka singgah di banyak pasar padukuhan sepanjang jalan arah pulang mereka.
Terlihat Gajahmada sedang memesan makanan kepada pemilik kedai.
Tidak lama berselang, terlihat pemilik kedai itu telah membawa makanan dan minuman untuk mereka bertiga.
Sambil menikmati hidangan yang telah disediakan, Gajahmada tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan beberapa pedagang.
Mereka tampaknya sedang membicarakan mengenai selama beberapa hari terakhir ini telah terjadi perampokan di jalan lingkar sekitar Hutan Jatirogo.
"Semakin banyak yang bergabung bersama kita, akan menjadi lebih baik," berkata salah seorang dari mereka.
Setelah menyelesaikan makan dan minumnya, Gajahmada meminta izin kepada Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat untuk berbicara dengan salah seorang pedagang di kedai itu.
"Maaf, Paman, aku tadi mendengar pembicaraan bahwa sering terjadi perampokan di jalan lingkar sekitar Hutan Jatirogo?" berkata Gajahmada kepada salah seorang pedagang.
"Tidak sering, hanya dua kali kejadian kudengar," berkata pedagang itu meluruskan.
"Apakah kami boleh bergabung dengan rombongan Paman?" Gajahmada bertanya kembali.
"Kami tidak keberatan, hanya kami akan berangkat besok pagi.
Ada sebuah rumah singgah di Padukuhan Bangkalan tempat kami bermalam," berkata pedagang itu menjelaskan kapan akan berangkat dan tempat mereka bermalam.
"Terima kasih," berkata Gajahmada dan berpamit kembali menemui Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat.
Kepada kedua putri itu, Gajahmada menjelaskan kapan dan tempat mereka akan bermalam.
Selang beberapa lama, salah seorang pedagang itu menawarkan kepada Gajahmada untuk bersama ke Padukuhan Bangkalan.
"Terima kasih, Paman, kami akan segera menyusul dan sampai berjumpa kembali di Padukuhan Bangkalan," berkata Gajahmada kepada pedagang itu.
Terlihat para pedagang itu telah keluar dari kedai.
Tidak lama berselang, Gajahmada dan kedua putri Majapahit itu telah keluar juga dari kedai itu, tetapi mereka tidak langsung menuju ke Padukuhan Bangkalan, melainkan melihat-lihat kembali suasana panen raya di sekitar pasar padukuhan itu.
Ketika matahari terlihat mulai teduh, barulah mereka berjalan keluar dari padukuhan itu untuk menuju ke Padukuhan Bangkalan sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh pedagang yang mereka temui di kedai tadi siang.
Akhirnya mereka sampai juga di rumah singgah itu, di Padukuhan Bangkalan.
Padukuhan Bangkalan adalah sebuah wilayah yang berbatasan dengan Kadipaten Tuban.
Beberapa pedagang biasanya bergabung di Padukuhan itu untuk bersama-sama melakukan perjalanan ke Kadipaten Tuban tempat mereka harus melewati sebuah jalan lingkar di sekitar Hutan Jatirogo.
Para pedagang beranggapan, dengan jumlah yang banyak dapat membuat para penyamun menjadi segan untuk menghadang mereka.
Pada umumnya para pedagang itu juga memiliki bekal kanuragan yang cukup tinggi, di samping mereka juga membawa beberapa tukang pukul yang akan menemani perjalanan mereka ke berbagai tempat.
Baru kali ini Gajahmada singgah di Padukuhan Bangkalan. Beberapa kali ke daerah Tuban ia tidak melalui jalan lingkar, tetapi langsung melintas di Hutan Jatirogo.
Dan Gajahmada melihat rumah singgah itu sebagai sebuah rumah biasa yang dilengkapi lima bale panjang yang terpisah di halaman rumahnya.
Gajahmada melihat para pedagang yang ditemuinya di kedai tadi siang telah menempati sebuah bale panjang di sebelah ujung.
Sementara bale di tengah dilihat sudah diisi oleh pedagang lain yang tidak ditemuinya di kedai.
Di ujung bale lainnya, Gajahmada juga telah melihat seorang lelaki terpisah sendiri. Tampaknya dari pakaiannya, ia adalah seorang lelaki pengembara biasa.
Akhirnya Gajahmada telah memutuskan untuk mengambil bale di sebelah pengembara itu.
Kepada pemilik rumah singgah itu, Gajahmada telah memesan beberapa makanan untuk mereka bawa sebagai bekal di perjalanan besok.
Namun secara tidak sengaja, Gajahmada telah melihat sepintas raut muka yang kurang senang dari pemilik rumah singgah itu kepada lelaki pengembara di bale sebelahnya.
Tetapi Gajahmada berusaha tidak memusingkannya.
"Ada sebelas orang bersama kita yang akan berangkat besok menuju Tuban," berkata Gajahmada kepada Dyah Wiyat dan Dyah Gajatri.
Akhirnya ketika malam semakin larut dan gelap, Gajahmada meminta kedua gadis itu beristirahat.