Chapter 89
Terkejut Ki Ajar Pelandongan yang tidak menduga akan berhadapan seorang lawan yang sangat tangguh. Dengan mudahnya lawannya mengelak serangannya, bahkan telah balas menyerangnya dengan sebuah senjata cakra yang berdesing cepat mengejar ke mana pun dirinya bergerak.
"Sembunyikan batok kepalamu," berkata Adipati Menak Koncar menirukan perkataan Ki Ajar Pelandongan.
"Gila!" berteriak Ki Ajar Pelandongan yang harus meningkatkan kecepatannya bergerak menghindari terjangan senjata cakra di tangan Adipati Menak Koncar yang sangat cepat dan dahsyat itu.
Sementara itu, di sisi lainnya, Mahesa Semu sudah menemukan lawannya, yaitu Ki Gagakpati.
"Lepaskan para prajurit itu, akulah lawanmu," berkata Mahesa Semu menghadang Ki Gagakpati yang tengah menerjang beberapa prajurit Kadipaten Lamajang.
"Aku akan menghabiskan kalian satu per satu," berkata Ki Gagakpati sambil menerjang ke arah Mahesa Semu.
"Maaf, aku akan mencegah keinginan Ki Gagakpati," berkata Mahesa Semu sambil berkelit dan langsung melakukan serangan balik membuat sebuah sabetan melingkar dengan pedang panjangnya.
"Dari mana kamu mengenal namaku?" berkata Ki Gagakpati sambil melompat menghindari sabetan pedang Mahesa Semu.
"Jangan merasa terkenal, aku baru mengenal namamu hari ini," berkata Mahesa Semu sambil bergerak ke samping menghindari tusukan keris Ki Gagakpati.
"Aku akan membuatmu menyesal mengenal namaku," berkata Ki Gagakpati sambil bergerak menerjang Mahesa Semu dengan serangan yang lebih cepat dan ganas dari sebelumnya.
Serang dan balas menyerang pun silih berganti antara Mahesa Semu dan Ki Gagakpati.
"Tampaknya Mahesa Semu dapat menahan Ki Gagakpati," berkata Gajahmada dalam hati, memperhatikan pertempuran antara Ki Gagakpati dan Mahesa Semu.
Sambil bertempur membantu para prajurit Kadipaten Lamajang, Gajahmada juga melihat Putu Risang yang terus bergerak mendekati Ki Jatiwangi, seorang Brahmana yang mempunyai ilmu yang sangat tinggi sebagaimana dikatakan oleh Ki Randu Alam kepada Gajahmada.
Gajahmada telah melihat Putu Risang membenturkan tangannya dengan kaki Brahmana itu.
"Sungguh tidak layak seorang Brahmana menyakiti sesama manusia," berkata Putu Risang yang berhasil menyelamatkan dua orang prajurit Kadipaten Lamajang yang nyaris terbentur oleh tendangan kuat Brahmana yang bernama Ki Jatiwangi itu.
Terkejut bukan kepalang, Brahmana itu terlempar dua langkah akibat benturan mereka.
"Sangat kuat tenagamu, wahai anak muda," berkata Brahmana itu yang sudah berdiri tegak memandang tak berkedip ke arah Putu Risang.
"Aku hanya ditugaskan untuk menahanmu, wahai orang tua," berkata Putu Risang sambil berdiri tegak dengan sebuah senyum di bibirnya.
Sementara itu, pandangan mata Gajahmada telah beralih menyapu seluruh pertempuran. Dilihatnya para prajurit Kadipaten Lamajang telah berada di atas angin, tidak terpengaruh oleh cara perang para bajak laut yang sangat kasar itu. Mereka tampaknya sudah sangat terlatih menghadapi perang bubrah itu.
"Jurus tempur Teratai Putih," berkata Gajahmada dalam hati, mengenal sebuah jenis cara bertempur yang diciptakan oleh Empu Nambi yang juga sudah menjadi dasar andalan para prajurit Majapahit pada umumnya.
Namun jurus tempur Teratai Putih ciptaan Empu Nambi itu tidak dapat menahan seorang lelaki tua yang dengan sangat garangnya memecahkan kepungan para prajurit Kadipaten Lamajang itu.
"Ki Banyak Ara," berkata Gajahmada dalam hati yang langsung bergerak mendekati lelaki tua itu.
"Akhirnya kamu datang juga, wahai anak muda," berkata saudara kembar Ki Randu Alam itu manakala melihat kehadiran Gajahmada di tengah pertempuran itu.
"Sepuluh orang prajurit tampaknya bukan tandingan Ki Banyak Ara," berkata Gajahmada kepada lelaki tua yang dipanggilnya dengan nama Ki Banyak Ara itu.
Terlihat lelaki tua itu mengerutkan keningnya, merasa penasaran bahwa anak muda di hadapannya itu telah mengenal namanya.
"Sudah lama sekali aku tidak menggunakan nama kecilku itu, dari mana kamu mengenalnya?" bertanya lelaki tua itu kepada Gajahmada.
"Saudara kembarmu, Ki Banyak Wedi telah banyak bercerita tentang dirimu," berkata Gajahmada sambil tersenyum penuh percaya diri yang amat tinggi.
"Tampaknya kamu sudah tahu banyak tentang diriku," berkata Ki Banyak Ara sambil memandang tajam ke arah Gajahmada seperti tengah mengukur kemampuan anak muda di hadapannya itu.
"Hari ini kami datang untuk menghentikan cita-citamu yang sangat tinggi itu, menjadi penguasa di bumi Jawadwipa ini," berkata Gajahmada sambil membalas tatapan mata Ki Banyak Ara yang sangat tajam itu.
"Jangan merasa tinggi hati telah dapat menahan jurusku tempo hari, hari ini kamu akan tahu kemampuanku yang sebenarnya," berkata Ki Banyak Ara sambil menunjuk wajah Gajahmada dengan trisulanya.
"Aku tidak merasa tinggi hati, hanya merasa yakin dapat melumpuhkanmu, wahai orang tua," berkata Gajahmada dengan suara datar kepada Ki Banyak Ara di hadapannya itu.
"Lepaskan cambuk di pinggangmu itu, agar aku orang tua tidak dianggap telah berlaku tidak adil membunuh seorang yang tidak bersenjata," berkata Ki Banyak Ara sambil menunjuk cambuk pendek yang melingkar di pinggang Gajahmada.
Perlahan Gajahmada melepas cambuk pendek yang melingkar di pinggangnya itu.
Ki Banyak Ara seperti tidak menghiraukan Gajahmada yang telah bersiap menghadapinya. Matanya sekilas menyapu suasana pertempuran di halaman yang sangat luas itu.
Terlihat kegusaran hatinya melihat orang-orangnya telah mulai berkurang satu per satu, dan para prajurit Kadipaten Lamajang itu dengan penuh keteraturan melakukan penekanan kepada lawan-lawannya itu.
"Orang-orangmu akan habis satu per satu," berkata Gajahmada yang melihat kegusaran di wajah Ki Banyak Ara.
"Nyawamu yang akan membayar kematian mereka," berkata Ki Banyak Ara dengan suara gusar langsung menerjang Gajahmada.
Namun Gajahmada bukan anak muda yang punya ilmu dangkal; seumur hidupnya telah memiliki hawa tenaga sakti inti sejati tingkat tinggi, setingkat orang yang berlatih puluhan tahun.
Maka dengan mudah Gajahmada bergerak dengan sangat cepat, berkelit dari serangan Ki Banyak Ara yang ganas itu. Bahkan, ia telah melakukan tekanan balik, membalas serangan Ki Banyak Ara itu dengan sebuah lecutan cambuk pendeknya ke arah bawah kaki Ki Banyak Ara.
"Punya taring juga kamu rupanya," berkata Ki Banyak Ara sambil meloncat menghindari lecutan cambuk pendek Gajahmada sambil berbalik badan dan langsung mengejar Gajahmada dengan trisulanya.
Bukan main terkejutnya Ki Banyak Ara, tidak menyangka anak muda yang menjadi lawan tempurnya itu dapat mengimbangi kecepatannya bergerak, selalu dapat bergerak lebih cepat melepaskan diri dari setiap tekanan serangannya, bahkan langsung melakukan serangan balasan yang tidak kalah dahsyat dan berbahayanya.
Dengan rasa penuh penasaran, Ki Banyak Ara telah meningkatkan tataran ilmunya, lebih cepat dan penuh tenaga sakti angin panas yang amat tajam, setajam trisulanya yang berkilat-kilat.
Namun Gajahmada selalu dapat mengimbangi tataran ilmu Ki Banyak Ara. Diam-diam ia telah melapisi dirinya dengan daya sakti inti sejatinya setingkat ajian Lembu Sekilan yang sangat terkenal itu, sehingga angin serangan Ki Banyak Ara yang sangat panas dan tajam tidak berpengaruh apa pun merusak dan melukai kulit tubuhnya.
Tanpa terasa semua orang telah menyingkir menjauhi pertempuran antara Gajahmada dan Ki Banyak Ara yang telah menerapkan puncak kedahsyatan ilmunya masing-masing.
Terlihat cambuk dan trisula seperti dua ekor naga raksasa yang saling memburu.
Sementara itu, para prajurit Kadipaten Lamajang yang sudah sangat mahir terlatih dalam gelar jurus tempur perguruan Teratai Putih itu terlihat sudah semakin menguasai arena pertempuran; jumlah lawan mereka semakin berkurang tajam.
Bersamaan dengan itu pula, terlihat Adipati Menak Koncar telah merambah tataran ilmunya semakin tinggi. Hal itu telah membuat Ki Ajar Pelandongan seperti tak berdaya mendapatkan tekanan serangan dari putra sulung Ki Nambi yang perkasa itu.
Hingga akhirnya, terlihat Ki Ajar Pelandongan dengan sangat terpaksa membenturkan tongkatnya menahan terjangan senjata cakra yang keras dan sangat kuat.
Luar biasa daya kekuatan tenaga Adipati Menak Koncar itu.
Terlihat tongkat kayu Ki Ajar Pelandongan patah dua!
Tampaknya tongkat kayu milik Ki Ajar Pelandongan yang terbuat dari bahan kayu pilihan itu tidak mampu menahan daya bentur cakra di tangan Adipati Menak Koncar itu.
Bahkan, terlihat senjata cakra itu terus melaju membentur dada Ki Ajar Pelandongan yang masih terkejut mendapati tongkat kayunya terpatah dua.
Terdengar suara menahan rasa sakit yang sangat dari mulut Ki Ajar Pelandongan yang merasakan tulang dadanya remuk seperti diterjang oleh dua ekor kerbau jantan secara bersamaan.
Terlihat Ki Ajar Pelandongan rebah di tanah tidak jauh dari dua buah patahan tongkatnya. Di hadapannya, berdiri Adipati Menak Koncar masih dengan menggenggam sebuah senjata cakra di tangan kanannya.
"Mudah-mudahan lukanya dapat disembuhkan," berkata Adipati Menak Koncar dalam hati, merasa kasihan menatap tubuh orang tua itu yang terbaring pingsan tak bergerak.
Manakala Adipati Menak Koncar menyapu pertempuran di halaman itu, dilihatnya para prajurit Kadipaten sudah dapat meredam perlawanan para bajak laut, mengepung satu dua orang yang masih tetap bertahan tidak mau menyerah.
Dan pandangan mata Adipati Menak Koncar beralih ke tiga tempat terpisah, melihat Gajahmada, Mahesa Semu, dan Putu Risang masih bertempur menghadapi lawannya masing-masing.
"Tampaknya lawan mereka adalah orang-orang yang sangat tangguh," berkata Adipati Menak Koncar dalam hati, penuh kecemasan berharap kawan-kawannya dapat memenangkan pertempurannya.
"Sungguh sebuah jurus permainan pedang yang sangat sempurna," berkata Adipati Menak Koncar dalam hati manakala pandangannya tertuju ke arah Mahesa Semu yang tengah menghadapi Ki Gagakpati.