Chapter 171
Demikianlah, di saat mangsa utama Labuh semplah, candranya air mata menggenang dalam kalbu, di saat mata air mulai terisi, kapuk randu mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bersarang dan bertelur, di bulan yang baik, di hari yang baik, keluarga istana bermaksud untuk meresmikan Tambak Kalagyan itu dengan mengundang beberapa keluarga istana kerajaan terdekat.
"Tamu dari Kerajaan Wengker telah datang, bermaksud untuk datang menghadap," kata seorang prajurit pengawal istana Kahuripan kepada Juwaraja Tribuwana.
"Sampaikan bahwa kami keluarga istana Kahuripan menerima kedatangan mereka di pendapa agung ini," kata Juwaraja Tribuwana kepada prajurit pengawal itu.
"Raja Wijayarajasa dari Kerajaan Wengker adalah tamu pertama kita," kata ibunda Ratu Gayatri kepada Juwaraja Tribuwana, Dyah Wiyat, dan Patih Gajah Mada yang telah berada di pendapa agung Istana Kahuripan.
Maka, tidak lama berselang, terlihat di halaman muka pendapa agung, seorang prajurit pengawal istana Kerajaan Kahuripan berjalan mengiringi dua orang lelaki yang sudah berumur dan seorang pemuda.
Manakala ketiga tamu yang datang dari Kerajaan Wengker itu semakin mendekati pendapa agung, terlihat Dyah Wiyat membelalakkan matanya. Dua orang dari ketiga tamu dari Kerajaan Wengker itu ternyata sudah sangat dikenalnya dengan baik.
Ketika ketiga tamu itu tengah menaiki tangga panggung pendapa agung Istana Kahuripan, Dyah Wiyat sepertinya berusaha mengendalikan perasaan hatinya sendiri, sebuah perasaan kegembiraan hati bersama debar yang tidak dimengerti datang begitu saja menguasai dirinya.
"Selamat datang di Istana Kahuripan, wahai Raja penguasa bumi Wengker, tanah yang makmur dan diberkati para dewa," kata ibunda Ratu Gayatri menyambut kedatangan Raja Wengker di pendapa agung Istana Kahuripan.
"Sebuah kehormatan mendapatkan undangan dari keluarga istana Kahuripan ini," kata Raja Wengker setelah duduk bersama di panggung pendapa agung Istana Kahuripan.
Setelah saling menyampaikan keselamatan masing-masing, Raja Wengker pun memperkenalkan dua orang yang bersamanya itu.
"Aku perkenalkan dua orang yang mengiringi perjalananku dari Kerajaan Wengker menuju bumi yang dilindungi para dewata ini. Yang tidak lain adalah sahabatku yang bernama Ki Ajar Bendawa," kata Raja Wengker memperkenalkan seorang lelaki tua yang bersamanya itu, yang tidak lain adalah Ki Ajar Wengker yang sudah dikenal oleh Gajah Mada dan Dyah Wiyat di hutan perburuan di hutan timur kaki Gunung Penanggungan.
Terlihat Ki Ajar Bendawa tersenyum hangat manakala pandangan matanya tertahan antara tatapan mata Gajah Mada dan Dyah Wiyat.
"Sementara anak muda yang bersamaku ini adalah putraku sendiri, bernama Raden Kudamerta," kata Raja Wengker memperkenalkan seorang anak muda yang bersamanya itu.
Terlihat Dyah Wiyat mengerutkan keningnya, menatap anak muda yang diperkenalkan oleh Raja Wengker sebagai putranya itu yang bernama Raden Kudamerta.
"Ternyata Jaka Sesuruh yang kukenal adalah putra Raja Wengker, semoga saja anak muda itu tidak buka suara tentang perlakuanku di tanah perburuan," kata Dyah Wiyat dalam hati penuh kegelisahan yang amat sangat.
Namun, kegelisahan Dyah Wiyat semakin menjadi-jadi manakala anak muda yang dikenalnya bernama Jaka Sesuruh itu membuka suara di panggung pendapa agung Istana Kahuripan itu.
"Maafkan ananda, wahai Ayahanda. Aku dan Ki Ajar Bendawa sudah mendahului Ayahanda, sudah saling mengenal di antara keluarga istana Kahuripan yang hadir di pendapa agung ini," kata Raden Kudamerta sambil tersenyum membuka suaranya di pendapa agung Istana Kahuripan itu.
Terlihat Dyah Wiyat masih berdebar-debar manakala Raden Kudamerta melanjutkan perkataannya.
"Ananda dan Ki Ajar Bendawa ketika melanglang di sekitar hutan Gunung Penanggungan tidak sengaja bertemu dan dijamu di rumah singgah milik keluarga istana Kahuripan," kata Raden Kudamerta melanjutkan perkataannya.
"Ternyata aku kedahuluan putraku sendiri," kata Raja Wengker sambil tersenyum.
"Ananda Raden Kudamerta, ada dua putriku berada di pendapa agung ini, siapakah gerangan di antara keduanya yang kamu temui di hutan perburuan itu?" tanya ibunda Ratu Gayatri kepada Raden Kudamerta.
"Sungguh ananda seorang yang tidak berbudi bila ananda melupakan sang putri cantik jelita berhati mulia yang tidak membedakan kasta, menjamu dua orang pengembara jelata biasa, salah seorang putri Kanjeng Ratu yang bernama Dyah Wiyat," kata Raden Kudamerta kepada ibunda Ratu Gayatri.
Terlihat ibunda Ratu Gayatri tersenyum, sebenarnya sudah banyak mengetahui tentang kejadian di hutan perburuan lewat Gajah Mada, tentunya tanpa sepengetahuan Dyah Wiyat.
"Kita orang tua memang selalu kedahuluan dengan orang-orang muda," kata ibunda Ratu Gayatri sambil melirik ke arah putrinya, Dyah Wiyat.
Sebagai seorang wanita yang punya wawasan cukup luas, yang ada di kepala ibunda Ratu Gayatri adalah ikatan kekuasaan yang dapat mengikat lewat hubungan perkawinan.
"Tidak ada salahnya bila perkenalan mereka dilanjuti dengan sebuah ikatan perkawinan, maka kedudukan Kerajaan Majapahit sebagai pusat kerajaan akan menjadi semakin kuat," kata ibunda Ratu Gayatri dalam hati.
Namun, lamunan ibunda Ratu Gayatri terpecahkan manakala seorang prajurit pengawal istana datang menghadap Juwaraja Tribuwana melaporkan bahwa ada beberapa utusan dari kerajaan terdekat yang sudah datang.
"Antarkan mereka ke pendapa agung ini," kata Juwaraja Tribuwana kepada prajurit pengawal itu.
Maka tidak lama berselang, ramailah suasana di pendapa agung Istana Kahuripan itu yang dihadiri para Juwaraja dari berbagai kerajaan tetangga yang umumnya adalah para kerabat keluarga istana Majapahit itu sendiri.
Dan tentunya tidak ketinggalan Juwaraja Kertawardana dari Tumapel yang tidak lain adalah suami dari Juwaraja Tribuwana sendiri.
Kedudukan ibunda Ratu Gayatri di pendapa agung Istana Kahuripan ternyata sangat dihormati, karena wanita itu adalah salah seorang istri Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Kemakmuran dan keamanan adalah dua sisi mata uang logam keping yang tak terpisahkan selamanya. Pembangunan Tambak Kalagyan adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah upaya meratakan kesejahteraan bagi umat manusia di bumi Kahuripan ini," kata ibunda Ratu Gayatri.
Tambak Kalagyan adalah sebuah bendungan air yang berasal dari Sungai Kalagyan yang melewati Kerajaan Kahuripan, sebuah sungai kecil pecahan dari Sungai Brantas.
Raja Erlangga membangun Tambak Kalagyan terutama untuk mengamankan kerajaannya dari bencana alam Sungai Brantas yang kadang sering meluap membanjiri daerah sekitarnya.
Nampaknya Patih Gajah Mada berpikir yang sama sebagaimana pikiran Raja Erlangga, membangun kembali Tambak Kalagyan menjadi sebuah bendungan yang lebih besar dari yang pernah ada sebelumnya.
Dan di pagi yang amat cerah itu, enam kereta kencana diiringi ratusan prajurit terlihat berjalan menuju arah padukuhan Kalagyan.
Mereka adalah para bangsawan yang akan mengunjungi Tambak Kalagyan yang konon merupakan sebuah bendungan air yang sangat indah yang dibuat di zamannya saat itu, sebuah bendungan air yang asri dikelilingi pepohonan besar Hutan Kalagyan.
Terlihat keenam kereta kencana yang membawa para bangsawan itu berhenti di sebuah anak tangga seribu, sebuah anak tangga batu yang dapat mengantar setiap orang untuk naik ke atas mencapai dinding bendungan.
Maka, tidak lama berselang, anak tangga seribu itu telah dipenuhi kaki-kaki para bangsawan yang sepertinya penuh hasrat untuk mencapai puncak dinding bendungan.
"Sungguh sebuah pemandangan yang amat elok," kata Ki Ajar Bendawa kepada Gajah Mada manakala mereka sudah berada di atas puncak dinding bendungan air Tambak Kalagyan.
"Hutan Kalagyan adalah penyangga kekuatan dinding bendungan, perlu kesadaran warga menjaga kelangsungan hutan Kalagyan," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Ajar Bendawa.
"Air ini akan mengaliri sawah ladang para petani sepanjang tahunnya," kata Ki Ajar Bendawa sambil memandang aliran air yang meluncur jatuh ke bawah dan merayap seperti seekor naga besar membelah bumi Kahuripan, membelah persawahan yang luas membentang.
Sementara itu, beberapa sampan kecil terlihat tengah dikayuh mengelilingi bendungan air yang cukup luas itu.
"Terima kasih tidak bercerita yang sebenarnya tentang apa yang telah terjadi di hutan perburuan," kata Dyah Wiyat di atas sampan kecil kepada seorang pemuda tampan yang tengah mendayung sampan mengelilingi bendungan air.
"Bukankah aku telah berkata yang sebenarnya?" kata pemuda tampan itu sambil tersenyum.
"Seandainya dari semula kutahu kamu adalah keluarga istana dari Wengker, kupukul kamu dengan tenaga penuh," kata Dyah Wiyat sambil bersungut manja.
"Aku masih berutang dua kekalahan darimu," kata pemuda tampan itu kepada Dyah Wiyat.
"Apakah ada keinginan darimu untuk melunasinya?" tanya Dyah Wiyat.
"Aku tidak begitu yakin dapat mengalahkanmu," kata pemuda tampan itu.
Demikianlah, sampan kecil itu ternyata tidak hanya mengelilingi sekitar bendungan, namun telah menyusuri setiap rahasia hati yang tersembunyi dari muda-mudi itu.
Bendungan air Tambak Kalagyan yang cukup luas itu ternyata tidak mampu membendung curahan lautan asmara kedua muda-mudi itu.
Para pujangga menorehkan sajak-sajak cinta keduanya tidak terbatas pada perjalanan pulang antara Tambak Kalagyan menuju Istana Kahuripan, namun berlanjut dalam sebuah peminangan.
Maka, belum lengkap satu bulan dari pertemuan mereka di Tambak Kalagyan, datang kembali keluarga Kerajaan Wengker ke Istana Kahuripan untuk meminang Dyah Wiyat.
Sang putri cantik jelita, sang pemuda tampan rupawan. Sungguh sebuah perpaduan yang sangat serasi dan elok, menjadi perbincangan di berbagai kalangan di bumi Majapahit, di kalangan para kawula alit maupun para bangsawan.