Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 04

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 04

"Datanglah besok pagi menemuiku di sini," berkata Patih Mahesa Amping kembali sambil berdiri.

Gajah Mada terlihat ikut berdiri mengantar Patih Mahesa Amping yang telah menuruni anak tangga pura. Ia melihat lelaki gagah itu berjalan diiringi dua orang prajurit pengawal istana yang akan mengantarnya menemui Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Gajah Mada masih melihat ayah angkatnya di ujung lorong jalan istana, lalu menghilang di sebuah tikungan.

"Seorang ksatria penjaga Majapahit yang setia," berkata Gajah Mada dalam hati, begitu bangga kepada ayah angkatnya yang begitu setia, menyerahkan segenap hati, pikiran, dan jiwanya bagi Kerajaan Majapahit.

Matahari putih, awan putih, dan langit putih meneduhi langkah kaki Gajah Mada berjalan di Kotaraja Majapahit yang mulai terlihat sepi. Hari telah berada di ujung senja.

Pura Pasanggrahan Jayakatwang terletak di sebuah bukit kecil di Tanah Ujung Galuh. Di sanalah langkah kaki Gajah Mada tertuju.

"Selamat datang kembali, wahai putraku," berkata Jayakatwang di pura pasanggrahannya, menyambut kedatangan Gajah Mada.

Setelah menyampaikan salam keselamatan, mereka berdua saling bercerita tentang beberapa peristiwa selama perpisahan di antara mereka.

Namun, ketika mereka asyik bercerita berbagai peristiwa, muncullah dari ruang dalam Nyimas Turukbali bersama dua orang gadis yang mengiringi di belakangnya.

"Ternyata pahlawan hatiku telah kembali pulang," berkata Nyimas Turukbali menyambut kehadiran Gajah Mada yang sudah dianggap sebagai putranya sendiri.

"Wahai dua gadis jelita, mengapa masih berdiri mematung?" berkata Jayakatwang menggoda kedua gadis yang masih berdiri canggung penuh malu.

"Mari duduk bersama kami, bibimu akan memperkenalkan kalian kepada Gajah Mada," berkata Nyimas Turukbali, meminta kedua gadis itu duduk bersama mereka di pendapa pura.

Mendengar perkataan Nyimas Turukbali, terlihat kedua gadis itu ikut duduk bersama mereka.

Gajah Mada memandang kedua gadis jelita itu yang juga tengah memandangnya dengan senyum tersungging penuh malu dari keduanya.

"Dua gadis manis yang tengah berkembang," berkata Gajah Mada dalam hati.

"Yang manis selalu tersenyum itu adalah Dyah Gayatri. Sementara di sebelahnya adalah adiknya yang bernama Dyah Wiyat. Mereka berdua adalah kemenakanku sendiri, putri kandung Baginda Raja Sanggrama Wijaya," berkata Nyimas Turukbali memperkenalkan kepada Gajah Mada.

"Ibunya, Ratu Gayatri, telah mempercayakan mereka tinggal bersama kami," kembali berkata Nyimas Turukbali kepada Gajah Mada.

"Ketika di istana, aku tidak pernah melihat kalian berdua," berkata Gajah Mada yang merasa heran tidak pernah melihat kedua gadis manis itu.

"Di Istana Majapahit, sudah tentu mereka berdua dipingit, tidak boleh ke mana-mana keluar dari pura keputrian," berkata Nyimas Turukbali menjelaskan.

Demikianlah, perjumpaan mereka di Pura Jayakatwang itu dilanjutkan dengan perjamuan makan malam.

Terlihat Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat sudah mulai tidak canggung lagi berhadapan dengan Gajah Mada. Ternyata, aslinya mereka adalah dua gadis yang sangat periang. Dan malam di pendapa Pura Jayakatwang menjadi penuh canda ceria di antara mereka.

"Aku sudah merasa tidak sepi lagi tinggal di pura ini," berkata Nyimas Turukbali.

"Aku juga telah mendapat teman berbincang lagi," berkata pula Jayakatwang.

"Tidak terasa, hari sudah larut malam," berkata Nyimas Turukbali mengingatkan semuanya untuk segera beristirahat.

Dan malam pun terlihat menyelimuti, dengan kesunyian malam yang mendenging, suara daun dan cabang pohon yang bergesekan ditiup angin, juga debur ombak Pantai Tanah Ujung Galuh di malam hari seperti suara nyanyian gending yang mengalun sepanjang malam, mengantar hati yang telah letih terlelap dan tertidur di peraduan mimpi.

Hingga akhirnya sang pagi datang memenuhi janjinya, diawali dengan suara sayup sahutan ayam jantan yang terdengar semakin dekat dan begitu jelas dari sebuah padukuhan di sebelahnya.

Dan pagi itu, Gajah Mada telah merasa berada di rumahnya sendiri, setelah melewati pengembaraan panjang di Tanah Pasundan.

"Patih Mahesa Amping telah meminta aku untuk menemuinya di istana," berkata Gajah Mada kepada Jayakatwang ketika mereka bersama menikmati sarapan pagi di pendapa pura.

"Tingkat ilmu kepandaian Patih Mahesa Amping sudah begitu tinggi, berbahagialah Majapahit ini mempunyai seorang patih seperti dirinya," berkata Jayakatwang.

"Kesetiaan seorang sahabat," berkata Gajah Mada.

Akhirnya, ketika pagi sudah menjadi terang tanah, Gajah Mada berpamit diri untuk berangkat ke Istana Majapahit bertemu dengan Patih Mahesa Amping.

Ketika Gajah Mada tengah memasuki halaman pura peristirahatan Patih Mahesa Amping, ternyata di pendapa pura sudah ada tamu lain.

"Senang melihatmu kembali, wahai anak muda," berkata seorang tua yang tidak lain adalah Ki Sandikala, sang Patih Mangkubumi yang bernama asli Empu Nambi.

"Semoga kedatangan hamba tidak mengganggu kunjungan Tuan Patih Mangkubumi," berkata Gajah Mada penuh hormat kepada orang tua itu yang sudah dikenalnya sejak kecil di tanah pengungsian, di Balidwipa, dan di Tanah Wangi-wangi.

"Justru aku datang untuk menemuimu," berkata Patih Mangkubumi dengan wajah penuh senyum keramahan yang selalu menghiasi dirinya.

"Menemui hamba?" balik bertanya Gajah Mada.

"Aku akan menjelaskan kepadamu," berkata Patih Mahesa Amping kepada Gajah Mada.

Terlihat Gajah Mada bergeser duduknya, mencoba menyimak apa gerangan yang akan disampaikan oleh dua orang yang paling dihormati di Majapahit itu.

"Kemarin, kami berdua telah berbincang banyak dengan Baginda Raja Sanggrama Wijaya," berkata Patih Mahesa Amping memulai penjelasannya kepada Gajah Mada.

"Perbincangan kami menyangkut perihal daerah Tuban dan Adipati Ranggalawe," kembali berkata Patih Mahesa Amping melanjutkan.

Terlihat Patih Mahesa Amping diam sejenak, memberi kesempatan Gajah Mada menunggu pembicaraan selanjutnya.

"Kami bertiga telah sepakat untuk menjadikan daerah Tuban sebagai daerah yang memerlukan pengawasan khusus," berkata Patih Mahesa Amping melanjutkan penjelasannya.

Kembali Patih Mahesa Amping terdiam sejenak, memberikan kesempatan Gajah Mada mengerti dengan jelas apa yang telah disampaikannya.

"Untuk selanjutnya, biarlah Patih Mangkubumi menjelaskan kepadamu," berkata Patih Mahesa Amping kepada Patih Mangkubumi.

"Kami perlu seseorang yang dapat dipercaya mengawasi gerak-gerik daerah Tuban. Dan kami telah menemukan orang itu. Kamulah Gajah Mada yang kami anggap patut melaksanakan pengawasan khusus itu," berkata langsung Patih Mangkubumi kepada Gajah Mada.

"Hamba siap melaksanakan tugas ini, semoga hamba tidak mengecewakan kepercayaan yang telah diletakkan di pundak hamba ini," berkata Gajah Mada dengan wajah penuh semangat.

"Namun, sebaiknya kamu berangkat setelah upacara penobatan Pangeran Jayanagara menjadi raja muda di Kediri," berkata Patih Mahesa Amping kepada Gajah Mada.

"Pangeran Jayanagara menjadi raja muda Kediri?" berkata Gajah Mada penuh tanda tanya.

"Sudah lama Istana Kediri kosong tanpa seorang pun mengisi takhta singgasananya," berkata Patih Mahesa Amping.

"Sebagai seorang Putra Mahkota Kerajaan Majapahit, sudah waktunya Pangeran Jayanagara belajar mengendalikan suatu kerajaan, dimulai dari Kerajaan Kediri," berkata Patih Mangkubumi menambahkan.

"Aku akan selalu berada di sampingnya," berkata Patih Mahesa Amping sambil tersenyum, seakan dapat membaca arah pikiran Gajah Mada tentang Pangeran Jayanagara.

"Pada saatnya kami akan tua dan mati, aku menjadi yakin bahwa dirimu adalah salah satu yang akan menggantikan kami, menjaga kerajaan ini tetap berkibar, bahkan lebih berkembang dan meluas dari sekarang ini," berkata Patih Mangkubumi kepada Gajah Mada.

"Hamba bangga telah mengenal Tuan Patih Mangkubumi, seorang empu yang mempunyai pengikut besar di Jawadwipa dan Balidwipa. Namun, Tuan telah melepas semua itu, hanya untuk kesetiaan. Sebagaimana ayahandaku, Patih Mahesa Amping, yang telah meninggalkan Istana Tanah Melayu, juga demi kesetiaan. Izinkan hamba, Gajah Mada, bersumpah untuk meninggalkan segala kesenangan sendiri, hanya mengabdi kepada kesetiaan Kerajaan Gula Kelapa ini," berkata Gajah Mada, merasa terharu melihat dua orang terhormat di hadapannya yang telah mengorbankan diri dan masa depannya untuk kesetiaan.

Dan seperti kemarin, terlihat dua orang prajurit pengawal Raja memasuki halaman pura.

"Masih ada sepekan ini untuk kita saling bertemu, sebelum upacara penobatan Pangeran Jayanagara," berkata Patih Mahesa Amping sambil berdiri kepada Gajah Mada.

Ternyata kedua prajurit pengawal itu memang ditugaskan oleh Baginda Raja untuk memanggil kedua orang kepercayaannya itu, Patih Mahesa Amping dan Patih Mangkubumi.

Gajah Mada ikut berdiri mengantar keduanya menuruni anak tangga pendapa pura. Dengan pandangan matanya, Gajah Mada mengikuti langkah mereka berdua yang dikawal oleh dua orang prajurit pengawal yang akhirnya tidak terlihat lagi, menghilang di sebuah tikungan jalan lorong istana.

"Aku akan ke sanggar istana," berkata Gajah Mada dalam hati.

Namun, sebelum ke sanggar istana, terlihat Gajah Mada melangkahkan kakinya ke pura kesatrian untuk menemui Pangeran Jayanagara.

"Selamat atas rencana penobatanmu sebagai raja muda di Kediri," berkata Gajah Mada kepada Pangeran Jayanagara yang telah ditemuinya.

"Telingamu begitu tajam, mengetahui segala apa pun di istana ini," berkata Pangeran Jayanagara.

"Patih Mahesa Amping yang memberitahukannya kepadaku," berkata Gajah Mada.

Terlihat kedua anak muda itu telah berjalan menuju sentong tengah, arah sanggar istana.

"Apakah Pangeran merasa rindu kepada Kakang Putu Risang?" berkata Gajah Mada ketika mereka telah memasuki ruang dalam sanggar istana.

"Benar-benar merindukannya," berkata Pangeran Jayanagara.

"Aku juga sangat merindukannya," berkata pula Gajah Mada menyampaikan perasaan hatinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment