Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 56

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 56

Matahari belum naik tinggi, langit bening berawan teduh manakala Gajah Mada dan Supo Mandagri terlihat telah jauh meninggalkan Hutan Kemiri.

"Sebentar lagi kita akan memasuki Kademangan Simpang," kata Gajah Mada sambil menuntun kudanya kepada Supo Mandagri.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Gajah Mada, letak Kademangan Simpang memang sudah tidak begitu jauh lagi.

"Gusti yang Maha Agung telah memberkati tanah Majapahit ini seperti surga; menumbuhkan sebiji jagung menjadi berlipat-lipat, menurunkan hujan, dan menyediakan banyak ikan di setiap sungai," ujar Gajah Mada kepada Supo Mandagri dengan penuh kegembiraan sambil melihat-lihat tanaman jagung yang sebentar lagi akan dipanen saat mereka memasuki sebuah jalan panjang mendekati Kademangan Simpang.

Ternyata perkataan Gajah Mada bertujuan untuk menghibur hati Supo Mandagri yang masih belum dapat sepenuhnya melupakan peristiwa kematian ayahnya. Gajah Mada mengerti bahwa memang tidak mudah untuk secepatnya melupakan kehilangan seseorang yang amat dicintai sebagaimana yang dialami oleh Supo Mandagri.

Terlihat keduanya telah berada di jalan utama Kademangan Simpang. Beruntung, mereka masih menemui sebuah kedai yang buka di ujung pasar. Keberuntungan lainnya, mereka akhirnya mendapatkan seekor kuda yang cukup baik melalui kenalan pemilik kedai tersebut. Setelah beristirahat cukup, terlihat Gajah Mada dan Supo Mandagri keluar dari Kademangan Simpang.

Melihat kesigapan cara berkudanya, Gajah Mada menilai bahwa anak muda itu tampaknya sudah memiliki dasar kanuragan yang cukup baik.

"Mari kita berpacu," ajak Gajah Mada kepada Supo Mandagri saat mereka berada di sebuah padang ilalang yang luas membentang.

Demikianlah, dua ekor kuda terlihat berlari begitu cepat membelah padang ilalang di bawah lengkung langit cerah, dalam tatapan matahari yang mulai bergulir ke arah barat bumi. Hingga akhirnya, ketika matahari telah menghilang di balik punggung perbukitan, terlihat keduanya turun dari kuda masing-masing menuju ke sebuah danau besar yang teduh dirimbuni banyak pepohonan.

"Sebuah keris yang sangat sempurna," puji Supo Mandagri menilai keris di pinggang Gajah Mada.

Gajah Mada tersenyum sambil menyerahkan keris Nagasasra ke tangan Supo Mandagri.

"Keris Nagasasra," gumam Supo Mandagri dengan mata tidak berkedip memandang sebilah keris di tangannya.

"Ternyata pemahamanmu mengenai berbagai jenis keris sangat hebat. Benar bahwa keris di tanganmu itu adalah keris Nagasasra," ujar Gajah Mada.

"Ayahku pernah mendongeng tentang keris ini yang pernah dimiliki oleh Raja Erlangga dan telah diwarisi kepada putrinya sendiri yang bernama Dewi Kili Suci," kata Supo Mandagri masih memandang keris di tangannya.

"Di Kotaraja Majapahit, aku akan memperkenalkan dirimu kepada seseorang keturunan pembuat keris pusaka ini," kata Gajah Mada penuh senyum menatap wajah Supo Mandagri yang masih terpaku penuh kekaguman.

"Keturunan Empu Bharada?" tanya Supo Mandagri dengan penuh kegembiraan.

"Orang itu bernama Ki Sandikala yang biasa juga dipanggil sebagai Empu Nambi," jawab Gajah Mada.

"Mahapatih Majapahit?" Supo Mandagri tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Tidak banyak yang mengetahui bahwa Ki Sandikala telah mewarisi ilmu leluhurnya dalam membuat keris pusaka. Aku sendiri pernah diperlihatkan sebuah keris kembaran Nagasasra yang nyaris serupa dengan yang aslinya di tanganmu ini," tutur Gajah Mada dengan senyum gembira melihat Supo Mandagri tampak telah melupakan kesedihan hatinya.

"Ayahku begitu mengagumi Empu Bharada sebagai seorang ahli yang sangat mumpuni dalam pembuatan keris pusaka. Sebuah kehormatan bila saja aku dapat mengenal langsung salah seorang keturunannya," ujar Supo Mandagri penuh semangat.

"Bila berjodoh, aku akan meminta Ki Sandikala berbagi keahliannya itu kepadamu," janji Gajah Mada.

"Maaf, apakah aku berhadapan dengan seorang pangeran Majapahit?" tanya Supo Mandagri sambil memandang ke arah Gajah Mada.

Mendengar pertanyaan itu, Gajah Mada hanya tersenyum. "Mengapa kamu bertanya seperti itu?"

"Dari ucapanmu, nampaknya kamu begitu dekat dengan Mahapatih Majapahit. Dan setahuku, keris Nagasasra ini hanya dimiliki oleh keturunan Raja Erlangga," jawab Supo Mandagri.

"Aku hanya seorang kepala prajurit pengawal istana Majapahit. Mengapa keris pusaka ini berada di tanganku, ceritanya sangat panjang sekali," sahut Gajah Mada.

Mendengar penuturan Gajah Mada, Supo Mandagri cukup mengerti bahwa Gajah Mada tidak ingin bercerita panjang mengenai keris tersebut, sehingga ia tidak mencoba mendesak. Di dalam benaknya terbayang pertemuan dengan salah seorang keturunan Empu Bharada yang sering diceritakan ayahnya sebagai seorang empu sakti mandraguna, pembuat keris para dewa.

"Ternyata aku berhadapan dengan seorang kepala prajurit pengawal istana Majapahit," kata Supo Mandagri sambil menyerahkan kembali keris Nagasasra kepada Gajah Mada.

"Besok pagi, perjalanan kita masih sangat panjang," kata Gajah Mada sambil duduk bersandar di sebuah batang pohon besar, mengajak Supo Mandagri untuk beristirahat.

Semilir angin malam di tempat terbuka membuat Supo Mandagri cepat tertidur.

"Kasihan Supo Mandagri, ia telah ditinggalkan seorang ayah yang sangat dicintainya," batin Gajah Mada sambil menatap tubuh anak muda yang tengah tertidur pulas. "Orang-orang yang karena berbagai kepentingannya berusaha untuk merusak tatanan kemapanan Majapahit harus segera dibersihkan. Barulah impian Raja Erlangga akan terwujud nyata; membangun sebuah kerajaan yang besar di darat dan lautan dalam cinta kasih penuh perdamaian," pikirnya sambil meraba keris Nagasasra yang melekat di pinggangnya.

Lama Gajah Mada tidak dapat memejamkan mata; pikirannya silih berganti mengembara dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Terbayang di benaknya sosok pendeta Gunakara yang mengasuhnya dengan penuh kasih sayang sejak kecil, yang mengatakan bahwa dirinya adalah titisan gurunya, Damyang Dalai Lama. Terbayang pula wajah ayah kandungnya, pendeta Darmaraya—atau yang dikenal sebagai pertapa dari Gunung Wilis—saat dirinya meninggalkan Kerajaan Rakata dan melepas kedudukannya sebagai putra mahkota.

"Berjalanlah wahai putraku bersama takdirmu. Tahtamu lebih besar dari kerajaanmu sendiri, dan namamu akan abadi terpahat sepanjang masa," demikian terngiang perkataan ayah kandungnya saat melepas kepergiannya meninggalkan Pulau Rakata di ujung barat Jawadwipa.

"Aku berjalan di atas takdirku," ucap Gajah Mada kepada dirinya sendiri sambil tersenyum.

Semilir angin dingin berhembus mengusap wajah Gajah Mada yang perlahan memejamkan mata, namun panca inderanya yang peka terus terjaga. Tidak satu pun suara di sekitarnya luput dari pendengarannya; demikianlah sikap seorang ksatria yang selalu waspada hasil tempaan dirinya selama ini.

Hingga ketika ayam hutan di kejauhan terdengar, Gajah Mada membuka mata dan tersenyum memandang ke arah Supo Mandagri yang juga sudah terbangun.

"Pagi yang indah, saudaraku," sapa Gajah Mada.

Di bawah langit pagi dalam tatapan sang surya yang muncul mengintip di timur perbukitan hijau, air danau mulai menghangat.

"Jangan kamu habiskan cadangan ikan di danau ini," canda Gajah Mada kepada Supo Mandagri yang tengah mencari ikan dengan batang kayu berujung runcing.

"Seperti yang kamu katakan, bumi Majapahit ini adalah sebuah surga," jawab Supo Mandagri penuh kegembiraan sambil berjalan ke tepi danau membawa empat ekor ikan yang tertancap di dahan kayunya.

Tidak lama berselang, wangi ikan bakar pun menggoda selera. Gajah Mada dan Supo Mandagri menikmati sarapan di tepi danau yang mulai terlihat cerah.

"Di pertengahan malam, bila tidak ada halangan, kita akan sampai di Kotaraja Majapahit," ujar Gajah Mada memperkirakan sisa perjalanan mereka.

Mendengar hal itu, Supo Mandagri menjadi bersemangat dan segera berkemas. Apalagi yang diidamkan Supo Mandagri kalau bukan pertemuan dengan keturunan Empu Bharada, sang pencipta keris para dewa?

Ketika matahari sudah mulai tinggi di atas perbukitan sebelah timur, Gajah Mada dan Supo Mandagri sudah jauh meninggalkan danau di lembah hijau itu. Bila sebelumnya mereka berjalan pintas memotong perbukitan, kali ini Gajah Mada tampak menyusuri jalan tanah keras yang biasa digunakan para pedagang.

Dalam perjalanan, mereka kadang bersisipan dengan pedagang yang membawa gerobak ditarik sapi besar, mungkin hendak menuju tempat ramai seperti Tumapel atau Kediri.

"Bumi Majapahit adalah surganya para pedagang. Mereka datang dari satu tempat ke tempat lainnya tanpa menemui satu pun pembegal di jalanan yang mereka lewati," kata Gajah Mada kepada Supo Mandagri saat mereka bersisipan jalan dengan para pedagang tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment