Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 108

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 108

"Setahuku, orang Kediri lebih mencintai Tuan Patih ketimbang Raja Muda Jayanagara," kata Ki Rangga Gajah Biru. Ia berhenti sebentar sambil menatap wajah orang-orang di atas pendapa. "Karena orang Kediri tahu benar bahwa Patih Mahesa Amping telah berjasa besar membangun Kotaraja Kediri, merekatkan persaudaraan di antara mereka dari dendam perselisihan akibat peperangan lama antara para pembela Raja Jayakatwang dan para pembela keluarga Tumapel," lanjutnya seraya menarik napas panjang.

"Dan bila hari ini mereka mendengar Tuan Patih Mahesa Amping terpancung di Kotaraja Majapahit, maka sebagaimana diriku, seluruh orang yang merasa sebagai putra Kediri akan mengangkat senjata," jawab Ki Rangga Gajah Biru atas pertanyaan Patih Mahesa Amping.

"Terima kasih telah menjawab pertanyaanku dengan jujur," kata Patih Mahesa Amping kepada Ki Rangga Gajah Biru. "Pertanyaanku selanjutnya kutujukan kepada putraku sendiri, Adityawarman."

"Putraku, bila saja kamu mendengar hari ini aku terpancung di Kotaraja Majapahit ini, aku dapat memahami perasaanmu. Kamu akan berduka, kamu akan menaruh dendam selamanya kepada kerajaan ini yang telah menjatuhkan hukuman kepadaku. Dan manakala ada kesempatan, sebagai seorang cucunda tercinta Raja di Tanah Melayu, kamu pasti akan membawa pasukan besar untuk memerangi Kerajaan Majapahit ini," ujar Patih Mahesa Amping sambil memandang ke arah putranya. "Sekarang jawab pertanyaan Ayahandamu, benarkah perasaanmu sebagaimana persangkaanku?"

"Persangkaan Ayahanda tidak ada yang salah sedikit pun. Ananda akan menghimpun kekuatan, bukan hanya dari tanah Melayu, namun dari segala penjuru nagari," jawab Adityawarman penuh semangat.

"Ki Sandikala," panggil Patih Mahesa Amping kepada Patih Amangkubumi untuk memecah suasana sepi di atas pendapa itu. "Sebagian pandangan dan pemikiranku sudah terjawab oleh Ki Rangga Gajah Biru dan Adityawarman, bahwa selembar jiwaku yang tak berharga ini akan dapat membawa peperangan yang sangat berkepanjangan; bahwa selembar jiwaku yang tiada berarti ini bahkan dapat melemahkan, bahkan dapat menghancurkan Kerajaan Majapahit ini," tuturnya seraya menarik napas panjang, seolah ada banyak hal yang ingin disampaikan di atas pendapa puri pasanggrahan Patih Amangkubumi itu.

"Ki Sandikala," lanjut Patih Mahesa Amping kembali kepada Patih Amangkubumi. "Kita telah bersama-sama berjuang dalam waktu yang begitu panjang membangun Kerajaan Majapahit ini. Sebuah kerajaan terbaik dan terbesar yang telah banyak belajar dari kesalahan para leluhur, menjadikan Kerajaan Majapahit sebagai kekuasaan tertinggi yang membangun keadilan di pintu gapuranya, membangun kemakmuran di setiap dinding rumah yang ada di wilayahnya, serta membangun keamanan dan kesejahteraan di setiap jalan yang terhubung di wilayah kesatuan Majapahit ini."

Semua mata masih tertuju ke arah Patih Mahesa Amping, menunggu pandangan dan pemikirannya selanjutnya.

"Ki Sandikala," kata Patih Mahesa Amping lagi. "Aku punya cita-cita yang begitu sederhana: mempunyai sebidang tanah untuk kutanami padi dan sayur-mayur. Hampir setiap hari keringatku akan mengucur di sana sambil memandang benih-benih tanamanku tumbuh berkembang dengan subur, bercanda bersama istri tercinta di saung sambil menjaga padi yang sudah menguning dari burung-burung kecil pencuri padi." Ia berhenti sebentar, menatap Patih Amangkubumi dengan senyum tersungging, mencoba menengok rasa, akal, dan budi Patih Amangkubumi yang terlihat merenung dalam, menelusuri ke mana arah pemikiran sang Patih Daha yang perkasa dan pernah dijuluki sebagai manusia setengah dewa itu.

"Ki Sandikala," panggil Patih Mahesa Amping kembali. "Inilah kesempatanku untuk keluar dari hiruk-pikuk kehidupan duniawi, tinggal di tempat terasing, tidak dikenal oleh siapapun, dan menjadi seorang petani biasa."

"Meninggalkan jabatan Patih di Kediri?" tanya Ki Demung Juru yang sedari tadi diam menyimak.

Patih Mahesa Amping tersenyum ke arah Ki Demung Juru. "Benar, Ki Demung Juru. Mungkin ini adalah keputusanku yang terbaik; menghindari hukuman pancung dan menghindari pertempuran berdarah yang dapat membawa penderitaan lebih banyak lagi. Mungkin inilah jalanku, jalan seorang Mahesa Amping yang berasal dari seorang anak kecil yang tidak mengenal kasih sayang ayah dan ibu, seorang Mahesa Amping kecil yang tidak dikenal oleh siapapun."

Suasana di atas pendapa itu langsung sepi; semua orang nampaknya tengah berada di dalam pikiran masing-masing, terbawa oleh kata-kata Patih Mahesa Amping.

"Ra Kuti beserta para anggota Dharmayaksa pasti akan terus menuntut penguasa kerajaan menggelar pengadilan ini," kata Patih Amangkubumi kepada Patih Mahesa Amping.

Mahesa Amping hanya tersenyum. Semua mata kembali tertuju kepadanya, berharap mendengar jalan pikirannya.

"Empu Nambi," panggil Patih Mahesa Amping dengan sebutan yang lain dari Patih Amangkubumi. "Bukankah para anggota Dharmayaksa telah mengatakan bahwa kitab hukum *Kutara Manawa Dharmasasra* tidak dapat menghukum orang yang sudah mati? Tentunya Empu Nambi sangat mengenal tujuh jalan darah yang dapat membuat seseorang tidak berdenyut nadinya selama tiga hari tiga malam. Lakukan cara itu pada jalan darahku, biar semua orang berpikir bahwa Mahesa Amping sudah mati."

Suasana kembali sepi; semua membisu merenungi perkataan Patih Mahesa Amping.

"Saudaraku Patih Mahesa Amping, apakah kamu telah berpikir jernih menawarkan cara seperti itu?" tanya Patih Amangkubumi dengan berat hati karena belum bisa menerima untuk melepas sahabat yang dianggapnya sebagai saudara sendiri itu. "Kerajaan Majapahit akan kehilangan seorang ksatria terbaik yang selalu melindungi kebesarannya, yang selalu memberikan pemikiran cerdas dalam setiap perselisihan, dan yang selalu merekatkan persaudaraan serta perdamaian di bumi ini."

"Empu Nambi, ibarat matahari, umurku sudah hampir senja. Inilah kesempatan bagi orang muda untuk mengambil alih tali sejarah dengan pemikiran yang jauh lebih bening, dengan pandangan yang jauh lebih luas dari apa yang kita miliki dan kita raih," kata Patih Mahesa Amping dengan senyum yang selalu terhias di bibirnya.

Demikianlah, hingga larut malam tidak ditemukan jalan yang lebih baik dari yang ditawarkan oleh Patih Mahesa Amping. Akhirnya, semua orang di atas pendapa itu menerima jalan mati suri tersebut.

Pagi itu, langit terlihat teduh setelah hujan lebat mengguyur bumi bersamaan saat fajar menjelang. Tersiar kabar duka bahwa Patih Mahesa Amping telah menghembuskan napas terakhirnya di puri pasanggrahan Patih Amangkubumi. Kabar lain menyebutkan bahwa pemakaman dilaksanakan di sebuah tempat rahasia di luar Kotaraja Majapahit sesuai pesan terakhirnya.

Di depan pintu gapura puri pasanggrahan Patih Amangkubumi setelah tersiar berita duka itu, warga datang bergelombang untuk melayat sang tokoh besar. Banyak orang datang untuk melihat Patih Mahesa Amping untuk terakhir kalinya, sementara beberapa orang lainnya datang sekadar memastikan bahwa Patih Mahesa Amping benar-benar telah mati.

Menjelang siang, sebuah kereta kuda membawa peti jenazah Patih Mahesa Amping keluar dari pintu gapura. Di belakangnya, sepuluh orang penunggang kuda mengiringi kereta jenazah tersebut, diikuti oleh beberapa orang yang berjalan kaki. Kereta itu berjalan merayap mendekati gerbang istana Majapahit. Patih Amangkubumi merasa terharu saat mengantar kereta jenazah hingga ke gerbang istana, karena dilihatnya ribuan manusia telah berkumpul, berharap dapat ikut mengantar dan melihat kereta jenazah Patih Mahesa Amping.

"Ternyata kecintaan warga Kotaraja Majapahit kepada Patih Mahesa Amping sama dengan kecintaan orang Kediri," ujar Patih Amangkubumi dengan perasaan yang begitu haru.

Kereta jenazah dan sepuluh pengiring berkuda itu harus berjalan merayap karena dikerumuni oleh ribuan manusia.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment