Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 100

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 100

Pagi itu, Ra Kuti dan Demung Gunari tampak sudah berada di jalan utama Kotaraja Kediri. Setibanya di istana Kediri, mereka berpisah karena tugas yang berbeda.

"Bila urusanku selesai di istana ini, aku akan langsung kembali ke Kotaraja Majapahit," ujar Ra Kuti kepada Demung Gunari saat mereka berpisah jalan di lorong istana Kediri.

Demikianlah, saat hari mulai siang, Ra Kuti mencari Demung Gunari untuk berpamitan kembali ke Kotaraja Majapahit. "Bulan depan aku akan kembali lagi," kata Ra Kuti kepada Demung Gunari sebelum ia meninggalkan Kotaraja Kediri.

Pada hari kedua setelah pertemuan itu, Demung Gunari mulai mencari sosok yang tepat untuk melaksanakan tugas sebagai "pengantin". Diam-diam, ia mengamati suasana kehidupan keluarga Patih Mahesa Amping yang tinggal di dalam istana Kediri, mulai dari keseharian hingga segala kebiasaannya.

Sebagai seorang demung istana yang bertugas mengurus rumah tangga istana Kediri, tidak seorang pun menaruh curiga saat Demung Gunari melihat-lihat di sekitar taman puri pasanggrahan tempat tinggal Patih Mahesa Amping, bahkan ketika ia bertanya kepada para pelayan dalem yang melayani keluarga sang patih. Ibarat seekor berang-berang yang membangun sarang perangkap, Demung Gunari bekerja dengan sangat teliti dan merasa tidak ada satu pun yang luput dari pengamatannya.

Akhirnya, setelah merasa cukup mengenal kebiasaan Patih Mahesa Amping, Demung Gunari mengetahui siapa orang terdekat dalam keluarga tersebut. Ni Narsih adalah pelayan dalem di puri pasanggrahan Patih Mahesa Amping yang bertugas menyiapkan makanan. Ia seorang pelayan yang sangat dipercaya oleh keluarga Patih Mahesa Amping. Meski usianya masih tampak muda, untuk ukuran gadis pada zaman itu, ia sudah dapat dikatakan terlambat berumah tangga. Bersama beberapa pelayan dalem lainnya, Ni Narsih tinggal di pondokan belakang istana Kediri.

Sementara itu, Suranta adalah seorang pekatik muda yang baru bekerja di istana Kediri. Meski begitu, ia adalah pekerja rajin yang terampil merawat kuda. Namun, pada akhir pekan, Suranta hampir selalu menghabiskan waktu luangnya di tempat penyabungan ayam. Hampir semua utangnya telah ia lunasi. Tidak seorang pun bertanya dari mana seorang pekatik istana mendapatkan uang sebanyak itu untuk berjudi. Banyak yang menduga gaya hidup Suranta berasal dari kedekatannya dengan Ni Narsih, perawan tua yang tergila-gila padanya sehingga apa pun yang diminta Suranta pasti dipenuhi.

Suranta hanya tersenyum saat kawan dekatnya menyinggung soal hubungan itu. Ia mampu menutup mulut rapat-rapat bahwa hubungan dengan Ni Narsih hanyalah sandiwara sesuai perintah Demung Gunari yang membayarnya.

"Buatlah agar Ni Narsih tergila-gila kepadamu," perintah Demung Gunari kepada Suranta. Dengan mudah, Suranta mendekati Ni Narsih dan mendapatkan cintanya yang tulus, tanpa wanita itu menyadari bahwa dirinya sedang diperalat.

Berita kedekatan mereka sampai ke telinga istri Patih Mahesa Amping, seorang putri Raja Melayu bernama Dara Jingga. "Apakah kamu sudah memikirkannya dengan masak-masak? Usia calon suamimu itu lebih muda darimu," ujar Dara Jingga kepada Ni Narsih.

"Mungkin sudah suratan takdir hamba, mendapatkan calon suami yang lebih muda dari usia hamba," jawab Ni Narsih.

Hingga suatu malam, ketika hubungan mereka semakin dekat, Demung Gunari menemui Suranta. "Tugasmu sekarang adalah membujuk Ni Narsih agar mencampurkan cairan ini ke dalam minuman Patih Mahesa Amping," kata Demung Gunari sambil menyerahkan sebuah bubu kecil dari bambu. Ia berbohong dengan mengatakan bahwa cairan itu telah dimantrai agar sang patih lebih menyayangi Demung Gunari.

"Bila kamu berhasil, aku akan memberimu lebih banyak lagi," ujar Demung Gunari sambil memberikan empat keping emas. Suranta yang tergiur pun segera menemui Ni Narsih dan membujuknya dengan alasan yang sama. Karena kasihan dan rasa cinta yang mendalam, Ni Narsih pun setuju untuk melaksanakan tugas tersebut.

Pada suatu sore yang cerah, Patih Mahesa Amping duduk berbincang dengan Dara Jingga di serambi. Seperti biasa, Ni Narsih menyiapkan wedang sereh. Saat tidak ada seorang pun di dapur, ia mencampurkan isi bubu kecil itu ke dalam minuman majikannya. Dengan perasaan berdebar, ia mengantarkan wedang tersebut ke serambi.

"Terima kasih," ucap Dara Jingga dengan ramah.

Keesokan harinya, Ni Narsih sempat lega karena melihat Patih Mahesa Amping masih terlihat segar bugar. Begitu pula pada hari kedua. Namun, pada hari ketiga, saat pagi masih remang, kehebohan besar terjadi di puri pasanggrahan Patih Mahesa Amping. Dara Jingga terkejut mendapati suaminya tengah duduk bersila dengan mata terpejam dan peluh bercucuran.

Saat sang patih membuka mata, ia memandang istrinya dengan tajam. "Dindaku, apakah engkau mencintaiku?"

"Lautan yang luas telah kuseberangi, meninggalkan segala kemanjaan sebagai seorang putri di tanah Melayu, hanya untuk menemui Kakanda," jawab Dara Jingga sambil mengusap peluh di wajah suaminya.

"Ambillah pisau pendek yang tergantung di dinding kamar kita itu, arahkan dengan tepat di jantungku," perintah Patih Mahesa Amping.

"Kakanda pasti tengah mengigau," ujar Dara Jingga dengan kening berkerut.

"Cepatlah, Dinda, bila kamu benar-benar mencintaiku!" desak Patih Mahesa Amping dengan suara keras, menandakan kesungguhan hatinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment