Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 33

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 33

Demikianlah, ketika wajah jalan lingkar di tepi hutan Jatirogo itu sudah terlihat semakin suram, terlihat sebuah rombongan bergerak tergesa-gesa. Mereka berharap secepatnya keluar dan menjauh dari jalan itu, membayangkan para perampok lain yang lebih besar dan ganas datang mengadang mereka.

Gajahmada, Dyah Gayatri, dan Dyah Wiyat seperti tidak punya beban apa pun, berjalan begitu ringan di belakang rombongan pedagang itu. Setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Gajahmada mengalahkan lawannya, kedua putri Majapahit itu merasa aman dan bangga berjalan di sisi putra tunggal Nyi Nariratih, pemimpin pasukan Srikandi di Majapahit tersebut.

"Di depan kita, tidak jauh lagi, adalah Kademangan Singgahan. Kita bisa singgah dan bermalam di sana," kata seorang pedagang kepada Gajahmada.

"Kita bermalam di Kademangan Singgahan," ujar Gajahmada kepada Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat.

Akhirnya, di saat *wayah sepi bocah*, rombongan para pedagang itu terlihat telah memasuki regol gapura kademangan. Wajah beberapa pedagang berubah cerah. Mereka merasa lega telah terlepas dari peristiwa perampokan yang sangat menegangkan itu. Kebetulan sekali, salah seorang pedagang bertempat tinggal di Kademangan Singgahan dan menawarkan Gajahmada untuk bermalam di rumahnya.

"Terima kasih, Paman. Semoga tidak merepotkan," kata Gajahmada kepada pedagang itu.

"Jangan sungkan-sungkan, bukankah kamu sudah menolong kami?" balas pedagang itu bertanya kepada Gajahmada.

Sementara itu, beberapa pedagang bersama warga kademangan telah menggiring para tawanan ke rumah Ki Jagaraga.

"Aku akan meminta Ki Jagabaya mengurus para tawanan ini untuk selekasnya dibawa ke Kadipaten Tuban," kata pemimpin rombongan pedagang kepada Gajahmada ketika mereka berpisah di persimpangan jalan antara rumah Ki Jagaraga dan rumah pedagang yang menawarkan penginapan.

"Kalian tidak akan merepotkan kami. Keluarga kami akan bahagia dapat menjamu kalian di rumahku ini," kata pedagang itu manakala mereka telah sampai di muka gerbang rumahnya yang ternyata sangat besar dan megah dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya.

Malam itu, Gajahmada dan kedua putri Majapahit diterima dengan baik oleh keluarga pedagang tersebut. Mereka sangat berterima kasih setelah mengetahui bahwa Gajahmada telah menyelamatkan suami dan ayah mereka. Malam itu, tuan rumah benar-benar menjamu Gajahmada dan kedua gadis yang bersamanya.

"Kami telah menyiapkan bilik untuk kalian beristirahat malam ini," kata pedagang itu mempersilakan tamunya.

Gajahmada, Dyah Gayatri, dan Dyah Wiyat diantar ke bilik masing-masing. Malam pun berlalu seperti malam sebelumnya, sepi dan dingin. Di biliknya sendiri, Gajahmada tidak langsung tertidur. Dirinya masih merenungkan siapa orang besar di belakang Manukwaja, di belakang Ki Jengkar, dan para perampok lainnya yang telah dibayar cukup tinggi untuk membuat keresahan di bumi Tuban itu.

"Apakah ada kaitannya dengan pengangkatan Adipati Tuban yang baru?" tanya Gajahmada dalam hati.

Malam pun berlalu seperti malam sebelumnya, dingin dan sepi. Hingga di ujung malam, ketika sang fajar datang menepis selimut mimpi, menyirnakan kegelapan yang pecah terburai oleh suara lenguh kerbau yang terseret menuju tanah bajakannya di gelap pagi. Pagi itu, terlihat Gajahmada bersama Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat telah berkemas untuk melanjutkan perjalanan kembali.

"Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian," kata pedagang itu kepada Gajahmada dan rombongannya yang telah melangkah menuruni anak tangga pendapa.

"Terima kasih, kami akan singgah bila kebetulan berada di seputar Kademangan Singgahan ini," kata Dyah Gayatri mewakili ucapan perpisahan itu.

"Anak-anak muda yang berani," gumam pedagang itu dalam hati manakala melihat punggung tiga anak muda itu untuk terakhir kalinya di sebuah tikungan jalan.

Terlihat di langit pagi, seekor elang melintas terbang menuju arah pesisir utara laut Tuban.

"Berapa lama jarak perjalanan kita menuju Padepokan Nglirip?" tanya Dyah Wiyat kepada Gajahmada.

"Hanya dua kali kepakan sayap bila kita punya sayap seperti elang itu," canda Gajahmada yang ditanggapi tawa gembira oleh Dyah Wiyat dan Dyah Gayatri.

Letak air terjun Nglirip dari Kademangan Singgahan memang tidak begitu jauh lagi. Ketika matahari baru tiga perempat di atas kepala, mereka bertiga tengah berjalan di tepi sungai yang berhulu dari air terjun Nglirip. Perlahan, suara deru gemuruh air terjun terdengar semakin keras di telinga mereka manakala langkah kaki semakin mendekati arah hulu.

Bukan main gembiranya hati Nyi Ajeng Nglirip manakala melihat Gajahmada, Dyah Wiyat, dan Dyah Gayatri telah berada di padepokannya. Impian, harapan, dan doanya terkabul untuk memeluk kembali kedua putri kandungnya yang telah sekian lama dirindukan.

"Tempat yang indah," kata Dyah Wiyat sambil memandang berkeliling melihat halaman muka padepokan yang bersatu dengan alam sekitarnya tanpa batasan apa pun.

"Semoga kalian betah tinggal di padepokan ini," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada kedua putrinya.

"Bagiku, di mana pun berada, bila di dekat pangkuan Ibunda akan terasa indah," sahut Dyah Gayatri.

"Kalian pasti sudah sangat lapar," kata Nyi Ajeng Nglirip.

"Sangat sekali," jawab Dyah Wiyat sambil meraba perutnya dan tersenyum. Sementara matahari memang terlihat sudah merayap naik tinggi, merayapi rasa lapar mereka.

***

Sementara itu, di langit belahan bumi yang lain, terlihat seekor elang tua tengah berputar-putar di sekitar bumi Lamajang. Setelah lama terbang mengitari bumi Lamajang, elang itu terbang tinggi dan menghilang di sekitar Hutan Randuagung.

"Kuda Anjampiani, kamu telah melakukan kesalahan besar," kata seorang lelaki tua kepada Kuda Anjampiani yang duduk bersimpuh menunduk, tidak berani sedikit pun mengangkat wajahnya.

Lelaki tua yang sangat dihormati oleh Kuda Anjampiani, putra Ranggalawe itu, memiliki rambut yang hampir seluruhnya memutih, namun suaranya masih terdengar lantang berwibawa. Ternyata, lelaki tua di hadapan Kuda Anjampiani itu adalah Arya Wiraraja, seorang Adipati Sumenep yang telah melarikan diri ke daerah Lamajang karena telah berani berbuat makar bersama putranya, Ranggalawe.

Atas kebaikan Ki Gede Pajarakan, keluarga Arya Wiraraja diberikan sebidang tanah di sekitar Hutan Randuagung. Arya Wiraraja adalah seorang yang sangat cerdik. Dengan berada di wilayah kekuasaan Ki Gede Pajarakan, dirinya untuk sementara aman dari kejaran prajurit Majapahit. Arya Wiraraja paham sekali bahwa Baginda Raja Sanggrama Wijaya sangat menghormati Ki Gede Pajarakan yang pernah memiliki utang budi karena telah menyelamatkan dirinya dari kejaran prajurit Jayakatwang beberapa tahun silam, di awal perjuangannya merebut kembali takhta Singasari.

"Apa yang kamu dapatkan dari keresahan warga Tuban?" tanya Arya Wiraraja kembali dengan suara menggelegar penuh kemarahan.

"Anjampiani hanya ingin menunjukkan bahwa Siralawe bukan seorang adipati yang baik yang dapat melindungi warganya dari gangguan para perampok," kata Kuda Anjampiani memberanikan diri mengangkat muka sebentar, namun kembali menunduk dalam-dalam.

"Itulah kebodohanmu. Kamu telah membakar asap di tempat persembunyian kita di Randuagung ini lewat lidah orang-orang upahanmu yang telah tertangkap itu," kata Arya Wiraraja. "Mulai hari ini, kamu harus meminta persetujuanku apa pun yang akan kamu lakukan. Kita harus memiliki kesabaran seorang pemburu, kesabaran seekor elang di padang perburuannya. Tahukah kamu bahwa seekor elang besar tidak mengandalkan kekuatannya, tetapi selalu melihat sisi kelemahan lawannya?" lanjut Arya Wiraraja yang mulai merasa kasihan kepada cucunya.

"Mulai hari ini, Anjampiani akan patuh mengikuti apa kata Eyang," jawab Kuda Anjampiani dengan suara melemah.

"Kesalahan ayahmu adalah tidak mau mendengar perkataanku untuk bersabar menunggu saat yang tepat manakala musuh lengah. Ayahmu memang tidak punya kesabaran hati seorang pemburu," kata Arya Wiraraja sambil memandang ke depan dengan tatapan kosong penuh penyesalan.

"Ajari cucumu ini agar dapat mempunyai kesabaran seorang pemburu," pinta Kuda Anjampiani.

"Kamu harus mempunyai dua sayap yang kuat agar dapat terbang tinggi bersembunyi di balik awan, bersembunyi dari penglihatan lawanmu. Kamu harus punya mata yang tajam agar dapat mengawasi dan melihat kelengahan lawanmu. Dan kamu harus punya cakar yang kuat yang siap melumpuhkan lawanmu dalam sekali terjangan," pesan Arya Wiraraja.

"Di mana cucumu memulai perburuan ini?" tanya Kuda Anjampiani.

"Kamu memulainya di atas tanah Hutan Randuagung ini. Dekati Ki Gede Pajarakan, pengaruhi Adipati Menak Koncar, dan kuasai seluruh daerah tapal kuda Jawadwipa ini sebagai benteng pertahananmu untuk menggulung Majapahit secara perlahan-lahan," kata Arya Wiraraja penuh semangat, sebagaimana seekor elang tua yang berdiri di atas puncak ketinggian memandang daerah perburuannya.

Demikianlah, sejak saat itu Arya Wiraraja dan Kuda Anjampiani seperti menghilang dari pengawasan orang-orang Majapahit. Namun, di luar pengetahuan siapa pun, kakek dan cucu yang memiliki dendam kesumat atas tewasnya Ranggalawe itu tidak pernah berhenti membangun kekuatan baru. Mereka memengaruhi orang-orang di sekitar melalui persaudaraan darah yang kental, menggerakkan para putra Madura yang banyak tersebar di wilayah Majapahit Timur tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment