Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 19

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 19

Sementara itu, pada saat yang sama, Gajahmada tampak keluar dari barak prajurit wanita. Pemuda itu berjalan menuju arah Tanah Ujung Galuh, tampaknya hendak kembali ke Pura Jayakatwang tempat ia tinggal bersama keluarga Jayakatwang. Ia telah dianggap sebagai bagian dari keluarga tersebut semenjak ayah angkatnya, Patih Mahesa Amping, berpindah tugas ke Kediri.

"Dua putri ayu, mengapa bermuka masam?" tanya Gajahmada setibanya di Pura Jayakatwang. Ia melihat Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat tengah duduk di pendapa dengan wajah cemberut.

"Kami sedang menunggu seorang pemuda yang telah berjanji mengajak ke ladang untuk melihat panen manggis. Tampaknya pemuda itu telah ingkar janji," ujar Dyah Gayatri, masih dengan wajah masam.

Gajahmada paham siapa pemuda yang dimaksud. Sambil tersenyum, ia mengangkat tangan yang selama ini disembunyikan di balik punggungnya.

"Kalian tidak perlu bersusah payah ke ladang, karena aku sudah membawakan empat renteng buah manggis untuk kalian," kata Gajahmada sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memperlihatkan empat renteng manggis hitam yang menggoda.

Melihat buah yang dibawa pemuda itu, kedua gadis tersebut seketika bergembira. Suasana di atas pendapa pura pun menjadi riuh oleh candaan ketiganya saat mereka saling menebak isi buah manggis dan menikmati rasanya yang manis.

Keceriaan di pendapa mengundang Nyimas Turukbali dan Jayakatwang keluar dari ruang dalam untuk bergabung. Namun, suasana ceria itu menyentuh hati Nyimas Turukbali. Ia tiba-tiba teringat kepada putra tunggalnya, Pangeran Ardharaja, yang telah gugur sebagai tumbal kemenangan Kerajaan Kediri atas Kerajaan Singasari. Sementara itu, anak dan menantunya telah hilang entah ke mana saat pasukan Mongol memporak-porandakan istana Kediri.

Duka itu ia simpan rapat-rapat; ia tidak ingin merusak suasana pendapa yang penuh canda tawa. Perlahan, kedukaan Nyimas Turukbali sirna, berbaur dengan kegembiraan melihat ketiga muda-mudi yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri.

Sementara itu, matahari di atas Tanah Ujung Galuh mulai meredup. Seekor elang kelana terlihat terbang melintas di langit Pura Jayakatwang menuju perbukitan hijau di seberang Sungai Kalimas.

"Aku ingin melihat perkembangan kalian sejak kutinggalkan beberapa hari lalu," kata Gajahmada kepada Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat.

Kedua gadis itu segera berdiri dan melangkah turun dari pendapa menuju halaman depan. Gajahmada, Jayakatwang, dan Nyimas Turukbali menyaksikan dari pendapa saat kedua gadis itu memperlihatkan jurus-jurus mereka. Awalnya gerakan mereka lambat, namun lama-kelamaan menjadi semakin cepat dan bertenaga. Gajahmada merasa bangga dan gembira melihat bakat hebat serta kecemerlangan daya pikir mereka dalam memahami setiap petunjuknya.

Hari demi hari, Gajahmada membimbing keduanya dalam olah kanuragan. Sementara itu, kakek mereka, Jayakatwang, membekali mereka dengan pengetahuan ketatanegaraan dan keprajuritan. Gajahmada yang ikut mendengarkan pun semakin memahami ilmu-ilmu tersebut langsung dari sumbernya, seorang mantan raja yang pernah sangat dihormati di Kediri—seorang pemikir ulung yang mampu menaklukkan Kerajaan Singasari yang besar.

Meski Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat hidup jauh dari istana, mereka tumbuh layaknya putri raja karena Nyimas Turukbali selalu mengajarkan tata krama kehidupan istana kepada mereka.

"Kapan Kakang Gajahmada membawa kami mengunjungi Ibunda di Tanah Tuban?" tanya Dyah Gayatri kepada Gajahmada suatu hari, saat mereka sedang berjalan pulang dari tempat latihan di perbukitan dekat Kotaraja Majapahit.

"Dua hari lalu hamba melihat sepasukan dari Kediri datang. Tampaknya mereka adalah pasukan yang akan ditugaskan ke Tanah Tuban," jawab Gajahmada.

Dyah Gayatri tidak bertanya lagi. Dalam pikirannya terbayang suasana peperangan yang akan terjadi antara pasukan Majapahit dan prajurit dari Tanah Tuban.

"Apakah peperangan akan merambat hingga ke padepokan Ibunda di sekitar air terjun Nglirip?" tanya Dyah Wiyat khawatir.

"Perang memang tidak bisa dipastikan, karena bisa saja meluas ke mana-mana," jawab Gajahmada, tidak berani memberi kepastian.

"Apakah tidak sebaiknya Kakang Gajahmada menengok keadaan Ibunda agar hati kami menjadi tenteram?" pinta Dyah Gayatri.

"Kita akan membicarakannya bersama Tuan Jayakatwang dan Nyimas Turukbali," ujar Gajahmada yang merasa kasihan melihat raut kecemasan pada wajah kedua gadis itu.

Ternyata, kekhawatiran kedua gadis itu merupakan bentuk hubungan batin yang kuat dengan ibu mereka, meski jarak memisahkan. Pada hari yang sama, sekelompok prajurit Tuban mendatangi Padepokan Nyi Ajeng Nglirip.

"Periksalah jika di padepokan ini ada orang Majapahit yang kalian curigai," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada seorang pemuda yang ternyata adalah Kuda Anjampiani. Ia datang bersama para prajurit Tuban dan gurunya, Ki Ajar Pelandongan.

Kuda Anjampiani merasa penasaran ingin menangkap pemuda yang pernah merobohkan dirinya dan gurunya di pantai Tuban beberapa waktu lalu. Ia membawa sekitar lima puluh prajurit untuk mencari pemuda tersebut di sekitar padepokan Nyi Ajeng Nglirip. Para prajurit menyebar dan memeriksa seluruh tempat, namun pemuda yang dicari tidak ditemukan.

Kekecewaan Kuda Anjampiani terobati saat ia bertemu dengan Andini. Putra Adipati Ranggalawe itu terpesona melihat kecantikan Andini yang menawan.

"Wahai pemilik wajah cantik, aku yakin kau tidak akan menyembunyikan pemuda itu, sebagaimana kau tidak dapat menyembunyikan kecantikanmu," kata Kuda Anjampiani.

Andini, yang telah memiliki kesadaran batin mendalam, tidak mudah terpancing amarah. Ia mampu mengendalikan dirinya dengan baik.

"Sayangnya aku tidak menyembunyikan pemuda itu. Bukankah Tuan telah memeriksa semua tempat ini?" jawab Andini dengan ramah.

Sikap Andini yang biasa-biasa saja membuat pemuda yang terbiasa dikagumi banyak gadis itu merasa penasaran sekaligus licik.

"Karena kami tidak mendapatkan orang yang dicurigai, terpaksa aku akan membawamu," ancam Kuda Anjampiani.

"Apa kesalahanku sehingga aku harus dibawa?" tanya Andini sambil mengerutkan kening.

"Kau akan kami sandera agar pemuda itu datang menyerahkan diri ke Istana Kadipaten," jawab Kuda Anjampiani. Ia salah mengira bahwa Andini hanyalah gadis biasa yang mudah ditakut-takuti.

"Tangkaplah aku jika memang kau mampu," tantang Andini sambil tersenyum, meski hatinya mulai merasa tidak senang.

Perkataan Andini di luar perkiraan Kuda Anjampiani. Ia membayangkan gadis itu akan ketakutan dan memohon ampun. Untuk sesaat, pemuda itu terdiam seperti terpana.

"Mengapa diam? Bukankah kau ingin menangkapku?" tanya Andini, menyadarkannya.

"Aku akan menangkapmu!" seru Kuda Anjampiani sambil menjulurkan kedua tangannya.

Namun, ia kembali salah duga. Andini bukan gadis biasa. Tangkapannya hanya mengenai ruang kosong karena Andini telah berpindah tempat. Dua kali ia mencoba, dua kali pula ia gagal. Pada percobaan ketiga, Andini mulai bosan. Dengan gerakan tak terduga, kaki Andini berputar dengan kekuatan penuh menghantam kaki Kuda Anjampiani tepat di atas mata kakinya.

Akibatnya sangat menggelikan; Kuda Anjampiani terjengkang ke belakang dan jatuh terduduk. Pemuda itu sangat terkejut dan menyadari bahwa Andini adalah gadis yang terlatih dalam olah kanuragan tingkat tinggi. Kejadian itu berlangsung di halaman belakang padepokan.

Wajah Kuda Anjampiani memerah karena marah dan malu. Ia berniat memberi pelajaran pada gadis di hadapannya, menganggap kekalahannya tadi hanyalah akibat kelengahan. Namun, saat ia baru saja memasang kuda-kuda untuk menyerang, seorang lelaki tua datang bersama beberapa prajurit.

"Kuda Anjampiani, jangan buat malu dirimu," tegur lelaki tua itu, yang ternyata adalah gurunya, Ki Ajar Pelandongan.

"Gadis ini telah menantangku," Kuda Anjampiani mencoba mencari alasan.

Belum sempat Andini membalas, terdengar suara wanita dari belakangnya.

"Para penghuni padepokan ini hanya tahu sedikit cara membela diri, mana mungkin berani menantang seseorang," ucap Nyi Ajeng Nglirip yang baru saja muncul.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment