Chapter 17
Pagi sudah datang, berkata Gajahmada dalam hati yang terjaga manakala mendengar suara ayam jantan membelah pagi. Setelah bersih-bersih di pakiwan, terlihat Gajahmada berjalan ke arah pendapa padepokan. Semak dan pohon perdu di ujung halaman Padepokan masih terhalang kabut pagi, satu dua burung kecil terlihat terbang dari sebuah belukar dan menghilang di kerimbunan batang daun pohon asam Jawa yang tumbuh di tepian sungai berbatu di depan padepokan kecil itu.
"Untuk menghangatkan pagi," berkata Andini yang datang membawa makanan dan minuman hangat. "Terima kasih," berkata Gajahmada sambil sedikit mencuri wajah pagi Andini. Gelisah menggelenggut pelita minyak jarak yang menggelantung di atas pendapa manakala bayangan Andini terhalang pintu pringgitan.
Wajah Gajahmada kembali membisu memandang sepi pagi yang perlahan menyingkap buram wajah bumi hutan hijau yang mengitari padepokan di dekat air terjun Nglirip itu. Demikianlah, disaat matahari pagi mulai mendaki menyinari hutan hijau di sekeliling padepokan, terlihat Gajahmada tengah berpamit diri.
"Salam dariku untuk kedua putriku dan keluarga bibi Turukbali," berkata Nyi Ajeng Nglirip mengantar Gajahmada menuruni anak tangga pendapa Padepokan. Terlihat Andini menggigit bibirnya sendiri sambil memandang Gajahmada yang telah berada di ujung halaman muka Padepokan. Seperti ada sesuatu yang hampa dan hambar mengisi relung hati dara manis itu manakala Gajahmada telah menghilang terhalang kerimbunan belukar hutan di halaman muka padepokan.
Tertinggal, hanya suara deru gemuruh Air terjun Nglirip dan sejumput kerinduan. Hangat cahaya matahari pagi menyinari wajah Gajahmada yang tengah berjalan di atas sebuah perbukitan hijau. Langkah kaki anak muda itu begitu ringan sebagai pertanda seseorang yang sudah sangat terlatih dalam olah kanuragan.
Sementara sinar matanya kadang memancarkan sekilat cahaya sebagai pertanda seseorang yang telah memiliki simpanan hawa murni yang telah mengendap kuat berlimpah-limpah. Tidak ada hambatan dan halangan apapun di dalam perjalanan Gajahmada di hari itu. "Kademangan Singgahan," berkata Gajahmada dalam hati yang telah menemukan arah jalan pulang sebagaimana dia datang di daerah Tuban itu.
Sebagaimana yang telah dilihat di beberapa Kademangan yang masih berada di dalam kekuasaan Kadipaten Tuban, maka Gajahmada juga melihat kesiapan para prajurit pengawal Kademangan Singgahan yang tengah giat berlatih. Terlihat para prajurit pengawal Kademangan itu tengah berlatih perang tanding dalam permainan pedang satu lawan satu. Sorak sorai para warga yang ikut menonton latihan itu telah menambah semangat dan kebanggaan di hati para prajurit itu.
"Sorak sorai kegembiraan itu akan berganti dengan tangis air mata manakala perang telah berakhir, manakala salah seorang dari mereka tidak kembali pulang untuk selama-lamanya," berkata Gajahmada dalam hati di ujung pandangannya di antara sorak sorai para warga menyaksikan latihan para prajurit pengawal kademangan di sebuah lapangan terbuka di sore hari itu.
Gajahmada tidak menunggu latihan para prajurit itu sampai usai, terlihat pemuda itu sudah melangkah jauh keluar dari regol gerbang Kademangan menyusuri jalan tanah menapaki sebuah jalan perbukitan panjang di keteduhan hari di dalam kerindangan alam dan semilir angin yang sejuk membawa wangi harum tanah basah dan dedaunan sepanjang perjalanannya.
Hingga manakala warna alam telah mulai suram di bayangi langit malam, Gajahmada telah berada di sebuah puncak bukit, telah berhenti melangkah bersandar di sebuah sela bongkahan batu besar yang melindungi dirinya dari terpaan dinginnya angin malam. Seperti biasa, di pertengahan malam anak muda ini selalu terbangun untuk melakukan sebuah olah laku rahasia untuk menghimpun hawa murni sumber tenaga sakti sejatinya.
Di alam terbuka, Gajahmada seperti tidak merasakan lagi dinginnya angin malam, tidak merasakan lagi kelelahan perjalanannya, tidak merasakan lagi kegelisahan hatinya. Jiwanya telah hanyut bersatu dalam kebesaran alam semesta, hanyut dan menyatu dengan ketiadaan diri yang muncul dan tenggelam, seiring gerak olah laku yang teratur, seiring keluar masuknya nafas yang teratur.
Perjalanan dan perputaran waktu seperti terhenti, dan malam menjadi semakin hening terdiam. Ketika selapis tipis warna merah mewarnai langit di penghujung malam, terlihat Gajahmada telah kembali bersandar di sela bebatuan besar memejamkan matanya. Dan waktu pun terus berlanjut, terus bergulir seperti matahari dan rembulan yang saling berbagi, saling berganti menjaga bumi, menghitung hari, menghitung langkah kaki Gajahmada menuju arah pulang.
Dan hari itu, di saat wayah pasar temawon, langkah kaki Gajahmada telah mendekati sebuah hutan yang lebat dan pepat. "Hutan Jatirogo," berkata Gajahmada dalam hati manakala memandang batang-batang pohon yang besar tinggi menjulang. Terlihat Gajahmada telah masuk dan menghilang ditelan kerimbunan hutan Jatirogo.
Semakin masuk ke dalam hutan, pepohonan semakin rapat dipenuhi banyak belukar yang tinggi, udara semakin terasa lembab dingin, batang-batang pohon dipenuhi banyak lumut dan tanaman anggrek liar. Setelah lama berjalan berputar-putar mencari arah, akhirnya apa yang dicari oleh Gajahmada di hutan itu telah dapat ditemui.
Ternyata Gajahmada mencari sebuah tanah lapang di tengah hutan itu dimana terdapat sisa reruntuhan sebuah bangunan istana ratusan tahun silam. Terlihat tempat itu. Gajahmada berendap-endap mendekati "Sebuah pasukan besar, para prajurit Sunginep," berkata Gajahmada dalam hati manakala melihat tanah lapang ditengah hutan itu telah dipenuhi barak-barak prajurit yang sangat-sangat sederhana, para prajurit yang diketahui oleh pemuda itu berasal dari Sunginep.
"Paman Adipati Ranggalawe sangat cerdik, tahu dimana harus menyembunyikan sebuah pasukan besarnya," berkata Gajahmada dalam hati terus mengamati dari tempat yang tersembunyi. Akhirnya, setelah merasa cukup melakukan pengamatannya, Gajahmada telah keluar dari hutan Jatirogo.
Demikianlah, Gajahmada tengah berjalan menuju arah jalan pulang ke Majapahit sambil mengamati kemungkinan-kemungkinan jalan yang dapat dilalui oleh sebuah pasukan darat, tempat-tempat yang dapat disinggahi mengisi perbekalan dan kesediaan pangan untuk sebuah pasukan besar Majapahit yang akan melakukan penyerangan lewat jalur darat.
Dan waktu pun terus berjalan, terus bergulir berganti antara siang dan malam sebagaimana matahari dan rembulan yang terus menemani langkah kaki Gajahmada. Pemuda itu berjalan dengan begitu ringan menikmati pemandangan alam sekitarnya, melihat belibis turun di tanah berair, melihat para petani menyebar benih di pembenihan dan para dara manis gembira pulang berlari kecil dari ladang membawa panen buah.
Dan ketika malam bergayut sepi, seruling Gajahmada terdengar mengisi suara malam mengubur rindu, mengubur duka lara. Akhirnya perjalanan Gajahmada menuju arah jalan pulang sudah tidak begitu jauh lagi. Matahari terlihat sudah bergeser jauh dari puncaknya, di sebuah persimpangan jalan, terlihat Gajahmada telah mengambil arah jalan menuju Tanah Ujung Galuh.
"Nampaknya kamu baru pulang dari perjalanan jauh," berkata seorang lelaki tua yang telah mengenal Gajahmada dengan baik di atas sebuah rakit penyeberangan di sungai Kalimas. "Membantu sanak keluarga di Padukuhan Maja yang akan pungut mantu," berkata Gajahmada kepada lelaki itu sambil tersenyum.
"Singgahlah ke rumah, ladang kami tengah panen manggis," berkata lelaki itu kepada Gajahmada ketika rakit mereka telah merapat di seberang lain sungai Kalimas. Demikianlah, Gajahmada terlihat tengah berjalan ke arah sebuah pura yang berada di sebuah tanah tinggi di Tanah Ujung Galuh itu, sebuah pura kediaman keluarga Jayakatwang.
"Selamat datang, wahai pengembara sejati," berkata Jayakatwang menyambut kedatangan Gajahmada di atas pendapa. Terlihat Nyimas Turukbali, Dyah Gajatri, dan Dyah Wiyat keluar dari pintu pringgitan ikut gembira menyambut kedatangan Gajahmada. Mereka pun saling menyampaikan keselamatan masing-masing.
"Lekas bersih-bersih, kami tidak sabar untuk mendengar perjalananmu," berkata Jayakatwang kepada Gajahmada seperti kepada putranya sendiri. Setelah bersih-bersih di pakiwan dan berganti pakaian di biliknya, terlihat Gajahmada telah kembali ke pendapa.
"Kakang Gajahmada bertemu ibunda?" berkata Dyah Gajatri penuh suka cita manakala Gajahmada bercerita tentang pertemuannya dengan Gusti Kanjeng Ratu Gayatri di air terjun Nglirip. "Gusti Kanjeng Ratu titip salam kepada tuan putri berdua, juga keluarga di sini," berkata Gajahmada.
Jayakatwang dan Turukbali terlihat ikut gembira mendengar kemenakan mereka, Kanjeng Ratu Gayatri, telah tinggal di sebuah padepokan yang mapan meski jauh di sebuah tempat terpencil dengan segala keterbatasannya tidak seperti di istana yang semuanya serba berkecukupan.
"Gusti Kanjeng Ratu sangat berharap bahwa suatu waktu tuan putri berdua datang dan tinggal bersama di Padepokannya," berkata Gajahmada kepada Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat. Terlihat kedua dara itu saling berpandangan mata penuh kegembiraan.
Sementara itu terlihat Nyimas Turukbali matanya seperti berkaca-kaca. Sebagai seorang wanita, Nyimas Turukbali tentunya dapat merasakan apa yang dirasakan seorang ibu yang rindu dan jauh dari kedua putrinya itu.
"Kapan kakang Gajahmada dapat mengantar kami menemui ibunda?" berkata Dyah Wiyat dengan wajah penuh pengharapan kepada Gajahmada. "Ibunda tuan putri berdua memang telah meminta dan mempercayakan diriku sendiri yang akan mengantar tuan putri berdua, tapi harus menunggu suasana di Tuban tidak bergejolak seperti sekarang ini," berkata Gajahmada yang langsung bercerita tentang suasana di daerah yang berada di bawah kekuasaan Kadipaten Tuban yang mulai memanas seperti sebuah api di dalam sekam sebagaimana yang telah dilihat dan diamatinya sendiri.