Chapter 88
Terlihat beberapa orang menarik napas lega, mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Untung sekali kita belum terlanjur bergerak," kata beberapa orang tua saling memperbincangkan penjelasan Ki Demang Randu Agung tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ki Randu Alam.
Seiring dengan terjadinya percakapan di antara para pasukan dan warga Kademangan yang telah hampir bergerak itu, tiba-tiba saja seorang pemuda terlihat mengangkat tangannya meminta perhatian Ki Demang Randu Agung.
"Ki Demang Randu Agung, kita sudah terlanjur datang dan berkumpul di sini, bagaimana bila hari ini kita tetap bergerak membantu para prajurit Kadipaten Lamajang?" kata pemuda itu kepada Ki Demang Randu Agung.
Terdengar suara beberapa pemuda yang tampaknya bersesuaian dengan usulan itu.
Terlihat Ki Demang Randu Agung seperti ragu untuk mengatakan keputusannya.
Di tengah keraguannya itu, datanglah Adipati Menak Koncar dan Gajah Mada bersama tiga orang prajurit pengawal Kadipaten.
"Sangat kebetulan sekali telah datang Adipati Menak Koncar, aku akan berbicara dengannya, apa yang dapat kita lakukan," kata Ki Demang Randu Agung yang belum berani memutuskan usulan dari anak muda itu.
Terlihat Ki Demang Randu Agung berjalan mendekati Adipati Menak Koncar yang tengah berbincang bersama Ki Randu Alam di muka pintu gerbang kediamannya.
"Selamat datang, Tuan Adipati Menak Koncar, kedatangan Tuan sungguh sangat tepat sekali," kata Ki Demang kepada Adipati Menak Koncar sambil menyampaikan keinginan beberapa warganya yang ingin membantu para prajurit Kadipaten Lamajang itu.
"Kepedulian dan keberanian para warga Kademangan ini sangat aku banggakan, namun untuk saat ini kekuatan kami sudah cukup memadai. Sampaikan rasa hormat dan kebanggaan kami kepada semua warga Kademangan Randu Agung ini," kata Adipati Menak Koncar kepada Ki Demang Randu Agung.
"Pesan Tuanku akan hamba sampaikan," kata Ki Demang Randu Agung kepada Adipati Menak Koncar.
Terlihat Ki Demang Randu Agung memohon pamit kepada Adipati Menak Koncar dan Ki Randu Alam untuk berbicara kepada pasukannya.
Setelah berada di hadapan pasukannya itu, Ki Demang Randu Agung menjelaskan kepada pasukannya pesan dan amanat tersirat dari Adipati Menak Koncar itu.
"Adipati Menak Koncar dari Lamajang telah meminta kalian kembali ke rumah masing-masing, beliau juga menyampaikan rasa hormat dan kebanggaan yang sangat tinggi atas kepedulian kalian," kata Ki Demang Randu Agung kepada pasukannya itu.
Demikianlah, pasukan Kademangan Randu Agung terlihat telah membubarkan dirinya.
"Sungguh sebuah kehormatan bila saja Tuan Adipati Menak Koncar dan Ki Randu Alam singgah dan berbicara di pendapa rumah kami," kata Ki Demang Randu Agung mengajak rombongan Adipati Menak Koncar dan Ki Randu Alam ke pendapa rumahnya.
"Syukurlah bahwa Ki Demang Randu Agung dapat mendinginkan suasana hati para warga Kademangan ini," kata Adipati Menak Koncar kepada Ki Demang Randu Agung.
"Aku mohon maaf atas ketidaksepahamanku tadi pagi, sebenarnya Ki Randu Alam telah beberapa kali datang ke rumahku secara diam-diam," kata Ki Jagabaya menjelaskan mengapa dirinya tidak sepakat dengan Ki Demang Randu Agung.
"Ki Jagabaya benar, secara diam-diam aku memang menemuinya bermaksud menggalang kekuatan menghadapi saudara kembarku itu, namun Adipati Lamajang tampaknya punya pendengaran yang sangat peka telah datang bersama pasukannya," kata Ki Randu Alam membenarkan penjelasan Ki Jagabaya.
"Urusan ini kuserahkan sepenuhnya kepada Adipati Menak Koncar, sementara aku tidak akan mencampurinya secara langsung, hanya menjauhkan seorang cucuku ini," kata Ki Randu Alam sambil menepuk bahu seorang pemuda di sampingnya itu yang ternyata adalah Kuda Anjampiani.
"Keberadaan pasukanku di Hutan Mandeg sudah pasti telah didengar oleh saudara kembar Ki Randu Alam. Aku berharap mereka tidak segera melarikan dirinya," kata Adipati Menak Koncar di atas pendapa rumah Ki Demang Randu Agung.
"Aku mengenal betul sifat dan watak saudara kembarku itu, kepercayaan dirinya begitu tinggi untuk melarikan dirinya menghadapi setiap tantangan. Aku yakin bahwa dirinya masih ada di rumahku itu siap menghadapi para prajurit dari Lamajang," kata Ki Randu Agung menyampaikan perkiraannya apa yang akan dilakukan oleh saudara kembarnya itu.
"Kami tidak menyangka bahwa urusan dengan para warga Kademangan ini telah dapat diselesaikan dengan cara damai. Semula kami merasa bimbang bila saja berhadapan langsung dengan para warga di Kademangan Randu Agung ini," kata Adipati Menak Koncar sambil menyampaikan keinginannya kembali ke hutan Mandeg.
"Mohon maaf bila kami belum dapat menjadi tuan rumah yang baik, belum dapat menjamu Tuanku Adipati Menak Koncar dengan baik," kata Ki Demang Randu Agung sambil mengantar Adipati Menak Koncar dan rombongannya hingga ke bawah anak tangga pendapa rumahnya.
Maka tidak lama berselang, Adipati Menak Koncar dan rombongannya itu telah keluar dari halaman rumah Ki Demang Randu Agung.
"Raung seekor harimau tua pada saatnya akan sepi di hutan kekuasaannya, berganti pekik para elang jantan muda yang akan menguasai padang perburuan," kata Ki Randu Alam sambil menatap rombongan Adipati Menak Koncar yang telah menghilang terhalang dinding pagar halaman Ki Demang Randu Agung.
Perbukitan Semeru, Bromo, dan Tengger di sebelah barat Lamajang perlahan mulai pudar tertutup awan senja.
Perlahan cahaya sang surya ikut pudar menghilang jatuh di balik barat bumi.
Langit malam mulai menyelimuti bumi Lamajang.
Berita akan adanya sebuah serangan dari para prajurit Kadipaten Lamajang memang telah tersebar di Kademangan Randu Agung.
Serempak tidak ada seorang pun di Kademangan Randu Agung yang berani menyalakan pelita di rumah mereka.
Suasana malam di Kademangan Randu Agung layaknya sebuah pemakaman yang sangat gelap dan begitu mencekam.
Sebagaimana rumah para penduduk, rumah kediaman Ki Randu Alam yang dikuasai oleh saudara kembarnya itu juga tidak menyalakan pelita satu pun.
Juga sebuah oncor yang biasa menyala di depan regol pintu gerbang rumah itu.
Rumah dengan halaman yang cukup luas itu benar-benar gelap pekat, begitu sepi seperti tak berpenghuni.
Ke mana penghuninya saat itu? Ternyata mereka tengah bersembunyi di kegelapan malam menanti prajurit Kadipaten Lamajang datang lewat pintu gerbang rumah itu.
Beberapa orang terlihat merapat di dinding pagar, sementara beberapa orang lagi bersembunyi di kegelapan malam dengan sebuah busur siap di tangan dengan mata penuh waspada tertuju ke arah pintu gerbang rumah itu yang sengaja terbuka lebar-lebar.
Mereka adalah para bajak laut yang sangat ditakuti dan terkenal sangat kejam yang pernah menguasai perairan laut di sekitar Selat Balidwipa.
Mereka memang sudah terbiasa mengarungi lautan di kegelapan laut malam tanpa pelita suar di anjungan manakala hendak menyergap sebuah perahu dagang penuh muatan.
Semakin malam, suasana di sekitar rumah itu menjadi semakin mencekam.
Hingga manakala suara kentongan dara muluk terdengar sayup dari sebuah padukuhan yang cukup jauh, hati dan perasaan para bajak laut itu semakin mencekam dalam kegelisahan yang sangat. Musuh yang dinantikan belum juga muncul.
Kegelisahan pun semakin bertambah manakala hari sudah hampir di ujung malam, musuh yang mereka nantikan tidak juga kunjung datang.
Rasa penat dan kantuk mulai menggayuti para penghuni rumah itu, musuh yang mereka nantikan belum juga terlihat.
"Tampaknya mereka sengaja mengulur waktu," berkata dalam hati saudara kembar Ki Randu Alam dengan wajah terlihat begitu gusar.
Sementara itu langit malam perlahan mulai pudar.
Ternyata permainan mengulur waktu itu adalah sebuah siasat yang sengaja dibuat oleh Adipati Menak Koncar.
Putra sulung Empu Nambi itu ternyata sudah dapat memperhitungkan bahwa para penghuni rumah itu telah menunggu dan membuat banyak jebakan bagi para prajuritnya.
Hingga akhirnya manakala cahaya merah telah mewarnai langit dan membilas kegelapan bumi, terkejut para penghuni rumah itu melihat musuh yang mereka tunggu semalaman telah datang, namun bukan lewat pintu gerbang, melainkan mereka telah melompat masuk ke dalam lewat dinding pagar yang melingkari rumah itu.
Beberapa orang yang belum siap menghadapi pihak musuh yang datang dengan tiba-tiba itu telah menjadi korban tumbal pertama tercabik pedang para prajurit dari Kadipaten Lamajang itu.
Sementara beberapa orang lainnya sudah melupakan rasa kantuknya, langsung menghadapi para prajurit Kadipaten Lamajang yang sudah memenuhi halaman rumah itu yang cukup luas.
Denting gemerincing senjata dan suara sumpah serapah riuh memekakkan telinga, dalam waktu yang sangat singkat, halaman yang cukup luas itu telah menjelma menjadi sebuah panggung pertempuran yang sangat ramai.
Kedua belah pihak terlihat sudah saling menerjang, saling gempur, dan saling menjatuhkan lawannya.
Sabetan senjata berseliweran seperti kilatan cahaya berkelebat menggoreskan luka sayatan yang diiringi suara jerit perih kesakitan yang sangat memilukan hati.
Berkat daya ingat Gajah Mada yang pernah menjadi tawanan di rumah itu, Gajah Mada telah menunjukkan kepada Adipati Menak Koncar, Mahesa Semu, dan Putu Risang, siapa orang-orang tangguh yang harus mereka hadapi.
"Ki Ajar Pelandongan, akulah lawanmu," kata Adipati Menak Koncar kepada Ki Ajar Pelandongan di tengah pertempuran itu.
"Tongkatku tidak mengenal lawan, sembunyikan batok kepalamu agar tidak terbentur tongkatku ini," kata Ki Ajar Pelandongan yang langsung mengayunkan tongkatnya ke arah kepala Adipati Menak Koncar.
Tapi putra Empu Nambi itu bukan orang kebanyakan seperti yang diduga oleh Ki Ajar Pelandongan, dengan mudahnya Adipati Menak Koncar berkelit cepat dan balas menyerang Ki Ajar Pelandongan dengan senjata andalannya berupa sebuah cakra yang berdesing memburu tubuh Ki Ajar Pelandongan.