Chapter 02
Belum habis rasa terkejut mereka, tiba-tiba saja Gajahmada telah bergerak dengan sangat cepat sekali mendekati Ki Badra. Gerakan itu begitu cepat membuat Ki Badra tidak sempat berbuat apa pun, hanya tersadar merasakan lehernya tertarik dengan kuat oleh libatan cambuk Gajahmada, membuat orang itu terseret dengan tali cambuk yang masih melibat batang lehernya.
Seketika Ki Badra merasakan nafasnya tersengal. Terlihat tangan kuat Gajahmada sudah berada di belakang leher Ki Badra yang tidak berani berbuat apa pun, takut dengan sekali hentakan nyawanya lepas melayang.
"Dengar oleh kalian, aku lebih kejam dari Ki Guntur Geni dan Ki Guntur Bumi. Namun perlu kalian ketahui bahwa kawanku itu bahkan lebih kejam dariku," berkata Gajahmada dengan suara lantang.
Kaget juga Pangeran Jayanagara bahwa dirinya tiba-tiba saja dilibatkan, namun Pangeran Jayanagara yang tidak jauh berdiri dari Gajahmada sudah dapat mengerti keinginan kawannya itu dengan langsung bersikap garang layaknya seorang perampok berhati bengis dan kejam.
"Hari ini nyawamu kuampuni," berkata Gajahmada sambil mendorong tubuh Ki Badra yang masih terjerat oleh cambuknya itu. Maka dorongan itu telah membuat tubuh Ki Badra terjerumus ke depan dan berguling di tanah kotor.
Semua orang yang mengenal Ki Badra sebagai jawara nomor satu di antara mereka seperti tidak percaya dengan apa yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Ki Badra di hadapan anak muda itu seperti sebatang bambu kering yang tidak berdaya.
"Sebarkan kepada siapa pun bahwa mulai hari ini wilayah hutan Rumpin ini adalah milik sepasang rampok bercambuk Guntur, itulah nama panggilan kami. Dan kami tidak ingin berbagi dengan siapa pun, dengan perampok mana pun. Pergilah kalian, hari ini kami masih bermurah hati tidak ingin membunuh tikus-tikus seperti kalian," berkata Gajahmada dengan wajah begitu angker, layaknya seorang perampok sungguhan yang berhati kejam biasa membunuh nyawa manusia tanpa berkedip sedikit pun.
Tanpa menunggu apa pun, para perampok yang tengah berebut wilayah kekuasaan itu pun telah bergeser menjauh pergi dari pandangan dan penglihatan Gajahmada.
"Sepasang rampok bercambuk Guntur, sebuah nama yang hebat," berkata Pangeran Jayanagara kepada Gajahmada manakala sudah tidak terlihat siapa pun orang di hutan itu.
"Sangat kejam dan angker terdengar, terutama oleh tikus-tikus sawah," berkata Gajahmada tersenyum.
"Setidaknya telah membuat para perampok gentar untuk mendatangi wilayah sekitar hutan Rumpin ini," berkata Pangeran Jayanagara memuji cara Gajahmada membuat jera para perampok.
"Semoga wilayah hutan Rumpin ini aman untuk sementara waktu," berkata Gajahmada.
Terlihat mereka berdua telah berjalan kembali, melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda masuk ke hutan Rumpin lebih ke dalam lagi.
Demikianlah, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara terus berjalan keluar masuk hutan, mendaki perbukitan dan lembah gunung, melewati banyak padukuhan di beberapa tempat. Orang-orang melihat mereka hanya sebagai dua anak muda pengembara biasa, tidak ada yang mengetahui bahwa salah satu dari anak muda itu adalah seorang putra mahkota Majapahit.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang itu, akhirnya mereka berdua telah mendekati kaki Gunung Galunggung. Matahari belum terjatuh rebah di barat bumi manakala mereka berdua telah berada di Padepokan Prabu Guru Darmasiksa.
Prabu Guru Darmasiksa menyambut mereka berdua dengan perasaan penuh suka cita. "Terima kasih telah membawa kembali sarung Kujang Pangeran Muncang," berkata Prabu Guru Darmasiksa manakala menerima sarung Kujang Pangeran Muncang dari tangan Gajahmada.
Dan mereka pun saling bercerita selama perpisahan di antara mereka selama itu. Kepada Prabu Guru Darmasiksa, mereka menyampaikan rencana mereka berdua untuk kembali ke Majapahit.
"Beristirahatlah kalian di sini dua tiga hari, kalian baru saja tiba dari sebuah perjalanan yang sangat melelahkan," berkata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara.
Demikianlah, mereka berdua mengikuti permintaan Prabu Guru Darmasiksa untuk beristirahat sekitar dua hari di Padepokan yang teduh dan asri itu. Namun dua hari bagi Gajahmada adalah sebuah waktu yang sangat panjang, selama di padepokan itu wajah Andini seperti kadang hadir tengah berjalan di atas halaman muka Padepokan dengan senyumnya.
Terbayang kembali hari-hari dalam kebersamaan mereka saat menuju Rawa Rontek, juga saat selama mereka berdua di rumah kediaman Patih Anggara. "Cinta dan angan-angan ini adalah sebuah penjara hati, aku harus keluar membebaskan diriku," berkata Gajahmada dalam hati mencoba meredam perasannya sendiri.
Dan pagi itu langit di atas lereng Gunung Galunggung begitu pekat berselimut kabut tebal, sebagai sebuah pertanda bahwa hari itu akan menjadi begitu cerah tanpa hujan. Terlihat dua orang cantrik tengah menyiapkan dua ekor kuda di depan halaman padepokan Prabu Guru Darmasiksa.
"Kami di Tanah Pasundan ini akan merindukan kalian berdua," berkata Prabu Guru Darmasiksa mengantar Gajahmada dan Pangeran Jayanagara yang telah menuruni anak tangga pendapa Padepokan menuju halaman mendekati kuda-kuda mereka yang telah dipersiapkan itu.
Langit pagi di atas Padepokan Prabu Guru Darmasiksa begitu teduh manakala sekumpulan awan tertiup angin menutupi matahari pagi. "Kami akan merindukan kalian semua," berkata Gajahmada dan Pangeran Jayanagara sambil melambaikan tangan mereka berdua kepada para cantrik dan Prabu Guru Darmasiksa yang mengantar mereka berdua keluar dari regol pintu gerbang Padepokan.
Prabu Guru Darmasiksa dan para cantrik masih terus memandang Gajahmada dan Pangeran Jayanagara di atas kudanya hingga tak terlihat lagi menghilang di ujung jalan yang menurun. "Mari kita berpacu," berkata Pangeran Jayanagara ketika di hadapannya terlihat padang ilalang terhampar luas di jalan yang menurun.
"Aku akan mengejarmu," berkata Gajahmada manakala telah melihat Pangeran Jayanagara telah memacu kudanya mendahuluinya. Terlihat dua ekor kuda telah terpacu berlari membelah padang ilalang di bawah langit pagi yang cerah.
Demikianlah, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara seperti dua ekor elang muda yang akan kembali menuju tanah merdeka, tanah Majapahit yang telah lama mereka tinggalkan selama ini. Sorot dan sinar mata mereka terlihat begitu jernih dan tajam memandang ke depan sebagai pertanda kematangan jiwa dan kepercayaan diri yang tinggi.
Dua orang muda yang telah memiliki tataran kesaktian yang tinggi di jamannya, seusia muda mereka yang mungkin akan masih terus berkembang lagi. Setelah menempuh perjalanan sehari semalam, akhirnya langkah kedua kuda mereka telah membawa mereka sampai di bandar Muara Jati.
"Selamat bertemu kembali Ki Gedeng Tirta," berkata Gajahmada kepada seorang tua yang ditemuinya di sebuah rumah tidak jauh dari bandar Muara Jati. "Senang bertemu dengan angger berdua," berkata orang tua itu yang dipanggil sebagai Ki Gedeng Tirta itu yang masih ingat kepada mereka berdua.
"Ternyata daya ingat Ki Gedeng Tirta masih sangat tajam," berkata Pangeran Jayanagara kepada Ki Gedeng Tirta. "Siapa yang lupa dengan cucu buyut junjunganku sendiri," berkata Ki Gedeng Tirta sambil tersenyum.
Kepada Ki Gedeng Tirta, mereka berdua menyampaikan rencana mereka untuk kembali ke Majapahit. "Anger berdua sangat beruntung, perhitunganku nanti malam akan berlabuh jung Majapahit yang datang dari Tanah Melayu," berkata Ki Gedeng Tirta kepada mereka berdua.
Demikianlah, mereka berdua beristirahat di rumah Ki Gedeng Tirta sambil menunggu kedatangan Jung Majapahit yang datang dari Tanah Melayu. Ternyata perhitungan Ki Gedeng Tirta sebagai seorang Syahbandar di Muara Jati itu tidak jauh meleset.
Malam itu Jung Majapahit memang telah datang merapat di Bandar Muara Jati. "Mereka akan membongkar sedikit muatan di sini, besok malam Jung Majapahit akan melanjutkan pelayarannya kembali," berkata Ki Gedeng Tirta kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara di rumahnya memberi kabar tentang kedatangan Jung Majapahit itu.
Ketika pagi harinya, Gajahmada dan Pangeran Jayanagara bersama Ki Gedeng Tirta datang ke Bandar pelabuhan Muara Jati untuk sekedar melihat-lihat keadaan di sana. Bukan main gembira hati mereka manakala mengetahui bahwa Rakyan Argalanang, seorang pejabat Majapahit yang mengurusi perdagangan Majapahit ada bersama Jung besar itu.
"Pangeran sudah menjadi seorang pemuda," berkata Rakyan Argalanang kepada Pangeran Jayanagara. "Dan kamu pasti adalah Mahesa Muksa, putra Patih Mahesa Amping sahabatku," berkata kembali Rakyan Argalanang dengan penuh gembiranya dapat bertemu kedua anak muda itu di Bandar Muara Jati.
Kepada Ki Gedeng Tirta, Rakyan Argalanang bercerita bahwa dirinyalah yang telah membawa Pangeran Jayanagara dari Tanah Melayu menemui ayahnya Baginda Sanggrama Wijaya yang saat itu tengah berjuang melawan penguasa Kediri. "Baginda Sanggrama Wijaya telah memintaku untuk mengantar putranya ini mengungsi ke Balidwipa yang selanjutnya bersama keluarga istana Singasari kami mengungsi ke tempat jauh, di Tanah Wangi-wangi," bercerita Rakyan Argalanang mengenang masa-masa perjuangan mereka dahulu.
"Sebelum Majapahit berdiri seperti sekarang ini, pastilah kalian orang-orang muda yang punya semangat dan cita-cita yang hebat," berkata Ki Gedeng Tirta kepada Rakyan Argalanang.
Demikianlah, ketika hari berganti menjelang malam terlihat Jung Majapahit telah menjauhi dermaga Bandar Muara Jati melanjutkan pelayarannya. Sepanjang malam, Rakyan Argalanang di atas pelayarannya banyak bercerita kepada Gajahmada dan Pangeran Jayanagara tentang petualangan dirinya bersama Baginda Sanggrama Wijaya, Mahesa Amping, dan Ranggalawe di Tanah Melayu dan beberapa tempat lainnya.
Sebuah cerita yang selama ini tidak pernah mereka dengar. "Petualangan para ksatria Majapahit," Gajahmada sangat tertarik dengan cerita itu.