Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 147

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 147

"Sandi kita malam ini adalah membawa naga muda sembunyi," kata Tumenggung Mahesa Semu kepada seluruh pasukan yang akan bergerak malam itu dari barak pasukan khusus Srikandi.

Purnama menghiasi langit Kotaraja. Banyak orang punya kenangan sendiri tentang bulan purnama; biasanya anak-anak laki dan perempuan dibiarkan bermain hingga larut malam saat bulan purnama.

Seperti itulah suasana di beberapa padukuhan pada malam bulan purnama di Kotaraja Majapahit. Beberapa anak kecil, laki-laki dan perempuan, terlihat tengah bermain, berlari-lari, dan bernyanyi. Sepasang kekasih muda saling berjanji setia di bawah cahaya sang rembulan yang teduh dan menyejukkan hati.

Sementara itu, di barak pasukan khusus Srikandi, telah berkumpul pasukan gabungan yang menanti dengan perasaan berdebar dan gelisah. Sang waktu bergerak seperti seekor siput; begitu lambat merambat malam itu mereka rasakan. Beragam cara prajurit gabungan itu menghadapi kegelisahan mereka; ada yang melupakannya dengan melucu atau berbincang hal-hal ringan. Namun, beberapa prajurit tidak dapat melepaskan kegelisahannya, terlihat dari sikap mereka yang tidak betah duduk atau berdiri berlama-lama.

Gajah Mada, Tumenggung Mahesa Semu, dan Nyi Nariratih yang melihat beragam cara prajuritnya menyikapi kegelisahan tidak begitu memedulikannya. Mereka menganggap setiap orang punya cara dan sikap tersendiri dalam menghadapi kegelisahan hati. Yang mereka harapkan adalah kesiapan lahir dan batin manakala waktunya telah tiba.

"Ada banyak kemungkinan yang akan kita temui. Bisa jadi kita datang terlambat didahului mereka, bisa jadi kita datang bersamaan, atau kita datang sebelum mereka," kata Nyi Nariratih membicarakan berbagai kemungkinan yang akan dihadapi di lapangan.

"Aku sudah menyiapkan pasukan telik sandi yang akan mencoba menahan mereka bila datang mendahului kita, setidaknya hingga pasukan penjemput datang," kata Tumenggung Mahesa Semu.

"Tidak kusangsikan tingkat tataran para petugas telik sandimu. Setahuku, mereka adalah prajurit utama yang terbaik dalam sebuah pendadaran," kata Nyi Nariratih yang merasa lega dengan kesiapan para petugas telik sandi.

"Ada beberapa orangku yang kusiapkan tidak jauh dari barak pasukan Ikal-Ikalan Bang. Tugas mereka adalah menghambat gerak mereka bila memang keluar di saat awal perhitungan kita," kata Tumenggung Mahesa Semu sambil tersenyum.

"Ternyata aku bekerja sama dengan seorang perancang ulung," sahut Nyi Nariratih yang diam-diam mengakui ketelitian dan kesiapan Tumenggung Mahesa Semu dalam menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi.

"Seribu kemungkinan masih bisa terjadi, seperti mereka bergerak bukan dari barak mereka, tapi dari tempat yang tidak kita ketahui," ujar Tumenggung Mahesa Semu. Mendengar perkataan itu, Gajah Mada dan Nyi Nariratih terdiam sesaat, membenarkan kemungkinan yang dikatakan oleh Tumenggung Mahesa Semu.

Sementara itu, sang waktu diam-diam telah menyelinap di antara warna rembulan yang semakin pucat, di antara garis merah yang tersambung dari ufuk timur dan barat langit malam.

"Aku berdoa untuk kalian semua, kita bertemu di Kabuyutan Bebander," kata Nyi Nariratih melepas pasukan gabungan itu dari baraknya.

Kotaraja Majapahit masih begitu sepi dan dingin ketika pasukan gabungan itu bergerak di enam tempat berbeda. Seperti kebanyakan rumah di sepanjang jalan utama Kotaraja Majapahit, rumah Ki Demung Samaya terlihat begitu lengang. Dua orang prajurit penjaga terlihat sudah terkantuk-kantuk di gardu jaganya, namun mata keduanya langsung segar kembali karena dikejutkan oleh suara ketukan keras pintu gerbang dari luar.

"Katakan, siapa kalian?" tanya salah seorang prajurit penjaga dari dalam.

"Lekas buka pintu, kami pasukan Bhayangkara," jawab suara dari luar.

Mendengar pasukan Bhayangkara, mereka terkejut. Pasti ada hal yang sangat penting sehingga pasukan Bhayangkara harus datang di hari yang masih pagi buta. Tanpa pikir panjang, salah seorang prajurit penjaga itu langsung membuka pintu gerbang.

Masih dengan penuh tanda tanya, dua orang prajurit penjaga itu melihat lima belas orang prajurit Bhayangkara lengkap dengan pertandanya memasuki pintu gerbang. Di belakang mereka, dua puluh orang prajurit dari pasukan khusus Srikandi ikut memenuhi halaman muka rumah Ki Demung Samaya.

"Bangunkan Ki Demung Samaya segera, ada hal yang sangat penting untuk kami sampaikan," perintah seorang prajurit Bhayangkara kepada kedua prajurit penjaga itu.

Salah satu prajurit penjaga langsung berjalan cepat ke arah pintu butulan, sementara yang lain diminta tetap tinggal. Prajurit yang tertinggal melihat kelima belas prajurit Bhayangkara berjalan ke arah pendapa dan menunggu di depan pintu pringgitan. Tanpa membantah, prajurit penjaga itu diam di tempat, tidak berani berbuat apa-apa karena di hadapannya terdapat pasukan Srikandi yang menjaganya. Seandainya ia tahu bahwa di luar pintu gerbang sudah ada lebih banyak lagi prajurit yang berjaga, pasti perasaannya akan ciut.

"Apakah tidak bisa menunggu hari terang hingga kalian datang ke rumahku?" kata seorang lelaki tua yang keluar dari pintu pringgitan.

"Maaf, Ki Demung, ini sangat penting," kata seorang prajurit Bhayangkara yang nampaknya sudah mengenal baik Ki Demung Samaya.

"Bila memang demikian, aku akan segera berkemas," jawab Ki Demung Samaya yang berpikir dirinya akan dikawal ke istana untuk menghadap Raja Jayanagara. Tidak lama kemudian, Ki Demung Samaya sudah bersiap diri. Ia mengerutkan kening ketika melihat sepasukan prajurit Srikandi di rumahnya, namun ia tetap melangkah.

Ki Demung merasa ada kejanggalan saat mereka tidak berjalan ke arah istana, melainkan ke arah barat Kotaraja Majapahit. "Bukankah istana ada di sebelah timur?" tanya Ki Demung Samaya sambil berhenti berjalan.

"Kita memang tidak sedang menuju istana," jawab salah seorang prajurit Bhayangkara sambil menjelaskan ke mana sebenarnya mereka akan pergi dan mengapa harus segera keluar dari Kotaraja Majapahit.

"Aku percaya dengan penjelasan kalian, semoga para pejabat utama lainnya juga masih dapat diselamatkan dari penculikan," kata Ki Demung Samaya sambil mempercepat langkahnya.

Tidak lama berselang, rombongan pasukan yang mengawal Ki Demung Samaya mulai mendekati gapura gerbang batas kotaraja sebelah barat. Di sebuah persimpangan jalan, rombongan itu bertemu dengan pasukan gabungan lainnya yang membawa tiga pejabat utama istana lainnya. Empat kelompok pasukan gabungan terlihat telah melewati gapura batas Kotaraja Majapahit.

Apa yang terjadi dengan tiga kelompok pasukan penjemput lainnya? Sebagaimana yang dikatakan oleh Tumenggung Mahesa Semu, seribu satu kemungkinan bisa saja terjadi. Dan satu dari seribu kemungkinan itu dialami sendiri oleh pasukan yang dipimpin langsung oleh Tumenggung Mahesa Semu. Ternyata, pasukan gabungan itu telah didahului oleh pihak lawan.

Ketika memasuki halaman rumah Tumenggung Jala Yudha, terlihat pertempuran tengah terjadi antara pasukan telik sandi yang bergabung dengan pasukan Srikandi melawan sekitar seratus orang prajurit pasukan Ikal-Ikalan Bang. Meski jumlah mereka lebih sedikit, mereka terlihat mampu mengimbanginya.

"Selamatkan Tumenggung Jala Yudha dan putrinya, biarlah kami yang menahan mereka," kata seorang pemimpin telik sandi kepada Tumenggung Mahesa Semu.

Mata Tumenggung Mahesa Semu menyapu seluruh pertempuran di halaman. Ia melihat seorang lelaki sebaya dirinya tengah bertempur sambil merangkul seorang anak perempuan kecil yang menangis ketakutan. Tumenggung Jala Yudha, yang baru sebulan ditinggal mati istrinya, tidak menyangka akan mendapat percobaan penculikan di tengah suasana duka.

Dengan gagah, Tumenggung bertempur sambil menggendong putri kecilnya. Pedang di tangan kanannya terlihat begitu cepat menangkis serangan lawan dan sesekali membalas.

"Lindungi Tumenggung Jala Yudha dan putrinya itu!" perintah Tumenggung Mahesa Semu kepada pasukan gabungan yang dibawanya. Pasukan itu pun segera memasuki medan pertempuran dan melingkari Tumenggung Jala Yudha.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment