Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 60

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 60

"Bila memang Ki Aria Wiraraja berada di belakang ini semua, apa yang diinginkannya dari semua ini?" bertanya kembali Baginda Raja Sanggrama Wijaya, memaksa Ki Sandikala dan Gajahmada untuk terus berpikir.

"Aku mengenal Ki Aria Wiraraja sebagai seorang pemburu yang ulung, sangat gigih dan pantang menyerah.

Aku masih ingat perkataannya kepadaku bahwa kita harus mengenal watak dan perilaku binatang jenis apa yang akan kita buru sebagaimana seekor elang mengamati mangsanya, atau seperti seekor harimau besar yang menanti dengan sabar mangsanya menjadi lengah, atau seperti seekor ular yang berpura-pura mati agar ditinggalkan oleh musuhmu," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada dua orang kepercayaannya itu yang masih saja terlihat tengah berpikir.

Gajahmada dan Ki Sandikala masih terlihat terus berpikir, sementara Baginda Raja Sanggrama Wijaya masih saja berkata-kata.

"Di lain waktu, Ki Aria Wiraraja juga pernah berkata kepadaku bahwa untuk menghancurkan sebuah pura yang besar tidak harus mencari seekor gajah yang besar pula, tetapi carilah telur-telur rayap agar kamu tanam di salah satu tiang penyangganya," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Mendengar perkataan terakhir Baginda Raja Sanggrama Wijaya, terlihat Gajahmada dan Ki Sandikala saling beradu pandang.

"Daha adalah tiang penyangga dari Majapahit yang besar ini," kata Gajahmada yang seperti dibenarkan oleh Ki Sandikala lewat tatapan mata dan anggukan kepalanya.

Sementara itu Baginda Raja Sanggrama Wijaya terlihat mengerutkan keningnya.

"Hamba merasa bahwa pembesar dari Daha yang akan dicelakai itu adalah ayah angkat hamba sendiri, Patih Mahesa Amping," kata Gajahmada dengan suara perlahan. "Bagaimana kamu merasa bahwa Patih Mahesa Amping adalah orang yang akan dicelakai itu?" tanya Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Gajahmada.

"Bukankah Patih Mahesa Amping adalah sahabat Tuanku? Bukankah Patih Mahesa Amping telah mampu merangkul semua kekuatan yang ada di Daha menjadi bersatu di bawah kewibawaannya? Bukankah Patih Mahesa Amping telah menjadi saudara angkat Tuanku sendiri? Dan bagi mereka, mencelakai Mahesa Amping berarti telah menyakiti hati Tuanku sendiri," kata Gajahmada menjawab pertanyaan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Ki Aria Wiraraja akan berhadapan dengan batu karang besar, yakni Patih Mahesa Amping yang perkasa.

Satu laskar besar tidak mampu menggeser sedikit pun dari tempatnya berdiri.

Hanya dengan satu hentakan cambuknya, ribuan orang dapat binasa seketika," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya, masih belum yakin bahwa Patih Mahesa Amping adalah orang yang akan dicelakai oleh orang-orang di Hutan Kemiri itu.

"Ki Aria Wiraraja punya seribu cara untuk menghancurkan sebuah karang besar," kata Ki Sandikala seperti mengingatkan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Mendengar perkataan Ki Sandikala, terlihat Baginda Raja Sanggrama terdiam sejenak, merasa bahwa ucapan Patihnya itu memang dapat dibenarkan bila saja Mantan Adipati Sunginep itu benar-benar berada di belakang semua itu.

Namun sayangnya, tidak semua orang dapat selalu menjernihkan suara hatinya, tidak semua orang baik terlepas dari bisikan jahat, tidak terkecuali seorang penguasa tertinggi Majapahit itu.

"Wahai Wijaya, benarkah kejayaanmu yang mahatinggi itu ditopang oleh sebuah pilar kekuatan seorang Mahesa Amping?" terdengar suara bisikan jahat seperti menantang dan mempertanyakan kebesaran nama Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Melihat Baginda Raja Sanggrama Wijaya diam membisu, Gajahmada dan Ki Sandikala tidak berani bersuara lagi, membiarkan penguasa tunggal Majapahit itu menentukan sendiri langkah apa yang terbaik dilakukan.

Namun, sebagai seorang yang telah terbuka mata hatinya, seorang yang telah dicerahkan alam batinnya untuk melihat yang tidak kasat mata, ternyata Ki Sandikala dan Gajahmada sama-sama telah merasakan sebuah hal yang tidak wajar tengah memenuhi suasana di sekitar pura pasanggrahan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Ternyata panggraita kedua orang tokoh kepercayaan Baginda Raja Sanggrama Wijaya itu memang tidak meleset jauh, karena nun jauh di sana di sebuah rumah besar di pinggir sebuah Hutan Randu Agung terlihat ada sepuluh orang datuk tengah membaca mantra-mantra yang ikut terbang mengudara bersama asap dupa yang terus terjaga oleh arang yang terus membara.

Pada hari itu, seorang tokoh ternama mantan pembesar istana Singasari, seorang yang pernah ikut andil dan berjasa membangun Kerajaan Majapahit yang telah melupakan nama besarnya sendiri, berganti nama sebagai Ki Randu Agung, seorang yang punya pengaruh besar di Tanah Lamajang, memang sengaja mengumpulkan sepuluh orang datuk besar untuk dapat merusak kejernihan hati Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Mantra dan doa para datuk itu ternyata mampu menembus tirai-tirai kehalusan jiwa Baginda Raja Sanggrama yang datang membisiki hatinya dengan menaburkan dan menumbuhkan kembali sifat-sifat angkara yang mengepung kesucian hatinya.

"Wahai Wijaya, kamu telah membesarkan ular naga itu, suatu saat takhta dan kekuasaanmu akan tergilas oleh kekuatan ular naga itu, keagungan namamu dan segenap keturunanmu tidak tercatat lagi dalam tinta sejarah bumi suci ini, sebaliknya sang naga itulah yang akan menjadi agung, dipuja di setiap candi pura.

Saatnya kamu memikirkan dirimu dan masa depan keturunanmu sendiri.

Biarkanlah ada orang lain mengakhiri perjalanan sang naga di Hutan Kemiri, bukankah tanganmu akan terus terjaga kebersihannya?" kata bisikan di dalam diri Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Tumenggung Lembu Weleng telah berselingkuh dengan kita, aku ingin dirinya segera diamankan agar tidak melarikan diri.

Sementara untuk masalah para penghuni Hutan Kemiri akan kita bicarakan kembali esok hari," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya sebagaimana layaknya seorang raja memberi titah kepada para punggawanya.

Terlihat Gajahmada dan Ki Sandikala saling berpandangan seperti merasa kecewa atas sikap dan keputusan penguasa tunggal Kerajaan Majapahit itu yang hanya menghukum Tumenggung Lembu Weleng namun tidak membuat sebuah keputusan pada hari itu juga untuk menyelamatkan Patih Mahesa Amping, seorang pembesar Daha yang akan dicelakai oleh sebuah kekuatan yang telah disiapkan di Hutan Kemiri.

Demikianlah, terlihat Ki Sandikala telah berpamitan di hadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, tentunya dengan sebuah pengharapan agar pikiran Baginda Raja akan menjadi lebih jernih lagi esok harinya.

Sementara Gajahmada di malam itu juga telah membawa beberapa orang kepercayaannya untuk mengamankan Tumenggung Lembu Weleng.

Hukuman apa yang pantas untuk seorang pejabat istana yang telah melakukan pengkhianatan adalah menjadi wewenang Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang akan menentukannya.

Setelah melaksanakan tugasnya, mengamankan Tumenggung Lembu Weleng di tempat yang terjaga di istana Majapahit, terlihat anak muda pemimpin pasukan khusus Bhayangkara itu melangkahkan kakinya ke arah pasanggrahannya sendiri.

Sementara hati dan pikirannya masih saja terpaut ke dalam suasana penuh kekhawatiran tentang rencana orang-orang Hutan Kemiri yang telah disiapkan untuk mencelakai ayah angkatnya, Patih Mahesa Amping.

Di pasanggrahan pribadinya Gajahmada tidak bertemu dengan Supo Mandagri, karena sudah lebih dulu beristirahat di peraduannya.

Lama hingga datangnya warna merah tipis di atas langit saat sang malam mulai jenuh menjaga bumi, tidak juga ada perasaan mengantuk pada diri Gajahmada.

Keterikatan batin sebagai seorang putra angkat telah memenuhi debar-debar kalbunya memikirkan keselamatan Patih Mahesa Amping.

Gajahmada tidak menyadari bahwa itulah getaran panggraita yang harus disikapi.

Sementara itu, di sebuah tempat yang jauh dari kotaraja Majapahit, di sebuah alam suasana padukuhan yang aman dan tenteram di bawah bintang gemintang langit malam, seorang lelaki tua telah merasakan hal yang sama sebagaimana tengah dirasakan oleh Gajahmada saat itu.

"Besok pagi kita ke Hutan Kemiri," kata lelaki tua itu yang tidak lain adalah Ki Gede Bajra Seta kepada putranya, Mahesa Dharma.

Ternyata lelaki tua yang masih terlihat gagah itu telah mampu membaca sebuah pertanda bahwa akan terjadi sebuah peristiwa besar berkaitan dengan seseorang yang sangat dicintainya itu, Patih Mahesa Amping.

Seseorang yang pernah dibesarkan dan dibina lahir dan batin di Padepokan Bajra Seta bersama Baginda Raja Sanggrama Wijaya, sang penguasa Majapahit itu.

Sebagai seorang putra dari Ki Gede Bajra Seta, Mahesa Dharma dapat mengerti bahwa ayahnya pasti telah mendapatkan sebuah panggraita sehingga tiba-tiba saja telah mengajaknya untuk pergi ke Hutan Kemiri besok pagi.

"Masih ada waktu beristirahat, meski hanya merebahkan badan dan meluruskan kaki," kata Mahesa Dharma sambil bangkit berdiri berpamitan kepada ayahnya untuk masuk ke peraduannya.

Manakala putranya sudah masuk ke peraduannya, terlihat Ki Bajra Seta melangkahkan kakinya menuju ujung pagar pendapa halaman Padepokan Bajra Seta.

Di benak orang tua yang sudah penuh dengan kerut-kerut di wajahnya itu adalah sebuah bayangan Mahesa Amping kecil yang tengah berlatih di depan halaman muka Padepokan Bajra Seta.

"Kasihan Mahesa Amping, sejak lahir tidak mengenal wajah orang tuanya sendiri," kata Ki Gede Bajra Seta sambil mengenang masa-masa keberadaan Mahesa Amping di Padepokan Bajra Seta.

Namun, sebagai seorang guru suci yang telah mengenal arti kebesaran dan kekuasaan tertinggi Gusti Yang Maha Agung sebagai pemilik alam semesta jagat raya ini, dirinya telah menyadari bahwa tidak satu pun makhluk yang dapat lepas dan lari dari takdir-Nya.

Dan manakala hujan di pagi itu telah mengguyur bumi, terlihat Ki Gede Bajra Seta masih tersenyum memandang curah hujan yang cukup lebat di halaman depan Padepokan Bajra Seta.

"Kita menunggu saat hujan menjadi reda, wahai putraku," kata Ki Bajra Seta kepada Mahesa Dharma yang telah bersiap-siap untuk berangkat menuju Hutan Kemiri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment