Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 58

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 58

"Selamat datang wahai putraku," kata Ki Patih Mangkubumi menyambut hangat kedatangan Gajah Mada yang hadir bersama Supo Mandagri.

Setelah duduk bersama di pendapa pasanggrahan Ki Patih Mangkubumi, Gajah Mada segera memperkenalkan Supo Mandagri kepada lelaki tua yang selalu dipenuhi senyum ramah itu.

"Nama hamba Supo Mandagri. Sebuah kehormatan bagi hamba dapat berkenalan dengan salah seorang keturunan Empu Bharada, sang pencipta keris para dewa," kata Supo Mandagri memperkenalkan dirinya.

"Nampaknya kawanmu ini telah melebih-lebihkan namaku di hadapanmu," kata Ki Patih Mangkubumi sambil memandang ke arah Gajah Mada.

"Hamba tidak menambah atau melebihkan apa pun. Hamba hanya berkata bahwa di Majapahit ini ada seorang keturunan dari Empu Bharada yang telah mewarisi keahliannya dalam membuat keris pusaka," ujar Gajah Mada sambil bercerita mengenai hal ihwal Supo Mandagri.

"Aku ikut prihatin atas musibah yang kamu alami," ucap Ki Patih Mangkubumi kepada Supo Mandagri setelah mendengar penuturan tentang dirinya.

"Terima kasih," balas Supo Mandagri.

"Aku banyak mengenal orang asli Lamajang. Siapa nama orang tuamu?" tanya Ki Patih Mangkubumi kepada Supo Mandagri.

"Supo Mageni," jawab Supo Mandagri.

Lama Ki Patih Mangkubumi terdiam mengingat-ingat nama orang di Lamajang.

"Sayang, aku tidak mengenal nama ayahmu itu," ujar Ki Patih Mangkubumi setelah lama berpikir.

"Kami memang baru tinggal beberapa bulan di Lamajang, Ayah hamba berasal dari Tanah Tuban," kata Supo Mandagri kepada Ki Patih Mangkubumi.

"Sebagai seorang putra pembuat keris, pasti kamu juga telah mewarisi keahlian ayahmu itu," ujar Ki Patih Mangkubumi.

"Benar, hamba sering membantu saat ayah hamba bekerja. Sebuah kehormatan untuk hamba dapat belajar lebih dalam lagi dari seseorang yang mumpuni sebagaimana Ki Patih Mangkubumi," kata Supo Mandagri.

"Sebagaimana dirimu, aku juga banyak belajar dari ayahku sendiri. Aku sering membantunya saat bekerja membuat sebilah keris," kata Ki Patih Mangkubumi sambil menarik napas panjang seolah tengah menerawang jauh ke masa lalu saat dirinya masih seusia Supo Mandagri dan Gajah Mada.

Sikap Ki Patih Mangkubumi itu membuat Gajah Mada dan Supo Mandagri terdiam. Suasana di atas pendapa pasanggrahan seketika menjadi hening.

"Banyak orang dapat membuat keris," ujar Ki Patih Mangkubumi memecah keheningan. "Namun, hanya sedikit orang yang dapat menciptakan keris pusaka yang mampu memberikan makna di dalam seni karyanya itu," lanjutnya sambil memandang kedua anak muda di hadapannya.

Gajah Mada dan Supo Mandagri sama-sama mencoba mencerna perkataan orang tua pewaris tunggal sang pencipta keris para dewa tersebut.

"Banyak candi pernah kita lihat, namun hanya satu candi yang mampu melahirkan mimpi-mimpi baru. Itulah candi pusaka leluhur kita, candi Borobudur yang tidak mudah lapuk tergerus zaman. Jadi, setiap benda pusaka dalam bentuk apa pun akan melahirkan ketentraman hati, ketenangan jiwa, dan keluhuran budi sekaligus akan melahirkan mimpi-mimpi baru yang berguna di dalam kehidupan ini. Itulah benda pusaka yang sebenarnya," tutur Ki Patih Mangkubumi sambil tersenyum.

Nampaknya kedua anak muda di hadapan Ki Patih Mangkubumi mulai mengerti ke mana alur pembicaraannya. Melihat mereka masih terdiam, Ki Patih Mangkubumi menarik napas panjang, mengumpulkan ingatan, dan mencoba memilih kata-kata yang tepat agar Gajah Mada dan Supo Mandagri dapat mencerna penuturannya.

"Maka, seorang empu adalah guru yang mampu menciptakan pusaka yang disampaikan lewat setiap karyanya melalui berbagai perlambang. Empu adalah sosok yang kaya raya, berlimpah harta, dan selalu ingin berbagi kepada siapa pun," kata Ki Patih Mangkubumi dengan wajah penuh senyum.

"Tutur kata Ki Patih Mangkubumi telah mencerahkan jiwa ini. Ternyata masih banyak sekali yang harus hamba pelajari untuk menciptakan keris pusaka yang sebenarnya," ujar Supo Mandagri.

"Guru yang terbaik ada di dalam diri kita sendiri. Selama kita dapat menjaga hati agar senantiasa bersih, maka selama itu pula kita akan berada dalam pengajarannya," nasihat Ki Patih Mangkubumi.

"Perkataan Ki Patih Mangkubumi akan kami jadikan pusaka," ujar Gajah Mada dan Supo Mandagri bersamaan.

"Aku senang berbicara dengan orang-orang muda seperti kalian berdua," kata Ki Patih Mangkubumi dengan wajah cerah.

Sementara itu, matahari pagi di atas pura pasanggrahan Ki Patih Mangkubumi terlihat semakin naik, diiringi suara kicau burung yang bersahutan di kerindangan taman. Namun, manakala Gajah Mada bercerita tentang kecurigaannya atas para penghuni di Hutan Kemiri, garis wajah di kening orang tua itu berkerut menunjukkan perhatian yang mendalam.

"Apakah kamu begitu yakin bahwa mereka berasal dari Lamajang?" tanya Ki Patih Mangkubumi.

"Hamba merasa yakin karena hampir semua penghuni Hutan Kemiri itu menggunakan bahasa ibu yang sama, bahasa Lamajang," jawab Gajah Mada penuh keyakinan.

"Yang sangat kuherankan, hingga saat ini tidak ada berita apa pun dari Tumenggung Lembu Weleng mengenai keadaan Hutan Kemiri. Sebagai pemimpin prajurit telik sandi, sangat aneh bila mereka tidak mengetahui hal itu," ucap Ki Patih Mangkubumi dengan wajah curiga.

"Hutan Kemiri memang tidak begitu jauh dari Kotaraja Majapahit," timpal Gajah Mada membenarkan dugaan Ki Patih Mangkubumi.

"Hari ini juga aku akan menyampaikan perihal Hutan Kemiri kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya," tegas Ki Patih Mangkubumi.

Menyadari banyaknya kesibukan yang akan dikerjakan Ki Patih Mangkubumi hari itu, Gajah Mada dan Supo Mandagri pun pamit diri.

"Aku akan memperkenalkan dirimu kepada ibuku," kata Gajah Mada kepada Supo Mandagri ketika mereka telah berada di luar istana Majapahit.

Kedua anak muda itu berjalan bersama menyusuri Kotaraja Majapahit yang sudah cukup ramai, menuju barak pasukan khusus wanita yang dipimpin oleh ibunda Gajah Mada, Nyi Nariratih.

"Nyi Rangga Nariratih ada di ruang perwira," ujar seorang prajurit wanita menunjukkan arah kepada Gajah Mada.

Saat mereka mendekati ruang para perwira, mereka bersisipan jalan dengan seorang prajurit wanita yang baru keluar dengan mata sembab karena banyak menangis. Namun, Gajah Mada tidak memperhatikannya dan langsung menuju pintu ruang perwira tinggi.

"Ibumu merasa gembira melihat kamu sudah kembali ke Kotaraja Majapahit," ujar Nyi Rangga Nariratih kepada putra kesayangannya.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, Gajah Mada segera memperkenalkan sahabat barunya kepada Nyi Rangga Nariratih.

"Namaku Supo Mandagri," kata Supo Mandagri.

"Senang mengenalmu, wahai Supo Mandagri," balas Nyi Rangga Nariratih dengan ramah.

Dalam kesempatan itu, Gajah Mada mencoba bertanya perihal prajurit wanita yang dilihatnya begitu bersedih tadi.

"Suami dari wanita itu tengah menghadapi masalah besar," ujar Nyi Rangga Nariratih.

"Semula aku mengira wanita itu melakukan kesalahan besar," kata Gajah Mada.

"Wanita itu adalah prajurit yang baik," tegas Nyi Rangga Nariratih.

"Ada masalah apa dengan suaminya?" tanya Gajah Mada.

Nyi Rangga Nariratih terdiam cukup lama seperti sedang menimbang apakah rahasia tersebut boleh didengar oleh Gajah Mada dan Supo Mandagri. Akhirnya, sebuah senyum tersungging di bibirnya.

"Kedatangan kalian sungguh sebuah kebetulan," ujar Nyi Rangga Nariratih.

"Kebetulan apa gerangan, wahai ibundaku?" tanya Gajah Mada keheranan.

"Wanita itu bersuamikan seorang prajurit telik sandi. Setelah beberapa hari bertugas, ia kembali membawa berita rahasia. Namun, setelah menyampaikan berita itu kepada Tumenggung Lembu Weleng selaku atasannya, ada kabar bahwa jiwanya terancam. Untuk menyelamatkan diri, suaminya menghilang entah ke mana. Wanita itu menghadap kepadaku meminta perlindungan untuk suaminya. Maukah kalian berdua menolongnya?" pinta Nyi Rangga Nariratih.

"Dengan segala senang hati, kami berdua siap membantu," jawab Gajah Mada mewakili Supo Mandagri.

"Jika demikian, aku akan memanggil kembali wanita itu," kata Nyi Rangga Nariratih.

Tidak lama kemudian, prajurit wanita yang sedang dilanda kemalangan itu datang kembali ke ruang perwira.

"Sukemi, anakku dan kawannya ini telah bersedia membantumu. Ceritakanlah dengan jelas hingga suamimu itu menghilang," perintah Nyi Rangga Nariratih kepada anak buahnya yang bernama Sukemi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment