Chapter 101
"Tidak, aku tidak akan melakukannya," kata Dara Jingga sambil menggelengkan kepalanya. Rasa cemas menghantui perasaan dan pikirannya saat menatap wajah suaminya yang basah oleh peluh yang terus mengucur deras.
Ternyata, sebagai seorang yang berilmu sangat tinggi, suaminya sangat memahami ilmu pengobatan dan berbagai jenis racun.
Ketika terbangun di pagi hari, Patih Mahesa Amping sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres di dalam dirinya. Maka, ia langsung bersila di peraduannya, mengerahkan segenap kekuatan sejati hawa murninya, mencoba menghentikan sesuatu yang dirasakannya telah memenuhi seluruh jalur pembuluh darahnya.
Setelah lama mencoba dengan kekuatan tenaga sakti sejati hawa murninya yang sangat tinggi itu, ternyata Patih Mahesa Amping telah terlambat. Ia merasakan racun yang amat kuat itu sudah naik ke atas kepala.
Sebagai orang yang sangat memahami berbagai jenis racun, Patih Mahesa Amping sadar betul bahwa racun yang telah merambati seluruh isi kepalanya itu akan berdampak merusak akal pikirannya dan mengubah dirinya menjadi orang yang hilang ingatan. Itulah sebabnya Patih Mahesa Amping meminta istrinya agar membunuhnya.
Namun, semua memang sudah terlambat. Racun yang amat kuat telah merusak seluruh isi kepala Patih Mahesa Amping serta menghancurkan ingatannya. Ia berubah menjadi sesosok tubuh yang hanya dipenuhi amarah, memandang seluruh isi dunia dengan cara terbalik; musuh dianggapnya kawan, dan sahabat setia dilihatnya sebagai musuh paling jahat yang harus dibunuh.
Berlinang air mata, Dara Jingga tidak tahu apa yang harus dilakukan kepada suami tercintanya yang tiba-tiba saja menatap dirinya dengan mata memerah yang menakutkan.
"Kandaku?" kata Dara Jingga lirih, menatap wajah suaminya yang sudah kehilangan sosok sejati yang dikenalnya selama ini.
Tiba-tiba saja Dara Jingga menjerit tertahan manakala tangan Patih Mahesa Amping yang amat kuat itu mencengkeramnya dan melemparkannya hingga membentur dinding kayu kamar peraduannya.
Brak!
Dengan mata terbelalak, Dara Jingga melihat suaminya telah menabrak pintu kamar hingga terbuka lebar. Dengan masih menahan rasa sakit di sebagian tubuhnya yang terbentur kayu, Dara Jingga berusaha bangkit dan mengejar Patih Mahesa Amping yang berlari ke arah pintu pringgitan.
Brak!
Kembali Dara Jingga melihat Patih Mahesa Amping menabrak pintu pringgitan hingga hancur dan terbuka lebar.
"Kanda Mahesa Amping!" teriak Dara Jingga memanggil suaminya.
Namun, Patih Mahesa Amping seperti tidak mendengar apa pun. Ia berlari ke arah samping bangunan puri pasanggrahannya, menuju kandang kuda. Seorang pekatik tua terbelalak melihat majikannya datang berlari dan langsung menghentakkan tali kekang kuda yang terikat di sebuah tiang penyangga. Akibatnya, tiang penyangga itu pecah dua dan merobohkan sebagian atap bangunan kandang kuda tersebut.
Pekatik tua itu masih terbelalak, tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Tiba-tiba, dilihatnya sang majikan telah melompat dan langsung menghentakkan perut kuda agar berlari kencang. Ia terus memandang dengan mata terbelalak saat majikannya melarikan kudanya ke arah halaman depan.
Bersamaan dengan itu, dua orang pejabat istana tengah memasuki gerbang gapura puri pasanggrahan Patih Mahesa Amping. Keduanya terkejut karena tiba-tiba saja di depan mereka terlihat Patih Mahesa Amping memacu kudanya dengan sangat cepat. Dengan sigap, keduanya melompat ke kiri dan ke kanan menghindari tabrakan.
Sementara itu, mereka melihat seorang wanita berlari ke arah mereka.
"Nyi Patih, katakan apa yang telah terjadi," tanya salah seorang pejabat istana kepada Dara Jingga yang masih berurai air mata.
"Tolonglah suamiku, dirinya telah hilang kendali," ujar Dara Jingga kepada kedua pejabat Istana Kediri yang dikenalnya bernama Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru.
Tanpa bertanya apa pun, Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru langsung berlari ke arah Patih Mahesa Amping.
"Aku butuh kuda ini kembali," kata Ki Rangga Kebo Biru kepada seorang pekatik yang tengah merawat dua ekor kuda. Demikian pula Ki Demung Juru, ia mengambil tali kekang kuda dari tangan pekatik. Tidak lama berselang, Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru sudah berada di punggung kuda masing-masing.
Para prajurit penjaga di gerbang istana Kediri terpaku di tempatnya karena baru saja melihat Patih Mahesa Amping melarikan kudanya dengan sangat cepat, disusul oleh Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru.
"Apa yang terjadi pada mereka bertiga?" tanya seorang prajurit penjaga kepada kawannya.
Beruntung, Ki Rangga Kebo Biru dan Ki Demung Juru masih dapat melihat arah kuda Patih Mahesa Amping yang menuju utara gerbang gapura kotaraja Kediri. Namun, mereka berdua belum dapat mengejar kecepatan lari kuda Patih Mahesa Amping yang melesat seperti terbang membelah udara pagi yang mulai terang.
Terlihat debu mengepul di belakang kaki kuda Patih Mahesa Amping yang terus menjauh meninggalkan Kotaraja Kediri menuju ke arah utara. Sementara itu, sambil terus mengejar, di dalam pikiran Ki Rangga Gajah Biru masih menyangsikan perkataan Dara Jingga bahwa sahabatnya itu telah hilang ingatan.
"Mungkinkah Patih Mahesa Amping telah kehilangan akalnya sebagaimana yang dikatakan oleh istrinya sendiri?" tanya Ki Rangga Gajah Biru dalam hati sambil terus berusaha mengejar.
Kejar-kejaran pun terus berlangsung di jalan tanah saat matahari mulai meninggi. Hingga matahari mencapai puncaknya, laju kuda Patih Mahesa Amping tetap berada jauh di depan Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru.
Ketika matahari mulai turun di sebelah kiri mereka, barulah dapat dinilai kuda siapa yang merupakan kuda unggulan. Ternyata, kuda yang dikendarai oleh Patih Mahesa Amping adalah seekor kuda pilihan keturunan kedua milik Raja Mahesa Cempaka yang sangat terkenal, kuat, dan dapat berlari dengan sangat cepat.
Laju kuda Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru mulai jauh tertinggal.
"Nampaknya kuda kita sudah mulai kepayahan," teriak Ki Rangga Gajah Biru sambil memperlambat laju kudanya dan memberi isyarat kepada Ki Demung Juru. Mendengar itu, Ki Demung Juru segera memperlambat langkah kudanya.
"Kuda kita akan mati kelelahan bila kita paksakan terus berlari," kata Ki Rangga Gajah Biru.
Ki Rangga Gajah Biru dan Ki Demung Juru tertinggal jauh. Kuda-kuda mereka tidak setegar dan sekuat kuda Patih Mahesa Amping yang seperti memiliki sepuluh napas cadangan, berlari terus tanpa berhenti.
"Kita lanjutkan pengejaran setelah kuda-kuda kita beristirahat dengan cukup," kata Ki Rangga Gajah Biru saat melihat sebuah sungai kecil berbatu membelah jalan mereka. Di tepi sungai itu, tumbuh sebatang pohon pisang hutan yang buahnya telah matang. Ki Demung Juru memenggal setangkai pisang, berbagi dengan Ki Rangga Gajah Biru, dan sisanya disimpan sebagai bekal.
Nampaknya, Ki Demung Juru menyadari bahwa mereka mungkin tidak akan singgah bermalam di padukuhan yang dilewati, melainkan terus memacu kuda untuk mengejar Patih Mahesa Amping. Setelah beristirahat cukup, mereka kembali memacu kuda meninggalkan debu yang beterbangan.
Hingga akhirnya di penghujung senja, di sebuah persimpangan jalan, mereka harus menghentikan lari kuda. Ki Rangga Gajah Biru melompat turun. Sebagai seorang pencari jejak ulung, ia menemukan jejak kaki kuda Patih Mahesa Amping.
"Patih Mahesa Amping telah mengambil arah Kotaraja Majapahit," kata Ki Rangga Gajah Biru setelah melihat bongkahan rumput halus yang terbongkar oleh langkah kaki kuda.
Ki Demung Juru tidak menyangsikan keahlian sahabatnya itu. "Kita telah tertinggal seperempat hari perjalanan," kata Ki Rangga Gajah Biru sambil meraba jejak langkah kaki kuda Patih Mahesa Amping.
Mereka pun segera mengambil arah perjalanan menuju Kotaraja Majapahit, arah yang mereka yakini sebagai jalur pelarian Patih Mahesa Amping.