Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 217

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 217

Sejak saat itu, kami berteman dan melakukan banyak pengembaraan bersama.

Tampaknya Empu Batukaru telah menemukan tempat terakhirnya di lereng Gunung Batukaru, membangun sebuah padepokan kecil di sana, dan menjadi seorang guru suci.

Nama aslinya adalah Ki Meleng.

"Sementara di Balidwipa ini, orang lebih banyak mengenalnya sebagai Empu Batukaru," berkata Ki Sahdatun, bercerita tentang sahabatnya itu.

Di dalam benak Patih Gajah Mada, terpikir bagaimana mungkin dua orang yang memiliki kepercayaan berbeda dapat bersahabat erat.

Ternyata, Ki Sahdatun sepertinya dapat membaca apa yang dipikirkan oleh pemuda itu.

"Kami berdua sama-sama menghormati kepercayaan masing-masing. Bahkan, kami berdua dapat saling mengenal dan mendapatkan pengetahuan tentang kepercayaan masing-masing," kata Ki Sahdatun kepada Patih Gajah Mada.

"Kuciptakan perbedaan di antaramu di muka bumi agar kamu dapat saling mengenal dan bersyukur," kata Ki Sahdatun, mengutip sebuah ayat suci.

Terlihat Patih Gajah Mada menarik napas dalam-dalam. Kecerdasan pikirannya langsung dapat memahami ayat yang disampaikan oleh Ki Sahdatun itu.

Sementara itu, Andini yang mendengar pembicaraan keduanya hanya terdiam dan ikut menyimak.

"Ternyata ayat-ayat suci itu penuh makna dan bersayap. Begitu sempurna mewakili alam alit dan alam besar. Namun, hanya sedikit orang yang mampu memaknai arti sejatinya," kata Patih Gajah Mada.

"Semoga kita tergolong sebagai kaum yang sedikit itu," kata Ki Sahdatun, masih sambil berjalan.

Tidak ada hambatan apa pun dalam perjalanan mereka ke Gunung Batukaru. Hutan yang masih amat lebat serta jalan yang terkadang sangat terjal mendaki bukan menjadi masalah besar bagi ketiga orang berilmu tinggi itu.

Hingga akhirnya, di sebuah tempat yang banyak ditumbuhi pohon cemara pandak, mereka menemui sebuah dinding tebing yang cukup tinggi, sekitar dua kali tinggi pohon kelapa.

"Padepokan Empu Batukaru berada di atas tebing ini," kata Ki Sahdatun kepada Patih Gajah Mada dan Andini.

"Ternyata Empu Batukaru sangat malas membuat tangga," seloroh Andini sambil tersenyum.

"Mari kita naik ke atas," kata Ki Sahdatun sambil langsung menjejakkan kakinya. Begitu ringan, tubuh Ki Sahdatun terlihat melenting ke udara.

Di pertengahan tebing, terlihat kaki Ki Sahdatun menyentuh bebatuan yang sedikit menonjol. Ternyata, bebatuan itu digunakan sebagai pijakan untuk dapat melesat lebih jauh lagi.

"Mari kita menyusul Ki Sahdatun," kata Patih Gajah Mada kepada Andini.

Maka, sebagaimana Ki Sahdatun, terlihat keduanya seperti terbang melenting mendaki tebing tinggi itu hanya dengan dua kali pijakan kaki.

"Sungguh sebuah pemandangan yang sangat elok," kata Andini manakala menjejakkan kakinya di atas tebing itu.

Ternyata di atas tebing itu terdapat hamparan bunga aneka rupa dan warna yang mekar bersama di antara beberapa pohon cemara pandak yang tinggi menjulang. Sungguh sebuah pemandangan yang indah di saat sang surya menaburkan cahaya senjanya. Terlihat sebuah bangunan padepokan berdiri menyatu dengan keserasian alam yang asri itu.

"Salam lestari," kata seorang pemuda memberi hormat di depan regol halaman padepokan itu.

"Kami hendak bertemu dengan Empu Batukaru," kata Ki Sahdatun sambil membalas sikap hormat pemuda itu.

"Mari kuantar kalian ke tempat tuan guru," kata pemuda itu dengan penuh keramahan.

Terlihat ketiganya mengikuti langkah pemuda itu yang membawa mereka ke arah sebuah panggung pendapa.

"Terima kasih," kata Ki Sahdatun kepada pemuda yang mempersilakan mereka naik ke atas panggung pendapa padepokan itu.

Terlihat seorang lelaki tua yang berada di panggung pendapa itu berdiri mendekati anak tangga.

"Selamat datang, Sahabat," kata lelaki itu sambil merangkul tubuh Ki Sahdatun.

Ternyata lelaki tua itu adalah Empu Batukaru yang sangat dihormati di Balidwipa, seorang guru suci yang tinggal di lereng Gunung Batukaru bersama beberapa cantrik di padepokannya.

"Lama sekali kita tidak berjumpa," kata Empu Batukaru setelah mempersilakan tamunya duduk bersama di atas panggung pendapa.

"Beruntung, aku tidak pernah lupa jalan menuju padepokanmu," kata Ki Sahdatun sambil tersenyum.

"Seekor rajawali pasti akan melahirkan anak rajawali," kata Empu Batukaru sambil memandang ke arah Patih Gajah Mada dan Andini yang diperkenalkan oleh Ki Sahdatun sebagai kedua muridnya.

"Sungguh sebuah kemuliaan dapat menjadi seorang guru suci yang dikelilingi oleh banyak cantrik," kata Ki Sahdatun kepada Empu Batukaru.

"Sewaktu muda, aku tidak pernah terpikir untuk menetap di sebuah tempat dan memiliki sebuah padepokan," ujar Empu Batukaru sambil tersenyum.

Terdengar kedua sahabat lama yang sudah sekian tahun tidak berjumpa itu banyak bercerita tentang kebersamaan mereka di masa lampau, hingga akhirnya Ki Sahdatun menyudahi pembicaraan mereka saat waktu Magrib tiba.

"Kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup berat," kata Empu Batukaru sambil mempersilakan ketiga tamunya untuk membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban agamanya.

Demikianlah, menjelang malam tiba, ketiganya dijamu oleh tuan rumah di pendapa padepokan dengan suasana penuh kegembiraan. Setelah selesai menikmati perjamuan malam itu, Ki Sahdatun mencoba memulai pembicaraan mengenai keperluannya mengunjungi Padepokan Empu Batukaru.

"Kami sengaja berkunjung ke padepokan ini untuk meminta sedikit bantuan dari Empu Batukaru," kata Ki Sahdatun.

"Sebuah kegembiraan dapat membantumu, wahai sahabatku," balas Empu Batukaru.

"Aku tidak punya kepentingan dan keuntungan apa pun, karena yang kuharapkan adalah keselamatan orang banyak, keselamatan warga Balidwipa," kata Ki Sahdatun.

"Katakan saja, apa yang dapat aku lakukan," ujar Empu Batukaru.

"Perseteruan antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Balidwipa sudah semakin meruncing. Tampaknya akan berujung pada sebuah peperangan besar. Yang kuinginkan adalah menyelamatkan warga Balidwipa agar tidak ikut terseret dalam peperangan ini," jelas Ki Sahdatun.

"Apa gerangan yang dapat aku lakukan?" tanya Empu Batukaru.

"Meminta kepada seluruh warga Balidwipa untuk tidak ikut mengangkat senjata," kata Ki Sahdatun.

Terlihat Empu Batukaru terdiam sambil menarik napas dalam-dalam.

"Semua peperangan akan melahirkan begitu banyak kesengsaraan dan penderitaan. Terima kasih telah mengabarkan berita ini. Setidaknya ada upaya dari kita untuk mengurangi korban lebih banyak lagi. Aku akan mengabarkan kepada seluruh umat di Balidwipa ini bahwa perang yang akan terjadi itu bukan perang mereka, melainkan perang para penguasa yang bertakhta di istana Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Bali," kata Empu Batukaru.

"Aku merasa yakin bahwa suara seorang ketua persekutuan sembilan pura di Balidwipa ini akan didengar dan dipatuhi," kata Ki Sahdatun kepada Empu Batukaru.

"Aku sangat mempercayaimu, wahai sahabatku. Apa yang kamu sampaikan adalah demi kemaslahatan banyak orang dan tidak ada sedikit pun keuntungan pribadi yang ingin kamu peroleh. Itulah sosok Ki Sahdatun yang kukenal semenjak dahulu," kata Empu Batukaru.

"Sangat sederhana sekali, wahai Empu Batukaru. Setiap agama pasti mengajarkan kepada umatnya untuk memerangi kemungkaran di muka bumi ini. Yang paling baik adalah dengan tindakan. Bila tidak sanggup, dapat dengan lidah. Dan selemah-lemahnya iman, setidaknya dapat dilakukan dengan suara hati," kata Ki Sahdatun dengan senyum tulusnya.

"Beruntung kalian berdua memiliki seorang guru seperti Ki Sahdatun. Di dalam dirinya tersimpan begitu banyak perbendaharaan ilmu," kata Empu Batukaru kepada Patih Gajah Mada dan Andini.

Namun, tiba-tiba saja pandangan Empu Batukaru tertuju ke arah cambuk pendek yang melingkar di pinggang Patih Gajah Mada.

"Anak muda, apakah kamu memiliki hubungan dengan Patih Mahesa Amping?" tanya Empu Batukaru dengan pandangan yang tidak lepas dari cambuk tersebut.

"Patih Mahesa Amping adalah ayah angkatku sendiri," jawab Patih Gajah Mada.

"Luar biasa, ternyata hari ini padepokanku kedatangan orang-orang hebat," kata Empu Batukaru sambil tersenyum memandang ketiga tamunya.

Dalam kesempatan lain, Ki Sahdatun juga bercerita tentang beberapa peristiwa dalam perjalanannya, antara lain mengenai penangkapan orang-orang yang berasal dari Majapahit di Balidwipa.

"Raja Bali telah melupakan pesan para leluhurnya bahwa orang Balidwipa dan Jawadwipa berasal dari satu keturunan yang sama, berasal dari tanah yang sama sebelum daratan ini terpisahkan oleh lautan," kata Empu Batukaru sambil menarik napas panjang, menyesali apa yang telah terjadi di Balidwipa.

Sementara itu, terlihat pelita malam yang tergantung di pojok panggung pendapa sudah mulai redup. Malam memang sudah larut. Semilir angin dingin dari lereng Gunung Batukaru berembus, membuat kulit seperti membeku.

Pagi di lereng Gunung Batukaru seolah tertunda sesaat karena cahaya mentari terhalang oleh punggung Gunung Batukaru. Namun, sang raja siang akhirnya menggeliat merangkak memanjati puncak gunung dan menyinari seluruh sisi serta celah daratan, mengusir dingin dan memberi kehangatan bagi setiap makhluk di bumi.

Terlihat di pagi yang cerah itu, Empu Batukaru berjalan bersama ketiga tamunya hingga ke regol padepokannya.

"Maaf, kami belum sempat membuat tangga di lereng jalan menuju padepokan kami," kata Empu Batukaru sambil tersenyum memandang ke arah Andini.

Andini agak terkejut mendengar perkataan Empu Batukaru yang sepertinya ditujukan khusus kepadanya.

"Apakah orang tua ini mendengar perkataanku tentang tangga di lereng itu kemarin?" tanya Andini dalam hati.

"Sampai berjumpa lagi, wahai sahabatku," kata Ki Sahdatun sambil melambaikan tangannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment