Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 24

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 24

Terlihat Patih Mahesa Amping memerintahkan pasukannya untuk beristirahat di halaman muka padepokan, sementara dirinya sendiri berjalan beriringan dengan Empu Pranata menaiki tangga pendapa.

"Manakala istana Singasari dihancurkan oleh pasukan Jayakatwang, aku mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pengembara biasa, bebas pergi ke mana pun aku suka. Hingga ketika huru-hara pasukan Mongol membakar istana Kediri, kebetulan sekali aku ada di sana," kata Empu Pranata sambil menarik napas panjang, mengumpulkan kembali semua ingatannya tentang peristiwa kehancuran Kotaraja Kediri beberapa tahun yang telah lewat itu.

"Api telah membakar hampir seluruh bangunan di Kotaraja Kediri, juga istana Kediri. Tidak sengaja aku melihat seorang anak lelaki menangis terpisah dari orang tuanya. Anak lelaki itu kubawa pergi menjauhi Kotaraja Kediri dan menjadi kawan pengembaraanku. Ke mana pun aku pergi, ia selalu bersamaku. Hingga akhirnya kami menetap di padepokan sederhana ini," kata Empu Pranata berhenti sebentar dan menoleh ke arah salah seorang dari ketiga pemuda yang menyertainya.

"Kertawardana, beri hormat kepada pamanmu ini," kata Empu Pranata kepada anak muda itu.

Terlihat anak muda itu memberi hormat kepada Patih Mahesa Amping.

"Kertawardana?" gumam Patih Mahesa Amping seperti pernah mendengar nama itu.

"Angger pasti pernah mendengar nama itu, karena dialah cucu Raja Kertanegara yang juga cucu Raja Jayakatwang dari putra Pangeran Ardharaja," kata Empu Pranata sambil tersenyum.

Terkejutlah Patih Mahesa Amping manakala mengetahui siapa sebenarnya anak muda itu.

"Paman Jayakatwang dan Bibi Turukbali pasti akan gembira mendengar bahwa ada seorang keturunannya yang masih hidup hingga saat ini," kata Patih Mahesa Amping sambil menjelaskan bahwa mantan penguasa Kediri itu sekarang telah menetap di Tanah Ujung Galuh.

"Hampir lupa, aku belum memperkenalkan kedua pemuda ini. Yang lebih tua bernama Siralawe, sementara yang lebih muda bernama Buntarlawe. Mereka adalah dua putra Adipati Ranggalawe yang sudah sejak kecil dipercayakan kepadaku untuk tinggal bersama kami di padepokan ini," kata Empu Pranata memperkenalkan kedua anak muda lainnya.

Mendengar nama Adipati Ranggalawe, terlihat Patih Mahesa Amping menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali tugasnya datang ke Padepokan Jabung ini.

"Semula aku hanya mengetahui sebuah nama, Ki Ajar Sasmita, di Padepokan Jabung ini. Siapa kira bahwa Ki Ajar Sasmita adalah Empu Pranata yang kukenal," kata Patih Mahesa Amping kepada Empu Pranata.

"Angger Mahesa Amping, aku bersyukur bahwa hari ini kita dipertemukan. Sudah lama diriku tidak lagi memusingkan hiruk-pikuk kehidupan duniawi. Sudah lama aku menikmati hidup dalam suasana kedamaian di padepokan ini bersama para cantrikku. Namun, ternyata diriku yang tua ini memang tidak bisa bersembunyi. Aku tidak bisa tinggal diam dan tidak peduli manakala salah seorang keluarga cantrikku meminta perlindungan kepadaku. Kemarin Adipati Ranggalawe bersama pasukannya telah singgah di sini, menitipkan keluarganya dalam lindunganku," kata Empu Pranata sambil memandang ke arah Patih Mahesa Amping, meminta pertimbangan dan pemikirannya.

"Empu Pranata, tugas dan wewenangku datang ke Tanah Tuban ini adalah untuk membawa kembali Adipati Ranggalawe ke dalam cita-cita yang pernah kami ikrarkan bersama, yaitu membangun sebuah kerajaan dunia yang adil di atas nilai dan martabat keluhuran kemanusiaan," kata Patih Mahesa Amping. Ia berhenti sebentar sambil menarik napas panjang.

"Baginda Raja Sanggrama Wijaya masih sangat berharap Adipati Ranggalawe dapat kembali. Kedatanganku di sini adalah untuk menemuinya sebagai seorang sahabat, sebagai seorang saudara. Bagiku, keluarga Adipati Ranggalawe adalah keluargaku pula. Aku akan menjaganya sebagaimana Empu Pranata menjaganya. Yang kukhawatirkan saat ini adalah pertemuan pasukan Adipati Ranggalawe dengan pasukan Rakyan Kebo Arema. Semoga aku dapat mencegah pertempuran di antara dua pasukan itu," kata Patih Mahesa Amping kepada Empu Pranata yang telah berganti jati diri menjadi Ki Ajar Sasmita itu.

"Terima kasih, Angger. Sejak dulu kutahu sifat dan watakmu yang selalu menghindari segala bentuk kekerasan. Mudah-mudahan pasukanmu dapat mengejar pasukan Adipati Ranggalawe yang tengah menuju ke arah timur, ke arah penyeberangan Madura. Semoga kamu dapat mencegah pertempuran itu," kata Empu Pranata sambil menarik napas panjang.

"Semoga aku tidak datang terlambat untuk mencegah pertempuran itu terjadi," kata Patih Mahesa Amping sambil berpamitan kepada Empu Pranata. Ia tidak dapat lebih lama lagi di Padepokan Jabung dan berjanji untuk singgah pada kesempatan lain.

Demikianlah, pasukan Patih Mahesa Amping terlihat sudah jauh meninggalkan Padepokan Jabung, berpacu dengan waktu untuk dapat mengejar pasukan Adipati Ranggalawe agar tidak bertemu dengan pasukan Rakyan Kebo Arema. Debu mengepul di belakang kaki-kaki kuda yang berlari kencang di tanah keras menuju arah matahari terbit.

Meski telah memacu kudanya secepat kilat, Patih Mahesa Amping masih saja merasa kudanya bergerak lambat. Hati dan pikirannya dipenuhi kecemasan yang amat sangat bahwa pertempuran kedua pasukan itu tidak dapat dicegahnya. Ternyata kecemasan hati dan pikiran Patih Mahesa Amping bukan muncul dari bayangan ketakutannya, melainkan sebuah firasat dan pertanda dari panggraitanya yang sudah terlatih dan sangat tajam. Apa yang dicemaskan oleh Patih Mahesa Amping memang sudah tidak mungkin dicegah lagi.

Di sebuah tempat di tepian Sungai Tambak Beras, terlihat dua pasukan sudah saling berhadapan, yaitu pasukan Adipati Ranggalawe dan pasukan Rakyan Kebo Arema. Nampaknya Rakyan Kebo Arema sangat mengenal jalan menuju arah penyeberangan ke Madura. Ia telah memerintahkan pasukannya menunggu di tepian Sungai Tambak Beras.

Pasukan Rakyan Kebo Arema memang tidak terlalu lama menunggu. Bukan main terkejutnya pasukan Adipati Ranggalawe manakala melihat pasukan Majapahit telah menunggunya di tepian Sungai Tambak Beras. Namun, Adipati Ranggalawe tidak menjadi gentar, terutama ketika melihat jumlah pasukan Majapahit lebih sedikit dari pasukannya yang berjumlah sekitar lima ratus orang prajurit itu.

"Ranggalawe, lama kita tidak berjumpa," kata Rakyan Kebo Arema kepada Adipati Ranggalawe.

"Benar, Paman Kebo Arema. Aku tidak pernah terpikirkan bahwa kita akan bertemu dalam keadaan berhadapan dan berseberangan jalan," kata Adipati Ranggalawe.

"Kamu memang tidak pernah berubah, nyalimu sangat besar," kata Rakyan Kebo Arema sambil tersenyum.

Namun, bukan watak Adipati Ranggalawe bila tidak berkata apa yang ada di dalam hatinya. "Yang kutangkap dari perkataan Paman Kebo Arema adalah bahwa nyaliku tidak sebanding dengan tataran ilmuku, bukankah begitu?"

"Aku tidak mengatakannya, kamu sendiri yang berkata demikian," balas Rakyan Kebo Arema masih sambil tersenyum.

"Sekarang, apa yang Paman Kebo Arema inginkan dariku?" tanya Adipati Ranggalawe.

"Mencegahmu bergabung dengan pasukan ayahmu," jawab Rakyan Kebo Arema.

"Pasukan Paman terlalu sedikit untuk dapat mencegahku," kata Adipati Ranggalawe sambil memberi tanda kepada pasukannya untuk bersiap diri.

"Tidak perlu pasukan besar untuk dapat mencegahmu," kata Rakyan Kebo Arema yang juga telah memberi tanda kepada pasukannya untuk bersiap.

Akhirnya, pertempuran memang tidak dapat lagi dihindarkan. Adipati Ranggalawe yang merasa lebih kuat dengan jumlah pasukannya segera memberi tanda kepada anak buahnya untuk maju menerjang pasukan yang menghalangi perjalanan mereka.

"Tunjukkan bahwa kalian prajurit Tuban yang tidak mudah terhalangi oleh apa pun!" teriak Adipati Ranggalawe memberi semangat kepada pasukannya.

Dalam waktu singkat, kedua pasukan itu pun sudah saling beradu dan menyerang satu sama lain. Suara gemerincing senjata serta umpatan-umpatan kasar menyatu menjadi suara peperangan yang mendebarkan hati. Pertempuran itu berlangsung di tepian Sungai Tambak Beras layaknya sebuah lukisan pemandangan hidup.

Pertarungan terus bergeser hingga memenuhi Sungai Tambak Beras yang jernih dan berbatu itu. Beberapa orang terlihat bertempur di atas batuan besar, sementara yang lainnya bertempur dengan setengah badan terendam air sungai yang sedang pasang di musim penghujan. Korban pun mulai berjatuhan dari kedua belah pihak. Terlihat beberapa orang yang terluka terbawa arus sungai yang cukup deras. Dalam waktu singkat, jumlah pasukan di kedua belah pihak telah berkurang hingga setengah dari jumlah semula.

Dalam kecamuk perang di atas sungai berbatu itu, Adipati Ranggalawe melihat Rakyan Kebo Arema mengamuk seperti seekor singa jantan. Tiap gerakannya selalu berujung kematian. Di tangannya, senjata badik warisan para leluhur Raja Bugis seperti dewa pencabut nyawa. Satu per satu prajurit Tuban yang bentrok dengannya langsung terlempar dan terluka, bahkan ada yang langsung terbawa arus sungai yang deras.

"Akulah lawanmu!" seru Adipati Ranggalawe datang menghadang Rakyan Kebo Arema.

Melihat Adipati Ranggalawe datang menghadangnya, Rakyan Kebo Arema tersenyum kecut sambil membersihkan darah yang menempel di badiknya ke lengan bahu.

"Mengapa baru sekarang?" tanya Rakyan Kebo Arema masih dengan senyum di balik matanya yang tajam.

"Aku tidak ingin prajuritku terus berkurang menjadi korbanmu," kata Adipati Ranggalawe sambil menggenggam kerisnya lebih erat lagi.

"Bagus, kamulah korban terakhirku," sahut Rakyan Kebo Arema.

"Kita buktikan siapa yang akan menjadi korban," tantang Adipati Ranggalawe sambil langsung menerjang.

Ternyata terjangan Adipati Ranggalawe sangat luar biasa, sebuah serangan dengan tataran tingkat tinggi. Namun, Rakyan Kebo Arema bukanlah patung hidup yang tidak punya kemampuan. Ia segera bergeser menghindari serangan itu dan langsung membalas dengan serangan balik.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment