Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 26

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 26

"Keluarga di Tanah Ujung Galuh pasti akan senang mendengarnya," berkata Gajahmada.

"Kami di sini pasti tidak sabar menunggu kamu datang kembali bersama dua orang putriku," berkata Nyi Ajeng Nglirip dengan wajah bersinar penuh sukacita membayangkan kedua putrinya datang dan hadir mengisi hari-hari yang indah bersamanya.

"Gajahmada," berkata Nyi Ajeng Nglirip sambil meletakkan sebuah kotak hitam di hadapannya.

"Bawalah olehmu mustika Batu Tuban ini untuk diserahkan kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Aku berharap Mustika Batu Tuban ini akan melengkapi pusaka istana," berkata kembali Nyi Ajeng Nglirip sambil membuka kotak hitam di hadapannya itu.

Gajahmada terkesiap manakala melihat sebuah telur hijau yang cukup besar di dalam kotak hitam itu.

"Hamba merasa tersanjung setinggi langit membawa dan menyerahkan benda keramat ini ke hadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya," berkata Gajahmada setelah menerima kotak hitam itu dari tangan Nyi Ajeng Nglirip.

Demikianlah, pagi itu Gajahmada terlihat telah menuruni tangga panggung pendapa padepokan diiringi pandangan mata Nyi Ajeng Nglirip dan murid terkasihnya, Biksuni Andini.

Kehadiran Gajahmada di Padepokan Nyi Ajeng Nglirip adalah untuk memastikan bahwa peperangan antara Tuban dan Majapahit tidak merambat di padepokan itu.

Meski Nyi Ajeng Nglirip dan semua penghuni padepokannya dapat diandalkan untuk melindungi diri sendiri, namun kehadiran anak muda itu telah membuat suasana lebih terjaga lagi.

Selama tinggal di Padepokan Nyi Ajeng Nglirip, anak muda itu masih sempat berkeliling di sekitar Tanah Tuban, mengamati suasana dan keadaan di sana, bahkan diam-diam menyaksikan dari jauh upacara penobatan putra Ranggalawe menjadi Adipati Tuban.

Selama tinggal di padepokan itu, kadang Gajahmada menyempatkan diri mengasah dan mengenali seluruh kemampuan dan kekuatan dirinya, mengasingkan diri di dalam goa Air Terjun Nglirip.

Pengenalan dan pengendalian tenaga inti sejati yang dimiliki oleh anak muda itu memang menjadi semakin mumpuni, namun semua itu menjadikan Gajahmada semakin mengakui kekerdilan dirinya di hadapan Sang Mahakuasa, semakin banyak lagi perihal pelik dan rahasia yang tidak terjangkau dalam alam akal dan kesadarannya.

Langkah kaki Gajahmada terlihat telah menyusuri sungai Air Terjun Nglirip semakin jauh, deru yang selalu bergemuruh dari suara air terjun sudah tidak terdengar lagi.

Di perbukitan yang sepi, anak muda itu kadang seperti melesat terbang tidak menyentuh tanah menguji kemampuan ilmu meringankan tubuhnya.

Gajahmada kali ini memang sangat menikmati perjalanannya menuju Tanah Ujung Galuh. Orang biasa mungkin perlu waktu sekitar tiga hari tiga malam perjalanan.

Sementara anak muda itu dengan kemampuan ilmunya yang tinggi hanya perlu waktu sekitar sehari semalam perjalanan.

Siang itu, Gajahmada telah berada di sebuah padukuhan yang berseberangan dengan Tanah Ujung Galuh, terpisah oleh Sungai Kalimas.

"Tampaknya kita sering berjodoh, bertemu di atas rakit ini," berkata seorang tua tersenyum menyapa Gajahmada yang bersamanya di atas rakit yang membawa mereka menyeberang.

"Benar, Ki Sanepo," berkata Gajahmada kepada orang tua itu yang dikenalnya bernama Ki Sanepo yang tinggal di padukuhan Tanah Ujung Galuh.

"Singgahlah ke gubukku, beberapa pohon nangkaku sudah tua dan wangi," berkata Ki Sanepo kepada Gajahmada ketika rakit yang membawa mereka telah sampai di pinggir seberang Tanah Ujung Galuh.

"Jagalah buah nangkamu, semoga aku datang tidak didahului codot buah," berkata Gajahmada ketika mereka berpisah di persimpangan jalan.

Langkah kaki Gajahmada terlihat telah memasuki pekarangan halaman muka Pura Pasanggrahan Jayakatwang.

Gembira hati para penghuni keluarga Jayakatwang melihat Gajahmada telah datang kembali.

Belum sempat membersihkan diri, Gajahmada sudah diberondong dengan berbagai macam pertanyaan.

Gajahmada menyampaikan bahwa peperangan di Tuban tidak merambat di Padepokan Nyi Ajeng Nglirip dan suasana di Tuban telah kembali tenteram dan damai sebagaimana sebelum peperangan terjadi.

"Apakah itu pertanda kami dapat menemui ibunda?" berkata Dyah Wiyat sambil tersenyum gembira.

Jayakatwang juga bercerita kepada Gajahmada bahwa beberapa hari yang telah lewat, Patih Mahesa Amping telah singgah sebelum berangkat ke Kediri dan bercerita telah bertemu dengan seorang cucunya yang ternyata masih hidup dan selamat dalam peristiwa amuk perang pasukan Mongol beberapa tahun silam, diasuh oleh seorang pendeta suci Istana Singasari bernama Empu Pranata.

"Bila saja kami punya sayap, ingin rasanya terbang menemui cucuku itu," berkata Jayakatwang menyampaikan perasaan hatinya.

"Bilamana diizinkan, biarlah hamba yang datang menemuinya, membawanya di Tanah Ujung Galuh ini agar dapat menemui kakek dan neneknya," berkata Gajahmada menyampaikan kesanggupannya mengantar cucu Jayakatwang ke Tanah Ujung Galuh.

Gembira hati Jayakatwang dan Nyimas Turukbali mendengar kesanggupan Gajahmada. Mereka membayangkan akan menemui cucu keturunan satu-satunya dari mereka yang ternyata masih hidup dan selamat, putra Pangeran Ardharaja.

"Kapan kami diantar ke Tuban?" bertanya Dyah Wiyat membuat semua mata menoleh kepadanya.

"Kakang Gajahmada-mu baru tiba," berkata Nyimas Turukbali sambil mempersilakan Gajahmada untuk membersihkan diri di pakiwan.

Demikianlah, setelah hari menjelang sore, seperti biasa Dyah Gajatri dan Dyah Wiyat berlatih di halaman pura ingin menunjukkan kemajuan mereka di hadapan guru mereka, Gajahmada.

Gembira hati Gajahmada melihat perkembangan olah kanuragan kedua putri itu yang semakin pesat.

Tampaknya Jayakatwang dan Nyimas Turukbali kadang ikut membantu mereka memberikan arahan.

Dalam kesempatan itu, Gajahmada telah mengatakan kepada Jayakatwang bahwa dirinya dititipkan sebuah benda Mustika Batu Tuban untuk diserahkan langsung kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Benda mustika itu akan melengkapi perbendaharaan pusaka istana," berkata Jayakatwang.

"Besok hamba akan menemui Patih Mangkubumi untuk mengantar hamba menemui Baginda Raja," berkata Gajahmada menyampaikan rencananya.

"Benda itu jangan terlalu lama di bawah atap tempat tinggalku, akan menggoda hasratku untuk kembali berada di atas singgasana," berkata Jayakatwang sambil tersenyum.

Demikianlah, keesokan harinya pagi-pagi sekali Gajahmada sudah berpamit diri kepada Jayakatwang untuk berangkat ke Kotaraja Majapahit.

Di Istana Majapahit, Gajahmada mendatangi pura pasanggrahan Patih Mangkubumi.

"Aku akan mengantarmu, kebetulan sekali aku juga punya beberapa kepentingan di sana," berkata Patih Mangkubumi ketika Gajahmada menyampaikan maksudnya untuk mengantarkan Mustika Batu Tuban kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Wajah penguasa tunggal Majapahit itu terlihat begitu cerah manakala menyambut kedatangan Gajahmada dan Patih Mangkubumi di pura pasanggrahan, Pura Kartika.

"Melihat wajahmu, aku menjadi iri dan ingin kembali muda lagi agar dapat pergi berkelana ke berbagai tempat yang belum pernah kusinggahi," berkata Baginda Sanggrama Wijaya.

"Gusti Kanjeng Ratu Gayatri menitipkan salam kepada Tuanku Baginda," berkata Gajahmada. Mendengar perkataan itu, hati Baginda Raja Sanggrama menjadi terharu dan bertanya keadaan istrinya itu di Tanah Tuban.

Bukan main gembira hati Baginda Sanggrama Wijaya mendengar langsung penuturan tentang keadaan istrinya itu yang telah mengasingkan diri, telah memilih jalan hidupnya menjadi seorang biksuni.

"Gusti Kanjeng Ratu Gayatri dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apa pun dan telah menitipkan sebuah Mustika Batu Tuban untuk diserahkan kepada Tuanku Baginda," berkata Gajahmada sambil mengeluarkan sebuah kotak hitam dan menyerahkannya di hadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Mustika Batu Tuban?" berkata Baginda Sanggrama Wijaya sambil membuka kotak hitam itu.

"Konon banyak orang mencarinya sebagai wahyu keraton," berkata Patih Mangkubumi manakala ikut melihat Mustika Batu Tuban yang terlihat memancarkan cahaya perbawa tersendiri dari dalam kotak kayu hitam itu.

"Lengkaplah sudah pusaka Istana Majapahit ini. Dari bumi selatan aku telah menerima keris Nagasasra, warisan leluhur Raja Airlangga. Dari belahan bumi barat aku telah mewarisi Bunga Wijaya Kusuma dari Prabu Guru Darmasiksa. Dan hari ini dari pesisir belahan utara, kuterima Mustika Batu Tuban. Semoga cahaya wahyu keraton akan semakin menyinari singgasana Majapahit ini," berkata Baginda Raja. Sebelum berpamit diri, Gajahmada juga menyampaikan rencananya yang akan berangkat kembali ke Tuban untuk mengantar kedua putri Baginda Raja Sanggrama Wijaya sesuai permintaan Gusti Kanjeng Ratu Gayatri.

"Kurestui kepergianmu bersama kedua putriku itu ke Tanah Tuban, semoga membawa kebahagiaan hati seorang ibu," berkata Baginda Raja dengan mata seperti berkaca-kaca terharu dan mengerti sebuah kerinduan seorang ibu yang jauh dari kedua putrinya itu, sebagaimana dirinya yang juga terkadang punya kerinduan yang sama untuk berada di antara mereka bertiga, di antara Gajatri, Wiyat, dan Ratu Gayatri.

"Sampaikan salam dan kerinduanku kepada mereka." Hanya itu yang dikatakan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya manakala melepas Gajahmada yang berpamit diri meninggalkan Pura Kartika.

Gajahmada terlihat telah keluar dari gerbang Istana Majapahit, namun langkahnya terlihat berhenti di sebuah barak prajurit.

"Masuklah, ibumu ada di dalam," berkata seorang prajurit wanita yang ditemui Gajahmada di muka gerbang barak prajurit itu.

Bukan main gembiranya hati Nyi Nariratih melihat putra tunggalnya datang menemuinya.

Setelah menyampaikan keselamatan masing-masing, Gajahmada bercerita banyak tentang kepergiannya di Tanah Tuban di saat daerah itu tengah bergejolak.

Juga bercerita tentang Mustika Batu Tuban yang dititipkan dari Gusti Kanjeng Ratu Gayatri untuk diserahkan langsung kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Secara tidak langsung, kamu sudah menjadi orang kepercayaan keluarga istana."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment