Chapter 45
Di Kediri, Raja Muda Jayanagara berada di bawah bimbingan Patih Mahesa Amping. Saatnya telah tiba untuk meminta Tuan Jayakatwang dan Gusti Kanjeng Ratu Gayatri untuk turun gunung dan membimbing putri dan cucunya di Kahuripan dan di Singasari. Pengalaman mereka di kerajaan masa lalu pasti dapat membimbing Dyah Gajatri dan Kertawardana, orang-orang muda itu, kata Gajahmada menyampaikan buah pikirannya sendiri.
Baginda Raja Sanggrama Wijaya meminta tanggapan Ki Patih Mangkubumi mengenai buah pikiran Gajahmada itu. "Sebuah pemikiran yang bagus, hamba sangat menyukainya," kata Ki Patih Mangkubumi. "Hamba seperti mendengar penuturan seorang Mahapatih besar," kata kembali Ki Patih Mangkubumi dengan penuh senyum memandang ke arah Gajahmada.
"Bicara seorang Empu adalah sebuah restu, meski terwujud dalam sebuah canda," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Gajahmada. "Garis hidup manusia siapa yang dapat membacanya, Kerajaan Majapahit di masa depan pasti menghadapi permasalahan yang jauh lebih rumit, perlu seorang Mahapatih yang punya pengetahuan yang sangat luas," kata Ki Patih Mangkubumi.
"Kerajaan Majapahit ini akan menjadi sebuah kerajaan kelautan yang besar. Itulah warisan pemikiran yang kudapatkan langsung dari Raja Kertanagara di masa hidupnya. Dan hari ini semoga kamu orang muda dapat mewarisi pemikiran ini, bilamana umurku dan umur Ki Patih Mangkubumi tidak sampai mewujudkannya, kamulah yang kuharapkan dapat mewujudkan-nya, membangun singgasana di atas laut, impian para leluhur raja-raja di Jawadwipa ini yang telah mereka pahat dan ukir di atas batu candi Borobudur," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Kepercayaan Paduka telah hamba pahat dalam-dalam di lubuk hati hamba. Baru kali ini hamba mendengar sebuah impian mahakarya itu. Hamba bersumpah demi keagungan para leluhur raja-raja yang telah merintis jalan itu, juga demi keagungan tuanku Paduka yang telah membuka pintu jalan menuju singgasana laut itu, hamba, Gajahmada akan rela berdarah-darah, akan rela hidup prihatin sebelum dapat mewujudkan impian mahakarya itu," kata Gajahmada dengan penuh kesungguhan hati.
"Sumpahmu adalah jiwaku yang akan terus hidup selamanya di dalam dirimu. Namun kuingatkan kepadamu bahwa tidak mudah membangun singgasana mahakarya ini. Banyak aral dan rintangan yang akan kita hadapi. Aku hanya melanjutkan apa yang telah di lakukan oleh Raja Kertanagara dengan penciptaan Jung Besar Singasari nya. Yang kulakukan saat ini hanya membuat sebuah dermaga Majapahit yang kuat yang tidak mudah tergerus oleh ombak prahara. Kuserahkan kepadamu bahtera impian mahakarya ini untuk kamu bawa ke tengah samudera raya," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Sementara itu, awan gelap terlihat hilang membuka senyum rembulan di langit malam yang teduh menatap wajah bumi. Angin kencang bertiup membawa lari awan hujan ke sebelah bumi lain jauh dari Kotaraja Majapahit di malam itu yang telah bertabur bintang. Hari memang telah larut malam, terlihat Ki Patih Mangkubumi dan Gajahmada berpamit diri kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
"Sampai ketemu besok," kata Ki Patih Mangkubumi kepada Gajahmada di sebuah persimpangan jalan menuju tempat kediaman masing-masing di istana Majapahit itu. Matahari pagi sudah tinggi menghangatkan bumi tanah Ujung Galuh. Pasanggrahan Jayakatwang yang berdiri di tanah tinggi dimana dari atas panggung pendapanya dapat memandang hamparan laut luas, dapat melihat layar-layar perahu dagang yang bersandar di dermaga Tanah Ujung Galuh.
Nyi Ajeng Nglirip dan kedua putrinya masih berada di Pasanggrahan itu, begitu juga Kertawardana. Pagi itu suasana di atas pendapa Pasanggrahan terlihat penuh kegembiraan hati karena sudah ada kabar berita dari seorang utusan istana bahwa Baginda Raja Majapahit akan berkunjung di Pasanggrahan Jayakatwang.
"Pasti ada sebuah berita istimewa yang akan disampaikan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya sehingga harus datang sendiri berkunjung ke Pasanggrahanku," kata Jayakatwang sambil memandang ke arah gerbang gapura pasanggrahannya. Akhirnya, tamu agung yang mereka nantikan datang juga. Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan para pengawal berkudanya terlihat tengah memasuki gerbang gapura pasanggrahan Jayakatwang.
Penuh kegembiraan hati, Jayakatwang menyambut kedatangan keponakannya itu, Raja Majapahit yang terlihat tengah menaiki tangga pendapa. Terlihat juga Gajahmada dan Ki Patih Mangkubumi ikut berjalan di belakang Raja Majapahit itu. Setelah duduk bersama di atas pendapa agung Pasanggrahan, mereka pun saling menyampaikan keselamatan masing-masing.
"Adalah sebuah kegembiraan hati, di usia yang sudah lanjut ini dapat melihat anak dan cucu kemenakan berkumpul di dalam suasana kedamaian," kata Jayakatwang menyampaikan kegembiraannya. "Angin sejuk gerangan apakah yang akan kami terima dari istana Majapahit sehingga seorang Raja besar harus datang ke Pasanggrahanku ini," kata kembali Jayakatwang.
"Pamanda, Tanah Majapahit semakin luas. Tak terjangkau lagi tanganku untuk dapat menjaganya setiap saat dan waktu. Aku perlu banyak tangan yang setia dapat mewakiliku sendiri, menjaga dan membangun kekuasaan Majapahit bersamaku di tanah Singasari dan di tanah Kahuripan," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya menyampaikan maksud kedatangannya.
"Siapakah di antara kekuasaanmu, wahai Jayakatwang, yang dapat mewakili kemenakanku?" "Putriku sendiri, Gajatri di Tanah Kahuripan dan Kertanagara di Tanah Singasari," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya. Berdebar hati Dyah Gajatri dan Kertanagara mendengar nama mereka disebut langsung oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Namun mereka berdua tidak berkata apapun. "Aku mengerti bahwa mereka berdua masih sangatlah muda belia, namun aku merasa sangat yakin bahwa di belakang mereka ada orang-orang yang sangat mumpuni yang akan membimbing mereka berdua," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya dengan wajah penuh senyum seperti dapat membaca apa yang ada dalam pikiran semua orang yang ada di pendapa itu.
"Apakah ini berarti bahwa aku yang sudah tua ini harus kembali turun gunung?" kata Jayakatwang menanggapi perkataan Raja Majapahit itu. "Mantan Raja Kediri pasti tahu apa yang harus diperbuat untuk membesarkan sebuah daerah Tumapel," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya penuh senyum menatap ke arah Jayakatwang.
"Wahai cucundaku, Kertanagara, berterima kasihlah dirimu kepada Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang telah menganugerahi dirimu menjadi raja Muda di Tumapel. Berjanjilah kepada hatimu untuk memegang amanah dan kepercayaan yang besar ini," kata Jayakatwang kepada Kertanagara.
"Hamba Kertanagara menghaturkan rasa kasih yang setinggi tingginya, semoga Kertanagara dapat menjaga amanah ini," Kertanagara dengan rasa penuh penghormatan Baginda Raja Sanggrama Wijaya. "Wahai putriku Gajatri, sampaikan rasa terima kasihmu kepada Ayahandamu yang telah berkenan memberimu sebuah kepercayaan yang agung menjadi seorang Raja Muda di Kahuripan," kata pula Nyi Ajeng Nglirip kepada putrinya Dyah Gajatri.
"Putrimu Gajatri menghaturkan rasa terima kasih," kata Dyah Gajatri sebagaimana Kertanagara menghaturkan rasa terima kasihnya di hadapan Raja Sanggrama Wijaya. "Sebagaimana Pamanda Jayakatwang, dinda akan ikut menemani putri kita ke Kahuripan," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada Raja Sanggrama Wijaya.
"Aku membangun kerajaan Majapahit ini bersama dengan kesetiaan dan darah para ksatria. Masa depan kerajaan Majapahit ini harus terus berjalan dan berkembang. Merekalah para orang muda masa depan kita," kata Raja Sanggrama Wijaya di hadapan semua orang yang hadir di pendapa itu.
Terlihat wajah semua orang di atas pendapa pasanggrahan Jayakatwang terlihat bergembira penuh suka cita, namun ketika Raja Sanggrama menyampaikan sebuah pembicaraan baru, terlihat suasana di atas pendapa itu menjadi begitu hening. Pembicaraan baru apa gerangan yang telah membuat semua orang di atas pendapa itu seperti langsung terdiam?
Ternyata pembicaraan Raja Sanggrama Wijaya adalah tentang sebuah perjodohan antara Dyah Gajatri dan Kertanagara. Semua mata terlihat tertuju ke arah Dyah Gajatri yang terlihat tertunduk diam seribu bahasa. Nyi Ajeng Nglirip seperti dapat membaca apa yang dipikirkan oleh putrinya itu. Sebagai seorang ibu dirinya sudah mengetahui perasaan putrinya yang diam-diam menaruh hati kepada guru penuntunnya, Gajahmada.
Sekilas pandangan mata Nyi Ajeng Nglirip ke arah Gajahmada yang terlihat menunduk menyembunyikan wajah dan perasaannya. Berdebar perasaan Nyi Ajeng Nglirip manakala melihat Dyah Gajatri perlahan mengangkat wajahnya. "Ananda hanya akan menikah dengan siapapun yang dapat mengalahkan Kakang Gajahmada," kata Dyah Gajatri kepada ayahandanya Raja Majapahit.
Semua mata saat itu juga terlihat berpaling ke arah Gajahmada yang seperti terpana tidak menyangka sama sekali bahwa Dyah Gajatri dapat berkata seperti itu, menjadikan dirinya sebagai tameng. "Bagus, sudah selayaknya seorang istri berharap sang suami adalah seorang yang mampu melindunginya, menjaga martabat dan kehormatannya," kata Raja Majapahit sambil tersenyum.
"Wahai Kertawardhana, calon istrimu telah menyampaikan persyaratannya. Apakah dirimu bersedia?" kata kembali Sanggrama Wijaya kepada Kertawardhana. "Bila memang demikian persyaratan yang harus ananda lakukan, pastilah ananda akan mencobanya?" kata Kertawardhana menjawab pertanyaan Raja Majapahit.
"Wahai prajuritku, Gajahmada, persiapkanlah dirimu. Putriku memintamu untuk menjadi penjaga pintu ayu pelaminannya. Hamba akan melaksanakan tugas ini dengan segenap hati hamba," kata Gajahmada dengan suara penuh kemantapan hati. "Aku tidak ingin kalian berdua terluka. Garis ilmu perguruan kalian adalah sama-sama dari perguruan empu Brantas.