Chapter 145
Hingga akhirnya, kedua sahabatnya itu berpamitan untuk kembali ke Bukit Gedang, sebuah tempat pengasingan mereka berdua di sekitar lereng Gunung Kelud.
"Sewaktu-waktu aku akan datang menyambangi kalian ke Bukit Gedang," ujar Empu Nambi ketika berpisah dengan keduanya.
"Sewaktu-waktu kami juga akan datang menyambangi lereng Gunung Semeru ini," balas Baginda Raja Sanggrama Wijaya.
Maka, sejak itu Empu Nambi tidak pernah lagi turun dari lereng Gunung Semeru. Orang-orang di bumi Lamajang sudah terlanjur percaya bahwa Empu Nambi telah dibawa oleh burung belibis putih peliharaan para dewa yang hidup dan bermukim di atas puncak Mahameru. Orang-orang bumi Lamajang sudah terlanjur percaya bahwa Empu Nambi telah kekal hidup dan bermukim bersama para dewa di atas puncak Mahameru.
Sementara itu, berita tentang kematian Empu Nambi telah sampai di istana Majapahit, bersamaan dengan kembalinya Mahapatih Dyah Halayuda di Kotaraja Majapahit.
"Harga nyawa Empu Nambi senilai hancurnya pasukan segelar sepapan," ujar Raja Jayanagara manakala mendengar tentang kematian Empu Nambi dan hancurnya kesatuan pasukan Jala Pati di bumi Lamajang.
"Pasukan musuh telah berlaku licik, telah menggunakan racun yang amat ganas dalam pertempuran mereka," ucap Mahapatih Dyah Halayuda, mencoba mengarang sebuah cerita tentang kehancuran pasukannya itu.
"Kita harus membangun sebuah pasukan baru," perintah Raja Jayanagara kepada Mahapatih Dyah Halayuda.
Bukan main gembiranya hati Dyah Halayuda mendengar perkataan Raja Jayanagara itu. Baginya, itu adalah jalan untuk menarik kekuatannya yang selama ini dirahasiakan dan memerlukan biaya besar.
"Mohon restu Tuanku, hamba akan membangun pasukan baru itu," jawab Mahapatih Dyah Halayuda penuh kegembiraan.
Rencana Mahapatih Dyah Halayuda yang akan menarik kekuatan pasukan bayangannya menjadi kesatuan resmi Kerajaan Majapahit tercium oleh Tumenggung Mahesa Semu lewat laporan seorang pejabat bendahara istana yang dekat dengannya.
"Istana semakin rawan dengan kehadiran pasukan itu yang kini menjadi kesatuan resmi Kerajaan Majapahit. Kesatuan pasukan itu lebih patuh kepada Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti ketimbang kepada rajanya sendiri," lapor Tumenggung Mahesa Semu kepada Gajah Mada suatu malam di kediamannya di puri Pasanggrahan Tanah Ujung Galuh.
"Mereka sudah semakin dekat dengan sasaran yang mereka inginkan," sahut Gajah Mada.
Sementara itu, pada waktu yang sama, Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti tengah berunding mematangkan rencana mereka.
"Akhirnya pasukan kita resmi menjadi pasukan Kerajaan Majapahit," ujar Mahapatih penuh kegembiraan.
"Untuk mengelabui semua orang di istana ini, kita harus berpura-pura membangun sebuah pasukan baru," kata Ra Kuti, mencoba mengingatkan Mahapatih Dyah Halayuda agar selalu berhati-hati.
"Aku jadi tidak sabaran untuk secepatnya menguasai istana ini, duduk di singgasana sebagai seorang raja besar yang dihormati dan dijunjung tinggi," ujar Mahapatih Dyah Halayuda tanpa sengaja mengungkapkan angan-angannya.
Ra Kuti terkejut mendengar perkataan Mahapatih Dyah Halayuda, namun ia berusaha menutupinya. "Gila orang ini, lupa dengan ucapannya dahulu yang ingin menjadikan diriku sebagai seorang raja. Wahai Ki Secang, aku akan menyingkirkanmu sebelum kamu melangkah mendekati singgasana khayalmu itu," batin Ra Kuti.
Namun, di mulut, Ra Kuti berkata lain, "Aku juga jadi tidak sabaran untuk secepatnya melenyapkan raja lemah itu," ucap Ra Kuti kepada Mahapatih Dyah Halayuda.
Demikianlah, Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti berhasil mengelabui orang-orang di istana dengan pura-pura mengumpulkan orang baru sebagai prajurit, padahal mereka adalah pasukan sendiri yang selama ini dibina di tempat rahasia. Untuk menyempurnakan sandiwara, Mahapatih Dyah Halayuda sesekali mengajak Raja Jayanagara melihat langsung tempat penggemblengan pasukannya.
"Sebuah pasukan yang tangguh, sekuat pasukan yang sudah lama dibentuk," puji Raja Jayanagara. Mendengar pujian itu, Mahapatih Dyah Halayuda tersenyum gembira. "Mereka hamba jemput dari berbagai padepokan di bumi Majapahit. Mereka sudah punya dasar kemampuan yang cukup kuat sehingga tidak sulit untuk mengarahkan mereka menjadi prajurit yang tangguh," jawab Mahapatih dengan karangan yang bisa diterima oleh Raja Jayanagara.
Akhirnya, Raja Jayanagara puas dengan hasil pembentukan pasukan tersebut dan meresmikannya melalui upacara pelantikan khusus. Atas usul Mahapatih Dyah Halayuda, ditunjuklah seorang prajurit yang cakap dan berkemampuan tinggi sebagai pimpinan tertinggi atau Tumenggung, yakni Ikal-Ikalan Bang, dalam sebuah upacara pengukuhan besar yang disaksikan para pejabat istana.
"Banyak perwira tinggi yang pantas menjadi pemimpin besar pasukan baru itu, namun Raja Jayanagara telah condong memilih orang itu," ujar Tumenggung Mahesa Semu kepada Gajah Mada dan Adityawarman.
"Nampaknya orang itu memang diusulkan oleh Mahapatih Dyah Halayuda kepada Raja Jayanagara," sahut Gajah Mada.
"Nampaknya mereka sudah begitu matang merencanakannya, sehingga tidak mudah menyusupkan orang luar ke lingkungan pasukan baru itu," kata Tumenggung Mahesa Semu.
"Yang kita hadapi saat ini adalah ketidakmampuan membayangi gerakan mereka dari dekat," ucap Adityawarman.
"Masih ada jalan lain mendekati mereka," ujar Gajah Mada.
"Katakan kepada kami jalan itu, wahai Gajah Mada," pinta Tumenggung Mahesa Semu tidak sabaran.
"Aku belum begitu yakin apakah kalian akan menyetujuinya," jawab Gajah Mada.
"Apakah ada hubungannya dengan ibundamu?" tanya Adityawarman.
"Aku harus meminta izin kepada ibundaku untuk meminta bantuan beberapa prajurit kesatuan khusus Srikandi guna mendekati para prajurit Tumenggung Ikal-Ikalan Bang," jelas Gajah Mada.
"Ibundamu telah berjanji akan membantu kita," ujar Tumenggung Mahesa Semu.
Demikianlah, pada hari itu juga Gajah Mada keluar dari istana menuju barak kesatuan khusus pasukan Srikandi, tempat Nyi Nariratih memimpin pasukan yang terdiri dari para prajurit wanita. Ketika tiba, seorang prajurit wanita langsung mengantar Gajah Mada menemui ibundanya.
"Pasti ada sesuatu yang amat penting sehingga kamu harus ke barak ini," kata sang ibu sambil menatap wajah putranya seolah ingin membaca jalan pikirannya. Gajah Mada langsung menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Aku pernah berjanji kepada Tumenggung Mahesa Semu untuk selalu siap membantunya. Katakan kepadanya bahwa aku akan mengirim sepuluh prajurit terbaikku untuk membayangi gerak mereka lebih dekat lagi," ujar Nyi Nariratih penuh kasih memenuhi permintaan putranya.
"Terima kasih, wahai ibundaku yang paling baik sedunia," goda Gajah Mada.
"Paling baik dan tidak sombong," timpal Nyi Nariratih menimpali canda putranya.
Gajah Mada pun keluar dari bilik kerja ibundanya dengan perasaan lega. "Ibundaku menyetujuinya, ia akan menugaskan sepuluh prajurit terbaiknya," lapor Gajah Mada kepada Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman.
"Setiap prajurit Srikandi rata-rata punya kemampuan kanuragan yang cukup tinggi; mereka juga punya kemampuan melaksanakan tugas telik sandi yang hebat," ujar Tumenggung Mahesa Semu gembira.
Demikianlah, di istana yang terlihat tenang dan damai, ternyata ada kekuatan yang tengah mengintai, seperti sekumpulan anjing hitam yang mendekati seekor anak domba di malam hari. Sementara itu, tiga ekor harimau masih diam bersembunyi, mengamati setiap gerak anjing-anjing liar tersebut. Saat itu candrasengkala tercatat di bulan keempat, dengan candra air mata menggenang dalam kalbu. Kapuk randu mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bersarang dan bertelur, para petani sudah memanen tanaman palawijanya dan bersiap menanam padi gaga.