Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 150

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 150

Terlihat beberapa prajurit Bhayangkara langsung mencabut pedang ketika melihat seseorang muncul dari dinding pagar puri pasanggrahan dengan cara seperti terbang di atas dinding yang cukup tinggi itu.

Namun, para prajurit Bhayangkara tersebut menarik napas dalam-dalam manakala mengetahui bahwa seseorang yang baru saja menjejakkan kakinya di halaman puri pasanggrahan itu ternyata adalah pimpinannya sendiri.

"Istana telah dikuasai sepenuhnya oleh pasukan pemberontak, dan kami memutuskan untuk bertahan di puri pasanggrahan ini demi melindungi Raja Jayanagara," lapor salah seorang prajurit Bhayangkara mengenai situasi istana saat itu.

"Aku akan menemui Raja," ujar Gajahmada kepada prajuritnya sambil langsung berjalan ke arah pendapa agung.

"Kita terlambat untuk membawa Raja Jayanagara keluar," kata Adityawarman kepada Gajahmada yang baru saja tiba.

"Kotaraja Majapahit telah dikuasai para pemberontak," ujar Gajahmada kepada Adityawarman dan Raja Jayanagara, menyampaikan apa yang telah ia lihat mengenai suasana Kotaraja Majapahit.

"Kita hadapi mereka dengan dada terbuka. Aku tidak takut mati sebagai seorang ksatria yang mempertahankan singgasanaku sendiri," ujar Raja Jayanagara penuh keberanian, seolah tidak mengenal rasa takut sedikit pun.

"Kita tidak perlu mati hari ini. Yang harus kita lakukan adalah menyingkir untuk menyelamatkan diri," sahut Gajahmada kepada Adityawarman dan Jayanagara.

"Jalan keluar di istana ini sudah tertutup rapat," kata Adityawarman.

"Kita akan mengalihkan perhatian mereka. Kerahkan seluruh pasukan kita di pintu gerbang istana. Di saat yang sama, kita bertiga akan menyelinap keluar lewat dinding pagar belakang istana. Tentunya setelah kita berganti pakaian dengan pakaian pelayan istana, karena di luar sana penjagaan pasukan pemberontak sangat ketat," jelas Gajahmada menyampaikan rencana pelariannya.

"Tidak ada salahnya untuk mencoba," kata Adityawarman sambil memandang wajah Raja Jayanagara yang masih dipenuhi keraguan.

Namun, akhirnya Gajahmada dapat meyakinkan Raja Jayanagara.

"Kita pernah bersama mengembara di Tanah Pasundan, banyak peperangan kita hadapi, banyak mara bahaya kita lalui. Seorang ksatria harus berpikir seribu kali sebelum menyerahkan lehernya pada pedang musuh selama masih ada kesempatan menghindar. Bila hari ini kita membabi buta melawan musuh dengan jumlah yang sangat besar, maka kita akan mati sebagai orang bodoh," tutur Gajahmada berusaha meyakinkan Raja Jayanagara.

Perlahan, wajah Raja Jayanagara memperlihatkan perubahan; ia mulai membenarkan perkataan Gajahmada.

"Bilamana kepala hamba putung seribu kali, masih ada tangan dan kaki hamba untuk menjaga serta melindungi Tuanku," ucap Gajahmada sambil tersenyum melihat keyakinan mulai tumbuh di diri Jayanagara.

Terlihat Gajahmada menemui beberapa prajurit Bhayangkara untuk memberikan pesan mengenai apa yang harus mereka lakukan. "Mari kita segera berkemas dan berganti pakaian menjadi pelayan dalam istana," ajak Gajahmada kepada Adityawarman dan Raja Jayanagara.

Sementara itu, salah seorang prajurit Bhayangkara telah bersalin mengenakan pakaian kebesaran yang biasa dikenakan oleh Raja Jayanagara.

"Keselamatan Raja ada di tangan kita. Bersikaplah seakan-akan kalian tengah melindungi Rajamu dan membawanya keluar dari istana ini. Dengan cara itu, seluruh perhatian para pemberontak akan tertuju kepada pasukan kalian. Semoga kita dapat berkumpul kembali di Kabuyutan Bebander, atau kita akan bertemu kelak di nirwana bersama para ksatria yang berjiwa mulia. Kesetiaan dan pengorbanan kalian hari ini akan selalu kukenang. Aku akan menceritakan kepada seluruh keluarga kalian bahwa kalian adalah sahabatku, kalian adalah pahlawan besar," ujar Gajahmada saat melepas para prajurit Bhayangkara dan prajurit Srikandi yang terkepung di dalam istana menghadapi gerakan pemberontakan yang dikendalikan oleh seorang anggota Dharmaputra, Ra Kuti.

"Mari kita bergerak," perintah Gajahmada kepada Adityawarman dan Raja Jayanagara ketika terdengar suara keributan di lorong jalan tidak jauh dari puri pasanggrahan. Nampaknya, pasukan gabungan itu telah berhadapan dengan pihak musuh.

Suasana kenakalan masa kecil seolah muncul kembali saat mereka bertiga menyelinap dari satu bangunan ke bangunan lain, di antara pohon-pohon besar yang rimbun untuk menghindari penglihatan pasukan pemberontak yang sudah tersebar di dalam istana. Selisih kemampuan ilmu mereka memang tidak terpaut jauh; ketiganya memiliki ilmu meringankan tubuh yang jauh melebihi orang kebanyakan.

Terlihat ketiganya melesat dari satu tempat ke tempat lainnya menuju arah dinding pagar belakang istana. Hanya dengan sekali ayunan kaki, mereka bertiga terbang melompati dinding istana yang cukup tinggi dan menjejakkan kaki di luar dinding dengan sangat indah.

Namun, baru saja dua tiga langkah meninggalkan dinding belakang istana, terlihat sepuluh pasukan berkuda mendekati mereka.

"Berhenti!" teriak salah seorang dari pasukan berkuda itu.

"Seluruh Kotaraja Majapahit dalam kekuasaan kami. Berani-beraninya kalian berkeliaran di saat seperti ini!" bentak seorang prajurit dengan kasar.

"Jangan mendekati sahabatku ini, dirinya tengah terkena penyakit menular yang sangat berbahaya," ujar Gajahmada kepada prajurit yang telah turun dari kudanya itu. Mendengar perkataan Gajahmada, prajurit tersebut segera berhenti melangkah.

Raja Jayanagara dan Adityawarman segera mengerti bahwa Gajahmada tengah bersandiwara. Keduanya langsung menggaruk-garuk tubuh yang memang terasa gatal karena pakaian pelayan yang mereka kenakan belum dicuci selama sepekan.

"Lihatlah, sahabatku yang satu ini sudah tertular olehnya," kata Gajahmada kembali.

"Dari mana asal kalian dan hendak ke mana?" tanya prajurit itu dari jarak lima langkah, tidak berani mendekat.

"Kami dari Padukuhan Barak, hendak menemui Tabib Restu Galih di Padukuhan Sawahan," jawab Gajahmada.

"Aku mengenal tabib hebat itu. Hanya orang kaya yang berani datang kepadanya, konon bayarannya sangat mahal," ujar prajurit itu saat melihat pakaian mereka yang tampak lusuh.

"Kebetulan sahabatku ini masih kemenakan Tabib Restu Galih, pasti beliau akan memberikan keringanan kepada kami," ujar Gajahmada.

"Lekas kalian berobat ke tabib itu sebelum menularkannya kepada banyak orang," sahut prajurit tersebut yang mempercayai perkataan Gajahmada. Ia kembali ke kudanya dan memberi perintah kepada pasukannya untuk melanjutkan perjalanan.

"Otakmu sungguh encer sekali, Gajahmada," kata Adityawarman sambil tertawa terpingkal-pingkal.

"Asal kalian tahu saja, pakaianku ini kuambil dari lemari kayu seorang pelayan, sementara pakaian yang kalian kenakan itu kuambil dari bakul yang mungkin akan dicuci hari ini," balas Gajahmada sambil tersenyum.

Melihat canda tawa Adityawarman dan Gajahmada, hati Raja Jayanagara tersentuh. Selama ini, ia telah mengambil jarak dengan keduanya sejak dinobatkan menjadi seorang Raja.

"Tahta dan singgasana ini telah membutakan mata hatiku, membuatku melupakan dua sahabat kecilku," batin Raja Jayanagara sembari mendengarkan celoteh sahabat-sahabatnya di perjalanan.

"Terpaksa kita berjalan melingkar mendekati Kabuyutan Bebander," ujar Gajahmada memberi petunjuk arah perjalanan mereka.

Sebagaimana dikatakan Gajahmada, mereka menempuh jalan melingkar melewati beberapa padukuhan, hutan gerumbul yang lebat, sungai deras berbatu, serta tempat-tempat yang tidak berpenghuni. Perjalanan panjang itu membangkitkan ingatan Raja Jayanagara jauh ke belakang ketika mereka pergi mengembara bersama di Tanah Pasundan.

"Aku telah melupakan kesetiaan Gajahmada kepada Kerajaan Majapahit ini, yang dengan penuh kerelaan hati melepas tahta singgasana milik keluarganya di Kerajaan Rakata dan memilih jalan sebagai abdiku di sini," batin Raja Jayanagara mengenang kebersamaan mereka.

"Hari sudah mulai senja, kita beristirahat di pinggir sungai ini. Ada banyak bebatuan besar untuk sekadar meluruskan kaki kita," kata Gajahmada ketika mereka sampai di sebuah sungai yang mengalir deras.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment