Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 201

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 201

"Mahapatih Arya Tadah juga belum dapat menebak apa peran Kudamerta di wilayah tak bertuan ini," kata Tumenggung Adityawarman.

"Raden Kudamerta, Kuda Jenar, dan Ki Sadeng sama-sama berasal dari Kerajaan Wengker. Aku hanya menebak dan menduga-duga di balik semua ini ada sebuah keinginan untuk membesarkan kembali Kerajaan Wengker sebagai sebuah kekuatan baru," jawab Patih Gajah Mada.

"Apapun keinginan dari Raden Kudamerta, tugas kita adalah mematahkan kekuatan Ki Sadeng sebelum tumbuh taringnya menjadi kekuatan yang berbahaya bagi tatanan kehidupan di bumi Majapahit ini," ujar Tumenggung Adityawarman.

"Benar, kita laksanakan tugas kita masing-masing sesuai yang diamanatkan oleh Mahapatih Arya Tadah," tutur Patih Gajah Mada.

"Bila memang demikian, hari ini juga aku akan kembali ke pasukanku agar secepatnya dapat menyongsong pasukan Kuda Jenar," kata Tumenggung Adityawarman kepada Patih Gajah Mada.

Setelah Tumenggung Adityawarman pergi, Patih Gajah Mada berkata kepada Rangga Adityawarman, "Nampaknya wilayah tak bertuan ini akan mulai menjadi panas," ujar Rangga Mahesa Dharma setelah mendengar rencana Patih Gajah Mada untuk membentur kekuatan Ki Sadeng.

"Mulai besok, kawanan Duta Mangkara berganti peran, tidak lagi sebagai kawanan perusuh," kata Patih Gajah Mada sambil tersenyum.

Beberapa orang terlihat berjaga-jaga di beberapa tempat tanpa membuat perapian untuk mengusir rasa dingin. Mereka benar-benar menjaga sarang agar tetap tersembunyi, karena setitik api saja akan membiarkan mata musuh menemukan lokasi mereka. Sayup terdengar suara lolong serigala jantan di kesunyian hutan malam.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Patih Gajah Mada bersama Rangga Mahesa Dharma membawa empat puluh orang kawanannya keluar dari sarang.

"Kutitipkan Rangga Seta bersamamu, wahai Ki Sahdatun," ucap Patih Gajah Mada berpamitan.

"Semoga keselamatan selalu mengiringi langkahmu, wahai anak muda," jawab Ki Sahdatun melepas kepergian rombongan itu.

Tidak lama berselang, dalam tatapan mata Ki Sahdatun dan Rangga Seta, rombongan Patih Gajah Mada menghilang di kelebatan hutan rimba.

"Mengapa kita tidak ikut pergi bersama mereka, Tuan Guru?" tanya Rangga Seta.

Ki Sahdatun tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Kelak bila kamu sudah dewasa seperti mereka, setelah kamu dapat melompat terjun dari ketinggian dengan mata terbuka, dan setelah kamu dapat berlari cepat melebihi kecepatan seekor rusa," jawab Ki Sahdatun dengan senyum penuh kasih.

"Aku akan terus berlatih," sahut Rangga Seta penuh semangat.

"Bagus, mari kita berlatih," ajak Ki Sahdatun sambil menuntun anak itu ke tempat mereka biasa melatih ketahanan diri.

Rangga Seta tampak sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Ki Sahdatun menyaksikan dengan bangga saat anak itu memanjat pohon besar dan berjalan di atas dahan dengan tubuh tegak. Sebuah laku berbahaya, namun Rangga Seta menikmatinya layaknya seorang bocah yang sedang bermain.

"Beristirahatlah, hari ini kita akan menjelajah sekitar daerah ini," kata Ki Sahdatun kepada Rangga Seta yang wajahnya memerah karena peluh.

Mendengar hal itu, Rangga Seta sangat gembira. Setelah menyiapkan bekal di gubuk, mereka segera berangkat. Setelah beberapa pekan tinggal di hutan, Ki Sahdatun sudah sangat mengenal jalan. Saat mereka berada di sebuah jalan tanah yang membelah hutan, tiba-tiba Ki Sahdatun memegang lengan Rangga Seta.

"Ada kebakaran hutan," ujar Ki Sahdatun.

Benar saja, asap putih tebal terbawa angin memenuhi hutan. "Rangkul dan berpeganglah di leherku," perintah Ki Sahdatun sambil menggendong Rangga Seta. Seketika, Ki Sahdatun berlari sangat kencang hingga Rangga Seta terpaksa memejamkan mata karena terpaan angin yang keras.

Saat angin berhenti, Rangga Seta membuka matanya dan terkejut mendapati dirinya berada di dahan pohon yang tinggi. "Dari ketinggian ini kita dapat melihat sekeliling," kata Ki Sahdatun sembari menatap ke arah sumber asap. Ketajaman penglihatan Ki Sahdatun mampu menangkap pertempuran sengit di titik kebakaran tersebut.

Sekitar dua puluh orang bersenjata cakra dan dua puluh orang bersenjata pedang tampak seperti bola panas yang menghalau ratusan orang. Ternyata, kawanan Patih Gajah Mada sedang membenturkan kekuatannya untuk menghancurkan pengikut Ki Sadeng. Penyerangan itu dimulai dengan hujan panah berapi ke arah gubuk-gubuk musuh.

"Jember," desis Ki Sahdatun sambil menggelengkan kepala. Hujan panah itu mengejutkan pengikut Ki Sadeng yang berlarian menyelamatkan diri tanpa membawa senjata, sehingga mereka mudah dihalau. Banyak tubuh berhamburan terkena sambaran senjata cakra dan pedang, membuat tanah basah oleh darah.

Empat puluh orang pilihan dari Padepokan Bajra Seta dan Perguruan Teratai Putih benar-benar menunjukkan kemampuan yang dahsyat. Dalam waktu singkat, musuh dibuat tidak berdaya, kecuali beberapa orang yang memiliki kemampuan tinggi.

"Kita bertemu kembali, wahai Ki Sadeng," ujar seorang pemuda yang tidak lain adalah Patih Gajah Mada. Ki Sadeng terbelalak melihat ketenangan anak muda di hadapannya.

"Apakah kamu yang selama ini menamakan diri sebagai Duta Mangkara?" tanya Ki Sadeng.

"Benar, aku datang ke wilayah tak bertuan ini hanya untuk menghancurkan dirimu dan kawanan bajak lautmu," tegas Patih Gajah Mada.

"Kamu terlalu percaya diri, anak muda," sahut Ki Sadeng sambil menyerang dengan keris besarnya. Serangan itu sangat cepat dan bertenaga, namun Patih Gajah Mada telah siap dan bergeser ke samping, membalas dengan cambuk andalannya.

"Luar biasa!" seru Ki Sadeng sambil mundur, merasakan getaran cambuk yang nyaris menyentuh tubuhnya. Patih Gajah Mada hanya berdiri tegak dengan ujung cambuk menyentuh tanah.

"Jangan berbangga hati dulu, aku belum menumpahkan seluruh kemampuanku," ucap Ki Sadeng dengan mata bernyala-nyala. Patih Gajah Mada tahu bahwa orang tua itu telah mengerahkan tenaga inti sejatinya. Sesuai dugaan, serangan Ki Sadeng berikutnya jauh lebih kuat. Keris besarnya tampak merah membara, mengepung Gajah Mada seperti angin panas gunung berapi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment