Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 125

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 125

Manakala mereka telah mencapai puncak bukit berbatu itu, Ki Samban mengambil arah selatan menyusuri lereng hingga akhirnya menemukan jalan buntu, sebuah jurang yang sangat tinggi dan tidak terlihat dasarnya.

"Apakah kamu punya keberanian menuruni jurang ini?" tanya Ki Samban kepada Supo Mandagri.

"Perlu sebuah sayap untuk terjun ke jurang ini," jawab Supo Mandagri yang tidak melihat alat apa pun untuk dapat menuruni jurang terjal itu.

Ki Samban tersenyum mendengar jawaban Supo Mandagri yang tampaknya tidak memiliki rasa takut sedikit pun berdiri di atas jurang terjal tersebut. Namun, tiba-tiba Supo Mandagri melihat Ki Samban bersuit panjang hingga tiga kali.

"Ternyata ada sebuah gua yang terhalang rerimbunan," gumam Supo Mandagri dalam hati saat melihat seseorang keluar dari sebuah gua yang tertutup semak belukar.

"Selamat datang, Ki Samban," sapa orang itu sambil membawa sebuah tangga yang terbuat dari tali-temali dengan batang rotan sebagai anak tangganya. Orang itu segera mengikat ujung tali tangga tersebut ke sebuah batu cadas.

"Tidak perlu sayap untuk menuruni jurang ini," ujar Ki Samban sambil mengajak Supo Mandagri menuruni jurang itu menggunakan tangga yang sudah disiapkan.

Ketika melihat Ki Samban menuruni jurang, Supo Mandagri tanpa rasa takut sedikit pun langsung mengikutinya, menuruni jurang yang amat dalam itu.

"Pantas Tumenggung Mahesa Semu tidak dapat menemukan tempat persembunyian mereka," batin Supo Mandagri ketika kakinya telah menginjak tanah di dasar jurang.

Kembali Ki Samban bersuit tiga kali, hingga tangga itu ditarik kembali ke atas. "Seperti itulah cara memanggil penjaga tangga itu," pikir Supo Mandagri. Ternyata, tidak jauh dari tempat mereka mendarat, terdapat sebuah tanah lapang yang cukup luas.

"Di sinilah pusat kekuatan baru Ra Kuti itu," batin Supo Mandagri saat melihat tiga barak panjang yang berjajar menghadap ke arah tanah lapang tersebut. Di dalam barak-barak itu, terlihat banyak sekali prajurit yang tengah beristirahat.

Ki Samban kemudian membawa Supo Mandagri ke sebuah gubuk yang terpisah dari barak prajurit. Ternyata, itu adalah tempat pertukangan pandai besi yang dilengkapi dengan dapur perapian.

"Sepekan yang lalu seorang pandai besi kami sakit keras dan mati. Kami akan membayar penuh setelah kamu dapat menyiapkan semua pesanan kami," kata Ki Samban kepada Supo Mandagri.

"Barang jenis apa yang akan kubuat?" tanya Supo Mandagri.

"Tiga ribu mata anak panah," jawab Ki Samban.

"Apakah aku boleh meminta seorang pembantu?"

"Aku akan memberimu dua orang pembantu," sahut Ki Samban.

"Terima kasih telah memberiku pekerjaan," ucap Supo Mandagri.

"Sekarang beristirahatlah, besok pagi kamu sudah mulai bekerja," perintah Ki Samban sebelum meninggalkan gubuk itu.

Supo Mandagri berbaring di sebuah bale bambu di dalam gubuk, sambil terus berpikir bagaimana caranya untuk dapat keluar dari tempat itu. Sementara itu, malam mulai merambati seisi tanah lapang di dasar jurang yang sangat dalam tersebut—sebuah pusat kekuatan baru yang telah lama dibangun oleh Ra Kuti demi cita-citanya menjadi seorang raja di Kerajaan Majapahit.

"Ternyata kecurigaan Tumenggung Mahesa Semu terhadap Ra Kuti selama ini terbukti. Begitu busuk hati orang itu, tidak menghargai Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang telah menobatkannya sebagai salah satu pejabat Dharmaputra," batin Supo Mandagri yang masih belum dapat memejamkan mata.

Namun, akhirnya pemuda itu tertidur juga. Pagi harinya, Supo Mandagri terbangun termangu-mangu.

"Aku membawakan ransum pagimu," kata seorang prajurit yang datang ke gubuknya sambil membawa baki berisi makanan dan minuman.

"Terima kasih," jawab Supo Mandagri.

"Makanlah yang banyak agar kamu tidak sakit seperti orang sebelummu," ujar prajurit itu.

Sementara itu, di istana Majapahit, berita tentang kekalahan pasukan Majapahit di bumi Lamajang sudah sampai di telinga Mahapatih Dyah Halayuda dan Ra Kuti. Di luar dugaan siapa pun, kekalahan pasukan Majapahit ternyata sudah diperhitungkan dan menjadi bagian dari rencana mereka.

"Dengan berita kekalahan pasukan Majapahit ini, tentunya akan memicu kemarahan besar pada diri Raja Jayanegara," ujar Ra Kuti penuh kegembiraan.

"Raja Jayanegara akan menurunkan pasukan lebih besar lagi," sambung Mahapatih Dyah Halayuda.

"Kita akan meminta Raja Jayanegara untuk menurunkan kesatuan pasukan yang masih setia kepada kerajaan, sehingga di istana Majapahit hanya ada orang-orang dungu yang setia kepada kita," lanjut Ra Kuti.

"Dan kita dapat menguasai kerajaan Majapahit ini, lalu membunuh raja lemah itu dengan mudah," ujar Mahapatih Dyah Halayuda.

"Sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui," kata Mahapatih Dyah Halayuda dengan penuh kebanggaan membayangkan rencananya akan menjadi kenyataan.

"Dua sasaran dapat kita hancurkan sekaligus: para pemberontak Empu Nambi dan kesatuan pasukan Jala Rananggana yang sangat setia pada kerajaan," kata Ra Kuti.

"Aku akan meminta kepada Raja Jayanegara agar diriku sendiri yang menjadi senapati pasukan besar itu," tutur Mahapatih Dyah Halayuda.

"Aku yakin, Mahapatih akan pulang dengan kemenangan besar," kata Ra Kuti.

"Aku juga yakin bahwa pasukanmu akan dengan mudah menguasai istana Majapahit ini," balas Mahapatih Dyah Halayuda sambil tertawa.

"Ada berita gembira lainnya, bahwa Tumenggung Jala Pati dan seluruh pasukannya telah berada di belakangku, mendukung penuh rencana kita," ujar Ra Kuti.

"Sungguh berita gembira. Yang akan kita hadapi nanti hanyalah kesatuan khusus pimpinan Tumenggung Jala Yudha yang berada di benteng Tanah Ujung Galuh," ujar Mahapatih Dyah Halayuda.

Demikianlah mereka mempercakapkan rencana busuk tersebut. Kegembiraan yang berlebihan membuat mereka tidak menyadari bahwa di balik pintu, seorang prajurit pengawal istana mendengarkan semua pembicaraan itu. Prajurit yang ditugaskan di Bale Kepatihan itu berdebar-debar mendengar rencana dari dua orang pejabat yang sangat dihormati di istana Majapahit tersebut.

Kabut pekat perlahan menyelimuti langit di atas istana Majapahit. Suara deru angin berputar-putar seolah mengintai mangsanya di sekitar Kotaraja Majapahit. Perlahan, warna senja menghilang ditelan kegelapan malam.

"Angin bertiup terlalu kencang menerbangkan awan hujan," kata Gajah Mada kepada ibundanya di pasanggrahan di Tanah Ujung Galuh.

"Belum kamu dapatkan kabar tentang Supo Mandagri?" tanya Nyi Nariratih kepada putranya.

"Seorang pedagang di Tanah Ujung Galuh mengabarkan kepadaku bahwa ia telah membeli sebuah keris milik Supo Mandagri dari dua orang begundal pasar," ujar Gajah Mada.

"Keris Supo Mandagri direbut dua orang begundal pasar?" tanya Nyi Nariratih.

"Aku sudah berhasil menemui kedua begundal itu dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi," kata Gajah Mada.

"Apa yang sebenarnya terjadi atas diri anak itu?" tanya Nyi Nariratih penuh kekhawatiran.

Gajah Mada menceritakan apa yang diketahuinya secara singkat. "Nampaknya itulah hari terakhir Supo Mandagri berada di sekitar Kotaraja Majapahit."

Pembicaraan mereka terhenti saat terdengar ketukan pintu. Sudah beberapa hari ini mereka selalu bertemu di malam hari untuk membahas perkembangan kemelut di istana Majapahit.

"Kabut di atas istana Majapahit sudah begitu pekat," ujar Gajah Mada, menceritakan rencana busuk Dyah Halayuda dan Ra Kuti yang didapatkan dari seorang prajurit pengawal istana.

"Masalah besarnya adalah bagaimana memberikan kesadaran kepada Raja Jayanegara bahwa dirinya saat ini berada dalam cengkeraman dua serigala jahat," kata Tumenggung Mahesa Semu.

"Biarlah Raja Jayanegara akan terbuka mata hatinya di akhir permainan ini," jawab Gajah Mada.

"Jelaskan kepada kami permainan apa yang ada dalam kepalamu, wahai Gajah Mada," pinta Tumenggung Mahesa Semu.

"Duri penghalang terbesar bagi Dyah Halayuda dan Ra Kuti saat ini adalah Empu Nambi. Menurut mereka, Empu Nambi dan para pendukungnya yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa adalah saingan terbesar mereka yang dapat merebut takhta Kerajaan Majapahit ini," jelas Gajah Mada.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment