Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 200

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 200

"Apakah kamu orangnya Ki Sadeng?" tanya juragan muda itu kembali dengan sikap dan gaya yang sama.

"Kami memang kawanan Ki Sadeng," jawab lelaki itu sambil membusungkan dadanya.

Tiba-tiba saja juragan muda itu tertawa panjang, terdengar sangat menjengkelkan.

"Bila kalian benar kawanan Duta Mangkara, aku akan menyerahkan kepalaku kepadamu. Ternyata kamu adalah kawanan Ki Sadeng, maka akulah yang akan mengambil kepalamu," ujar juragan muda itu sambil meloloskan pedangnya.

"Mengapa kamu ingin menyerahkan kepalamu bila kami dari kawanan Duta Mangkara?" tanya lelaki itu yang tidak mengerti maksud juragan muda tersebut.

"Karena yang kutahu, para kawanan Duta Mangkara tidak pernah membunuh siapa pun," kata juragan muda itu penuh senyum.

"Jadi hari ini kamu akan mengambil kepalaku?" sahut lelaki itu kembali dengan suara dingin, tanpa perasaan, dan penuh keberanian.

"Benar, karena kamu adalah kawanan Ki Sadeng," tegas juragan muda itu.

"Baiklah, aku akan mempertaruhkan kepalaku dengan barang yang kamu bawa di pedati itu," tantang lelaki itu.

"Ternyata di hutan ini kutemui seorang perampok yang jantan, yang mau bertempur satu lawan satu tanpa melibatkan siapa pun," puji juragan muda itu.

Mendengar perkataan anak muda itu, kening lelaki tersebut berkerut. Ia diam-diam menangkap kecerdikan anak muda di hadapannya yang mencoba menjebaknya dalam pertempuran satu lawan satu.

"Dengar, bukan aku yang meminta pertempuran satu lawan satu. Di kepalamu pasti tengah berhitung jumlah orangmu dan jumlah orang yang bersamaku. Kamu berpikir bahwa hanya dengan melawanku seorang, kamu dapat mengalahkanku. Kuterima tantanganmu," ucap lelaki itu dengan wajah tenang.

Terlihat anak muda yang berpakaian layaknya seorang juragan itu menyunggingkan senyum karena akal-akalannya untuk menciptakan pertempuran satu lawan satu telah diketahui.

Siapakah gerangan anak muda yang berpakaian layaknya seorang juragan itu? Tidak mudah memang menyingkap identitas asli anak muda bersama ketujuh pengiringnya itu tanpa ketelitian. Terutama jika memperhatikan sarung pedang serta timang yang dipakai oleh ketujuh orang tersebut; mereka tidak lain adalah para prajurit Majapahit yang tengah menyamar.

Anak muda itu adalah pemimpin pasukan prajurit Majapahit yang baru kemarin sore tiba di pelabuhan Banyuwangi, yaitu Tumenggung Adityawarman. Ia adalah seorang pemuda pilih tanding, putra Patih Mahesa Amping yang pernah dikenal sebagai manusia setengah dewa, yang telah memperistri seorang putri dari tanah Melayu bernama Putri Dara Jingga.

"Aku sudah meloloskan senjataku, mana senjatamu?" kata Tumenggung Adityawarman sambil melangkah ke tempat terbuka.

Lelaki itu dengan tenang ikut melangkah ke tempat terbuka sambil mengambil sesuatu yang tergantung di balik pundaknya, yang ternyata sebuah senjata cakra. Tampaknya, semua orang yang bersamanya memang tidak terlihat membawa senjata karena telah menggantung cakra di punggung masing-masing.

Tumenggung Adityawarman menatap tajam cakra di tangan lelaki itu, mengingatkannya kepada seseorang yang sangat ahli memainkannya, yakni Empu Nambi, pemimpin utama perguruan Teratai Putih yang tersebar di Jawadwipa dan Balidwipa.

"Aku sudah siap," ujar lelaki itu dengan sikap kokoh dan penuh percaya diri.

"Baik, aku yang akan menyerangmu," kata Tumenggung Adityawarman sambil menerjang dan menusuk ke arah tubuh lawannya.

Luar biasa gerakan lelaki itu; ia sangat cepat menghindar dan langsung membalas dengan serangan yang diiringi deru angin pukulan senjata cakranya. Namun, Adityawarman bukanlah anak muda biasa; ia telah ditempa oleh ayahnya sendiri, Patih Mahesa Amping. Maka, serangan dari lelaki bersenjata cakra itu dapat dengan mudah ia tangkis dan ia pun membalas dengan tidak kalah gencar.

Ternyata lelaki yang memiliki sorot mata tajam pertanda ilmu inti sejati yang tinggi itu juga mulai memperlihatkan jati dirinya; ia adalah seorang yang mumpuni dan mampu mengimbangi tataran kemampuan Tumenggung Adityawarman.

Puluhan gerak laku berlalu tak terasa. Semakin lama, gerak serangan keduanya terlihat semakin cepat dan berbahaya. Kadang kilatan cahaya terlihat berputar-putar, kadang melesat terbang mengejar ke mana pun lawannya bergerak. Lelaki itu adalah ahli senjata cakra yang hebat; ia tidak hanya menangkis kilatan pedang yang tajam, tetapi juga mampu menjadikannya alat penyerang yang menakutkan karena cakranya dapat diputar dengan sangat cepat hingga menghasilkan suara deru yang mengerikan.

Keduanya telah ahli dalam menghadapi serangan senjata lawan masing-masing. Ratusan gerak laku kanuragan berlalu. Gerak langkah mereka kian cepat hingga terlihat seperti dua bayangan yang saling mengejar. Berulang kali terdengar suara denting senjata yang saling beradu, memekakkan telinga orang-orang yang menyaksikan pertempuran menegangkan itu.

Hingga akhirnya, entah dari mana datangnya, sebuah kabut tipis menyelimuti kedua petarung tersebut dan kian lama kian tebal menutupi pandangan. Keduanya pun meloncat keluar dari wilayah kabut itu.

"Kakang Kepakisan, kamu tidak akan dapat menundukkan putra terkasih Patih Mahesa Amping," terdengar suara yang bergema dari empat penjuru mata angin.

"Sungguh sangat beruntung telah merasakan dahsyatnya ilmu pedang sang patih dari Kediri yang sangat terkenal itu," ucap lelaki itu dengan senyum penuh persahabatan.

Tumenggung Adityawarman membalas senyum lelaki itu, juga kepada seorang pemuda di belakangnya yang tampak tampan dengan rambut hitam ikal terurai tanpa ikat kepala serta dada bidang yang telanjang.

"Hari ini aku seperti melihat kembali Empu Nambi dan Patih Mahesa Amping berlatih," kata pemuda tampan di belakang orang yang dipanggil Kakang Kepakisan itu.

Sambil tersenyum, Tumenggung Adityawarman berkata kepada anak muda itu, "Ternyata tidak susah memancing seorang Duta Mangkara keluar dari sarangnya," ujarnya kepada Patih Gajahmada.

"Perkenalkan sahabatku di hutan ini, namanya Kakang Kepakisan, seorang guru suci dari sebuah padepokan perguruan Teratai Putih di lereng Gunung Wilis," ujar Patih Gajahmada memperkenalkan sahabatnya.

"Pantas, aku seperti menghadapi terjangan Empu Nambi," kata Tumenggung Adityawarman penuh senyum.

"Mari ikut ke sarang kami," ajak Patih Gajahmada kepada Tumenggung Adityawarman.

"Tetaplah kamu berjalan ke depan, sementara kami akan berpencar," instruksi Patih Gajahmada kepada pasukannya. Selesai bicara, ia bersuit panjang sebagai isyarat bagi para pengikutnya untuk berpencar dan menghilang.

"Kami berpencar untuk meyakinkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengikuti perjalanan kita. Dengan cara seperti ini, hingga saat ini tidak ada satu pun orang yang dapat menemukan sarang kami," jelas Patih Gajahmada.

"Rangga Seta putra Kakang Putu Risang?" tanya Tumenggung Adityawarman.

"Setelah rampung tugas di hutan ini, aku akan mencari keluarganya di Balidwipa," jawab Patih Gajahmada.

Akhirnya, pembicaraan mereka berlanjut tentang kedatangan Tumenggung Adityawarman bersama pasukannya di wilayah tak bertuan itu, yakni untuk menahan pasukan Majapahit yang dipimpin oleh Kuda Jenar, sesuai dengan tugas yang diamanatkan oleh Mahapatih Arya Tadah.

"Aku belum dapat membaca apa yang diinginkan Raden Kudamerta dengan mengirim Kuda Jenar ke wilayah tak bertuan ini. Sepengetahuanku, Ki Sadeng adalah paman dari Kuda Jenar," ujar Patih Gajahmada.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment