Chapter 159
Cambuk pendek Gajah Mada berhasil menggetarkan ujung pedang lelaki itu yang nyaris melukai seorang prajuritnya. Lelaki itu menatap tajam ke arah Gajah Mada, seseorang yang telah menggetarkan ujung pedangnya dan mengguncang telapak tangannya.
"Sungguh tidak menyangka bertemu dengan seekor anjing setia," ucap lelaki itu dengan pandangan penuh kebencian yang amat dalam.
Gajah Mada tidak terpancing amarah mendengar perkataan lelaki itu. Ia membalasnya dengan tatapan mata yang sangat tajam, seperti kilatan cahaya pedang yang menyambar-nyambar dan mengguncang perasaan lelaki itu.
"Lebih baik menjadi seekor anjing yang setia daripada harus menjadi anjing yang tidak mengenal balas budi tuannya. Baginda Raja Sanggrama telah mengangkat harkat kehormatanmu menjadi salah seorang anggota Dharmaputra, namun kamu membalas susu dengan racun, membalas kebaikan dengan kejahatan," ujar Gajah Mada kepada lelaki itu yang tidak lain adalah Ra Kuti.
"Mengapa tidak berpikir untuk setia kepadaku? Aku akan memberikan jabatan tertinggi di istana ini. Berpikirlah, wahai kepala pasukan Bhayangkara," bujuk Ra Kuti dengan kata-kata manis.
"Kesetiaanku tidak bisa dibeli oleh apa pun; kesetiaanku adalah harga diriku yang paling tinggi. Dan aku bukan pemimpi seperti dirimu," jawab Gajah Mada kepada Ra Kuti dengan tatapan yang masih amat tajam.
"Ternyata aku berhadapan dengan seekor anjing paling bodoh yang pernah kutemui," maki Ra Kuti sambil menggenggam pedangnya kuat-kuat, bersiap untuk mencincang anak muda di hadapannya yang kukuh tidak bisa dibujuk dengan apa pun.
"Aku akan menghentikan mimpimu itu," kata Gajah Mada dengan tenang sambil berdiri tegak, membiarkan ujung cambuknya berjurai menyentuh bumi.
"Bersiaplah untuk mati!" terjang Ra Kuti ke arah Gajah Mada.
Namun, Gajah Mada seolah dapat membaca ke mana arah serangan Ra Kuti yang ganas itu. Dengan mudah, ia berkelit dan langsung membalas serangan lewat ujung cambuknya yang meluncur cepat ke arah tubuh Ra Kuti. Ra Kuti terkesiap menerima serangan balasan dari anak muda itu yang datang dari arah tak terduga, mengancam batok kepalanya. Pedang Ra Kuti bergerak mencoba memotong tali cambuk Gajah Mada yang masih bergerak. Bukan main terperanjatnya Ra Kuti melihat cambuk Gajah Mada tiba-tiba berubah arah ke arah pinggangnya. Tidak ada cara lain bagi Ra Kuti selain melemparkan diri dan berguling di tanah kotor.
Gajah Mada tidak mengejarnya; ia hanya berdiri tegak memberi kesempatan Ra Kuti untuk berdiri kembali. Pejabat anggota Dharmaputra itu merasa terhina karena harus jatuh berguling di tanah kotor saat menghadapi seorang kepala pasukan Bhayangkara. Ra Kuti kembali melakukan serangan dengan segenap kemampuan yang dimilikinya.
"Pedangku akan membunuhmu!" seru Ra Kuti dengan kemarahan yang meluap-luap.
Daya serang Ra Kuti luar biasa. Pedang di tangannya bergulung-gulung mengejar ke mana pun Gajah Mada bergerak, seperti ombak pasang di pantai atau angin prahara. Namun, tidak mudah melumpuhkan Gajah Mada yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang hampir sempurna. Semakin cepat Ra Kuti bergerak, semakin cepat pula gerakan Gajah Mada berkelit keluar dari sergapan lawan. Sebenarnya Gajah Mada bisa saja melakukan serangan balasan, namun ia membiarkan dirinya menjadi bulan-bulanan Ra Kuti, membiarkan pembesar istana itu melampiaskan amarah dan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Hingga akhirnya, Gajah Mada bosan dengan permainannya sendiri. Ia tidak hanya berkelit, tetapi juga melakukan serangan balasan yang cepat dan tak terduga. Beruntung, ujung cambuk Gajah Mada tidak tertuju ke bagian tubuh Ra Kuti, melainkan ke arah pedang di tangannya.
"Ting!"
Ujung cambuk Gajah Mada membentur pedang Ra Kuti, menggetarkan senjata itu dan merambat menyengat telapak tangannya. Ra Kuti tidak mampu menggenggam pedangnya, merasakan telapak tangan seperti tersengat panas. Pedang itu terlepas dari genggamannya dan jatuh di bawah kaki Gajah Mada. Ra Kuti berdiri mematung, seperti orang tersihir, tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Ia hanya tertegun saat Gajah Mada menunduk dan memungut pedang miliknya. Darah Ra Kuti berdesir manakala Gajah Mada melempar pedang itu hingga menancap tepat dua jari dari kakinya.
"Ambil pedangmu dan genggam lebih kuat lagi," ujar Gajah Mada dengan tatapan mata yang menyambar-nyambar.
Ketinggian hati Ra Kuti membuat dirinya tidak mampu mengukur tingkat kemampuan lawan; ia menganggap apa yang terjadi hanyalah keberuntungan Gajah Mada semata.
"Tidak akan terjadi dua kali keberuntungan untukmu," ucap Ra Kuti yang telah menggenggam kembali pedangnya.
Ra Kuti berdiri dengan kuda-kuda yang kuat seperti menghunjam bumi. Pedang di tangannya bergerak membelah udara kosong membentuk setengah lingkaran. Gerakan yang dilakukan oleh Adityawarman ternyata menimbulkan hawa sakti yang kuat, sebuah serangan tak terlihat yang mendorong kilatan sambaran cahaya trisula hingga berbalik arah menuju pemiliknya sendiri, Ikal-Ikalan Bang.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat, hingga Ikal-Ikalan Bang tidak sempat menyingkir. Ia berdiri mematung dengan mata terbelalak lebar. Tak seorang pun menyadari bahwa Ikal-Ikalan Bang saat itu sudah tak bernyawa lagi karena kilatan cahaya trisula ilmu andalannya telah memakan tuannya sendiri dengan jantung yang terbakar hangus. Orang-orang baru menyadari kematiannya saat tubuh gempal itu ambruk ke bumi. Seketika itu juga terdengar sorak-sorai prajurit Gajah Mada.
Sorak-sorai kemenangan itu menyusutkan semangat pasukan Ikal-Ikalan Bang, membuat mereka seperti anak ayam kehilangan induknya. Sebaliknya, berita kematian Ikal-Ikalan Bang melipatgandakan semangat pasukan Gajah Mada. Lain halnya dengan Ra Kuti, kematian Ikal-Ikalan Bang justru memacu kemarahannya. Daya tempur Ra Kuti tampak lebih dahsyat, serangan-serangannya bergelora layaknya kemurkaan ombak pasang di tengah badai.
Namun, Gajah Mada bukanlah perahu sampan biasa. Ia adalah pelaut ulung yang terlahir dan besar di tengah badai, terbiasa menaklukkan raja badai yang paling kuat sekali pun. Di tengah deru serangan Ra Kuti, Gajah Mada tetap tenang berkelit, mengikuti alur gerakan lawan layaknya pelaut menaklukkan ombak. Hingga akhirnya, dalam sebuah serangan, lecutan cambuk pendek Gajah Mada yang dikerahkan dengan sepertiga tenaga inti sejatinya mengenai tepat di atas tumit kaki Ra Kuti. Lecutan yang penuh perhitungan itu telak mengenai urat syaraf kelumpuhan.
Ra Kuti berguling-guling di tanah, merasakan sakit yang amat sangat. Sebelah kakinya mati rasa dan hampir tak dapat digerakkan. Gajah Mada tidak mengejar Ra Kuti yang sedang merangkak mendekati pedangnya. Ia hanya berjalan perlahan mendahului Ra Kuti ke arah senjata yang tergeletak itu.
"Bunuhlah aku! Hancurkan batok kepalaku, wahai anjing bodoh yang setia," teriak Ra Kuti dengan wajah penuh debu dan mata yang berkobar murka.
"Cambukku akan kotor bernoda darah hinamu. Biarlah Raja Jayanagara yang berhak memilih cara kematianmu," jawab Gajah Mada dengan pandangan tajam yang menusuk dada dan perasaan Ra Kuti.
Tidak ada niatan di hati Gajah Mada untuk menggerakkan cambuknya ke tubuh lawan yang sudah tak berdaya. Ia memanggil salah seorang prajuritnya untuk mengikat Ra Kuti agar tidak dapat melarikan diri. Gajah Mada menyapu pandangannya ke seluruh medan pertempuran, melihat pasukannya berhasil menguasai keadaan.
"Gelegar!"
Terdengar lecutan cambuk pendek Gajah Mada seperti guntur yang membelah udara.