Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 59

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 59

Wanita itu bercerita, dan apa yang didengar oleh Gajahmada serta Supo Mandagri sama persis dengan yang diceritakan oleh Nyi Rangga Nariratih sebelumnya.

"Apakah kamu tahu rahasia apa yang diketahui oleh suamimu itu?" tanya Gajahmada kepada wanita tersebut.

"Suamiku tidak bercerita apa pun kepadaku. Ia hanya mengatakan akan segera menyampaikan langsung sebuah rahasia besar kepada Tumenggung Lembu Weleng," jawab wanita itu.

"Apakah suamimu mempunyai seorang sahabat dekat di kesatuannya?" tanya Gajahmada lagi.

"Sahabatnya itulah yang telah mengabarkan bahwa nyawa suamiku terancam," kata wanita itu sambil menyebut sebuah nama.

"Baiklah, hari ini juga kami akan menemui sahabat suamimu itu," ujar Gajahmada.

"Bersabarlah Sukemi, semoga kita dapat melewati cobaan ini," kata Nyi Rangga Nariratih kepada anak buahnya itu.

"Terima kasih atas perhatian Nyi Rangga kepada kami," sahut wanita prajurit itu sambil berpamitan.

Setelah wanita itu meninggalkan ruang perwira pasukan khusus, Gajahmada dan Supo Mandagri pun turut berpamitan.

"Berhati-hatilah kalian, yang kalian hadapi ini adalah seorang pembesar istana," nasihat Nyi Rangga Nariratih kepada Gajahmada dan Supo Mandagri yang hendak mencari keberadaan suami anak buahnya yang bersembunyi karena jiwanya terancam akibat menyimpan rahasia penting.

Sebagai pemimpin pasukan khusus Bhayangkara, tidaklah sulit bagi Gajahmada untuk mencari nama prajurit dari kesatuan telik sandi yang disebutkan sebagai sahabat dekat suami prajurit tersebut.

"Danta saat ini berada di rumah orang tuanya di Padukuhan Sempur karena sedang menyiapkan rencana perkawinan adiknya," ujar seorang prajurit yang mengenal orang yang dicari oleh Gajahmada itu.

Setelah menemui beberapa anak buahnya di kesatuan Bhayangkara untuk mewakilinya dalam tugas yang sangat penting, Gajahmada dan Supo Mandagri segera berjalan menuju Padukuhan Sempur yang tidak begitu jauh dari Kotaraja Majapahit.

Langit masih terang saat matahari baru saja beranjak dari ufuk sore ketika Gajahmada dan Supo Mandagri memasuki wilayah Padukuhan Sempur. Sangat mudah bagi mereka untuk mencari pria bernama Danta itu, karena hampir semua warga mengenalnya sebagai seorang prajurit Majapahit. Ternyata keluarga Danta sedang mengadakan hajatan, terlihat beberapa orang tengah membangun sebuah tajuk di halaman rumahnya.

"Sungguh sebuah kehormatan besar mendapat kunjungan dari tuan pemimpin pasukan Bhayangkara," kata seorang pemuda berdada bidang yang nampaknya sudah mengenal Gajahmada. Dialah Danta.

Mereka bertiga duduk di pendapa rumah Danta. Gajahmada tidak langsung menyampaikan tujuannya, melainkan mengawalinya dengan pembicaraan ringan. Namun, ketika Danta mendesak menanyakan keperluan Gajahmada, ia pun mengutarakan maksudnya yang sebenarnya.

"Aku datang untuk menanyakan perihal Sumijan, kawanmu," ujar Gajahmada.

Danta tidak langsung menjawab; ia tampak berpikir tentang baik dan buruknya menyampaikan hal yang sebenarnya. Namun, rasa kesetiakawanan muncul karena ia ingin membantu Sumijan. Ditambah lagi, di hadapannya berdiri seorang pemimpin pasukan Bhayangkara yang sangat dipercaya oleh Sri Baginda Raja Majapahit.

"Hamba sendiri yang telah menyampaikan kepada Sumijan bahwa jiwanya terancam," ujar Danta setelah berpikir cukup lama.

"Siapa gerangan yang akan mengancam keselamatan dirinya?" tanya Gajahmada.

Kembali Danta terdiam, bimbang untuk mengatakan yang sebenarnya. Gajahmada memaklumi hal itu.

"Janganlah kamu merasa takut untuk menceritakan hal yang sebenarnya kepadaku. Aku akan menjamin seutuhnya keselamatan dirimu dan keluargamu," kata Gajahmada meyakinkan Danta.

Mendengar janji Gajahmada, Danta menarik napas panjang untuk menguatkan hatinya. "Tumenggung Lembu Weleng sendiri yang telah berencana menghabisi nyawa Sumijan," ungkap Danta dengan suara bergetar.

"Apakah Sumijan sempat bercerita kepadamu tentang berita yang telah ia sampaikan kepada Tumenggung Lembu Weleng?" tanya Gajahmada.

"Sebelum pergi menghilang, Sumijan telah menyampaikan berita itu kepada hamba," jawab Danta.

"Percayalah kepadaku, aku akan menyelesaikan permasalahan kawanmu itu hingga tuntas. Ceritakanlah kepada kami apa yang telah kamu dengar dari Sumijan," pinta Gajahmada.

Danta mulai menaruh kepercayaan kepada Gajahmada, seorang yang memiliki wewenang tinggi dan dekat dengan Sri Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Sumijan mendapatkan tugas ke Kotaraja Kediri. Namun, saat dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan tugasnya, ia melihat sesuatu yang mencurigakan di Hutan Kemiri. Jiwa keprajuritannya sebagai petugas telik sandi mendorongnya untuk menyelidiki para penghuni hutan itu. Sumijan sangat terkejut saat mengetahui bahwa penghuni Hutan Kemiri adalah kekuatan yang sengaja disiapkan untuk membunuh seorang pembesar dari istana Kediri yang dipastikan akan melewati hutan tersebut dalam waktu dekat," papar Danta dengan penuh keyakinan.

"Kepercayaan dan keberanianmu menjelaskan berita ini sungguh aku hargai. Kerajaan Majapahit berhutang budi kepadamu," kata Gajahmada.

"Semua hamba lakukan demi rasa setia kepada Sumijan, juga kepercayaan hamba kepada tuanku," balas Danta.

Gajahmada dan Supo Mandagri segera berpamitan karena telah mendapatkan penjelasan yang cukup gamblang mengenai persoalan Sumijan. "Aku akan menyempatkan diri datang di hari perkawinan adikmu," janji Gajahmada sebelum meninggalkan pendapa.

Dalam perjalanan kembali ke Kotaraja Majapahit, Supo Mandagri hanya mengikuti langkah Gajahmada tanpa banyak bertanya, memahami bahwa sahabatnya itu tengah berpikir keras mengungkap persoalan tersebut. Gajahmada sedang mencoba memecahkan siapa sebenarnya pembesar dari Daha yang diincar oleh kekuatan tersebut. Tiba-tiba, ingatannya melayang pada pertemuan dengan Ki Aria Wiraraja di sekitar Hutan Kemiri beberapa waktu lalu.

"Apakah Ki Aria Wiraraja berada di balik semua ini?" tanya Gajahmada dalam hati.

Sesampainya di istana Majapahit saat hari mulai senja, Gajahmada berkata kepada Supo Mandagri, "Kembalilah ke pasanggrahanku sendiri. Aku akan menghadap langsung Baginda Raja Sanggrama Wijaya di pura pasanggrahannya."

Keduanya berpisah di persimpangan jalan istana. Gajahmada segera melangkah menuju pura pasanggrahan. Seorang prajurit Bhayangkara memberitahunya bahwa Sri Baginda Raja sedang bersama Ki Patih Mangkubumi di serambi. Gajahmada bergegas ke sana. Ia mendapati Baginda Raja sedang berbincang dengan Ki Sandikala, yang kemudian mengajaknya untuk bergabung.

"Kebetulan sekali kamu datang, kami tengah membicarakan masalah Hutan Kemiri dan Tumenggung Lembu Weleng," ujar Ki Sandikala.

"Hamba telah menemukan keterkaitan di antara keduanya," kata Gajahmada, lalu menceritakan pengalamannya mulai dari menghilangnya suami prajurit anak buah Nyi Rangga Nariratih hingga kesaksian Danta.

"Siapa gerangan pembesar dari Daha yang akan mereka celakai itu?" tanya Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

"Menurut hamba, Ki Aria Wiraraja berada di balik ini semua," jawab Gajahmada.

"Bagaimana kamu bisa merasa yakin bahwa Ki Aria Wiraraja ada di balik ini semua?" tanya Ki Sandikala.

Gajahmada kemudian menjelaskan tentang pertemuannya dengan Ki Aria Wiraraja di sekitar Hutan Kemiri beberapa waktu yang lalu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment