Chapter 205
"Tuntunlah kami menemukan jalan kesempurnaan itu, wahai orang tua," kata Patih Gajah Mada.
"Aku akan memulainya dengan sebuah kesaksian. Bersaksilah bahwa tiada Tuhan yang disembah selain Allah," kata Ki Sahdatun.
"Allah?" tanya kedua anak muda itu bersamaan.
"Dialah Allah, sembahan kami, Sang Pencipta alam semesta ini, Yang Maha Sempurna, yang tidak pernah mengantuk apalagi tertidur dalam menjaga makhluk-Nya," kata Ki Sahdatun.
Terlihat kedua anak muda itu mengangguk-angguk kecil, pertanda dapat menangkap dan mengerti perkataan Ki Sahdatun.
Terlihat Ki Sahdatun menarik napas dalam-dalam, seolah dapat membaca pikiran dan perasaan kedua anak muda yang begitu penuh kesungguhan untuk memahami ajaran agamanya.
"Bacalah dan perhatikan dirimu sendiri," kata Ki Sahdatun dengan suara yang sangat perlahan.
"Dengan nama Tuhanmu yang menciptakanmu, yang menciptakanmu dari sebongkah tanah," kata Ki Sahdatun kembali.
"Luar biasa! Aku telah melihat-Nya!" kata Patih Gajah Mada tanpa sadar, berucap dengan penuh kegembiraan hati.
"Bacalah dan perhatikan kembali dirimu. Dialah Tuhanmu Yang Maha Pemurah, yang mengajarkan dirimu langsung dengan bahasa yang kamu mengerti, yang mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya," kata Ki Sahdatun, masih dengan suara yang perlahan namun terdengar jelas dan jernih.
"Luar biasa, aku telah menemukan tahap jalan kesempurnaan itu," kata Tumenggung Adityawarman tanpa sadar, berucap dengan penuh kegembiraan hati.
"Segala puji bagi Allah. Tak kusangka orang semuda kalian begitu mudahnya menemukan jalan tahap kesempurnaan itu," kata Ki Sahdatun, tidak kalah gembira dibandingkan dengan kedua anak muda itu.
"Malam ini aku merasa sebagai orang paling beruntung karena mengenal dirimu, wahai orang tua," kata Patih Gajah Mada dengan wajah yang masih berseri-seri.
"Nabi dan rasul kami bernama Muhammad, putra Abdullah dan Siti Aminah, seorang dari keturunan suku Quraisy yang lahir di Tahun Gajah. Beliau pernah bersabda bahwa di akhir zaman akan ada suatu kaum yang tidak mengenalnya, namun kaum itu selalu patuh mengikuti ajarannya. Merekalah kaum yang terbaik dari orang-orang terbaik yang pernah ada di muka bumi ini," kata Ki Sahdatun dengan wajah berseri-seri sambil memandang kedua anak muda itu.
Sementara itu, di perkemahan mereka, hari telah semakin larut malam. Perjalanan mereka hanya tinggal satu hari lagi menuju Kotaraja Majapahit.
"Hari telah larut malam. Beristirahatlah, karena esok hari kita akan melanjutkan perjalanan," kata Ki Sahdatun kepada Patih Gajah Mada dan Tumenggung Adityawarman yang terlihat sudah mulai mengantuk.
"Allah yang membuka dan memulai pembicaraan tentang diri-Nya, Allah jua yang menutup dan mengakhirinya," kata Ki Sahdatun sambil tersenyum memandang kedua anak muda itu.
Awan kelabu terlihat bergerak membuka wajah rembulan, bersama bintang yang menyempurnakan malam. Itulah awal tumbuh dan berkembangnya benih-benih serta cikal bakal tumbuhnya agama Islam di bumi Majapahit.
Beberapa malam setelah berada di Kotaraja Majapahit, ketiganya masih terus mendalami ajaran Islam di bawah tuntunan Ki Sahdatun. Namun, dahaga kedua anak muda itu untuk meneguk manisnya ajaran baru tersebut sementara waktu harus tertahan, manakala Patih Arya Tadah menugaskan Patih Gajah Mada dan Tumenggung Adityawarman menyeberang ke Balidwipa. Tugas ini berkaitan dengan pembangkangan raja penguasa di Balidwipa yang tidak tunduk lagi sebagai daerah bawahan Kerajaan Majapahit.
"Aku akan menunggu kalian kembali," kata Ki Sahdatun pada suatu malam di pasanggrahan Tanah Ujung Galuh, manakala Patih Gajah Mada dan Tumenggung Adityawarman berpamitan bahwa besok mereka berdua akan berangkat ke Balidwipa.
"Aku titip Rangga Seta dan ibuku di pasanggrahan ini," kata Patih Gajah Mada kepada Ki Sahdatun.
Demikianlah, senja itu terlihat dua orang pemuda bersama beberapa orang tengah naik ke sebuah perahu dagang di bandar pelabuhan Tanah Ujung Galuh. Tidak seorang pun menyangka bahwa kedua pemuda itu adalah dua orang pembesar Kerajaan Majapahit yang sangat disegani.
Tumenggung Adityawarman dan Patih Gajah Mada naik ke sebuah perahu dagang yang akan membawa mereka berlayar ke Banyuwangi, tempat mereka hanya tinggal menyeberang sedikit menuju Balidwipa untuk melaksanakan tugas mengamati kekuatan dan kelemahan Kerajaan Bali secara langsung.
"Ke mana tujuan kalian berdua?" tanya seorang saudagar kepada keduanya di atas geladak perahu dagang yang mulai bergerak menjauhi dermaga pelabuhan Tanah Ujung Galuh.
"Kami hendak ke Balidwipa," kata Tumenggung Adityawarman kepada saudagar itu.
"Berarti kita satu tujuan. Perkenalkan, namaku Partaka," kata saudagar itu memperkenalkan dirinya.
"Namaku Arya Damar, dan ini saudaraku bernama Majalangu," kata Tumenggung Adityawarman memperkenalkan dirinya sebagai Arya Damar kepada saudagar itu. Terlihat saudagar yang bernama Partaka itu memperhatikan Arya Damar dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Apakah kamu seorang pejabat kerajaan?" tanya saudagar itu.
"Nama Arya di depan namaku adalah nama pemberian orang tua kami. Mungkin orang tua kami menginginkan diriku menjadi seorang pejabat istana," kata Tumenggung Adityawarman sambil tersenyum memaklumi keheranan saudagar itu.
"Semua orang tua memang berharap banyak dari nama yang diberikannya," kata saudagar itu.
Demikianlah, sejak saat itu, kedua anak muda dalam penyamarannya menggunakan nama Arya Damar dan Majalangu. Ketika tiba di Balidwipa, keduanya langsung menuju ke arah kotaraja kerajaan. Dan berkat bantuan seorang saudagar kenalannya yang bernama Partaka, kedua anak muda itu diterima bekerja di sebuah rumah perajin perak yang sangat terkenal di seluruh pelosok Balidwipa sebagai penghasil barang kerajinan seni perak yang sungguh sangat indah.
"Kakang Partaka datang pada saat yang sangat tepat sekali, aku memang membutuhkan tambahan tenaga kerja," kata pemilik rumah kerajinan perak itu kepada saudagar Partaka.
"Bagus bila memang demikian," kata saudagar Partaka kepada kenalannya itu.
Maka sejak saat itu, kedua anak muda yang menyamarkan diri dengan nama Arya Damar dan Majalangu itu bekerja di rumah kerajinan perak di Kotaraja Bali. Setelah beberapa hari bekerja, pemilik rumah kerajinan perak itu sangat menyukai kedua anak muda tersebut yang menurutnya sangat rajin bekerja, bersikap sopan, serta cepat menyesuaikan diri dengan sesama pekerja maupun para pelanggannya.
Sementara itu, di waktu luang, keduanya masih sempat melakukan pengamatan terhadap keadaan Kotaraja Bali dan sekitarnya. Hingga pada suatu hari, pemilik rumah kerajinan perak itu meminta Arya Damar mengantarkan sebuah barang kepada salah seorang pelanggannya.
"Arya Damar, bukankah tiga hari yang lalu kamu yang mengantar barang ke rumah Ki Pasung Grigis?" tanya pemilik rumah kerajinan itu kepada Arya Damar.
"Benar, Ki Wayan," kata Arya Damar kepada majikannya yang bernama Ki Wayan tersebut.
"Hari ini aku memintamu mengantar barang pesanan milik putri Ki Pasung Grigis," kata Ki Wayan kepada Arya Damar.
Maka setelah menerima beberapa pesan dari Ki Wayan, terlihat Arya Damar keluar dari rumah kerajinan perak itu. Setelah beberapa hari di Kotaraja Bali, Arya Damar tampaknya telah banyak mengetahui seluk-beluk jalan di sekitar Kotaraja Bali. Tidak sukar bagi Arya Damar menemui rumah Ki Pasung Grigis yang cukup besar dan tidak begitu jauh dari Istana Bali.
Ternyata, pemilik rumah itu adalah seorang pejabat tinggi Kerajaan Bali. Ki Pasung Grigis adalah seorang Mahapatih Kerajaan Bali yang sangat disegani. Maka tidak heran bila rumah itu selalu dijaga oleh beberapa orang prajurit. Terlihat seorang prajurit menanyakan keperluan Arya Damar ke rumah itu.
"Aku diminta untuk mengantar barang pesanan milik Nimas Ayu Manik Danda," kata Arya Damar kepada prajurit itu menjelaskan keperluannya datang ke rumah tersebut.
"Langsung saja kamu masuk. Kebetulan Nimas Ayu Manik Danda ada di pendapa," kata prajurit itu kepada Arya Damar.
Terlihat Arya Damar tengah berjalan membelah halaman rumah yang besar itu, dan tidak lama kemudian dirinya telah berada di dekat tangga pendapa. Namun, langkah anak muda itu terhenti di ujung anak tangga pendapa karena di atas pendapa dilihatnya seorang pemuda tengah berselisih paham dengan seorang gadis.
"Katakan saja siapa gerangan yang telah mencuri hatimu hingga kamu berpaling dariku!" kata pemuda itu kepada gadis di hadapannya.
"Tengoklah ke belakang, pemuda itulah yang telah mencuri hatiku," kata gadis itu kepada pemuda di hadapannya.
Seketika itu juga, pemuda itu berpaling ke arah pandangan mata gadis tersebut, di mana dilihatnya Arya Damar tengah berdiri di ujung anak tangga.
"Anak muda gembel, beraninya kamu merebut kekasihku. Kutantang dirimu untuk perang tanding!" kata pemuda itu dengan mata penuh tantangan kepada Arya Damar.
Terkejutlah Arya Damar mendapatkan tantangan yang tiba-tiba itu.
"Mengapa aku yang harus menjadi lawan tandingmu?" tanya Arya Damar penuh rasa heran.
"Manik Danda, lihatlah pemuda pilihanmu itu, tampak ketakutan mendengar tantanganku," kata pemuda itu sambil tertawa kepada gadis yang dipanggilnya Manik Danda.
"Saat ini memang tidak ada seorang pun anak muda yang dapat menandingi ilmumu, namun aku tetap tidak akan memilih dirimu," kata Manik Danda kepada pemuda angkuh itu.
"Dengarlah, kamu sendiri yang telah memilih anak muda ini. Sekarang akan kubuat dirimu menyesali pilihanmu itu!"