Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 153

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 153

Tampaknya Ki Lurah Sanakeling memberikan perintah kepada dua prajurit untuk menggantikan tugasnya di panggungan, memantau keadaan di luar benteng.

"Mari ikut bersamaku," ujar Ki Lurah Sanakeling kepada Gajahmada.

Gajahmada kemudian berjalan mengikuti Ki Lurah Sanakeling menuju ruang kerja Ki Rangga Pitu Jegong.

"Ki Rangga Pitu Jegong, aku membawa seorang penyusup yang mencoba masuk ke benteng kita," lapor Ki Lurah Sanakeling kepada Ki Rangga Pitu Jegong.

"Bagaimana mungkin aku dapat menghukum seorang penguasa puri pasanggrahan Tanah Ujung Galuh yang indah itu? Seorang pemimpin pasukan Bhayangkara yang berilmu tinggi," ucap Ki Rangga Pitu Jegong sambil tersenyum menatap Gajahmada.

"Aku sengaja datang ke benteng ini untuk menyampaikan sebuah pesan dari pemilik keris ini," kata Gajahmada sambil memperlihatkan keris berkepala gurita laut.

Bukan main terkejutnya Ki Rangga Pitu Jegong dan Ki Lurah Sanakeling. Mata mereka terbelalak menatap keris di tangan Gajahmada.

"Apakah Tuan Tumenggung Jala Yudha masih hidup? Di mana beliau saat ini? Bagaimana pula dengan putrinya?" tanya Ki Rangga Pitu Jegong bertubi-tubi.

"Tumenggung Jala Yudha masih hidup dan sehat, begitu pula dengan putrinya. Namun, saat ini aku belum dapat memberitahukan keberadaannya," jawab Gajahmada.

"Aku mengerti mengapa engkau merahasiakannya, karena engkau belum bisa menilai keberpihakan kami dalam kekisruhan yang terjadi di istana dan Kotaraja Majapahit. Aku akan memanggil keempat pejabat Rangga di benteng ini agar mereka turut mendengar pesan dan amanat dari Tumenggung Jala Yudha," ujar Ki Rangga Pitu Jegong.

"Terima kasih atas pengertian Ki Rangga," balas Gajahmada.

Ki Rangga Pitu Jegong kemudian meminta bantuan Ki Lurah Sanakeling untuk memanggil keempat pejabat Rangga lainnya.

"Aku akan segera menemui mereka," ucap Ki Lurah Sanakeling sambil berbalik dan melangkah keluar dari ruang kerja Ki Rangga Pitu Jegong.

Selama kepergian Ki Lurah Sanakeling, Gajahmada dan Ki Rangga Pitu Jegong berbincang ringan sembari menunggu kedatangan para pejabat tersebut. Tak lama kemudian, Ki Lurah Sanakeling kembali bersama empat pejabat Rangga benteng Tanah Ujung Galuh, yakni Ki Rangga Siji Kepeng, Ki Rangga Lara Manuk, Ki Rangga Lor Anabrang, dan Ki Rangga Pangkalima. Wajah mereka tampak tegang setelah mengetahui adanya pesan dari Tumenggung Jala Yudha.

"Maaf Ki Rangga Pitu Jegong, apakah aku masih diperlukan di ruangan ini?" tanya Ki Lurah Sanakeling merasa tidak enak hati.

"Tidak masalah, Ki Lurah. Tetaplah di sini," jawab Ki Rangga Pitu Jegong dengan suara lembut, memahami perasaan bawahannya tersebut.

Setelah itu, suasana mendadak senyap dan mencekam. Semua mata tertuju pada Gajahmada yang diam mematung. Tatapan mereka terpaku pada gerakan tangan Gajahmada yang meraba sesuatu dari balik pakaiannya yang lusuh.

"Keris pusaka Ki Bajrongan!" desis Ki Rangga Siji Kepeng, Ki Rangga Lara Manuk, Ki Rangga Lor Anabrang, dan Ki Rangga Pangkalima serentak.

"Kalian pasti mengenal siapa pemilik keris pusaka ini," ujar Gajahmada sambil memandang satu per satu wajah kelima pejabat Rangga tersebut.

"Pemilik keris ini menyampaikan pesan melalui diriku bahwa ia masih hidup dan tetap menjadi pemimpin tertinggi kesatuan pasukan Jala Yudha. Ia tetap setia kepada penguasa yang sah, putra Raja Sanggrama Wijaya, yaitu Raja Jayanagara," Gajahmada berdiam sejenak, mengamati reaksi mereka.

"Ia juga berpesan bahwa siapa pun yang berpihak lain adalah musuhnya," lanjut Gajahmada dengan tatapan tajam yang seolah menembus isi hati mereka.

Suasana kembali hening. Semua orang menunggu kelanjutan amanat tersebut.

"Pemilik keris ini telah berpesan kepadaku bahwa sejak hari ini, segala perintah dan kendali kesatuan pasukan Jala Yudha berada di bawah pimpinanku," tegas Gajahmada.

Kembali suasana hening mencekam.

"Bagaimana kami dapat meyakini bahwa Tumenggung Jala Yudha masih hidup dan pesan ini benar adanya?" tanya Ki Rangga Pangkalima yang dikenal sebagai pribadi jujur dan teliti.

Mendengar itu, Gajahmada tidak tersinggung. "Aku akan membawa Ki Lurah Sanakeling untuk bertemu langsung dengan pimpinan kalian," ujar Gajahmada.

"Usulan yang sangat cerdas," jawab Ki Rangga Pitu Jegong, yang disambut setuju oleh keempat pejabat Rangga lainnya.

Pada hari itu juga, Gajahmada dan Ki Lurah Sanakeling keluar dari gerbang benteng Tanah Ujung Galuh dengan menyamar menggunakan pakaian lusuh dan caping lebar. Setelah menyeberangi sungai, mereka melanjutkan perjalanan menuju pasar Kotaraja Majapahit dan menemui Ki Bancak.

Di kedai Ki Bancak, Gajahmada menceritakan pertemuan di benteng kepada kawan-kawannya. Setelah mengatur strategi dan memastikan keamanan, Ki Lurah Sanakeling diantar oleh salah satu rekan Gajahmada untuk menjalankan tugasnya.

Malam harinya, Gajahmada dan ketiga kawannya memutuskan untuk bergerak setelah menikmati nasi serundeng dan ikan bakar gurame yang disuguhkan Ki Bancak sambil mendengarkan kisah-kisah perjalanannya. Tepat di tengah malam, mereka pun menyelinap keluar dari kedai untuk melaksanakan tugas berikutnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment