Chapter 38
Di sisi lain, sebagai kekuatan baru yang akan mengancam kekuatan Majapahit.
"Di sisi lain, hal itu akan merusak hubungan antara Patih Mangkubumi dengan rajanya, Sanggrama Wijaya," kata Ki Randu Agung dengan wajah seperti seorang pemikir ulung yang telah mendapatkan sebuah jalan terang.
"Ternyata kakekku belum setua yang kupikirkan, masih dapat berpikir dengan penuh kecemerlangan," kata Randu Mas mengagumi jalan pikiran kakeknya itu.
"Kesabaran, itulah jalan yang akan mengantar kita menghancurkan musuh kita," kata Ki Randu Agung.
"Pengikut aliran Rakyan Kuti dan Rakyan Semi adalah dua aliran terbesar di Lamajang ini. Bagaimana kita dapat memengaruhi mereka?" tanya Randu Mas.
"Kita bangun sebuah aliran lain di luar mereka. Kita buat mereka cemburu seakan-akan Majapahit telah dianakemaskan aliran baru itu," kata Ki Randu Agung menyampaikan buah pikirannya.
"Sebuah cara yang sangat hebat," kata Randu Mas kembali memuji jalan pikiran kakeknya itu.
Sementara itu, hari di atas rumah kediaman Ki Randu Agung telah terlihat mulai redup. Matahari di musim kering itu telah mulai gelisah bersembunyi di balik batang pohon randu tua yang tumbuh di pojok kiri pagar halaman mereka.
"Orang-orang baru pulang dari ladangnya menanam bibit palawija di bulan Kartika ini. Saat yang baik bagi kita untuk menanam benih-benih permusuhan di tanah Majapahit ini. Besok aku akan pergi untuk waktu yang cukup lama ke Tanah Gelang-gelang menemui seorang kenalanku, seorang Brahmana," kata Ki Randu Agung sambil menatap ke luar pagar halaman melihat beberapa petani pulang dari ladangnya.
Bulan Kartika di hari kelima belas.
Pagi itu suasana di tiap perempatan jalan di Kota Raja Majapahit dipenuhi dupa, bunga, dan janur sebagai pertanda bahwa hari itu di istana akan dilaksanakan sebuah upacara besar. Dari setiap padukuhan, tua muda, laki-laki dan wanita terlihat berduyun-duyun keluar, bersatu dan bertemu di jalan utama menjadi sebuah iringan panjang menuju istana Majapahit.
Iring-iringan warga terlihat telah berkumpul tumpah ruah di lapangan alun-alun di muka istana raja. Hampir semua orang mengenakan pakaian serbaputih saat itu, membuat gembira hati Baginda Raja Sanggrama Wijaya yang sudah duduk di atas batu keling untuk menyaksikan jalannya sebuah upacara besar; wisuda penobatan tujuh orang Dharmaputra dan dua orang adipati baru di Bojonegoro dan Banger.
Semua mata terlihat memandang ke muka panggung utama, melihat Patih Mangkubumi dengan suara yang lantang membacakan sebuah kekancingan, menyebut nama tujuh Dharmaputra yang dianugerahi Baginda Raja Sanggrama Wijaya sebagai pejabat istana mewakili tujuh aliran suci di tanah Majapahit Raya.
Semua mata masih memandang ke muka panggung utama, mendengar Patih Mangkubumi membacakan sebuah kekancingan untuk dua orang adipati baru, Buntar Lawe dan Menak Jingga, sebagai perwakilan tangan raja di wilayah Bojonegoro dan Banger.
Hening suasana semua orang manakala seorang pendeta memercikkan air suci sebagai pertanda restu dari para dewa telah memberkati para wisudawan. Semua orang nampaknya dengan penuh suka cita mengikuti jalannya upacara wisuda itu yang diakhiri dengan sebuah perjamuan besar.
"Pada bulan ketiga di tahun ini, kami akan melakukan ziarah ke Tanah Singasari. Kuharap kalian berkenan ikut bersama kami," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Nyi Ajeng Nglirip dan dua orang putrinya di saat perjamuan.
Terlihat Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat memandang ke arah ibunda mereka, seperti tengah menunggu dengan hati penuh pengharapan.
"Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat pasti akan gembira berziarah ke tanah leluhurnya," kata Nyi Ajeng Nglirip kepada suaminya, Raja Sanggrama Wijaya.
Terlihat wajah Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat penuh kegembiraan mendengar jawaban langsung ibundanya itu.
"Jagalah ibunda kalian," bisik Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Dyah Gayatri dan Dyah Wiyat manakala hendak meninggalkan mereka bertiga untuk menemui beberapa orang tamu lainnya yang datang dari berbagai penjuru tanah Majapahit Raya.
Di sudut lain di perjamuan besar itu, terlihat Gajah Mada penuh suka cita bertemu dengan dua orang sahabat lamanya, Raja Muda Jayanagara dan Adityawarman yang datang dari Tanah Kediri bersama Patih Mahesa Amping.
"Ternyata aku punya seorang sepupu," kata Raja Muda Jayanagara kepada Kertawardhana yang diperkenalkan oleh Gajah Mada.
"Kami akan gembira bilamana kalian datang ke Tanah Kediri," kata Adityawarman kepada Gajah Mada dan Kertawardhana.
Sebagai para sahabat lama, mereka pun saling bercerita banyak hal sejak perpisahan mereka yang cukup lama itu. Perjamuan yang melimpah, pertemuan yang menyenangkan, namun harus berakhir dalam sebuah perpisahan.
Semua orang seperti tidak pernah melupakannya. Seluruh warga Majapahit merasa pengukuhan para Dharmaputra sebagai sebuah kepedulian Baginda Raja Sanggrama Wijaya atas kemerdekaan hakiki manusia atas jiwa ketuhanannya. Kemerdekaan beragama, kemerdekaan berkarya. Majapahit sudah seperti sebuah bahtera besar yang siap berlayar mengarungi jagat raya dan berdiri sama tinggi di antara bangsa-bangsa di dunia.
Kemakmuran anak negeri, keamanan di rumah dan di perjalanan telah menjadi pemandangan kehidupan orang Majapahit. Upeti agung setiap tahun datang mengalir dari berbagai penjuru wilayah mengisi perbendaharaan kerajaan Majapahit.
Hingga pada akhir bulan ketiga di tahun itu, ketika para petani sudah memanen palawija dan telah bersiap menanam padi gaga, beberapa mata air mulai berisi, kapuk mulai berbuah, dan burung kecil mulai bertelur serta bersarang. Dalam suasana seperti itulah terlihat sebuah iring-iringan Raja Sanggrama Wijaya telah keluar dari istana Majapahit.
Empat kereta kencana yang indah diiringi sepasukan prajurit berkuda di depan dan di belakangnya membuat semua orang berdiri dan menunggu di depan pagar rumah di setiap padukuhan yang terlewati. Sebagaimana janjinya, Baginda Raja Sanggrama Wijaya telah berkenan untuk berziarah dan tapak tilas ke tanah candi leluhurnya, Bumi Singasari, sebagai tanda bakti dan tanda syukur atas karunia yang melimpah.
Nyi Ajeng Nglirip bersama kedua putrinya berada di salah satu kereta kencana, sementara Gajah Mada dan Kertawardhana berada di antara para pasukan berkuda. Pagi bersama mega-mega putih yang cerah mengiringi rombongan Raja Sanggrama Wijaya yang telah mulai jauh meninggalkan Kota Raja Majapahit, memasuki sebuah bukit dan padang hijau penuh bunga warna-warni seperti wajah dan senyum para gadis perawan, begitu segar dan menyejukkan hati.
Bulan sabit melengkung di awal langit malam. Rombongan penguasa Majapahit itu terlihat tengah memasuki Kademangan Simpang. Gemerlap obor menerangi sepanjang jalan kademangan bersama para warga yang berdiri berjajar penuh suka cita menyambut iring-iringan pasukan berkuda yang berjalan perlahan di belakang empat kereta kencana.
"Selamat datang, anak muda," kata seorang lelaki tua di atas kudanya kepada Gajah Mada.
"Senang bertemu denganmu, wahai Ki Putut Prastawa," kata Gajah Mada yang telah mengenal lelaki itu sebagai seorang pemimpin pasukan Bhayangkara.
"Aku akan membawa rombongan ke tempat kediaman Ki Demang Simpang," kata lelaki tua yang dipanggil sebagai Ki Putut Prastawa itu mengajak Gajah Mada mengikuti dirinya.
Diam-diam Gajah Mada memuji kesiapan para prajurit Bhayangkara yang terlihat berdiri di antara para warga, menjadi pagar hidup yang siap bergerak setiap saat bila terjadi hal yang dapat membahayakan keselamatan junjungan mereka, Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya.
Siapa gerangan Ki Putut Prastawa itu? Dahulu, lelaki tua seusia Patih Mangkubumi itu adalah seorang putut yang sangat setia di Padepokan Empu Nambi di Lamajang. Di awal perjuangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya membangun kerajaan Majapahit, banyak jasa dan pengorbanannya. Itulah sebabnya beliau dipercayakan oleh Baginda Raja Sanggrama Wijaya memimpin pasukan Bhayangkara, sebuah pasukan pengawal istana yang bertugas menyelamatkan dan melindungi Baginda Raja Sanggrama Wijaya beserta keluarganya.
"Patih Mangkubumi banyak bercerita tentang dirimu," kata Ki Putut Prastawa kepada Gajah Mada yang berkuda beriringan di sebelahnya.
"Semoga bukan mengenai keburukanku," kata Gajah Mada sambil tersenyum ke arah Ki Putut Prastawa.
"Patih Mangkubumi telah memuji dirimu yang telah berhasil merintis jalan pasukan Majapahit menuju Tuban," kata Ki Putut Prastawa.
"Patih Mangkubumi terlalu berlebihan, siapa pun dapat melakukannya," kata Gajah Mada.
"Tapi kamu telah melakukannya sebaik dan sesempurna seorang prajurit perwira," kata Ki Putut Prastawa.
"Aku merasa tersanjung mendapat kepercayaan dari Patih Mangkubumi," kata Gajah Mada.
Tidak terasa, ternyata iring-iringan rombongan Raja Majapahit itu telah berada di muka sebuah rumah yang cukup megah dan kokoh. Rumah seorang demang yang telah disiapkan untuk tempat bermalam bagi Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya. Terang benderang cahaya pelita menerangi halaman dan pendapa rumah Ki Demang Simpang. Tergopoh-gopoh beberapa orang menyambut Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya untuk naik ke atas pendapa yang sudah disiapkan.
"Besok pagi Baginda Raja dan keluarganya akan berangkat ke Kota Raja Singasari. Di tengah malam aku akan berangkat mendahului rombongan. Apakah kamu bersedia menjadi teman di perjalananku itu?" tanya Ki Putut Prastawa kepada Gajah Mada.
"Di sini aku tidak terikat oleh apa pun, sementara berada di atas kuda mengiringi kereta kencana yang lambat sangat membosankan," kata Gajah Mada menyetujui permintaan lelaki tua itu untuk menemaninya berkuda di tengah malam mendahului rombongan raja dan keluarganya.
Terlihat raja dan keluarganya satu per satu memasuki pakiwan untuk bersih-bersih dan kembali ke pendapa untuk menikmati perjamuan malam yang telah disiapkan.