Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 07

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 07

"Nama yang bagus," kata Nyi Ajeng Nglirip. Meski begitu banyak pertanyaan bergelayut di benaknya, hanya sampai di ujung lidahnya; takut pertanyaannya akan membuka kembali luka di hati gadis itu.

"Mari ikut bersamaku," kata Nyi Ajeng Nglirip sambil memegang tangan Andini, membantunya berdiri.

Matahari di atas tanah sepi itu terlihat telah bergeser jauh dari puncaknya, sinarnya tidak lagi menyengat.

Andini terlihat telah berjalan bersama Nyi Ajeng Nglirip dan pelayannya.

Sementara itu, pada waktu yang sama, di istana Majapahit baru saja berlangsung upacara penobatan Pangeran Jayanagara menjadi Raja Muda di Kediri.

Hampir dapat dipastikan bahwa upacara penobatan Putra Mahkota Majapahit itu sangatlah meriah.

Semua para tokoh agama terkemuka dan padepokan-padepokan besar di Majapahit telah diundang untuk menghadirinya, termasuk para perwakilan kerajaan yang berada di bawah kedaulatan Majapahit Raya dan para Adipati.

Namun, dari semua yang hadir, hanya perwakilan dari Tuban yang tidak tampak satu pun.

"Apabila Adipati Ranggalawe tidak dapat hadir, tentunya dapat saja mewakilkan seorang utusan," kata salah seorang pejabat istana menanggapi ketidakhadiran Adipati Ranggalawe.

Itulah sebabnya, setelah upacara penobatan itu berakhir, Baginda Raja Sanggrama Wijaya meminta Patih Mahesa Amping bersama Patih Mangkubumi datang ke tempat peristirahatan beliau.

"Tampaknya Adipati Ranggalawe mulai menunjukkan giginya," kata Baginda Raja kepada Patih Mahesa Amping dan Patih Mangkubumi ketika mereka berdua telah hadir di hadapan beliau.

"Dalam waktu dekat ini, kami telah menugaskan seseorang untuk melakukan pengawasan khusus di wilayah Tuban," kata Patih Mangkubumi.

"Siapa orangnya yang mendapat tugas itu?" tanya Baginda Raja.

"Gajahmada, putra angkat Patih Mahesa Amping," kata Patih Mangkubumi.

"Rencananya, besok putraku Gajahmada berangkat ke Tuban, bersamaan dengan keberangkatan kami mengantar Raja Muda Jayanagara ke Kediri," kata Patih Mahesa membenarkan perkataan Patih Mangkubumi.

Baginda Raja Sanggrama Wijaya terdiam memandang kedua sahabatnya yang sangat dipercaya dan juga sangat teliti serta saksama menanggapi setiap permasalahan yang ada.

"Salah seorang sahabat kita, Adipati Ranggalawe, telah memisahkan diri dari persaudaraan kita," kata Baginda Raja sambil memandang kosong ke depan.

Tampaknya, beliau tengah merenungi sebuah perjalanan panjang ke belakang, perjalanan perjuangan merebut kembali takhta singgasana dalam suka dan duka bersama para sahabat setia, di antaranya Adipati Ranggalawe.

"Kita bukan hanya berhadapan dengan Adipati Ranggalawe, di belakangnya ada Adipati Arya Wiraraja," kata Patih Mangkubumi memecah lamunan Baginda Raja.

"Ayah Adipati Ranggalawe adalah seorang yang sangat mumpuni dalam bersiasat, seorang kepercayaan Pahlawan Mahesa Agni pada zaman Singasari di masa kejayaannya," kata Patih Mahesa Amping menambahkan.

"Peperangan harus kita bayar dengan harga yang sangat mahal, hilangnya banyak nyawa, penderitaan, dan rasa ketakutan di akhir setiap peperangan. Juga akan melemahkan Kerajaan Majapahit yang tengah berkembang ini," kata Baginda Raja.

"Kita berusaha untuk menghindarinya, namun kita dengan sangat terpaksa akan membunyikan genderang perang bila ada orang yang dengan sengaja ingin merusak dan mengancam kedaulatan Kerajaan Majapahit ini," kata Patih Mangkubumi dengan penuh semangat.

"Meski orang itu adalah saudara kita sendiri?" tanya Baginda Raja.

"Benar, Tuanku, meski orang itu adalah saudara kita sendiri," kata Patih Mangkubumi penuh dengan ketegasan.

"Aku percaya kepada kalian berdua, selama kalian berdua masih menganggap aku sebagai saudaramu. Kuserahkan segala urusan Adipati Ranggalawe kepada kalian berdua," kata Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Masih banyak lagi yang mereka bertiga rundingkan hingga malam sudah larut.

Akhirnya, Raja Sanggrama Wijaya mengizinkan Patih Mahesa Amping dan Patih Mangkubumi meninggalkannya.

"Kutitipkan putraku, Raja Muda Jayanagara, kepadamu, wahai saudaraku," kata Raja Sanggrama Wijaya kepada Patih Mahesa Amping.

"Aku akan menjaganya sebagaimana aku menjaga keluargaku, wahai saudaraku," kata Patih Mahesa Amping pula sambil tersenyum.

Demikianlah, ketiga sahabat itu berpisah.

Meski hubungan mereka di luar adalah sebagai Raja dengan bawahannya. Namun, ketika bertemu di luar pandangan orang lain, mereka tidak lagi membatasi diri. Tanpa penghormatan dan unggah-ungguh apa pun, mereka berbicara seperti setara, sebagaimana dua sahabat berbicara, dua saudara berbicara.

Pagi itu, langit terlihat begitu cerah mewarnai udara bumi Kotaraja Majapahit ketika sebuah rombongan pasukan berkuda telah mendekati batas gerbang pintu Kotaraja Majapahit.

Rombongan pasukan berkuda itu adalah para prajurit Majapahit yang akan mengantar Raja Muda Jayanagara menuju Kotaraja Kediri.

Tidak lama berselang, terlihat seorang pemuda berpakaian seperti pengembara tengah melangkah berjalan kaki keluar dari gerbang batas Kotaraja Majapahit.

Ternyata, pemuda pengembara itu adalah Gajahmada yang akan melaksanakan tugasnya sebagai teliksandi, mengamati keadaan daerah Tuban dan sekitarnya.

Ketika menemui sebuah persimpangan jalan, terlihat Gajahmada telah mengambil arah jalan ke utara.

Sebuah jalan yang biasa digunakan oleh para pedagang melalui jalur darat menuju ke arah Tuban dan daerah pesisir pantai utara lainnya.

Meski berpakaian selayaknya pengembara, namun Gajahmada bukan pengembara biasa.

Dengan kemampuannya yang tinggi, di beberapa tempat yang sepi, ia telah memperlihatkan kesaktian sejatinya, berlari melesat seperti terbang, bahkan kadang-kadang dengan mudahnya mendaki tebing-tebing tinggi.

Meski begitu, Gajahmada masih tetap memenuhi kebutuhan jasmani sebagaimana manusia biasa.

Sementara menjelang tidur pada waktu malam, Gajahmada masih tetap melaksanakan olah laku rahasia pusaka sang pertapa dari Gunung Wilis yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri, sang pendeta Darmayasa.

Saat selesai olah laku rahasianya, Gajahmada merasakan kebugaran kembali, merasakan hawa murninya telah berlipat ganda.

Maka, tidaklah heran jika Gajahmada dapat berlari seperti tidak menjejakkan kakinya di tanah; ilmu meringankan tubuhnya sudah dapat dikatakan nyaris sempurna.

Akhirnya, pada suatu pagi, terlihat Gajahmada tengah memasuki sebuah pedukuhan kecil.

Dan kebetulan sekali, hari itu adalah hari pasar.

Terlihat Gajahmada sudah berada di pasar pedukuhan itu dan tengah mencari sebuah kedai.

Seorang pemilik kedai menjelaskan arah untuk menuju Tuban dari pedukuhan itu.

"Jarak perjalanan ke Tuban hanya perlu satu hari satu malam," kata pemilik kedai itu sambil memberikan beberapa petunjuk arah.

"Hanya ketika akan memasuki Hutan Jatirogo, Ki Sanak perlu hati-hati," kata pemilik kedai itu lagi.

"Apakah di Hutan Jatirogo itu banyak penyamun?" tanya Gajahmada kepada orang tua itu.

Terlihat orang tua itu menggelengkan kepalanya.

"Bukan banyak penyamun, tapi sebuah kawasan yang cukup angker. Orang tua kami sering mengatakan bahwa di dalam hutan itu ada sebuah istana siluman," kata pemilik kedai itu.

Mendengar cerita itu, terlihat Gajahmada tersenyum.

"Terima kasih atas penjelasannya. Semoga aku dapat bertemu dengan salah seorang putri dari istana siluman itu," kata Gajahmada sambil tersenyum kepada pemilik kedai itu ketika akan berpamit diri untuk melanjutkan kembali perjalanannya ke Tuban.

Terlihat orang tua pemilik kedai itu menarik napas panjang sambil memandang punggung tubuh Gajahmada yang semakin menjauh.

"Pengembara muda yang berani," kata pemilik kedai itu merasa heran kepada Gajahmada yang tidak gentar mendengar ceritanya tentang Hutan Jatirogo yang angker itu.

Matahari saat itu telah berada di atas cakrawala ketika langkah Gajahmada mendekati sebuah hutan yang terlihat begitu rapat dan pekat.

"Hutan Jatirogo," kata Gajahmada dalam hati, mengingat kembali cerita dari pemilik kedai yang ditemuinya tadi pagi.

Dan tanpa rasa gentar sedikit pun, Gajahmada telah memasuki kawasan hutan itu, sebuah hutan yang dipenuhi pohon-pohon kayu berumur ratusan tahun, dengan pokok batang yang begitu besar, tinggi menjulang, serta dahan yang bercabang rimbun dipenuhi jamur dan tumbuhan merambat.

Dan semakin masuk lebih ke dalam lagi, pepohonan dan belukar semakin rapat.

Hingga akhirnya, Gajahmada menemukan sebuah lapangan terbuka cukup luas yang dipenuhi reruntuhan batu-batu yang sudah berlumut; tampaknya bekas sebuah bangunan.

"Istana siluman," kata Gajahmada dalam hati, mengingat kembali cerita pemilik kedai.

Namun, langkah Gajahmada tertunda ketika di ujung sana terlihat beberapa orang tampaknya baru saja ingin memasuki kawasan di sekitar reruntuhan itu.

"Siapakah mereka?" kata Gajahmada dalam hati sambil segera menyelinap bersembunyi di kerimbunan semak belukar.

Dari tempat persembunyiannya, Gajahmada telah melihat ada sekitar seratus lelaki telah memenuhi tempat itu.

Dan Gajahmada mencoba memasang telinga untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.

Akhirnya, pendengarannya yang sangat tajam telah menangkap sebuah pembicaraan.

"Mereka prajurit dari daerah Sunginep?" kata Gajahmada dalam hati ketika telah menangkap beberapa pembicaraan dengan logat bahasa daerah yang sudah dikenalnya.

Lama Gajahmada menyimak pembicaraan mereka sampai akhirnya Gajahmada dapat mengetahui bahwa akan datang para prajurit lagi dari Sunginep dalam jumlah yang lebih besar lagi mengisi kawasan sekitar Hutan Jatirogo.

"Kedatangan mereka berkaitan dengan sikap Adipati Tuban?" kata Gajahmada dalam hati.

Akhirnya, setelah merasa cukup mencuri dengar para prajurit Sunginep itu, Gajahmada terlihat telah menyelinap berjalan memutar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment