Chapter 127
Orang itu terkejut bukan main melihat Supo Mandagri dengan sangat cepat merendahkan tubuhnya. Sebuah pukulan yang sangat kuat dan telak menghantam pangkal bawah tangannya.
Plak!
Seketika itu juga, orang berperawakan sedang dan berotot kuat tersebut terpelanting mundur beberapa langkah dari tempatnya semula.
"Ternyata kamu bisa satu-dua jurus," ujar orang yang bertubuh tinggi besar itu sambil langsung menerjang Supo Mandagri dengan tendangan.
Orang bertubuh tinggi besar itu terkejut bukan main melihat Supo Mandagri dengan begitu cepat bergeser ke kiri dan melayangkan tendangan keras tepat menghantam bagian tubuh di bawah pusarnya. Seketika itu juga, orang bertubuh tinggi besar tersebut terbelalak, napasnya seolah hilang. Ia terjatuh dalam posisi duduk sambil merasakan nyeri yang hebat di bawah pusarnya.
Supo Mandagri masih berdiri sambil tersenyum memandang kedua lelaki yang tengah bangkit berdiri dengan meringis menahan sakit.
"Apakah kalian tetap ingin membawaku ke tempat Ki Samban?" tanya Supo Mandagri kepada kedua lelaki itu.
"Jangan sombong. Kamu hanya kebetulan saja dapat menjatuhkan kami," sahut lelaki berperawakan sedang itu kepada Supo Mandagri.
"Bagus, majulah kalian berdua. Mudah-mudahan masih kebetulan lagi aku dapat merobohkan kalian," jawab Supo Mandagri dengan sikap siap menghadapi serangan.
Tampaknya kedua lelaki itu sepakat untuk menghajar anak muda yang telah menjatuhkan mereka. Keduanya bergerak maju; lelaki berbadan tinggi besar mengayunkan pukulan ke arah dada Supo Mandagri, sementara lelaki berperawakan sedang meluncurkan kaki dari arah samping seolah terbang.
Menghadapi dua serangan yang datang bersamaan tidak membuat Supo Mandagri gugup. Dengan tenang, ia memiringkan badan dan maju selangkah untuk menghindari pukulan dan tendangan tersebut.
Plak! Tangan Supo Mandagri bersarang di wajah lelaki bertubuh tinggi besar itu.
Buk! Sikut Supo Mandagri menghantam pangkal paha lelaki berperawakan sedang.
Keduanya kembali terlempar jatuh ke tanah. Tampaknya pukulan Supo Mandagri yang lebih keras dari sebelumnya membuat mereka sangat sulit untuk bangkit. Lelaki berperawakan sedang merasakan tulang pangkal pahanya seperti remuk, sementara lelaki bertubuh tinggi besar merasa bumi tempatnya berpijak bergoyang dan penglihatannya menjadi kabur.
Tanpa berkata apa-apa, Supo Mandagri segera meninggalkan mereka. Setelah berjalan cukup lama memutar perbukitan berbatu, Supo Mandagri mengambil arah timur. Anak muda itu rupanya menghindari masuk ke Kotaraja Majapahit dan memilih jalan langsung menuju Tanah Ujung Galuh.
"Ki Samban mungkin telah menyebarkan orang-orangnya di Kotaraja Majapahit," gumam Supo Mandagri dalam hati, memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Suara debur ombak di pantai Tanah Ujung Galuh tak pernah sepi menemani bulan sabit yang masih muda di awal malam itu. Seperti biasa, saat itulah Gajah Mada dan Nyi Nariratih pulang dari tugas mereka di istana Majapahit menuju puri pasanggrahan di Tanah Ujung Galuh.
"Ada orang di atas panggung pendapa," ujar Gajah Mada kepada ibundanya saat memasuki gapura.
Hati Gajah Mada dan Nyi Nariratih gembira saat mengetahui bahwa orang di atas pendapa itu adalah Supo Mandagri.
"Syukurlah, kamu telah kembali," sapa Gajah Mada.
"Banyak yang akan kuceritakan kepada kalian," balas Supo Mandagri.
Setelah membersihkan diri di pakiwan, Gajah Mada dan Nyi Nariratih bergabung di pendapa untuk mendengarkan penuturan Supo Mandagri.
"Berapa kekuatan mereka yang kamu lihat saat itu?" tanya Nyi Nariratih.
"Sebanyak satu kesatuan pasukan yang ada di Kerajaan Majapahit," jawab Supo Mandagri.
"Berapa jarak tempuh dari tempat mereka menuju Kotaraja Majapahit?" tanya Gajah Mada.
"Sekitar setengah hari perjalanan," jawab Supo Mandagri.
Perbincangan terhenti ketika seorang pelayan wanita datang membawa hidangan malam.
"Terima kasih, Bi Kusun. Tolong minumannya ditambah untuk dua orang tamu," ujar Nyi Nariratih.
Tak lama kemudian, dua orang datang dan bergabung di pendapa. Supo Mandagri menceritakan kembali pengalamannya keluar dari sarang lawan kepada Tumenggung Mahesa Semu dan Adityawarman, mulai dari awal hingga mereka dapat berkumpul kembali di Tanah Ujung Galuh.
Setelah mendengar penuturan itu, Tumenggung Mahesa Semu menarik napas panjang sambil menggelengkan kepala, menahan amarah.
"Kecurigaan pejabat bendahara kerajaan ternyata terbukti. Ra Kuti telah menelikung pundi-pundi milik para brahmana dan pura suci untuk kepentingan pribadinya membangun kekuatan baru di lembah perbukitan berbatu," kata Tumenggung Mahesa Semu.
"Kabarnya Raja Jayanagara telah menyetujui permintaan Mahapatih Dyah Halayuda untuk menurunkan kesatuan pasukan Jala Rananggana ke Tanah Lamajang," ujar Gajah Mada.
"Kesetiaan kesatuan pasukan Jala Rananggana kepada kerajaan ini tidak dapat diragukan lagi. Keputusan Raja Jayanagara hari ini ibarat melepaskan pedangnya sendiri dan menyerahkan lehernya di ujung pedang musuh," sahut Tumenggung Mahesa Semu.
"Kasihan Tumenggung Jala Rananggana. Ia harus dihadapkan pada pilihan yang amat sulit, yakni berhadapan dengan besan dan anak menantunya sendiri, Empu Nambi dan Adipati Menak Koncar," ujar Gajah Mada.
Mendengar itu, semua terdiam, membayangkan peperangan memilukan antara mertua dan menantu.
"Itulah suasana yang diinginkan oleh Mahapatih Dyah Halayuda," ujar Gajah Mada mencoba memecah keheningan.
"Tampaknya Empu Nambi sudah memperhitungkan kesatuan mana yang akan diturunkan untuk menghadapinya. Mungkin itulah sebabnya ia melakukan penjarakan kepada setiap orang yang mendukungnya," kata Tumenggung Mahesa Semu.
"Penjarakan?" tanya Supo Mandagri heran.
"Maksudku, setiap prajuritnya mengenakan daun jarak sebagai pertanda kesetiaan, menjadikannya lambang perjuangan sebagaimana para prajurit Majapahit memakai lambang gula kelapa di atas kepalanya," jelas Tumenggung Mahesa Semu.
"Menurutku, lambang penjarakan adalah isyarat yang sengaja disampaikan oleh Empu Nambi kepada kita," kata Gajah Mada.
"Isyarat apa?" tanya Adityawarman.
"Isyarat bahwa Ra Kuti memanfaatkan kekosongan kekuatan di istana Majapahit. Gabungan kesatuan pasukan Jala Pati yang sudah dalam kendali Ra Kuti dan pasukannya di lembah perbukitan akan mudah menguasai istana. Mungkin itulah sebabnya Empu Nambi melarang kita bergabung dengannya, berharap kita dapat menjadi benteng pertahanan terakhir di istana Majapahit ini," terang Gajah Mada.
Pagi itu, suasana Kademangan Randu Agung terlihat lengang. Penduduk telah mengungsi karena tersiar kabar prajurit Majapahit akan kembali menyerang. Namun, sebelum pergi, mereka sempat memanen padi dan membawanya ke tempat pengungsian.
Empu Nambi dan para pendukungnya telah berada di puri pasanggrahan milik Ki Banyak Wedi yang telah diubah menjadi benteng pertahanan yang kuat. Tersiar kabar bahwa pasukan besar prajurit Majapahit telah bergerak dari Kademangan Japan menuju bumi Lamajang.
"Hari ini para prajurit Majapahit telah bergerak meninggalkan Kademangan Japan," lapor Panji Samara kepada Empu Nambi.
"Ada tiga kesatuan: Jala Rananggana, Jala Pati, dan Jala Yudha. Dari kesatuan manakah yang akan kita hadapi?" tanya Empu Nambi.
"Sesuai pengamatan petugas telik sandi, mereka dari kesatuan Jala Rananggana," jawab Panji Samara.
"Berarti kita akan berhadapan dengan Tumenggung Jala Rananggana," kata Empu Nambi sambil memandang putranya, seolah ingin membaca isi hatinya yang harus menghadapi ayah mertuanya sendiri.
"Tampaknya Mahapatih Dyah Halayuda sengaja membenturkan kita dengan keluarga sendiri," ujar Adipati Menak Koncar.
"Pertempuran ini adalah permainannya, dan kita telah terjebak masuk ke dalamnya," pungkas Empu Nambi di hadapan para pimpinan pasukan.