Chapter 179
Mahapatih Arya Tadah tidak menduga sama sekali bahwa ucapannya telah membuat pelayan tua itu menangis tersedu-sedu, meluapkan rasa resah dan gelisah yang telah dipendam selama dua pekan, setiap hari, dan setiap malam menjelang tidurnya.
"Hamba menyayanginya seperti anak kandung hamba sendiri. Hamba tidak tega melihatnya seperti itu," ujar pelayan tua itu dengan suara isak tangis.
"Kami semua menyayanginya, kami semua mencintainya sebagaimana dirimu menyayanginya dan mencintainya. Katakanlah kepada kami apa yang terjadi pada dirinya?" tanya Mahapatih Arya Tadah kepada pelayan tua itu dengan suara perlahan dan penuh perasaan.
Kembali Mahapatih Arya Tadah melihat pelayan tua itu menangis lebih keras. Tampaknya perkataan Mahapatih Arya Tadah begitu menyentuh hatinya.
"Hamba tidak tega melihatnya seperti itu," ujar Nyi Sarijah sambil terisak.
"Selama bibi tidak mau membuka mulut, bibi tidak dapat menolongnya," kata Mahapatih Arya Tadah kepada Nyi Sarijah.
"Hamba telah berjanji untuk tidak berkata apa pun tentang dirinya," sahut Nyi Sarijah di tengah isak tangisnya.
"Mana yang bibi pilih, menepati janji atau melihatnya terus menderita?" tanya Mahapatih Arya Tadah dengan suara lembut.
Nyi Sarijah terdiam; tampaknya ia sedang berpikir dan mencoba menguatkan hatinya.
"Baginda Raja tengah menderita penyakit aneh, seluruh tubuhnya tumbuh bisul menjijikkan," ujar Nyi Sarijah yang langsung melanjutkan tangisnya lebih keras dari sebelumnya.
Mahapatih Arya Tadah tidak berkata apa pun, menunggu tangis Nyi Sarijah reda. Ketika suara tangisnya mulai berhenti, Mahapatih kembali bertanya dengan penuh kehati-hatian.
"Apakah penyakit Baginda Raja sama dengan yang dialami oleh istri Ra Tanca?" tanya Mahapatih Arya Tadah, teringat pada penyakit yang diderita istri Ra Tanca.
"Benar, Tuanku, sangat mirip sekali dengan yang pernah dialami oleh Nyi Ra Tanca," jawab Nyi Sarijah penuh kepastian.
Mendengar perkataan pelayan tua itu, Mahapatih Arya Tadah mengangguk-anggukkan kepala. Ia seolah mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diri Baginda Raja Jayanagara. "Nampaknya Baginda Raja merasa malu bila orang mengetahui penyakit yang dideritanya," batin Mahapatih Arya Tadah.
"Kembalilah bibi bekerja seperti biasa. Aku akan berusaha mencari jalan keluarnya dan mencoba mencari obat untuk penyembuhan junjungan kita," ujar Mahapatih Arya Tadah kepada Nyi Sarijah.
Setelah pelayan tua itu pergi, Mahapatih Arya Tadah terdiam. Lelaki perkasa itu tampak tengah berpikir keras. "Ra Tanca pernah menyembuhkan istrinya sendiri, berarti Ra Tanca dapat menyembuhkan Baginda Raja," batinnya.
Namun, tiba-tiba muncul pikiran lain di benaknya. "Baginda Raja tidak ingin siapa pun mengetahui penyakit yang dideritanya," pikirnya, seolah sedang berperang dengan diri sendiri. Tak lama, wajah lelaki perkasa itu tampak cerah, pertanda ia telah menemukan cara. Di dalam pikirannya tersangkut satu nama, seseorang yang sangat dekat dengan Raja Jayanagara.
"Raja Jayanagara tidak akan marah bila Patih Gajah Mada sendiri yang datang membuka kamarnya," gumam Mahapatih Arya Tadah dalam hati.
Demikianlah, pada hari itu juga Mahapatih Arya Tadah memanggil seorang prajurit. "Aku perlu seseorang yang dapat memacu kuda sehari semalam tanpa henti hingga sampai di Kediri. Aku yakin kamu dapat melakukannya," perintah Mahapatih Arya Tadah.
"Hamba pamit diri," jawab prajurit itu.
Tidak lama berselang, prajurit itu telah keluar dari istana Majapahit dan memacu kudanya. Ia memang dikenal sebagai penunggang kuda yang andal. Debu beterbangan di belakang kaki kuda yang dilarikan kencang bagaikan terbang. Prajurit itu terus memacu kudanya di atas padang ilalang, di atas tanah bulakan panjang, bahkan saat melewati jalan di sebuah padukuhan. Beberapa orang harus menyingkir dan berhamburan karena takut tertabrak laju kudanya.
Namun, semua orang di jalan-jalan padukuhan berusaha menahan amarah saat mengetahui bahwa yang memacu kuda adalah seorang prajurit. Mereka segera menerka pasti ada sesuatu yang sangat penting yang harus segera disampaikan. Saat hari telah malam, prajurit itu tiba di Kademangan Simpang dan langsung menuju barak kesatuan prajurit.
"Aku perlu seekor kuda yang tegar dan segar. Malam ini juga aku harus melanjutkan perjalanan ke Kediri," ujar prajurit itu kepada pimpinan kesatuan di Kademangan Simpang.
"Jaga pandanganmu di perjalanan malam," pesan sang pimpinan.
"Aku mempercayakan pada mata kuda hitam ini," ujar prajurit itu yang sudah melompat ke atas punggung kuda. Ia menghentakkan kakinya pada perut kuda hitam itu. Terdengar suara ringkik kuda yang terkejut, lalu berlari menembus kegelapan malam.
Sebagaimana dikatakan prajurit itu, ia memang mengandalkan ketajaman mata kudanya menembus perjalanan malam. Kuda yang ditungganginya sangat kuat, berpacu semalaman menuju Kotaraja Kediri. Pagi itu, Kotaraja Kediri sudah cukup ramai saat prajurit penunggang kuda hitam itu membuat sedikit keributan di jalan utama. Beberapa orang berlari menepi karena takut tertabrak laju kuda yang terus melaju, seolah tidak peduli dengan kerumunan orang yang berjalan menuju pasar.
"Apakah dikira jalan ini milik nenek moyangnya sendiri?" teriak seorang lelaki sambil menunjuk ke arah prajurit berkuda yang telah jauh meninggalkannya. Akhirnya, prajurit itu tiba di depan gerbang istana Daha.
Sementara itu, di waktu yang sama di istana Majapahit, Ra Tanca memasuki bale kepatihan. "Mohon maaf bila Tuan harus menunggu," ujar Ra Tanca di hadapan Mahapatih Arya Tadah.
"Justru akulah yang seharusnya minta maaf telah mengganggu tugasmu di pagi ini," jawab Mahapatih Arya Tadah dengan ramah.
"Tidak ada yang terganggu. Panggilan Tuan Mahapatih pastinya lebih utama dan sangat penting," ujar Ra Tanca.
"Memang sangat penting dan bersifat rahasia," tegas Mahapatih Arya Tadah. Mendengar itu, Ra Tanca menggeser posisi duduknya dengan perasaan berdebar. "Sangat penting dan rahasia?" batinnya.
Mahapatih Arya Tadah tersenyum melihat kegelisahan di wajah Ra Tanca. "Sebelumnya aku akan bertanya kepadamu, seandainya di perbatasan kotaraja ada sekumpulan musuh ingin menghancurkan kita, apakah kamu bersedia angkat senjata melawan mereka?"
"Hamba akan mengangkat senjata di barisan terdepan, wahai Tuan Mahapatih," jawab Ra Tanca tegas.
"Aku memang tidak menyangsikan kesetiaanmu, namun yang kami butuhkan saat ini adalah kemampuanmu mengobati penyakit aneh yang juga pernah diderita oleh istrimu," ujar Mahapatih Arya Tadah sambil memandang lurus ke arah Ra Tanca.
"Siapa gerangan yang menderita penyakit aneh itu?" tanya Ra Tanca.
"Bila aku sampaikan, dapatkah kamu merahasiakannya?"
"Hamba siap merahasiakannya, Tuan," jawab Ra Tanca.
Mahapatih Arya Tadah terdiam sejenak sambil menarik napas panjang. Ra Tanca tampak gelisah menunggu nama yang dirahasiakan itu.
"Yang menderita penyakit aneh mirip istrimu itu adalah junjungan kita sendiri, Baginda Raja Jayanagara," ujar Mahapatih Arya Tadah dengan suara perlahan namun jelas.
Sontak tubuh Ra Tanca tersentak. Ia terdiam membisu, memandang Mahapatih Arya Tadah dengan raut tidak percaya.
"Aku ingin kamu menyembuhkannya dengan ramuan obat yang pernah kamu berikan kepada istrimu," pinta Mahapatih Arya Tadah.
Ra Tanca seketika teringat pada Kuda Jenar. "Dapatkah Kuda Jenar memberikan ramuan rahasianya itu?" batinnya. Beruntun datang pikiran lain; sebuah bayangan saat Raja Jayanagara sembuh, ia akan mendapatkan pujian dan terima kasih langsung dari Baginda Raja.
"Besok pagi kami menunggumu di puri pasanggrahan milik Baginda Raja Jayanagara," ujar Mahapatih Arya Tadah tanpa bertanya lagi tentang kesanggupan Ra Tanca.
"Hamba mohon pamit diri untuk menyiapkan ramuan obat itu," ujar Ra Tanca.
Setelah keluar dari bale kepatihan, Ra Tanca langsung mencari Kuda Jenar. Beruntung, anak muda itu ditemuinya sedang sendirian di pura istana.
"Aku benar-benar perlu bantuanmu, wahai Kuda Jenar," ujar Ra Tanca sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada seorang pun di sana.
Melihat sikap Ra Tanca, Kuda Jenar tersenyum dalam hati. Ia sepertinya telah membaca arah pikiran Ra Tanca, namun tidak memperlihatkannya.