Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 106

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 106

Hingga saat sore menjelang, Patih Amangkubumi telah kembali dan langsung menjenguk Patih Mahesa Amping yang sudah terbangun, namun kondisinya masih sangat lemah.

"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua," ujar Patih Amangkubumi kepada Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu. Ia mengajak mereka bicara di ruang serambi dalam agar tidak terdengar langsung oleh Patih Mahesa Amping, karena khawatir memengaruhi kesehatannya yang belum benar-benar pulih.

Tidak lama berselang, ketiganya telah duduk di ruang serambi dalam.

"Tadi di Bale Kepatihan, para pejabat Dharmayaksa yang diwakili oleh Pendeta Dang Acarca Sujiwa telah menyampaikan kabar tentang peristiwa kemarin. Keluarga prajurit yang menjadi korban menuntut agar Patih Mahesa Amping diadili berdasarkan dua pemberatan dalam kitab hukum Kutara Manawa Dharmasastra, yakni melakukan pembunuhan dan melakukan caci maki," kata Patih Amangkubumi kepada Adityawarman dan Tumenggung Mahesa Semu.

"Apakah Ki Patih sudah memberikan keputusan?" tanya Tumenggung Mahesa Semu, yang juga memahami isi kitab hukum Kerajaan Majapahit tersebut yang menjadi pedoman di seluruh wilayah kekuasaan Majapahit sebagai garis hukum untuk menjaga tatanan etika dan keselarasan hidup.

"Semula aku meminta agar keputusan diundurkan sambil menunggu kedatangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, namun mereka memaksaku untuk segera memutuskan. Akhirnya, aku memutuskan untuk mempelajari permasalahannya terlebih dahulu," jawab Patih Amangkubumi.

"Apakah mereka meminta batasan waktu?" tanya Tumenggung Mahesa Semu kembali.

"Mereka meminta sebelum tutup tahun, antara akhir bulan Phalguna dan awal bulan Caitra, bertepatan dengan pertemuan agung seluruh pejabat kerajaan," jelas Patih Amangkubumi.

"Hanya tinggal dua pekan lagi?" ujar Tumenggung Mahesa Semu.

"Aku berharap sebelum batasan waktu itu tiba, Baginda Raja Sanggrama Wijaya sudah kembali," tutur Patih Amangkubumi.

"Aku melihat sepertinya ada tangan yang sengaja mengambil keuntungan dalam situasi keruh ini, mulai dari rencana pembunuhan Patih Mahesa Amping hingga usaha pengerahan keluarga korban prajurit untuk menuntut keadilan," ujar Tumenggung Mahesa Semu.

"Ada asap, ada api. Kita bisa memulainya dari Pendeta Dang Acarca yang membawa permasalahan Patih Mahesa Amping. Kita juga dapat mengupas siapa orang di balik para keluarga prajurit yang gugur dalam peristiwa itu," kata Patih Amangkubumi.

"Sebelum pertemuan agung, mudah-mudahan kita sudah dapat menjernihkan suasana, setidaknya mengetahui siapa dalang di balik kekeruhan ini," sahut Tumenggung Mahesa Semu.

Keesokan harinya, Tumenggung Mahesa Semu mulai bekerja. Ia mengerahkan beberapa orang kepercayaannya yang berada dalam kesatuan khusus prajurit telik sandi untuk melakukan penyelidikan secara tersebar.

Berdebar perasaan Pendeta Dang Acarca Sujiwa manakala dua orang prajurit telik sandi mendatangi kediamannya. Ternyata, kedua prajurit itu mendapat tugas untuk membawa Pendeta Dang Acarca Sujiwa ke istana Majapahit hari itu juga.

"Pemimpin kami hanya ingin meminta keterangan," ujar salah seorang prajurit kepada Pendeta Dang Acarca Sujiwa.

Tanpa dapat membantah, meski dirinya adalah anggota Dharmayaksa yang bertugas menangani berbagai perselisihan sebagai pejabat hakim agung, Pendeta Dang Acarca memenuhi panggilan Tumenggung Mahesa Semu, seorang pejabat istana Majapahit yang disegani karena merupakan orang kepercayaan Baginda Raja Sanggrama Wijaya.

Atas perkenan Baginda Raja Sanggrama Wijaya, Tumenggung Mahesa Semu memiliki wewenang untuk memenjarakan siapapun yang dicurigai mengganggu tatanan keamanan di bumi Majapahit. Hari itu, Pendeta Dang Acarca Sujiwa bersama dua prajurit telik sandi memasuki puri pasanggrahan milik Tumenggung Mahesa Semu di istana Majapahit, yang selain sebagai kediaman resmi, juga berfungsi sebagai pusat kendali prajurit telik sandi.

Tumenggung Mahesa Semu adalah sosok yang menjiwai tugasnya; ia mampu mengupas dan menelanjangi seseorang dengan berbagai cara tanpa kekerasan. Pendeta Dang Acarca Sujiwa merasa lelah jiwa dan raganya setelah menjalani berbagai macam pemeriksaan dan pertanyaan dari pagi hingga menjelang petang. Akhirnya, Pendeta Dang Acarca menyerah. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana melindungi diri sendiri, jabatan, serta kehormatannya.

"Mendapatkan jabatan sebagai anggota Dharmayaksa sungguh sebuah kebanggaan bagi siapapun, sebuah jembatan agar diri dan keluarga dihormati dan dimuliakan. Namun, semua kembali kepada Tuan Pendeta. Kejujuran Tuan Pendeta adalah pertimbanganku apakah jabatan dan kehormatan Tuan Pendeta masih harus dipertahankan," ujar Tumenggung Mahesa Semu kepada Pendeta Dang Acarca Sujiwa.

Pendeta Dang Acarca Sujiwa menarik napas panjang, merasa begitu lelah. "Semua kulakukan karena mendapat ancaman dari Ra Kuti yang akan membongkar kehidupan hitamku di masa lalu," akunya sambil menundukkan kepala.

"Ra Kuti, salah satu pejabat Dharmaputra," batin Tumenggung Mahesa Semu.

Sementara itu, di kediaman Patih Amangkubumi, seorang wanita setengah baya bersama seorang pemuda tertahan di gapura puri pasanggrahan.

"Kami hanya menjalankan perintah," kata seorang pelayan dengan santun.

Beruntung, sebelum ketegangan memuncak, Patih Amangkubumi yang baru pulang dari kepatihan melihat mereka. "Maaf, Nyi Nariratih, aku yang melarang orang luar masuk ke puri pasanggrahanku," ujar Patih Amangkubumi kepada wanita setengah baya yang ternyata adalah ibunda Gajah Mada. Sementara pemuda yang bersamanya adalah Supo Mandagri.

Patih Amangkubumi mengantar mereka memasuki halaman puri dan langsung menuju gandok dalam untuk menemui Patih Mahesa Amping.

"Tuan Patih," sapa Nyi Nariratih saat menemui Patih Mahesa Amping yang sudah dapat duduk di peraduannya ditemani oleh putranya, Adityawarman.

"Tidak perlu mengkhawatirkan diriku, aku berada di tangan seorang tabib paling hebat di bumi Majapahit ini," ujar Patih Mahesa Amping sambil tersenyum.

Mendengar pujian itu, Patih Amangkubumi hanya tersenyum tipis. "Aku hanya sedikit mengenal tanaman obat," ucapnya merendah.

"Ki Sandikala memang terlalu merendah. Tabib biasa mungkin tidak akan mampu menawarkan racun hati celeng bunting," kata Patih Mahesa Amping.

"Racun hati celeng bunting? Apakah berasal dari hati seekor babi hutan yang akan melahirkan?" tanya Supo Mandagri.

"Benar, salah satu racikannya berasal dari hati seekor babi hutan yang tengah mengandung tua," jelas Patih Amangkubumi kepada Supo Mandagri.

"Beberapa bulan yang lalu, aku pernah melihat Ki Secang berburu babi hutan. Pada saat itu, aku heran karena yang diambilnya dari babi hutan yang tengah mengandung tua hanyalah hatinya," cerita Supo Mandagri tentang pertemuannya dengan Ki Secang di hutan Perigian.

"Ki Secang?" tanya Patih Mahesa Amping yang belum mengenal orang tersebut.

"Ki Secang adalah tawanan perang yang saat ini dipekerjakan di pura istana," sahut Adityawarman. "Siapapun yang tergulung kabut ciptaan Ki Secang akan mati binasa seperti dicincang oleh ribuan senjata tajam," lanjutnya menceritakan ilmu yang dimiliki Ki Secang.

"Kabut dan trisula kembar?" gumam Patih Amangkubumi seperti mengingat sesuatu yang terkubur dalam benaknya.

Patih Amangkubumi bercerita bahwa beberapa tahun silam, ayahnya pernah mengajaknya mengunjungi kerabat bernama Empu Dyah Agniyuda, keturunan kelima Raja Wurawari yang tewas di tangan Raja Erlangga. "Ternyata kami datang saat ia sedang berduka. Putra tunggalnya pergi membawa kitab ilmu rahasia yang amat langka bernama Kabut Trisula Kembar. Empu Dyah Agniyuda berpesan kepada ayahku agar jika bertemu putranya, ia dibimbing kembali ke jalan kebenaran. Menurut Empu Dyah Agniyuda, putranya bernama Dyah Halayuda yang usianya sebaya denganku," papar Patih Amangkubumi.

"Ki Secang dan Dyah Halayuda bisa jadi adalah orang yang sama," simpul Adityawarman.

"Jika benar Ki Secang adalah Dyah Halayuda, kita harus berhati-hati. Aku ingat perkataan Empu Dyah Agniyuda bahwa putranya punya keinginan besar untuk membangun kembali kerajaan leluhurnya," pungkas Patih Amangkubumi.

Nyi Nariratih merasa sudah cukup lama mengganggu istirahat Patih Mahesa Amping dan bermaksud pamit. "Tuan Patih Mahesa Amping mungkin perlu beristirahat," ujarnya.

Demikianlah, Nyi Nariratih dan Supo Mandagri meninggalkan Puri Pasanggrahan Patih Amangkubumi untuk kembali ke Tanah Ujung Galuh. Tidak lama berselang, Tumenggung Mahesa Semu muncul di puri tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment