Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 39

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 39

Ki Putut Prastawa telah menemui beberapa prajurit bawahannya untuk memastikan kesiapan para pasukan pengawal Raja dan keluarganya. Puas dan gembira hati Ki Demang dan para sesepuh melihat Baginda Raja dan keluarganya menikmati perjamuan malam itu.

"Tersanjung diri kami segenap warga Kademangan Simpang menjadi singgahan tuanku Paduka Baginda," berkata Ki Demang di hadapan Baginda Raja Sanggrama Wijaya. "Aku mengenal setiap jalan di Kademangan Simpang ini, mengenal kegelapan hutan Simpang ini bersama pasukanku yang tidak pernah tidur menunggu pasukan musuh. Dan hari ini aku datang kembali disaat masa damai tanpa peperangan dan kegelisahan. Inilah perjamuan yang paling nikmat selama hidupku, menikmati hidangan yang lengkap sambil mengenang jaman dan masa sulit yang pernah kami hadapi dan alami disekitar hutan Kademangan Simpang ini," berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya dengan wajah penuh kebahagiaan.

Diam-diam Gajahmada seperti tengah merenungi, siapa saja ksatria Majapahit yang ikut berjuang bersama orang nomor satu di kerajaan Majapahit itu. Ternyata Ayah angkatnya, Patih Mahesa Amping pernah bercerita banyak mengenai sebuah pertempuran pasukannya di hutan Simpang itu. Patih Mahesa Amping pernah bercerita kepadanya bagaimana kesaktian Empu Nambi dan Baginda Raja yang dengan kekuatannya telah dapat menumbangkan begitu banyak pepohonan besar dan berhasil membuat panik pasukan musuh yang tewas seketika tertimpa batang pohon besar yang tumbang diantara barisan mereka.

"Terima kasih untuk semua perjamuan ini," berkata Baginda Raja Sanggrama Wijaya sambil bangkit berdiri diikuti oleh semua yang hadir di atas panggung pendapa kediaman Ki Demang Simpang itu dan memberi jalan kepada Baginda Raja dan keluarganya memasuki peraduannya masing-masing.

Bulan sabit melengkung di langit malam. Dua orang penunggang kuda terlihat telah menyelinap di gelap malam menjauhi Kademangan Simpang. Temaram cahaya malam menyinari wajah kedua penunggang kuda itu yang ternyata adalah Ki Putut Prastawa dan Gajahmada yang telah mendahului rombongan Raja dan keluarganya ke arah jalan menuju Kotaraja Singasari.

"Disaat pagi gelap kita sudah berada di Kotaraja Singasari," berkata Ki Putut Prastawa diatas punggung kudanya kepada Gajahmada. "Berkuda di tengah malam memang sangat menyenangkan," berkata Gajahmada sambil merasakan angin sejuk dingin berhembus lewat di wajahnya.

"Seperti inilah tugas para prajurit Bhayangkara, memastikan perjalanan Raja dan keluarganya tidak mendapatkan gangguan dan rintangan apapun," berkata Ki Putut Prastawa sambil tersenyum memandang ke muka. "Kulihat Ki Putut Prastawa sangat menikmatinya," berkata Gajahmada sambil menoleh menatap wajah Ki Putut Prastawa yang tidak pernah mengeluh dan bersusah hati itu.

"Dulu aku melayani keluarga Empu Nambi dan keluarganya, sekarang aku melayani Raja dan keluarganya. Dimanapun dan kepada siapapun aku mengabdi, kuanggap sebagai jalan hidupku, sebagai sebuah laku di dunia ini," berkata Ki Putut Prastawa masih tetap tersenyum dan wajah memandang kearah kedepan.

"Aku yang muda ini perlu belajar banyak dari Ki Putut Prastawa," berkata Gajahmada yang diam-diam memuji cara pandang dan cara menyikapi kehidupannya. "Menjadi apapun itu tidak penting, yang terpenting adalah menikmati dan mewataki lakon apapun yang ditugaskan oleh sang dalang," berkata Ki Putut Prastawa sambil tersenyum menoleh kearah Gajahmada seperti tengah menguji sejauh mana pemahaman anak muda itu tentang nilai-nilai kehidupan.

"Apakah yang Ki Putut Prastawa maksudkan bahwa kita harus bersatu tunduk dan patuh mensyukuri jalan kehidupan yang diberikan oleh yang mempunyai kehidupan ini?" berkata Gajahmada. "Seperti itulah kita memandang kehidupan ini, wahai anak muda," berkata Ki Putut Prastawa memuji tingkat pemahaman Gajahmada.

"Seperti Sidharta Gautama yang keluar dari kehidupan istana, menghambakan dirinya sepanjang hidupnya," berkata Gajahmada. "Jarang sekali anak muda yang sudah mapan memahami arti sang Budha dan penghambaan dirinya, dan malam ini aku bertemu dengan salah seorang anak muda itu," berkata Ki Putut Prastawa merasa semakin menyukai anak muda yang berkuda bersamanya itu.

"Aku orang muda perlu banyak petunjuk dari orang tua," berkata Gajahmada. Entah mengapa Gajahmada seperti merasa orang tua yang tengah berada diatas punggung kuda itu bukanlah orang biasa, tapi seorang yang sudah begitu mumpuni pencerahan bathinnya.

"Bila kamu ingin mendengar petunjukku, bergabunglah bersamaku di pasukan Bhayangkara ini," berkata Ki Putut Prastawa sambil tersenyum memandang kearah Gajahmada seperti menunggu apa yang akan diucapkan oleh anak muda itu. "Dengan senang hati, aku menerima dan mendengar petunjukmu, wahai orang tua," berkata Gajahmada seperti tidak terbebani apapun.

"Tidakkah kamu sadari, bahwa selama ini dirimu telah menjadi seorang prajurit Bhayangkara. Bukankah kamu telah menemani Putra Mahkota Majapahit mengembara di Tanah Pasundan?" berkata Ki Putut Prastawa. "Raja Muda Kediri itu adalah sahabatku," berkata Gajahmada.

"Itulah jati diri seorang prajurit Bhayangkara yang sudah kamu miliki, melindungi Raja dan keluarganya sebagaimana seorang sahabat," berkata Ki Putut Prastawa. "Aku orang muda perlu banyak bimbingan darimu," berkata Gajahmada.

"Jangan merendahkan dirimu dihadapanku, Patih Mangkubumi telah banyak bercerita kepadaku tentang dirimu. Kamulah Putra Mahkota sang Budha Sidharta Gautama yang telah meninggalkan istana Rakata. Pencitraan sang Budha telah menitis di dalam jiwamu. Dan aku merasa bangga hadir dan ada bersamamu di malam ini, besok dan di sisa hidupku," berkata Ki Putut Prastawa dengan kesungguhan hati.

"Aku orang muda perlu banyak bimbingan darimu," berkata Gajahmada. "Seorang dirimu sudah melebihi cahaya apapun, kamulah sang matahari itu yang akan membawa kegemilangan Kerajaan Majapahit ini," berkata Ki Putut Prastawa yang telah melihat Gajahmada tidak dengan kasat matanya, tapi dengan penglihatan bathinnya.

"Terima kasih untuk semua kepercayaan dan harapanmu, namun aku yang muda ini masih perlu banyak bimbingan darimu," berkata Gajahmada. "Tidak sulit menjadi seorang prajurit Bhayangkara. Pegang kendali kudamu dan jangan jauh dariku," berkata Ki Putut Prastawa sambil menghentakkan kakinya di perut kudanya, seketika itu juga kudanya seperti terkejut dan langsung melompat kedepan dan berlari kencang.

"Aku akan tetap di dekatmu, wahai orang tua," berkata Gajahmada sambil ikut menghentakkan kudanya agar berlari mengejar kuda Ki Putu Prastawa yang sudah terbang terpacu di depannya. Terlihat dua orang penunggang kuda tengah berpacu di tanah jalan keras membelah udara malam.

Diam-diam Gajahmada memuji kemahiran Ki Putut Prastawa diatas kudanya. Meski sudah begitu tua, tapi masih sangat tangkas dan gagah berdiri diatas punggung kudanya. Di sebuah jalan yang membelah sebuah hutan, Ki Putut Prastawa telah melambatkan jalan kudanya.

"Aku ingin melihat apakah mereka masih terjaga di tengah malam ini," berkata Ki Putut Prastawa kepada Gajahmada sambil mengambil batu apinya dan memercikkannya tinggi-tinggi diatas kepalanya beberapa kali. Terlihat sinar percikan api yang sama di beberapa tempat muncul di kegelapan malam.

Tahulah Gajahmada bahwa ternyata di jalan yang membelah sebuah hutan ada beberapa prajurit yang terus berjaga sepanjang malam. Hingga akhirnya mereka telah memasuki sebuah jalan yang dibatasi oleh dua buah tebing tinggi. Kembali Ki Putut Prastawa memercikkan batu apinya. Kembali balasan percikan api yang sama terlihat muncul dari atas dua tebing itu sebagai pertanda diatas sana juga sudah di penuhi para prajurit Majapahit.

"Para prajurit Bhayangkara telah memagari sepanjang perjalanan antara Kademangan Simpang ke Kotaraja Singasari," berkata Ki Putu Prastawa tersenyum diatas punggung kudanya yang terus berjalan melangkah diiringi kuda Gajahmada yang berjalan bersamanya.

Akhirnya seperti yang dikatakan oleh Ki Putut Prastawa, di ujung pagi mereka berdua memang telah memasuki gerbang batas kotaraja Singasari. Angin sejuk dingin menyambut mereka berdua di tanah berbukit di bawah kaki Gunung Arjuna itu. Pagi masih buta, kerlip puluhan pelita malam seperti hiasan bintang memenuhi perbukitan dari rumah para penduduk yang masih belum terbangun dari tidurnya.

"Kotaraja Singasari mulai terbangun kembali," berkata Ki Putut Prastawa manakala mereka sudah berada di jalan utama Kotaraja Singasari yang masih sepi di pagi itu. Terlihat Ki Putut Prastawa dan Gajahmada turun dari kudanya manakala mereka telah berada di depan regol gerbang istana Singasari.

Dua orang prajurit Majapahit menyapa mereka yang ternyata adalah dua orang anak buah Ki Putut Prastawa dari pasukan Bhayangkara yang sudah dua tiga hari berada di Istana Singasari. "Pihak penguasa di istana Singasari ini nampaknya sangat gembira mendengar rencana kedatangan Baginda Raja Sanggrama Wijaya dan keluarganya, setelah beristirahat Ki Putut Prastawa dapat melihat persiapan yang telah mereka lakukan di istana ini," berkata salah seorang prajurit melaporkan beberapa hal kepada Ki Putut Prastawa tentang kesiapan yang dilakukan oleh pihak tuan rumah sehubungan dengan kunjungan Raja Majapahit itu.

"Mari kuantar ke tempat untuk beristirahat," berkata seorang prajurit lainnya mengajak Ki Putut Prastawa dan Gajahmada untuk mengikutinya. Terlihat Ki Putut Prastawa dan Gajahmada tengah berjalan di belakang seorang prajurit Majapahit yang membawanya menuju ke belakang istana.

Di keremangan pagi yang masih gelap itu, Gajahmada masih dapat melihat sisa reruntuhan beberapa bangunan yang nampaknya telah terbakar. Sejak penyerangan para prajurit Jayakatwang yang berhasil memporak-porandakan istana, merampok seluruh barang-barang berharga di dalamnya serta membumi hanguskannya, sisa reruntuhan istana Singasari seperti dibiarkan begitu saja.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment