Chapter 31
Manukwaja, siapa yang tidak mengenal wajahmu?, berkata Ki Jengkar sambil tertawa panjang.
Ki Gedonglegi, apakah kamu percaya dengan kata-kata orang ini?, berkata si pengembara yang dipanggil sebagai Manukwaja itu sambil menunjuk ke arah Ki Jengkar. Orang ini sengaja ingin kita bertempur habis-habisan, setelah itu dirinya tidak mempunyai saingan lagi mendapatkan hasil rampasannya seorang diri, berkata Manukwaja sambil menunjuk ke arah Ki Jengkar.
Ki Gedonglegi sudah pasti lebih mempercayaiku, berkata Ki Jengkar sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Aku memang lebih mempercayai Ki Jengkar, ketimbang orang yang menyusup di belakang para pedagang, berkata Ki Gedonglegi.
Baiklah, aku menyerah dengan tuduhan itu, sekarang kami akan menyingkir jauh-jauh, berkata Manukwaja sambil memberi tanda kepada kedua kawannya untuk menyingkir.
Ki Gedonglegi, apakah kamu percaya bahwa mereka akan pergi begitu saja?, bertanya Ki Jengkar kepada Ki Gedonglegi.
Mana dapat kupercaya, mereka bertiga pasti tidak jauh pergi, sambil menunggu pertempuran ini usai, berkata Ki Gedonglegi.
Ki Jengkar, karena kamu telah membuka kedokku, aku juga akan membuka kedokmu. Aku dan kamu jauh-jauh datang di tanah Tuban ini adalah karena perintah seseorang yang sama untuk membuat keonaran di tanah Tuban ini, berkata Manukwaja dengan wajah penuh amarah merasa kesal selalu saja Ki Jengkar dapat membaca maksud dan keinginannya.
Bagus bila akhirnya kamu mengetahui juga bahwa kita adalah orang suruhan yang sama. Perlu kamu ketahui bahwa aku tidak suka junjunganku itu percaya kepada orang lain selain diriku. Asal kamu tahu bahwa aku akan membinasakan siapapun orang itu, berkata Ki Jengkar sambil tertawa begitu menyeramkan mirip ringkikan seekor kuda.
Ki Jengkar, kamu terlalu sombong merasa tidak mudah terkalahkan. Kami bertiga dari gunung Raung akan membinasakan kesombonganmu itu, berkata Manukwaja sambil memberi tanda kepada dua kawannya untuk mengepung Ki Jengkar.
Terlihat Ki Jengkar telah terkepung oleh tiga orang dari Gunung Raung itu. Namun Ki Jengkar tidak merasa takut sedikitpun, telah siap siaga menerima serangan dari lawannya.
Buka matamu lebar-lebar, agar tidak menyesal telah mengenal jurus kilat kembar kami, berkata Manukwaja sambil melompat dengan dua tangan terbuka.
Serangan awal itu terlihat begitu kuat menerjang tubuh Ki Jengkar seperti dua kaki garuda turun dari langit mengejar mangsanya. Namun Ki Jengkar yang dikenal sebagai perampok tunggal dari hutan Lamajang itu tidak gentar sedikitpun, telah melesat cepat dan balas menyerang dengan sebuah keris ditangannya.
Luar biasa cepat dan ganasnya serangan balik dari Ki Jengkar, langsung menusuk ke tempat yang terbuka di tubuh lawannya, pinggul Manukwaja. Untung saja kedua kawannya tanggap langsung menyerang Ki Jengkar secara bersamaan membuat Ki Jengkar menarik kembali serangannya dan berkelit ke sisi yang aman namun secepat kilat telah melakukan serangan balasan ke arah salah seorang penyerangnya.
Demikianlah, serang dan balas menyerang terus saja silih berganti antara Ki Jengkar dan ketiga orang dari gunung Raung itu. Pertempuran semakin lama semakin sengit karena masing-masing seperti berlomba untuk menjatuhkan lawannya.
Para pedagang dan kelompok Ki Gedonglegi seperti membisu melihat pertempuran yang seperti pertaruhan hidup dan mati itu. Mereka juga telah membanding-bandingkan tingkat kemampuan mereka seandainya bertempur melawan di antara dua kubu yang tengah bertempur dengan sengitnya itu.
Kebisuan yang mencekam itu dipecahkan oleh suara seorang pedagang yang secara tidak langsung telah mengambil alih kepemimpinan di antara mereka. Siapapun yang menang di antara mereka tidak akan menguntungkan kita, cepat kita gempur kembali para penyamun itu agar secepatnya kita meninggalkan tempat ini, berkata pedagang itu kepada kawan-kawannya untuk menyerang kelompok Ki Gedonglegi.
Ucapan itu telah menggerakkan para pedagang untuk menempur kelompok Ki Gedonglegi. Melihat para pedagang telah bergerak ke arah mereka, Ki Gedonglegi dan anak buahnya sudah langsung bersiap siaga. Maka pertempuran antara para pedagang dan kelompok Ki Gedonglegi sudah tidak dapat dihindarkan lagi.
Dan Gajahmada terlihat sudah bergabung di antara para pedagang, ikut menempur para penyamun itu. Maka pertempuran para pedagang dan para penyamun kembali seperti sebelumnya, tidak ada istilah tebang pilih, siapa yang terdekat maka dialah lawan yang harus segera dijatuhkan.
Kasihan penyamun yang kebetulan berada di dekat Gajahmada, langsung terjatuh terkena tongkat rantingnya atau pukulannya yang terlihat seperti asal-asalan bukan sebuah jurus kanuragan. Beberapa pedagang dan penyamun yang melihat ulah Gajahmada itu merasa terheran-heran bahwa seorang yang tidak mengenal kanuragan itu sangat berani.
Dua tiga orang penyamun mencoba mendekati Gajahmada sekedar mencoba rasa penasaran mereka. Malang bagi mereka untuk harga sebuah rasa penasaran itu harus dibeli dengan tulang rusuk seperti terasa patah terkena sambaran tongkat ranting kayu Gajahmada atau tabrakan seperti tidak sengaja dari tubuh Gajahmada.
Orang gila!!, berkata seorang penyamun yang melihat tiga orang kawannya yang terjatuh akibat ulah Gajahmada. Sementara itu pertempuran antara Ki Jengkar dan tiga orang dari Gunung Raung itu terlihat telah menjadi semakin sengit. Masing-masing telah menunjukkan kemampuan puncaknya.
Ternyata Gajahmada disamping bertempur menghadapi para penyamun, pandangannya sekali-kali memperhatikan jalannya pertempuran antara Ki Jengkar dan tiga orang dari Gunung Raung itu. Gajahmada sudah dapat menilai bahwa bila satu lawan satu menghadapi Ki Jengkar mungkin ketiga orang dari Gunung Raung itu masih di bawah kemampuan Ki Jengkar.
Diam-diam Gajahmada mengakui kerjasama dari ketiga orang dari Gunung Raung itu yang sangat rapat dan sangat sempurna saling menutupi kelemahan masing-masing membuat Ki Jengkar merasakan kewalahan menghadapi serangan mereka yang datang beruntun seperti ombak yang tidak pernah berhenti saling susul dan menyusul.
Namun sambil memperhatikan jalannya pertempuran Ki Jengkar dan ketiga lawannya itu, sebuah sikut Gajahmada telah bergerak mengenai kening seorang penyamun di belakangnya. Penyamun sial itu terjengkang langsung pingsan.
Anak ketek edan!!, berkata sumpah serapah Ki Gedonglegi yang tidak sengaja melihat ulah Gajahmada terhadap anak buahnya itu. Aku bukan pemimpin kalian, tapi aku butuh kesepakatan bersama, berkata pemimpin para pedagang itu mulai kesal melihat keraguan kawan-kawannya.
Sementara dirinya sendiri juga meragukan kemampuannya sendiri untuk beradu tangan dengan salah satu atau ketiga orang dari Gunung Raung itu. Untuk sementara, suasana di atas jalan lingkar hutan Jatirogo itu seperti mencekam, begitu hening.
Untuk kedua kalinya kukatakan, pergi dari sini dan tinggalkan semua barang berharga milik kalian, berkata Manukwaja dengan suara lantang kepada para pedagang yang dilihatnya mulai gentar itu. Kembali suasana di jalan lingkar yang sepi itu menjadi hening dan mencekam.
Terlihat beberapa orang pedagang sudah merasa putus asa melepas beberapa barang miliknya yang sudah dikemas untuk dibawa itu. Anggap saja hari ini bukan hari keberuntungan kita, berkata seorang pedagang lain ikut melepas barang miliknya.
Namun tiba-tiba saja semua mata para pedagang tercuri untuk melihat seorang pemuda telah maju ke depan menghadap ketiga orang dari Gunung Raung itu. Ternyata pemuda itu tidak lain adalah Gajahmada.
Anak muda yang berani itu?, berkata salah seorang pedagang yang sempat melihat bagaimana cara Gajahmada berkelahi sebelumnya.