Halo!

Para Ksatria Penjaga Majapahit - Chapter 63

Memuat...
Para Ksatria Penjaga Majapahit

Chapter 63

"Gelar perang cakra!" teriak lantang pemimpin prajurit Daha. Seruan itu segera diikuti kawan-kawannya yang langsung membentuk formasi gelar perang—sebuah strategi yang dirancang untuk melindungi seseorang dalam keadaan genting, sekaligus gelar perang perlawanan saat kekuatan musuh jauh lebih besar.

Nampaknya, para penghuni Hutan Kemiri yang berwajah kasar dan garang itu tidak mengenal taktik gelar perang apa pun. Mereka tampak sudah siap meluluhlantakkan prajurit Daha yang telah siap lahir dan batin menghadapi musuh yang berlipat ganda, siap mati berdarah-darah demi membela junjungan mereka yang sangat dihormati, Patih Mahesa Amping.

Dua puluh prajurit Daha itu tampak cukup terlatih dalam gelar perang cakra. Terlihat beberapa penghuni Hutan Kemiri yang berada di barisan terdepan terlempar dan terguling terkena sabetan pedang para prajurit yang terus bergerak melingkar. Sementara itu, Patih Mahesa Amping yang berada di tengah lingkaran penjagaan tampak telah membuka matanya.

Bersamaan dengan itu, teriakan para penghuni Hutan Kemiri menggelegar penuh kemarahan. Kematian beberapa kawan mereka akibat sabetan pedang prajurit yang terus berputar itu seperti menyiramkan minyak ke api kemarahan. Mereka berlomba-lomba menyerbu untuk menghancurkan dua puluh prajurit Daha tersebut.

Kemapanan gerak gelar perang cakra dari para prajurit sungguh dapat diandalkan. Beberapa orang musuh terlihat terlempar jatuh ke tanah terkena sabetan dan bacokan pedang. Namun, kejatuhan kawan-kawan mereka justru membuat para penghuni Hutan Kemiri semakin beringas untuk meluluhlantakkan musuh. Suara denting senjata saling beradu; para penghuni hutan terus mendesak, sementara prajurit Daha masih bertahan.

Kegigihan dan keserasian prajurit Daha dalam memainkan gelar perang cakra memang patut diacungi jempol. Tak satu pun orang hutan Kemiri mampu menembus pertahanan mereka.

"Kita hancurkan gelar perang mereka!" seru seorang lelaki di sebelah Ki Ajar Pelandongan yang tidak lain adalah Ki Gagakpati.

Ternyata, kehadiran Ki Gagakpati dan Ki Ajar Pelandongan mampu memecahkan gelar perang prajurit Daha. Satu per satu prajurit terlihat mudah terlempar oleh hantaman tongkat kayu mereka. Akibatnya, gelar perang cakra yang tadinya berputar seperti roda pedati itu kini tersendat dan berhenti. Kembali satu dua prajurit Daha terlempar, kali ini bukan oleh Ki Gagakpati atau Ki Ajar Pelandongan, melainkan oleh para penghuni Hutan Kemiri yang berhasil mengeroyok mereka.

Melihat beberapa anak buahnya gugur tidak membuat pemimpin prajurit gentar. Namun, perasaannya diliputi kecemasan saat melihat Patih Mahesa Amping tergeletak tak bergerak di sisi putranya, Adityawarman. Apa yang terjadi pada diri sang Patih yang perkasa itu? Ternyata, Patih Mahesa Amping telah mengambil keputusan besar; mengetahui kejamnya racun yang menyerang sang putra, ia memutuskan untuk memindahkan racun tersebut ke dalam tubuhnya sendiri. Racun itu kini telah menjalar ke saraf di kepalanya yang mengakibatkan kelumpuhan seluruh otot tubuh.

"Kita bertahan sampai titik darah penghabisan!" teriak pemimpin prajurit Daha memberikan semangat kepada anak buahnya saat melihat dua-tiga rekannya kembali jatuh ke bumi dalam keadaan tidak bernyawa.

Setengah dari prajurit Daha telah gugur dan terluka, namun mereka tetap bertahan melindungi junjungan mereka. Meski hanya tersisa sepuluh orang, semangat mereka sudah seperti banteng terluka. Mereka tak lagi mempedulikan diri sendiri, yang terpenting adalah menjaga agar tak ada yang mendekati tuan mereka.

"Prajurit bodoh!" umpat Ki Ajar Pelandongan sambil menghajar kepala seorang prajurit dengan tongkat kayunya hingga roboh tak bergerak. Tiga prajurit lagi menjadi korban amukan para penghuni Hutan Kemiri yang ingin segera menuntaskan urusan mereka.

Kini tinggal sang pemimpin bersama tiga prajurit yang masih tegak berdiri menjaga Patih Mahesa Amping dan Adityawarman yang belum siuman.

"Habisi mereka semua!" perintah Ki Ajar Pelandongan kepada pengikutnya.

Satu-dua orang di barisan terdepan terkena sabetan pedang para prajurit yang masih tegak berdiri. Namun, apa artinya empat orang prajurit di hadapan sekumpulan orang Hutan Kemiri? Meski bertahan, tenaga mereka akhirnya terkuras habis hingga tak mampu lagi mengangkat pedang. Dalam kondisi itu, terjangan dan bacokan senjata tak mungkin lagi dihindari. Tragis, keempat prajurit terakhir itu akhirnya terkulai lemas kehabisan darah dan tenaga setelah puluhan senjata menggores tubuh mereka.

Kini Patih Mahesa Amping terbaring tanpa penjagaan. "Wahai Patih Daha yang perkasa, tidak ada lagi yang dapat menjagamu dan melindungimu dari senjata kami," ucap Ki Ajar Pelandongan kepada sang Patih yang masih berbaring tak berdaya. Hanya matanya yang terlihat masih sangat tajam dan penuh rasa percaya diri.

"Hingga saat ini, aku masih percaya bahwa selembar nyawaku adalah milik Gusti Yang Maha Agung. Dialah yang menentukan mati dan hidupku," ujar Patih Mahesa Amping dengan senyuman di bibirnya.

"Akulah yang menentukan hidup matimu hari ini!" seru Ki Ajar Pelandongan sambil mengangkat tongkat kayunya ke arah kepala Patih Mahesa Amping.

Sikap Patih Mahesa Amping tetap gagah; matanya tidak berkedip sedikit pun saat tongkat kayu itu diayunkan. Namun tiba-tiba, Ki Ajar Pelandongan terkejut dengan mata terbelalak. Tiga buah batu kecil melesat dan mematahkan tiga tongkat kayunya, membuat telapak tangannya terasa panas bergetar hingga ia harus melepas sisa potongan tongkatnya.

Ternyata, bayangan yang muncul adalah sosok dua orang lelaki. Seorang lelaki yang lebih tua tampak memikul Patih Mahesa Amping di pundaknya, sementara seorang pemuda memikul Adityawarman. Keduanya menunjukkan ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, melesat di atas kepala orang-orang Hutan Kemiri.

"Kejar mereka!" teriak Ki Ajar Pelandongan seperti baru terbangun dari mimpi. Namun, teriakan itu terlambat. Keduanya seperti memiliki sepasang sayap, telah terbang ke atas cabang pohon dan menghilang di antara kerimbunan Hutan Kemiri.

"Meski kita tidak berhasil membunuh pembesar Daha itu, racun kita nampaknya telah melumpuhkannya," ujar Ki Gagakpati.

"Ki Gagakpati benar. Apa artinya hidup bila seluruh anggota badan telah menjadi lumpuh seumur hidupnya?" sahut Ki Ajar Pelandongan dengan perasaan gembira.

"Apakah Ki Ajar mengenal kedua orang itu?" tanya Ki Gagakpati. Ki Ajar Pelandongan terdiam sejenak, mencoba mengingat, lalu menggelengkan kepala. "Nampaknya aku belum mengenal kedua orang itu."

"Terima kasih telah menolong kami, wahai Kakang Mahesa Murti," ucap Patih Mahesa Amping kepada lelaki tua yang ternyata adalah Ki Gede Bajra Seta. Sementara pemuda bersamanya adalah Mahesa Dharma, putra tunggalnya.

"Maafkan kami berdua telah terlambat menyelamatkan kalian," ujar Ki Gede Bajra Seta dengan suara penuh haru dan penyesalan.

"Tidak ada yang perlu disesalkan dan tidak ada yang terlambat, wahai Kakang Mahesa Murti. Bukankah Kakang sendiri yang selalu mengajarkan kepada para cantrik bahwa tidak ada satupun makhluk di alam semesta ini yang luput dari penjagaan-Nya, dan tidak ada satupun yang luput dari takdir-Nya?" ujar Patih Mahesa Amping dengan wajah yang tetap tabah.

"Ceritakanlah kepada kami apa yang telah terjadi atas diri kalian, wahai saudaraku," pinta Ki Gede Bajra Seta.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment