Chapter 175
Seakan tersirep, terlihat dua orang keluar dari kerumunan orang banyak itu dan maju ke depan. Seorang dari kerumunan para prajurit, sementara seorang lagi adalah lelaki tua dengan senjata cambuk di tangan.
"Kaliankah para pemimpinnya?" tanya Patih Gajah Mada yang langsung berkelebat dengan amat cepat hingga tak terbaca oleh pandangan mata orang biasa.
Hanya dalam dua kedipan mata saja, terlihat Patih Gajah Mada telah berdiri kembali di tempatnya. Berdesir bulu roma pemimpin prajurit itu saat menyadari pedangnya sudah berpindah tangan ke anak muda itu. Hal yang sama terjadi pada lelaki tua bersenjata cambuk. Mereka berdua sama-sama membayangkan seandainya anak muda itu orang yang kejam, pasti begitu mudahnya nyawa mereka melayang.
Bersamaan, keduanya melangkah mendekati Patih Gajah Mada. Bersamaan pula keduanya duduk bersimpuh di hadapannya.
"Terima kasih telah bermurah hati untuk selembar jiwa hamba yang tidak mengenal tingginya gunung di depan mata," ucap pemimpin prajurit itu sambil tetap bersimpuh merendahkan diri.
"Hamba, pemimpin Padepokan Jatirekso, tunduk patuh di hadapan Tuanku yang telah bermurah hati tidak menurunkan tangan mencabut nyawa ini," kata lelaki tua bercambuk itu yang mengaku sebagai pimpinan sebuah padepokan.
Melihat kedua pemimpin mereka duduk bersimpuh, serentak semua orang yang ada di atas perbukitan itu pun ikut duduk bersimpuh penuh hormat sebagaimana pimpinan mereka.
"Aku telah bermurah hati kepada kalian yang kutahu hanyalah sebagai pelaksana perintah belaka. Tunjukkan kepadaku siapa gerangan yang telah memerintahkan kalian menghadang pasukan kecil keluarga istana ini," ujar Patih Gajah Mada dengan suara yang begitu jelas dan berwibawa.
"Kami dari kesatuan pasukan Tunggul Wulung, tidak berani menolak perintah Ki Tumenggung Tanggulangin, panglima perang Kerajaan Daha," jawab pimpinan prajurit itu.
"Kami dari Padepokan Jatirekso. Tumenggung Tanggulangin meminta kami menghadang sebuah gerombolan sesat yang dianggap dapat merusak tatanan kehidupan bumi Kediri," sahut pimpinan Padepokan Jatirekso.
"Kuampuni jiwa kalian, kuhargai kejujuran kalian. Aku, Patih Gajah Mada, yang akan menjadi patih di Daha, menawarkan kesetiaan kalian untuk berdiri di belakangku," tawar Patih Gajah Mada.
"Demi kemurahan Tuanku Patih Gajah Mada, kami bersumpah setia membela Tuanku!" seru mereka serentak, suaranya menggelegar seperti guruh yang terbawa angin perbukitan.
Namun, tiba-tiba saja semua orang tersentak saat mendengar derap langkah kuda yang semakin dekat. Mungkin seratus, lima ratus, atau seribu pasukan berkuda datang mendekat; suaranya terdengar mengguncang bumi, mengguncang hati dan perasaan semua orang yang ada di atas perbukitan itu.
Mungkinkah pasukan besar yang datang itu utusan lain dari Tumenggung Tanggulangin untuk memusnahkan keluarga istana yang datang dari Kerajaan Kahuripan? Demikian pikiran pimpinan prajurit Kediri, pimpinan Padepokan Jatirekso, juga hampir semua orang yang terhimpun di sana. Sementara langit malam di atas perbukitan itu begitu pekat, hanya dipenuhi beberapa bintang.
Derap langkah kaki kuda sudah menjadi begitu dekat, hanya terhalang jalan yang menurun. Semua orang menahan napas manakala pasukan prajurit berkuda muncul dari keremangan malam di ujung jalan mendaki.
"Menyerahlah! Kami datang untuk menghukum kalian yang telah menodai bumi Kediri ini," seru seorang perwira dari atas punggung kudanya.
Beberapa prajurit Kediri dan orang-orang dari Padepokan Jatirekso terlihat melangkah mundur hingga berdiri di belakang Patih Gajah Mada.
"Tidak ada yang perlu dihukum lagi, wahai Paman Rangga Gajah Biru," ujar Patih Gajah Mada sembari tersenyum. Ia mengenali lelaki gagah perkasa yang memimpin pasukan Kediri itu sebagai salah seorang setia yang selalu menyertai Patih Mahesa Amping.
Bukan main terkejutnya Ki Rangga Gajah Biru saat melihat Patih Gajah Mada ada bersama orang-orang yang hendak ia hukum.
"Bukankah aku berhadapan dengan putra angkat Patih Mahesa Amping?" tanya Ki Rangga Gajah Biru yang merasa bingung dan ragu.
"Mereka telah menyadari kesalahannya, jadi tidak ada yang perlu dihukum," kata Patih Gajah Mada sambil menceritakan awal kejadian penyerangan itu. "Berkat lindungan Gusti Yang Maha Agung, keluarga istana saat ini masih dalam keadaan selamat."
"Mohon maaf, aku datang terlambat untuk menyelamatkan kalian dan terlambat mendengar berita tentang rencana Tumenggung Tanggulangin yang ingin mencelakai keluarga istana," sesal Ki Rangga Gajah Biru.
"Masih belum terlambat. Saat ini kami memang butuh pasukan besar yang akan mengawal kami hingga ke istana Daha," kata Patih Gajah Mada.
"Siapa pun di bumi Kediri ini akan berpikir ulang untuk berhadapan langsung dengan pasukanku," ujar Ki Rangga Gajah Biru penuh keyakinan.
"Apakah juga berlaku untuk Tumenggung Tanggulangin yang punya wewenang tertinggi di kerajaan Kediri saat ini?" tanya Patih Gajah Mada.
"Orang itu tidak perlu dikhawatirkan lagi. Saat ini Tumenggung Tanggulangin telah kami amankan di penjara bawah tanah istana, menunggu putusan hukuman yang sepadan atas usahanya mencelakai Juwaraja Kerajaan Daha yang baru," jawab Ki Rangga Gajah Biru penuh senyum.
"Terima kasih, kami tidak akan melupakan jasa Paman Gajah Biru."
"Ayah angkatmu selalu berkata seperti itu kepadaku," jawab Ki Rangga Gajah Biru.
Demikianlah, pagi itu terlihat sebuah kereta kencana menuruni perbukitan, diiringi pasukan besar prajurit berkuda. Kereta kencana dan prajurit berkuda tampak seperti deretan arak-arakan panjang ketika memasuki kotaraja Kediri dalam sorak-sorai pagar manusia yang berjajar sepanjang jalan hingga pintu gerbang istana.
Juwaraja Dyah Wiyat dan Patih Gajah Mada disambut puja dan puji segenap warga sebagai ratu adil dan ksatria piningit yang memberi harapan baru, layaknya putra fajar yang bersinar terang di langit malam menjelang pagi.
"Selamat datang di istana Daha, salam damai lestari memenuhi bumi Kediri," sambut Ki Juru Demung, pejabat rumah tangga istana Daha, dengan penuh kesopanan saat menyambut Ibunda Ratu Gayatri dan Juwaraja Dyah Wiyat yang turun dari kereta kencana.
Beriringan dengan Ibunda Ratu Gayatri, Juwaraja Dyah Wiyat, suaminya Raden Kudamerta, Patih Gajah Mada, dan Biksuni Andini, mereka memasuki pura pasanggrahan utama istana yang disambut sembah sujud para abdi dalem. Tidak lama berselang, pelayan dalem istana terlihat membawa baki makanan silih berganti dari pintu pringgitan untuk menyajikan jamuan bagi rombongan keluarga istana dari Kerajaan Kahuripan.
"Kami di istana Kediri ini masih sebagai tamu, karena kami dalam perjalanan boyong manten ke Kerajaan Wengker. Pekan depan baru kami akan kembali ke istana Kediri ini, meninggalkan putriku dan suaminya menampuk tugas sebagai Juwaraja di bumi Kediri," jelas Ibunda Ratu Gayatri mengenai rencana perjalanan mereka.
Keesokan harinya, rombongan keluarga istana dari Kerajaan Kahuripan melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Wengker. Pengiring rombongan pun bertambah; seratus pasukan berkuda prajurit Kediri ikut mengawal. Ternyata, Ki Rangga Gajah Biru diam-diam telah menyebarkan prajurit bayangannya di sepanjang perjalanan hingga ke Kerajaan Wengker demi menjamin keselamatan keluarga istana yang akan menjadi junjungan mereka di Kediri nanti.
Kereta kencana yang indah diiringi pasukan berkuda selalu menjadi pusat perhatian penduduk di sepanjang perjalanan. Decak kagum terlihat dari tatapan mata mereka yang enggan terpejam memandang keelokan kereta yang melaju perlahan melewati padukuhan-padukuhan terpencil.
Berita tentang kedatangan besan Raja Wengker itu telah tersebar ke seluruh wilayah kerajaan, menjadi kebanggaan warga bahwa Raja Wengker bermenantukan putri dari Kerajaan Majapahit. Berita membanggakan itu juga terdengar hingga ke sebuah tempat terpencil di ujung selatan Kerajaan Wengker, di sebuah padepokan yang dipimpin oleh pertapa sakti bernama Ki Agung Ngrayung.
Semua orang Wengker nampaknya telah melupakan asal-usul Ki Agung Ngrayung. Pertapa sakti yang hidup mengasingkan diri itu adalah keturunan langsung dari Raja Ketut Wijaya, pendiri Kerajaan Wengker yang berhasil ditaklukkan oleh Raja Erlangga yang konon hilang moksa. Ki Agung Ngrayung memiliki putra tunggal bernama Kuda Jenar, seorang pemuda yang telah mewarisi sebagian kesaktian ayahnya.
"Hari ini ada berita tentang kedatangan keluarga Kerajaan Majapahit ke istana Wengker," lapor Kuda Jenar kepada ayahnya.