Chapter 65
"Hamba baru saja kedatangan seorang utusan dari Padepokan Bajra Seta," kata Ki Patih Mangkubumi sembari menyampaikan kabar yang dibawa utusan tersebut mengenai kondisi Patih Mahesa Amping beserta putranya, serta peristiwa yang terjadi di Hutan Kemiri.
Mendengar perkataan Ki Patih Mangkubumi, Baginda Raja dan Gajahmada menarik napas panjang, merasa gembira karena mengetahui Patih Mahesa Amping ternyata masih hidup.
"Kunjungilah ayah angkatmu itu, jadilah mataku di sana," titah Baginda Raja Sanggrama Wijaya kepada Gajahmada.
Demikianlah, pada hari itu juga Gajahmada mempersiapkan diri untuk melakukan perjalanan. Setelah memanggil dan menyampaikan pesan kepada dua prajurit Bhayangkara yang dipercaya untuk mewakilinya selama ia tidak ada di istana Majapahit, Gajahmada berpamit kepada Supo Mandagri yang terpaksa ditinggal sendiri di pasanggrahan.
"Jangan khawatirkan keberadaanku," ujar Supo Mandagri kepada Gajahmada yang memahami tugas sahabatnya itu.
Saat hari mulai senja, Gajahmada telah memacu kudanya keluar dari gerbang kota Majapahit. Beberapa anak muda yang mengenalnya melambaikan tangan ke arah Gajahmada ketika ia melewati jalan utama Padukuhan Maja. Sosok Gajahmada di atas punggung kudanya memang menjadi pusat perhatian. Tubuhnya yang tinggi besar dengan pakaian perwira tinggi Majapahit tampak seperti lukisan hidup di candi-candi purba. Ketampanan wajah dan senyumnya bahkan membuat beberapa gadis terpaku melihatnya.
"Mengapa diam mematung seperti itu?" tegur seorang ibu kepada anak gadisnya yang berdiri terpana. Anak gadis itu tidak menjawab, hanya tersipu malu.
Sementara itu, kuda Gajahmada telah meninggalkan jalan utama Padukuhan Maja. "Bawalah aku berlari, sahabat," bisiknya kepada kuda tersebut. Kuda hitam itu pun berlari kencang membelah padang ilalang. Angin senja mengurai rambut anak muda perkasa itu, sementara kuda hitam terus berlari menyusuri lembah di bawah perbukitan hijau tanpa tanda lelah.
Ketika langit mulai gelap, Gajahmada memperlambat laju kudanya karena harus melewati jalan menurun yang berbatu. Ia tidak menempuh jalan yang biasa dilalui para pedagang, melainkan menyusuri jalan pintas mendaki perbukitan. "Kita beristirahat di sini, sahabat," kata Gajahmada sambil mengusap rambut kudanya di jalan sepi yang penuh bebatuan.
Malam itu langit tampak kelam pertanda akan turun hujan. Gajahmada memilih sebuah batu besar sebagai tempat bermalam. Saat hujan mengguyur bumi, beruntung Gajahmada dan kudanya menemukan perlindungan di celah-celah bebatuan besar. Gajahmada duduk bersandar di dinding batu cadas, membiarkan dinginnya embun hujan menerpa tubuhnya, namun ia tetap diam dengan mata terpejam.
Di ujung malam, hujan reda dan kabut hitam sirna. "Mari kita lanjutkan perjalanan, sahabat," ajak Gajahmada. Tanah masih basah dan langit pagi memerah saat ia kembali memacu kudanya membelah padang ilalang menuju perbukitan yang menjulang biru. Di balik perbukitan itulah Tanah Perdikan Bajra Seta berada. Gajahmada memacu kudanya, ingin segera sampai untuk menjumpai ayah angkatnya, Patih Mahesa Amping, yang dikabarkan sedang sakit.
Semakin dekat, gerumbul pepohonan hijau menutupi hampir setiap jengkal perbukitan. Gajahmada memasuki hutan melalui jalan setapak yang biasa dilewati para pemburu. Sinar matahari menjulur melewati celah ranting dan dedaunan, membawa aroma tanah basah yang segar. Kuda hitam Gajahmada tampak tegar menapaki jalan yang mendaki dan terjal.
Setelah melewati puncak perbukitan, Gajahmada menuruni lereng. "Sahabat hitam, Tanah Perdikan Bajra Seta sudah tidak jauh lagi," ucapnya. Gapura batas Tanah Perdikan Bajra Seta berdiri kokoh di bawah cahaya mentari sore. Gajahmada berjalan perlahan menyusuri jalan padukuhan, sesekali berselisih jalan dengan para petani yang terlihat lusuh setelah seharian bekerja.
"Apakah Tuan ingin bertemu dengan Ki Gede?" tanya seorang cantrik di gerbang Padepokan Bajra Seta.
"Benar, aku datang dari Kotaraja Majapahit," jawab Gajahmada sambil menuntun kudanya.
"Ki Gede bersama beberapa tamunya ada di pendapa, silakan Tuan menemui beliau," ujar cantrik tersebut.
Gajahmada menyerahkan tali kekang kudanya kepada sang cantrik, lalu melangkah menuju pendapa. Mata Gajahmada mencari sesosok wajah di antara orang-orang yang duduk di sana. Akhirnya, ia menemukan wajah lelaki tua dengan tatapan tajam dan senyum kegembiraan, serta seorang pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan lelaki tersebut.
"Selamat datang di Padepokan Bajra Seta," sambut Ki Gede Bajra Seta.
"Selamat datang, wahai putraku," sapa Patih Mahesa Amping, yang kini tampak sehat bugar, didampingi putranya, Adityawarman.
"Baginda Raja Sanggrama Wijaya mengutus diriku untuk melihat keadaan Ayahanda," tutur Gajahmada.
"Ketika utusan kami berangkat ke Majapahit, Ayahandamu memang sedang sakit parah akibat racun. Namun, gelang batu aji yang kumiliki berhasil menyerap semua racun di dalam tubuhnya," jelas Ki Gede Bajra Seta.
Ia kemudian menceritakan peristiwa di Hutan Kemiri yang hampir merenggut nyawa Patih Mahesa Amping dan putranya. Gajahmada mendengarkan dengan saksama tanpa menyinggung penyesalan Baginda Raja, karena ia tidak ingin ada perselisihan di antara mereka.
"Sepekan lagi perayaan wisuda dan perkawinan putrinya akan berlangsung. Baginda Raja pasti gembira melihat Ayahanda hadir," ujar Gajahmada.
"Besok kami akan berangkat bersama dari Padepokan ini," jawab Patih Mahesa Amping.
"Sebuah kegembiraan bagiku dapat beriringan bersama kalian," sahut Gajahmada.
"Kami akan merasa bangga dikawal oleh seorang pemimpin pasukan Bhayangkara yang terkenal itu," canda Adityawarman.
"Anggap saja kita seperti raja besar yang sedang melanglang buana, dijaga oleh pengawal prajurit istana," timpal Mahesa Dharma menanggapi candaan tersebut.